Work Text:
Kepala menghantam tandusnya tanah; berdebam—menimbulkan gema melantang kemudian dipantulkan oleh bebatuan di sekitar. Sesosok tubuh terhempas dari ketinggian yang agaknya cukup membuat tulang patah. Badan itu jatuh; terjerembap. Kain yang menutup wajahnya terdedah setengah, menampak muka rupawan yang dipenuhi codet luka. Dia merintih, napasnya berembus lemah.
Sekejap saja—seorang wira melompat dari atas macan putih besar, menghampiri raga yang terbaring dengan segera. Tangannya membalik tubuh itu dengan hati-hati, setelahnya menyingkirkan goni kumal, memperhatikan wajah pemuda asing itu dengan perasaan marah yang meletup tak terlukiskan.
Sepasang kelopak itu membuka perlahan, matanya bertemu dengan milik Haruka. Dengan siaga dia menarik belati dari saku celana—takut-takut jika laki-laki yang terkapar ini tiba-tiba bangkit menyerangnya.
Haruka berteriak berang, “Siapa kamu? Kenapa kamu menghalangi aku untuk membunuh jalang itu?”
Pemuda itu memberikan balasan lemah, “Aku ... aku hanya ingin menyelamatkanmu ....”
“Aku tidak butuh diselamatkan! Aku bisa menyelamatkan diriku sendiri!” teriak Haruka, “gara-gara kamu, laki-laki jahat itu kabur! Jika aku tidak membunuhnya lebih dulu, aku yang bisa mati duluan di tangannya!”
Luka yang ada di wajah laki-laki itu terbuka; perlahan mengucurkan darah. Merahnya menetes menodai ganggangan tanah. Dia meringis menahan perih terasa. “Jangan ...,” helanya, “jangan mati ....”
Haruka tidak tahan lagi. Dihujamnya belati, menempel ke kulit leher lawan bicaranya. Nada suaranya tinggi; sorot matanya mengancam tajam, “Akan kupotong tenggorokanmu supaya kamu tidak banyak omong lagi!”
Pandangan mereka masih bertemu. Lelaki itu mengehela napas terbata, “To-tolong .... Tetaplah hidup ... kamu—kamu cantik ....”
Debu tanah beterbangan tatkala Haruka melonjak terkesiap. Napasnya memburu; belatinya hampir terlempar lepas dari genggaman tangan. []
