Work Text:
tobio pernah ditanya apakah ia berniat untuk hidup demi menerjemahkan kasih sayang tooru sepanjang hidupnya.
lelaki itu banyak duduk di kursi baca dengan penerangan yang menghadap ke lembar buku di atas pangkuannya. dulu, tobio masih sering bertanya dan itu bukan sekadar basa-basi. tobio ingin tahu dunia apa yang tooru arungi sampai membuatnya terpaksa makan malam sendiri. pelan-pelan, seakan surut seperti air laut, rasa ingin tahu itu berujung ia telan sendiri sebab tooru bilang tobio tidak akan bisa memahami.
tobio juga sudah terbiasa pada sisa air teh dalam cangkir tooru dan membuangnya ke mulut wastafel setiap pagi. buah yang ia kupas untuk lelaki itu selalu tak pernah habis dan tersisih menyedihkan di pinggir piring. mengenai kemeja yang ditinggalkan tergantung di lemari, lilin angka yang tidak jadi dibakar, serta segala hal lain yang tidak pernah benar-benar dirayakan di ruang kecil ini. tobio sudah terbiasa.
cincin di jari manisnya; tobio juga sudah tidak terlalu memikirkan apa artinya meskipun beberapa kali ia masih memutar-mutar pergelangan tangan menjelang pagi. ketika tooru masih tidur membelakanginya dan hari belum terbit untuk kembali ia tangisi.
kasih sayang tooru sepertinya adalah bahasa yang tidak akan kunjung dapat tobio siasati.
“butuh dibantu?”
suara lelaki lebih tua itu berdengung di daun telinga tobio ketika pergelangan tangannya mulai terasa ngilu. antingnya masih di tangan, matanya dengan segan mengintip tubuh tooru yang menjulang di bawah pintu kamar mereka melalui pantulan cermin.
“boleh.” tobio mencicit. “kalau kakak gapapa.”
tooru sekilas tercium seperti wangi madu dan abu rokok. silih berganti dan tumpang tindih. tapi bagaimana tobio jujur pada dunia ketika akhirnya yang lebih tua menyentuh kulit telinganya, tobio hanya membaui rasanya seperti apa pulang ke rumah. perlahan surut, namun mendobrak dengan sekelumit perasaan-perasaan rumit yang lebih masif. “sakit?”
perasaan itu adalah kumparan cemburu yang menuntut, damba ingin bermanja, juga rasa berkecil hati yang begitu raksasa. tobio jauh lebih ingin tahu alasan mengapa ia selalu diabaikan dibanding cara ia mati atau jadi apa nanti apabila ia hidup kembali.
sedikit nyeri, namun tobio menggeleng lemah. “gak sakit.”
tooru tersenyum kecil. “tindiknya udah agak nutup. aku paksain dikit gapapa?” ibu jarinya mengelus kulit telinga tobio yang sudah memerah. tebakannya, lelaki yang lebih muda sudah lakukan itu sejak semula. “kamu bisa tahan ga?”
anggukan kecil tobio entah mengapa terlihat ringkih. seakan selama ini…, yang lelaki itu lakukan memang hanya bertahan.
bertahan pada pernikahan mereka yang tidak pernah punya cukup ruang untuk kompromi. pada bahagia yang dulu ia coba upayakan seorang diri. pada tooru yang apabila nyatanya memang welas asih–lantas mengapa tobio tak pernah bisa lihat itu semua dengan mata kepala sendiri.
“antingnya kapan terakhir dipakai?”
tobio menggigit bibirnya tanpa peduli apakah akan meninggalkan luka.
“aku…, lupa.”
dalam hitungan hari yang terasa semakin sebentar sepanjang tahun, mereka akan pulang. beberapa berkas butuh ditandatangan meskipun di beberapa sidang mungkin tobio memutuskan untuk tidak datang.
jawaban singkat tobio membuat tooru tertawa untuk wajahnya sendiri serta perasaan malu yang memeluk dadanya sampai sesak. diintipnya kening tobio yang mengernyit ketika logam itu akhirnya terpasang sempurna.
tobio menelan ludahnya sendiri ketika napas hangat tooru singgah di leher. lembut dan mengamankan hatinya yang diam-diam memelihara badai. rasanya tobio layu dalam sentuhan tooru yang sederhana. lalu ketika setetes air mata tobio jatuh di lengan tooru yang kokoh, lantas menjadi salah siapa?
“tobio kenapa nangis?”
tobio tak lagi memikirkan sepasang antingnya yang baru terpakai sebelah. telapak tangannya rapuh menggapai dada lelaki yang lebih tua. tidak adil ketika sebatas menyandarkan kepala di rengkuhan tooru, ia harus menelan kesedihan yang luar biasa melelahkan tubuhnya. tobio tidak ingat kapan ia merasa sesedih ini.
banyak malam yang tobio lewati dengan bertanya-tanya; apakah tubuhnya memang dibentuk untuk menampung kesedihan. badannya tinggi, lantas apakah karena ia harus berdiri dengan pahit putus asa yang membenalu pada tulang belulangnya?
“sehabis ini, kamu bahagia engga?” karena tobio lepaskan tooru agar lelaki itu tidak perlu lagi bernapas sambil tercekik. membuka jalan yang lebih lapang untuk tooru berjalan meskipun itu artinya ia akan kembali dengan ruas-ruas jari yang berdarah.
seselesainya kita, kamu akan bahagia atau pengorbananku akan kembali sia-sia?
“kamu jangan nangis. nanti capek badannya.”
air mata tobio selalu enggan turun bila tooru dapat melihatnya. tapi kali ini, setidaknya tooru harus jadi saksi bahwa cinta sanggup kompromi meski hadirnya tidak pernah diminati.
toh selepas ini, tooru tidak lagi perlu menghadapi hidup yang tidak pernah ia pilih. tidak lagi mesti memikirkan bagaimana cara mendorong jauh tobio tanpa harus merasa bersalah setelahnya.
tubuh tooru memberikan pelukan yang melewati definisi sempurna. sesempurna jalan buntu yang lelaki itu buat agar tobio hanya bisa memahami kalau cinta itu…, memberi. menyakiti. mengorbankan diri.
“maaf dulu aku ga tanya kamu mau anting yang mana.” jari tooru menyeka basah kesedihan di ujung bulu mata tobio. bibir tooru meninggalkan senyum yang sepertinya setelah ini tobio tidak akan pernah lupa. “harusnya waktu itu aku beliin kamu anting yang lebih kamu suka ya?”
tobio selalu menurut. tobio tidak pernah menyangkal apapun ucapan tooru karena tooru tidak pernah salah dalam menyikapi hidup. menyaksikan tobio menggeleng sebegini cepat hanya karena tebakan subjektifnya meninggalkan luka iris yang dalam di ruang sadar yang lebih tua.
“engga, kak.”
sejujurnya, tobio tidak pernah lupa kapan terakhir kali sepasang anting ini menggantung di telinganya. rasa gatal akibat iritasi logam setiap anting ini bertahan lebih dari tiga hari tak akan pernah menguap dari indera yang tubuhnya punya.
“anting dari kakak…, aku suka.”
selepas cincin pernikahan mereka yang tak akan lagi berani tobio pakai, ia ingin membawa pulang sebagian kecil dari diri tooru yang bahkan sampai akhir pun, kasih sayangnya gagal tobio terjemahkan.
logam akan lebih lekang dari aku dan usiaku yang tak panjang, maka–tooru–abadilah kamu dalam zat apapun yang dapat kusimpan.
