Work Text:
Setiap orang selalu punya ceritanya masing-masing. Sama seperti Diaz yang ceritanya nggak pernah habis buat dia bagikan ke orang lain, salah satunya kamu. Mengenal Diaz selama lima tahun nggak bikin cerita Diaz tamat, karena setiap hari selalu ada cerita-cerita kecil Diaz yang Ia bagikan dengan cuma-cuma hanya untuk kamu.
Diaz akan bercerita tentang bagaimana Ia menjalani hari ini, sekecil tentang Diaz yang lupa bayar siomay langganannya, atau tentang Diaz yang tidak sengaja menghancurkan pot bunga milik Ibu. Telinga kamu pun nggak pernah lelah buat mendengar segala cuitan Diaz. Bahkan kalau bisa, kamu mau mendengarkan cerita-cerita milik Diaz sampai Diaz sendiri lelah bercerita. Ah, tapi kamu berharap Diaz tidak akan berhenti membagikan setiap ceritanya kepada kamu, karena itu adalah hal yang paling kamu sukai dari Diaz.
Hari ini Diaz mengajak kamu berkeliling Jakarta dengan Transportasi umum. Destinasi pertamanya adalah Lapangan Banteng. Diaz bilang Ia ingin menikmati sore sama kamu, atau piknik ala-ala kayak anak muda jaman sekarang. Jadi Diaz nggak lupa buat bawa kain berwarna kuning untuk alas —yang Ia pinjam dari Ibu—, bekal sederhana yang Diaz buat sendiri, cemilan milik Ibu yang Diaz ambil dari lemari dapur rumahnya, dan yang terakhir, Diaz membawa kamera film milik Ayah yang usianya lebih tua dari Diaz.
"Aku nggak pernah kesini sore-sore buat piknik. Ternyata enak juga suasananya. Nggak begitu ramai." ujar Diaz. Matanya memperhatikan sekitarnya. Kalau begini, kamu penasaran apa yang ada di dalam kepala Diaz. Kamu tau banget kalau Diaz banyak berpikir.
"Kamu pernahnya lewat doang atau berhenti buat jajan tahu bulat waktu jogging sore?" tanya kamu yang bikin Diaz tertawa. Hal kedua yang kamu suka dari Diaz adalah melihat Diaz tertawa. Diaz manis kalau tertawa, matanya menyipit, mulutnya tersenyum lebar hingga giginya terlihat. Selalunya kamu berharap agar Diaz punya banyak alasan untuk tertawa.
"Nggak ya! Ngapain jogging kalo ujung-ujungnya beli tahu bulat." jawabnya.
"Ya nggak apa-apa. Kan itu tahu. Bukannya tahu itu sehat?"
"Iya sih? Tapi kan tahu bulat?" tanyanya lalu mulai berpikir. Diaz lucu kalau sedang berpikir, kamu seperti melihat banyak tanda tanya yang akan melayang di atas kepala Diaz. Selalunya Diaz penasaran akan banyak hal, dan ketika Diaz menemukan hal baru, Ia akan langsung membagikan hal tersebut kepada kamu.
"Coba tanya abang tahu bulatnya."
Diaz tertawa lagi. "Pacarku lucu banget sih!" katanya. Telapak tangannya kini menepuk halus puncak kepala kamu, lalu kamu nggak akan malu untuk menunjukan semburat merah di pipi kamu akibat kelakuan Diaz itu.
"Kemarin aku sama Ayah kan pergi, Ce. Terus Ibu sendirian di rumah. Eh, Ibu ngechat di grup WA dong! Ibu bilang, "Sedih banget sendirian dirumah. Suami sama anaknya sibuk sendiri. Udah nggak sayang lagi ya sama Ibu?" gitu masa? Makanya kemarin Ibu suruh kamu ke rumah kan, Ce? Lucu aja ini Ibu aku belajar alay darimana coba?"
"Ihh jangan diketawain dong. Ibu itu kesepian, Iyaz. Makanya Ibu ajak aku ke rumah kamu. Semakin tua, kita emang pengennya deket terus sama keluarga." kata kamu yang membuat Diaz tersenyum lembut, kedua matanya nggak pernah lepas dari kamu.
"Gitu ya, Ce? Kamu udah cocok deh jadi Ibu." katanya di akhiri cubitan kecil gemasnya di pipi kamu.
"Ih! Berarti aku udah tua gitu?" protes kamu dengan wajah yang sengaja memancarkan ekspresi marah, tapi malah mengundang tawa Diaz karena ekspresi kamu terlihat lucu di matanya.
"Nggak gitu, Cece. Maksud aku, kamu punya sifat keibuan. Kamu selalu ngerti perasaan Ibu. Kamu bisa jadi penengah buat aku sama Ibu yang kadang suka beda pemikiran, karena kamu juga, aku bisa lebih paham sama perasaan orang-orang di sekitar aku. Dari kamu aku belajar banyak hal, Cece."
Entah sejak kapan Diaz menggenggam tangan kamu. Menyalurkan kenyamanannya sama kamu. Suara lembutnya yang selalu diterima dengan baik sama telinga kamu. Tatapan matanya yang selalu teduh dan buat kamu aman. Eksistensinya di sekitar kamu yang bikin kamu selalu merasa hangat.
"Aku sayang kamu." bisiknya malu-malu.
Kini, kamu dan Diaz bagaikan sepasang burung dimabuk asmara yang saling bertengger bersisihan di atas pohon. Menikmati cahaya oranye akibat proses tenggelamnya matahari sore ini.
