Work Text:
Lupa setrika seragam Iseul. Gas tiba-tiba habis di tengah-tengah masak bekal buat anak dan suami. Kaus kaki yang tiba-tiba hilang sebelah padahal selama ini aku simpan di tempat yang sama. Anak yang rewel gak mau berangkat sekolah karena katanya masih ngantuk. Suami yang gak berhenti manggil karena kelupaan taruh barang dia di mana. Hahaha, lengkap sudah kericuhan pagi ini.
Setelah anak dan suami berangkat, aku lanjut bebenah rumah yang tidak disangka-sangka amat sangat berantakan hari ini, belum lagi bekas tumpahan susu yang tidak sengaja tersenggol Iseul saat dia melangsungkan aksi merengeknya tadi, lengket dan mulai dikerubungi semut-semut nakal. What could be making my day worse than this ??
Ada ternyata, hal yang lebih buruk dari hal-hal di atas tadi.
Sekolah Iseul hanya berlangsung tiga jam, masuk jam 8 pagi dan pulang jam 11. Tapi siapa sangka dalam kurun waktu satu jam saja dari jam masuk tersebut si princess ini bisa bikin kericuhan di sekolahnya sampai-sampai aku ditelepon oleh gurunya, diminta untuk datang ke sekolah siang nanti saat jam penjemputan. Dari laporan gurunya, Iseul berhasil menjambak rambut teman laki-lakinya sampai rontok beberapa helai, jelas si anak laki sampai menangis kencang. Alasan kenapa anakku itu melakukan hal tersebut belum diketahui karena Iseul tidak mau buka mulut saat ditanya oleh gurunya. No , gak bisa, aku harus luapin semua rasa capek dan kesal ini ke orang lain!!
“Hai sayang, tumben telepon jam segini. Ada barangku yang ketinggalan kah?”
“Jihoon.”
“Anakmu itu loh, gak habis pikir aku”
“Kamu sampe panggil nama aku bukan Papa…serius ya yang ini?”
“Nanti kita harus ke sekolah Iseul, kamu izin cabut sebentar, temenin aku.”
“Loh, kenapa? Bukannya rapat ortu masih minggu depan, Ma?”
“Anakmu itu-”
“Anak kita”
“Ya ya ya, anak kita. Tapi kali ini anak kamu dulu aku capek urusnya. Kamu diem dulu sampe aku bilang selesai baru kamu boleh ngomong lagi”
“Iya oke sayang, I’m all ears”
“Barusan gurunya kakak telepon aku bilang anakmu itu abis bikin anak orang nangis. Temennya dijambak sampe rambutnya rontok. Laki-laki loh yang dijambak, rambutnya pendek tapi kok bisa sampe rontok? Pake tenaga segede apa dia, sarapan aja tadi gak habis, ada tuh tenaga buat bikin anak orang nangis. Pusing aku.”
“Aku tuh capek banget Ji, dari aku bangun tidur aku belum istirahat sama sekali, ini aja aku belum selesai bebenah rumah, terus dapet telepon gak enak dari guru si kakak. Apa kamu aja yang dateng ke sekolah ya? Jangan deh tapi, nanti aku makin-makin diomongin sama ibu-ibu yang lain dibilang gak bisa didik anak yang bener, mau dikemanain muka aku.”
“Pokoknya kamu harus ikut aku pas jemput Iseul, aku gak peduli kamu baru banget sampe kantor, gak yakin sanggup aku kalau tanganin sendiri”
“Udah segitu aja, kamu boleh ngomong.”
“Siapa yang suka ngomongin kamu sayang?? Kok berani banget kayak gitu, perasaan kamu kalem-kalem aja selama ini”
“Kenapa fokusmu ke situ Lee Jihoon! Nanti lah aku ceritain yang itu. Ini Iseul dulu mau kamu apain.”
“Nanti kita ke sekolah kakak bareng ya, Ma…ini Bang Cheol lagi sama aku kebetulan jadi dia langsung kasih izin kok. Tenang ya sayang, kita hadapin bareng-bareng, ok?”
“Aku yakin si kakak gak jambak tanpa alasan kok, selama ini dia baik-baik aja kan?”
“Tapi aku takut Pap…selama ini kita yang santai ini malah ternyata jadi celah buat dia…atau cara kita salah ya selama ini?”
“Nggak sayang, percaya sama aku pasti ada alasan Iseul lakuin itu. Udah ah jangan murung gitu, mau aku bawain apa nanti sekalian aku jalan pulang?”
“Mau kopi susu di tempat biasa kalau gak ngerepotin…”
“Okay, kopi susu satu, ada lagi?”
“Udah itu aja, gak enak aku ngerepotin kamu terus”
“Loh, nggak lah sayang, jangan pernah bilang kalo kamu ngerepotin aku. Selama aku sanggup aku bakal kasih semua yang kamu mau kok. Nanti sekalian aku beliin carrot cake kesukaan kamu ya.”
“Makasih Papa, maaf ya kalau kesannya aku jadi marah-marah ke kamu”
“It’s ok, aku ngerti kok, lagian kamu gemes kalo lagi ngomel-ngomel hahahahaha.”
“Ih males, aku lagi serius!”
“Iya, sayang. See you bentar lagi yaa, aku kerjain beberapa kerjaanku dulu, aku usahain udah di rumah lagi jam 10.30, nanti bareng-bareng ya menghadap ibu gurunya.”
“Ok pa, see you. Semangat kerjanya! I love you.”
“Hahahaha! I lo-”
Langsung aku tutup teleponnya di saat aku dengar suara ketawa dia yang nyaring itu, gak sanggup aku denger balesan dia yang pastinya malah godain aku, soalnya aku jarang bilang kalimat itu secara gamblang. Sisa kira-kira satu jam lima belas menit sebelum Jihoon kembali ke rumah, tentu saja waktu tersebut aku pakai untuk melanjutkan kegiatan membereskan rumah yang sempat tertunda tadi.
—
Tepat di waktu yang sudah dijanjikan, suara klakson familiar berbunyi di depan rumah. Tadi kami sudah janjian lewat chat untuk langsung lanjut jalan menuju sekolah Iseul saat Jihoon kembali ke rumah agar masalah hari ini cepat selesai. Sepanjang perjalanan dihabisi dengan aku yang fokus melahap carrot cake sambil sesekali menyesap kopi susu yang dibelikan Jihoon tadi, mengisi tenaga sebelum menghadapi rintangan. Aku gak tau dia akhirnya keluar kantor jam berapa sampai sempat untuk mengantri di toko kopi langgananku yang tidak pernah tidak panjang antriannya itu.
Sekolah Iseul tidak terlalu jauh dari rumah kami, hanya sekitar 15 menit, cukup untuk mendengarkan lima lagu dari playlist andalan si Papa. Segera saat aku turun dari kursi penumpang, Jihoon langsung gandeng tanganku, usaha dia untuk menenangkan aku yang sekarang entah apa yang aku rasakan, bingung, marah, sedih, kesal, bercampur jadi satu. Kami berdua langsung berjalan menuju ruang guru seperti yang sudah diinfokan oleh wali kelas Iseul yang ternyata sudah hadir Iseul yang masih menekuk mukanya, anak laki-laki korban jambakan Iseul, orangtua si anak laki-laki, dan wali kelas Iseul.
“Selamat siang Bu, maaf membuat menunggu,” ucapku, agak aneh memang karena kami datang tepat waktu tapi berucap seakan-akan kami telat, namun apa salahnya mencoba rendah hati dulu. Langsung setelah aku mengucapkan salam, Iseul berlari ke arahku dan Jihoon, memeluk kaki ku dengan ekspresi yang siap untuk menangis detik ini juga. Aku langsung merendahkan diri dan memeluk putri pertamaku, sedangkan Jihoon membantuku menyapa semua orang-orang di ruangan tersebut.
“Tidak apa-apa bu, pak, silahkan duduk dulu,” agak kasihan aku sebenarnya dengan bu guru ini, wajahnya sudah kusut di siang bolong tapi tetap berusaha untuk menjadi profesional dengan tersenyum.
“Mohon maaf sebelumnya ibu-ibu dan bapak-bapak saya ganggu waktunya, kehadiran ibu dan bapak sekalian tidak luput dari kesalahan saya sendiri yang lalai dalam mengawasi anak-anak ibu bapak pada kegiatan hari ini. Sepertinya sempat terjadi cekcok antara Iseul dan Bara tadi. Pihak kami sudah berusaha untuk mengecek cctv kelas kembali untuk memastikan apa yang terjadi namun sepertinya cctv kurang bisa merekam kegiatan Bara dan Iseul tadi karena berada di area blind spot ,” jelas bu guru yang sebenarnya sedikit membuatku jengkel. Sudah bayar sekolah mahal-mahal tapi sistem cctv saja masih belum menyeluruh.
Ibu si anak yang ternyata bernama Bara itu langsung heboh protes, “Aduh saya gak mau tahu pokoknya Anda harus tanggung jawab, anak saya bisa-bisanya dijambak gini sampai mau botak. Kalian ajarkan apa di rumah sih? Atau kalian gak sempat untuk didik anak kalian, hah?” seketika darahku langsung mendidih, rasanya kepala aku bisa mengeluarkan tanduk detik ini juga. Sepertinya sudah rahasia umum untuk orang tua murid sekolah ini kalau Jihoon bekerja sebagai produser musik yang amat sangat sibuk dan aku yang juga bekerja walaupun hanya menerima pesanan baking by order . Kami yang sibuk bukan berarti tidak mendidik anak dengan baik bukan?
Sekilas, aku melihat Jihoon yang mulai mengeraskan rahangnya, genggaman dia di tanganku juga mengerat. “Sebelum ibu berbicara yang tidak-tidak tentang kami kenapa tidak ibu tanyakan dulu ke anak ibu kronologinya seperti apa, jangan main hakim saja,” as expected, suamiku memang keren.
“Bapak dan ibu mohon tenang ya, kita selesaikan dengan kepala dingin. Saya sendiri belum bisa memastikan penyebabnya karena sedari tadi Iseul dan Bara tidak ada yang menjawab saat saya bertanya. Mungkin jika bapak dan ibu yang menanyakan, mereka akan menjawab,” begitu saran dari bu guru.
Langsung saja aku menoleh ke sisi kiriku dimana iseul duduk. Aku elus rambut hingga punggungnya untuk meyakinkan bahwa dia aman sekarang, tidak akan ada yang berbuat jahat padanya. “Sayang, mama izin tanya ya, tolong dijawab sesuai dengan yang tadi Iseul alami,” dibalas anggukan oleh Iseul, maka aku lanjutkan kalimatku, “tadi Iseul tarik rambut Bara ya?”, “Iya ma, maaf…” duh, rasanya nyawaku seperti ditarik setengah mendengar anak aku mengakui habis melakukan kekerasan ke temannya, tapi tidak lama aku menyadari punggung tangan kanan Iseul seperti ada cakaran, ditambah dengan lengan baju kanannya seperti terkena coretan krayon, aku pun memberikan lirikan kode ke Jihoon untuk melihat ke arah tangan kanan Iseul.
“Kalau tangan kanan Iseul kenapa itu sayang, kok ada bekas cakar? Sakit tidak sayang?” kali ini Jihoon yang bertanya. Sambil mendongak dengan mata yang berkaca-kaca Iseul menjawab, “Sakit Pa, tadi aku lagi kerjakan tugas mewarnai hiks, terus, hiks, Bara tarik-tarik krayonku.” Langsung saja aku dan Jihoon menoleh dengan muka bertanya-tanya ke arah orang tua Bara yang berada di seberang kita.
“Benar kamu begitu, Bara?” dengan nada yang sedikit tinggi diikuti rasa kecewa ibu Bara bertanya yang dijawab dengan sebuah anggukan kecil dari sang anak dilanjut dengan, “Tapi Bara cuman mau pinjem aja, Bara gak tau kalo Iseul kecakar…”
“Bara bukan mau pinjem tapi ngerebut dari Iseul! Bara gak bilang dulu tadi langsung tarik krayon di tangan Iseul, huhuhuhu, sakit tangan Iseul kuku Bara tajam-tajam sekali,” Iseul menjawab dengan menatap nyalang ke arah Bara sambil menangis, aku biarkan anakku meluapkan emosinya itu sambil mengelus rambutnya. Iseul pun melanjutkan kesaksiannya dengan berkata, “Iseul udah bilang kan gak mau, hiks, Iseul lagi mewarnai tadi belum selesai! Tapi habis itu Bara tetap tarik-tarik krayonnya terus malah bilang Iseul bodoh.”
“Kenapa Bara bilang Iseul bodoh?” sekarang Jihoon yang bertanya, sangat terlihat dari wajahnya kalau ia sudah emosi sekali, namun karena yang dihadapi adalah balita ia berusaha untuk tetap tenang. “Katanya nilai berhitung Iseul jelek sekali cuman dapat bintang satu tapi yang lain dapat bintang banyak, Pa..” Iseul menjawab masih sambil menangis. “Iseul sedih dan marah sekali jadi Iseul tarik rambut Bara supaya diam..” haduh, anakku ini kecil-kecil berjiwa preman.
“Bara! Kok kamu gitu ke teman kamu? Bunda gak pernah ya ajarin kamu buat kayak gitu ke temanmu!” waduh , bundanya Bara seram juga kalau marah. “Maafkan anak saya ya bu guru, bapak, dan ibunya Iseul, Bara sudah jahati Iseul,” sambungnya.
“Lain kali ajari anak ibu untuk jaga perilaku dan perkataannya. Saya tau anak ibu laki-laki, energinya meluap-luap, tapi tolong dikondisikan jangan sampai mencelakai anak-anak lain,” Jihoon menjawab perkataan bunda Bara dengan nada yang sangat tajam disertai senyum tipis, sangat khas dengan dirinya yang sedang marah, “Saya sendiri juga akan memberikan pengertian pada Iseul agar tidak mengulanginya lagi,” lanjutnya.
“Sekali lagi maafkan anak saya pak, bu, akan saya arahkan Bara lebih baik kedepannya. Bara, minta maaf kamu ke Iseul!” ucap bunda Bara
Dengan takut-takut Bara mendekati Iseul dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman, “Iseul, maafkan Bara ya. Maaf Bara sudah tidak baik ke Iseul”. Awalnya uluran tangan tersebut hanya ditatap oleh Iseul, anak itu enggan untuk membalasnya, namun dengan bantuan pengertian dari Ibu Guru akhirnya Iseul mau untuk bersalaman dengan Bara dan menjawab, “Iya,” singkat, padat, dan jelas, hahaha sangat mirip dengan papanya.
“Terima kasih Bara dan Iseul, kalian hebat hari ini sudah mau berlapang dada saling memaafkan!” ucap bu guru dengan nada khasnya yang ceria, berbanding terbalik dengan kedua balita tersebut yang masih saling menundukkan kepala. “Mungkin pertemuan hari ini bisa kita cukupkan di sini. Terima kasih juga bapak dan ibu telah hadir di siang hari ini. Saya dan manajemen sekolah turut memohon maaf atas kurangnya pengawasan dari kami.”
“Sama-sama, bu guru. Terima kasih juga sudah menjadi mediator kami hari ini, semoga kejadian ini terakhir yang terjadi ya, bu,” jawabku.
Pertemuan pada hari itu akhirnya ditutup dengan kami yang saling berjabat tangan dengan ekspresi yang sama-sama menyunggingkan senyum canggung karena pada dasarnya anak kami juga melakukan kesalahan. Aku, Jihoon dan Iseul akhirnya berjalan menuju parkiran untuk bergegas kembali ke rumah.
—
Perjalanan kembali ke rumah dihiasi oleh keheningan. Iseul yang tertidur di baby seatnya dan Jihoon yang tidak kunjung membuka suara sejak masuk ke dalam mobil. Aku ingin menyalakan radio juga segan ketika menyadari suasana hati suamiku yang agaknya kurang bagus sekarang.
Tidak terasa, mobil kami kembali terparkir di pekarangan rumah. Jihoon keluar dari kursi kemudi dan segera menuju bangku penumpang untuk menggendong Iseul masuk dan meletakkannya ke dalam kamarnya. Aku hanya bisa mengikuti langkahnya dalam diam sambil bantu membawakan tas bergambar unicorn milik Iseul.
Terdengar suara helaan nafas yang berat ketika Jihoon keluar dari kamar Iseul dan berjalan menghampiriku yang berada di dapur, lantas aku pun bertanya “Are you okay?” dan dijawab olehnya dengan gerakan bahu yang menandakan dia tidak tahu.
“Aku bingung, aku harus marah atau sedih sama kejadian hari ini,” ucap Jihoon sesaat ia duduk di kursi kitchen bar. Akupun hanya bisa tersenyum menyetujui ucapannya sambil menyerahkan iced tea yang sengaja aku bikin untuknya, tahu bahwa dia butuh sesuatu untuk membantu mendinginkan pikirannya, yang kemudian ia terima sambil berucap “Thank you, babe.”
“ Me too …rasa-rasanya dulu aku gak pernah sebrutal itu kalau berantem sama teman pas kecil, hahaha,” sahutku sambil sedikit tertawa berusaha mencairkan suasana. “Aku rasanya gagal jadi orang tua, Ma…aku gak peduli anak aku nilai akademiknya gimana, tapi disaat dia main tangan seperti tadi ke temannya aku rasanya sedih banget,” balas Jihoon sambil tersenyum getir ke arahku. Aku pun berjalan menghampiri Jihoon, membawa partner hidupku ke dalam pelukan dengan posisi masih berdiri, lengannya ikut melingkari punggung bawahku.
Hatiku rasanya seperti diremas mendengar suamiku berkata seperti itu when in fact he has always been the best father figure for Iseul . Akupun menjawabnya sambil mengelus lembut rambut hitam legam yang sudah mulai kembali panjang itu, “No babe! It’s not your fault . Kita gak gagal jadi orang tua kok. Mungkin emang hari ini lagi apes aja kita, mungkin juga kita agak lalai tapi bisa kita koreksi kok. Habis ini kita tegur Iseul bareng-bareng ya, kita kasih pengertian ke dia pelan-pelan sambil bantu Iseul juga buat belajar lebih giat.”
Setelah itu pelukan kami terlepas dan Jihoon mengatakan terimakasih sambil mengelus punggungku. “Nah, sekarang kamu mau makan siang apa? Biar aku masakin mumpung kamu bisa makan siang di sini sekalian siapa tau bisa menghibur kamu sedikit,” tanyaku sambil tersenyum jahil. Jarang-jarang melihat seorang Lee Jihoon yang kata orang-orang judes itu lagi cemberut seperti ini. “Aku mau telur ceplok aja, kayaknya gak bisa makan banyak-banyak juga, masih gak terlalu nafsu karena tadi.” Akupun terkekeh pelan mendengar jawabannya mengingat porsi makan dia saat tidak nafsu biasanya juga tetap banyak, akhirnya aku balas dengan, “Yang bener nih telor aja? Gak kurang nanti?” dan ia jawab dengan, “Iya, sayaaang. Nanti kalau kurang aku masak sendiri lagi deh, janji.”
Gelak tawa tidak bisa aku tahan lagi, akupun membuka kulkas dan segera mengeluarkan tiga butir telur. “Aku sekalian bikinin sup juga ya, kamu tuh sama Iseul jarang banget makan sayur. Aku juga gak yakin kamu cukup makan telur satu aja, hahahahaha,” masih dengan jahilnya aku goda dia.
“Kamu balik ke kantor lagi nanti?” tanyaku sembari memecahkan telur satu persatu. “Nggak, Ma. Tadi sama Bang Cheol dikasih libur sekalian,” jawabnya. Sekedar informasi, kantor yang dimaksud adalah sebuah studio musik yang dirintis oleh dia dan teman seperjuangannya itu, jadi sebenarnya Jihoon bisa saja tidak pergi ke kantornya setiap hari, tapi jiwanya yang sangat mencintai musik dan lumayan workaholic itu menolak untuk bermalas-malasan di rumah.
“Kalau gitu tolong bantu bangunin Iseul ya, sekalian gantiin bajunya kasian pasti gerah dia,” pintaku dan dijawab dengan sahutan “Ok, Ma!” sembari Jihoon melangkahkan kakinya ke kamar Iseul.
Siang hari ini ditutup dengan kami yang berkumpul di meja makan, menyantap telur ceplok request- an papanya Iseul dan sup ayam. Seperti yang sudah aku duga, Jihoon tidak cukup hanya menyantap sepiring nasi dan telur ceplok (walaupun katanya tadi sedang tidak nafsu) akhirnya kembali berjalan ke arah rice cooker untuk menambahkan nasi ke piring yang sudah kembali kosong itu. Setelah kami semua selesai makan, aku membawa seluruh piring dan alat makan yang sudah kotor ke wastafel dan melanjutkan misi awal kami, yaitu sesi menasehati Iseul yang untungnya Iseul bisa kooperatif, tidak rewel ataupun banyak membantah dan berjanji untuk tidak mengulangi perilakunya hari ini.
Begitulah cerita unik dari keluarga kecil kami yang sedang mengasuh toddler. Kalau kalian, ada cerita menarik apa hari ini?
