Work Text:
“Ini salahku.”
“Bukan salahmu.”
“Tetap salahku.”
“Tidak apa-apa. Aku sudah sembuh.”
“Kau bercanda? Aku bisa melihat bekas lukamu secara jelas tanpa kacamata.”
“Jyuto, aku sudah melupakan kejadian itu.”
“Ya, tapi aku tidak akan pernah bisa.”
“Bisakah kau kecilkan volume musiknya? Beberapa orang mulai memperhatikan kita.”
Menahan geram, Iruma Jyuto mematikan radio mobil yang sedang mengalunkan lagu I Surrender. Laki-laki berkacamata itu menoleh dengan satu tangan masih memegang kemudi mobil. Di sampingnya, duduklah seorang Busujima Mason Riou yang merupakan teman sekamarnya selama dua tahun terakhir.
Dia tidak percaya Riou gagal memahami sorot mata penuh penyesalan miliknya. Ekspresi sedih itu dibayar dengan tatapan datar, seolah Riou tak merasakan kegundahan dalam dadanya. Sekilas memang mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar.
Menyelam kembali ke kejadian awal bulan Mei, di mana langit berwarna biru dan udara berangsur hangat. Pagi itu Jyuto ingin membuat sarapan untuk mereka berdua. Dengan skill seadanya –keterlibatan dirinya di dimensi dapur hanya mentok pada merebus air dan tragedi telur gosong—Jyuto ingin menggoreng ayam. Genangan minyak di pan pun memanas, Jyuto sudah siap memasukkan daging berlapis tepung menggunakan penjepit makanan; omong-omong dia berdiri dalam jarak 50 cm dari kompor.
Dari jarak sejauh itu Jyuto tidak menyadari kehadiran ‘penjahat kecil bersayap’ yang muncul dengan tiba-tiba. Ia terlonjak kaget, spontan menyambar spatula di dekatnya. Pergerakan serangga coklat berantena itu sangat gesit, dia berhasil mengecoh Jyuto. Nahas, karena salah perhitungan, pukulan spatula Jyuto meleset dan mengenai tepi pan hingga oleng. Jyuto yang cepat-cepat mematikan api kompor tidak bisa menghalau tumpahan minyak goreng. Alhasil cipratan likuid panas itu menyebar luas hingga mengenai permukaan bahu dan sebagian kecil punggung Riou –yang sedang berjongkok membersihkan noda lantai.
Berlandaskan rasa bersalah yang dalam, Jyuto memutuskan untuk membawa pria besar itu menuju daerah utara dekat jalur kereta api Prefektur Yokohama. Tepatnya di depan bangunan tiga lantai bercat metal grey yang berdiri di antara toko optik dan salon hewan peliharaan. Di sisi kanan pintu ada papan nama bertuliskan Doberman dengan tegas nan tajam. Logo kepala anjing terukir di ujung kata.
Mereka berhenti di sebuah tattoo parlor .
“Jyuto.” Riou memanggil teman sekamarnya, “apakah ini alasanmu menyuruhku melakukan medical check-up minggu lalu?”
Jyuto mengangguk sambil mendesis kata ‘Ya’.
“Dan apakah ini alasan kenapa namaku ada di daftar tour-guide selama enam bulan ke depan?”
Jyuto membenarkan letak kacamatanya. “Aku merekomendasikanmu pada atasan karena kau benar-benar kompeten, dan mereka menyetujuinya. Tapi bukan itu titik beratnya.”
Riou melempar pandangan ke tattoo parlor itu sekali lagi. Dari lapisan kaca bening dia menemukan beberapa orang sedang mondar-mandir di dalam.
Tato ya? Apakah dia memang membutuhkannya?
“Kau tahu, Jyuto. Aku pikir kau tidak usah repot-repot melakukan ini. Kita pulang saja.” Riou berkata demikian sambil memasang sabuk pengaman.
Riou menyadari perubahan raut wajah temannya menjadi serius. “Riou, kau harus menerimanya.”
“Jyuto, aku sudah memaafkanmu. Lagi pula itu adalah sebuah kecelakaan.”
“Astaga, demi Tuhan biarkan aku menebus kesalahanku.”
Riou menghela napas singkat. Kegigihan kawannya ini tiada lawan. Dalam keadaan ini ia harus mengambil langkah tepat. Setidaknya jangan sampai Jyuto memainkan lagu galau lagi.
Dia terdiam, mempertimbangkan ide Jyuto. Baiklah, pertama, lembaga tempat ia dan Jyuto bekerja tidak melarang mereka untuk memiliki tato selagi bukan di area terbuka. Porsi pekerjaan Riou sebagai Aquarist pun sudah digeser menuju bagian Edukasi dan Interaksi Masyarakat; kesempatan Riou untuk menyentuh air pun berkurang, maka pemulihan tato akan lebih cepat. Riou yakin Jyuto sudah memperhitungkannya sejauh itu.
Pertimbangan kedua, tato adalah perwujudan nilai estetika seni; dia menyukai seni. Terakhir, kalau tujuannya hanya sebatas untuk menutupi permukaan luka bakar maka.....
“Baiklah,” jawab Riou menyerah.
“Bagus,” giliran Jyuto yang bernapas lega, “memang seharusnya kau bilang begitu karena aku sudah reservasi minggu lalu.”
Dia luar biasa persisten, komentar Riou dalam hati.
“Kau bisa keluar sekarang.” Riou mendengar bunyi kunci pintu mobil terbuka.
“Maksudmu, kita berdua bisa keluar sekarang,” ralat Riou ragu-ragu melepas sabuk pengaman. Akan tetapi Jyuto tidak mengikutinya.
“Tidak, KAU yang keluar. Silakan.” Jyuto bahkan membuka pintu mobil dengan senang hati.
“Bagaimana denganmu?” tanya Riou keluar mobil.
Jyuto menutup pintu. “Aku harus ke kantor pusat. Kemarin aku mendengar ada laporan seekor lumba-lumba yang kehilangan telurnya, jadi aku ingin memeriksa keadaanya.”
“Jyuto, lumba-lumba itu mamal—”
Jyuto menyalakan mesin kemudian pura-pura menengok arlojinya. “Ah, aku sudah terlambat. Hubungi aku kalau kau sudah selesai! Sampai jumpa, Riou!”
Riou menyaksikan mobil Jyuto melaju sejauh dua blok lalu tiba-tiba berhenti.
“Satu lagi,” kepala Jyuto muncul dari jendela pengemudi, ia sedikit berteriak, “selamat ulang tahun!”
Riou baru ingat, hari ini tanggal 21 Juni.
Segala prasangka buruk Riou langsung terpatahkan ketika memasuki tattoo parlor itu. Awalnya dia mengira akan berhadapan dengan berandalan gila yang menyetel lagu hip-hop keras-keras di ruangan redup. Kenyataannya, studio itu sangat bersih dan terang.
Oxford blue dan white smoke menjadi dominasi warna ruangan. Samar-samar hidungnya membau aroma pengharum ruangan dan disinfektan.
Sekali lagi, selamat datang di Doberman , sebuah tempat bagi pasien-pasien yang ingin melakukan perawatan kulit. Khususnya untuk menyulap kanvas kosong nan membosankan menjadi ungkapan ekspresi.
Terdiri atas tiga lantai. Lantai pertama merupakan tempat reservasi dan konsultasi sketsa. Sambil menunggu urutan, orang-orang biasanya menghibur diri dengan bermain dart dan billiard. Lantai kedua adalah tempat eksekusi karya, tiga petak ruangan dipisahkan oleh dinding dan pintu kaca. Lantai ketiga diperuntukkan gudang peralatan tato, ruang diskusi internal dan pantry.
Riou melangkah menuju meja reservasi di sisi selatan kursi tunggu. Belum sempat mengucap sesuatu, Riou dikejutkan dengan seorang laki-laki mungil yang muncul dari bawah meja. Rambut merah muda ombre ungu menyembul dan mengembang seperti permen kapas. Kemeja putihnya ditutup dengan hoodie warna teal panjang. Meskipun dengan satu permen loli di mulutnya, laki-laki bermata biru-pink itu dapat tersenyum manis ke arah Riou.
“Hai~ hai~ ada yang bisa aku bantu?” sapa laki-laki bernama Amemura Ramuda terlampau ceria.
Riou melepas topi hitam yang dikenakan lalu menjawab, “Temanku sudah membuat reservasi untukku minggu lalu. Atas nama Iruma Jyuto.”
“Iruma Jyuto?” tanya Ramuda memiringkan kepala dengan lucu. Cekatan, laki-laki itu pun beralih pada layar komputer di meja samping; ia sedang mengecek daftar dan jadwal pertemuan. Hanya dengan beberapa kali bunyi ‘klik’, form pemesanan Jyuto dan lampiran data hasil cek kesehatan Riou terpampang di layar.
“Ah~ ketemu! Iruma Jyuto memang sudah memesan dan melakukan pelunasan di tahap awal. Dia bilang jika pelayanan ini akan diberikan pada Busujima Mason Riou,” jelas Ramuda menarik permen loli dari mulutnya.
“Aku Busujima Mason Riou,” kata Riou seketika mengeluarkan tanda pengenal dari dompet, reaksi itu memicu gelak tawa singkat Ramuda.
“Aku tahu, Iruma Jyuto sudah melampirkan fotomu,” katanya masih tertawa. Sigap, Riou menyimpan tanda pengenalnya kembali.
Mengejutkan, ternyata Jyuto mempersiapkannya sejauh ini.
“Karena temanmu tidak mengirimkan referensi, kau bisa langsung mendiskusikannya dengan artis kami di lantai atas,” tunjuk Ramuda pada anak tangga di ujung ruangan.
Riou melirik ruang konsultasi yang sedang diisi oleh dua orang. “Bukan di ruang konsultasi?”
Ramuda menggeleng, “Bukan, karena jadwalmu seharusnya dimulai satu jam yang lalu.”
“Ramuda! Berapa lama lagi aku harus menunggu si Mata Empat Sialan itu?” sebuah seruan menusuk pendengaran mereka berdua. Dengan langkah kaki tegas seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun menuruni tangga.
“Samatoki!~ Kalau yang kau maksud adalah klienmu, dia sudah datang kok!” kata Ramuda melambaikan tangan.
Saat Riou mengalihkan arah pandang, ia menemukan laki-laki berkemeja putih dengan motif dua tengkorak di dada, celana latex hitam ketat dan ditutup dengan boots berwarna senada.
“Mana?!” tanya laki-laki ini kesal.
Ramuda menunjuk Riou. “Dia?” tanya Samatoki. Ia mengulas pandangan dari atas hingga bawah dengan saksama. Mengamatinya seperti menemukan spesies baru di habitatnya.
“Iruma Jyuto membuat reservasi untuk Busujima Mason Riou,” jelas Ramuda tanpa diminta.
Laki-laki bernama Aohitsugi Samatoki itu lantas memijat pangkal hidung sambil memejamkan mata; menelan kekesalannya sendiri.
“Ugh...kalau begitu ikuti aku,” ajak Samatoki tanpa buang waktu.
Riou mengangguk kecil ketika Ramuda mempersilakannya berjalan dengan Samatoki.
“Selamat bersenang-senang!~” paparan energi positif Ramuda mulai lenyap seiring dengan langkah kaki mereka yang menjauh.
Berbeda dengan si resepsionis, Riou berpendapat jika seniman ini jauh dari kata manis.
Pedas. Kata itu lebih cocok.
“Kau jadi keluar?”
Aohitsugi Samatoki yang sedang duduk menyilangkan kaki pun menyeringai. “Kenapa? Kau akan merindukanku?” godanya.
Harai Kuukou sebagai salah satu seniman sekaligus menjadi lawan bicaranya mendecakkan lidah. Ia membuka kemasan ramen cup dengan jengkel. Setelah menuang air panas, laki-laki berambut merah menyala itu menghampiri Samatoki di sofa coklat pantry.
“Aku tidak akan pernah merindukanmu, tolol. Kalau kau pergi secepat ini, nantinya aku yang kerepotan,” keluh Kuukou menyandarkan punggung.
“Kau berkata seolah aku akan mati…,” timpal Samatoki memutar kedua bola mata.
“Kau masih harus mencari pengganti yang sepadan.”
“Dan jelaskan padaku, apa arti sepadan.”
Kuukou menghela napas, enggan menjelaskan. “Yang bisa berkarya, bekerja dan berkolaborasi dengan baik sepertimu. Senang mendengarnya, ha??” dengusnya.
Ia melanjutkan, “Aku benci mengakui tapi desain dan pengerjaanmu selalu disukai orang-orang. Bisa heboh kalau tiba-tiba semua desainmu diarsipkan.”
“Bagiku, studio ini tetap berjalan karena desain urban-mu yang khas.” Samatoki menangkap alis Kuukou yang menukik.
“Hentikan omong kosongmu,” sergah Kuukou dingin, sedetik kemudian ia mengacak rambutnya, “sial, memikirkan yang tidak-tidak membuatku sakit kepala.”
Samatoki mulai duduk tegak. “Kenapa kita tidak membuka lowongan? Dengan mendapat berbagai portfolio dari peminat, cakupan gaya seni kita akan berkembang. Sudah waktunya Doberman untuk melebarkan sayap.”
“Aku juga berpikir begitu. Bagaimana pun kita harus membicarakannya bersama-sama,” Samatoki mengangguk setuju. “yang pasti keputusan harus diambil sebelum kau pergi.”
“Ayolah, aku hanya ganti pekerjaan, bukan ganti alam.”
“Jelas-jelas kau banting setir begitu.”
“Berisik.”
Kuukou mendenguskan tawa. “Sekarang saatnya aku berkata, selamat meneruskan bisnis keluarga, Samatoki,” sindirnya.
“Mengurus galeri seni itu bukan bisnis keluarga,” sanggah Samatoki.
Satu-satunya alasan Samatoki keluar dari Doberman adalah untuk menjadi kepala galeri seni keluarganya; Galeri Kizuna. Samatoki menggantikan posisi kakeknya karena alasan kesehatan. Pada dasarnya pewaris pertama bukanlah Samatoki, melainkan sang ayah. Namun, karena orang tua Samatoki bercerai, penerus galeri diturunkan langsung pada cucu pertama. Belum diadakan pergantian pengurus pun Galeri Kizuna sudah mengantongi agenda yang padat sampai akhir tahun; termasuk pameran dan pertunjukan seni.
“Terserah apa katamu. Omong-omong bukannya hari ini kau punya klien?”
“Yah, klien terakhirku dan dia terlambat satu jam,” katanya sedikit menggerutu.
Kuukou mengangkat alisnya, “Loh, tumben?”
Samatoki bisa saja bersikap normal, tetapi mengingat kliennya kali ini adalah teman SMA bernama Iruma Jyuto, jujur ia merasa berang. Dia bersumpah akan menendang bokong Jyuto nanti.
“Kuukou-san! Kuukou-san!” seorang laki-laki berambut hitam panjang dengan beberapa helai kuning datang secara tiba-tiba. Wajah paniknya merebut atensi Kuukou dan Samatoki.
“Ada apa kali ini, Jyushi?!” tanya Kuukou pada Aimono Jyushi yang hampir menangis. Jemari dengan kuku yang dipoles hitam itu mencengkram kaca pintu erat.
“Apa kau tahu desain mawar berduri yang ada di mejaku? Ketika aku kembali dari ruang penyimpanan desain itu tidak ada!”
“Kenapa kau tidak tanya pada Amanda?” sahut Kuukou yang langsung mendapat tatapan malas Samatoki. Amanda di sini adalah sebuah boneka babi yang selalu dibawa Jyushi kemana pun ia pergi.
“Amanda juga tidak tahu!”
Tentu saja dia tidak tahu! protes Kuukou dan Samatoki dalam hati.
Jyushi melesak masuk dan menarik tangan Kuukou, “Tolong bantu aku mencarinya Kuukou-san! Klienku sebentar lagi datang!”
“Berisik! Kalau sampai aku kembali ke sini dan ramenku sudah mengembang, kau mau tanggungjawab, hah?!”
“Pasti. Aku ganti jadi dua kali lipat. Ayo Kuukou-san!~” bujuk Jyushi akhirnya berhasil mengangkat pantat Kuukou dari sofa.
“Pergilah, aku mau ke bawah,” kata Samatoki ikut berdiri.
Tiga orang itu keluar dari pantry bersamaan. Kuukou dan Jyushi berhenti di lantai dua, sedangkan bagi Samatoki masih ada satu lantai lagi.
Selama menuruni tangga, Samatoki mencoba menghubungi Jyuto. Namun, yang ia dapat hanya nada sambung tanpa batas dan dua kali informasi panggilan dialihkan. Selama mengenal Jyuto, Samatoki menyadari kalau ia tidak pernah mengenal kata terlambat. Hal seperti ini mustahil untuk terjadi. Rasanya sangat janggal. Rasanya terlalu jelas jika Jyuto mengerjainya. Awas saja, Samatoki akan membiarkan dirinya meledak kali ini.
Setiba di anak tangga terakhir, Samatoki masih belum melihat batang hidung Jyuto.
“Ramuda! Berapa lama lagi aku harus menunggu si Mata Empat Sialan itu?” tanya Samatoki melangkah menuju meja pemesanan.
Ternyata ada satu pengunjung yang telah menantinya. Seorang laki-laki berusia sekitar 30 tahun (mungkin lebih) memakai kaus navy, celana denim dan beralaskan sepatu konvers tengah memegang topi. Dilihat dari gerak-gerik yang kaku, Samatoki yakin ini adalah kali pertama kunjungannya.
Setelah mendengar penjelasan Ramuda, Samatoki kini paham. Jyuto memesan pelayanan tato ini bukan untuk dirinya, melainkan untuk … pria besar ini.
“Ugh...kalau begitu ikuti aku,” ajaknya tanpa basa-basi.
Ramuda mengatakan sesuatu seperti selamat bersenang-senang atau semacamnya. Samatoki tidak terlalu peduli.
Ada yang lebih menarik perhatiannya.
Kalau saja tidak ada pigura gambar desain, aksesoris gothik dan tanaman imitasi, Riou akan menganggap ruangan ini adalah duplikasi ruang pemeriksaan gigi.
Samatoki menyuruh Riou untuk duduk di kursi panjang tengah ruangan. Ia menarik kursi lain sambil membuka profil Riou yang dikirim Ramuda.
Samatoki mulai duduk, “Sebelumnya, namaku Aohitsugi Samatoki. Karena Jyuto sama sekali tidak mengirim referensi gambar jadi aku akan bertanya, tato apa yang kau inginkan, Busujima-san?”
“Aku juga tidak tahu, Aohitsugi-san,” jawab Riou mengedikkan bahu.
“Panggil saja Samatoki,” ucap Samatoki membuka kakinya lebar. Dalam data yang dibaca Samatoki, Riou memang lebih tua tiga tahun darinya.
“Baiklah, kau juga bisa memanggilku Riou.”
Samatoki terdiam sesaat, lalu memutar kedua matanya. “Terserah. Kembali ke pertanyaan awal. Apa kau punya preferensi seperti hewan, kata-kata, simbol atau yang lain?”
Riou mendongakkan kepala ke atas, memandang langit-langit putih ruangan beberapa detik kemudian menunduk kembali. “Aku akan menerima gambar apa pun, maksudku aku tidak terlalu memikirkannya.”
“Oh, bagus. Kebetulan sekali aku ingin menggambar penis besar di tubuhmu.”
Riou mengernyitkan dahi. "Kalau itu, aku sedikit keberatan."
Samatoki mendengus, "Bercanda.”
Laki-laki berambut perak itu mundur dan meraih buku katalog cukup tebal di meja. “Coba lihat apa yang bisa kita dapatkan di sini,” kata Samatoki menyerahkannya pada Riou.
Jemari Riou mengayun membuka helai demi helai halaman buku. Tersaji ratusan gambar dalam sub-sub kategori: desain sederhana-rumit, realis-abstrak, musim panas-dingin. Diam-diam Riou telah menandai desain yang menarik.
Akan tetapi saat ia menaikkan pandangan matanya ke Samatoki, desain-desain itu runtuh seketika. Samatoki berhasil membuyarkan konsentrasi pria besar ini hanya dengan duduk menyilangkan kaki dan mengulas rambutnya ke belakang. Kedua mata lentiknya terpaku pada layar ponsel; ia mencari dokumen desain terbaru yang belum dicetak.
Dalam posisi itu Riou melihat jenjang kaki Samatoki terbalut celana yang berkilau terpapar sinar lampu. Belum lagi kemeja putihnya yang mengekspos kulit putih pucat dengan bercak kemerahan di siku-siku serta cuping telinga. Permukaan kulit halus itu seperti diterpa musim dingin berkepanjangan. Riou tidak terganggu dengan enam piercing yang bertengger di masing-masing telinga Samatoki. Baginya, mereka terlihat sangat sesuai.
“Sudah menemukan desain yang kau inginkan?” pertanyaan Samatoki membeku di udara sesaat, sebelum Riou mengambil napas.
“Hmm, ya. Aku rasa,” ucap Riou membolak-balik katalog serampangan hingga secarik kertas jatuh ke lantai. Cepat-cepat Riou mengambilnya untuk dimasukkan kembali ke buku, tetapi tangannya berhenti ketika melihat goresan gambar di kertas itu.
Tangan Riou berputar menghadap Samatoki, “Yang ini,” katanya menunjukkan desain yang ia pilih.
Riou sempat menyaksikan kedua mata ruby Samatoki melebar saat melihat temuannya. Badan Samatoki condong ke depan, hendak merebutnya.
“Desain ini masih berbentuk prototype, tidak termasuk dalam portfolio kami. Maaf,” katanya berhasil meraih kertas yang Riou genggam.
“Aku menyukai desain ini,” balas Riou seolah Samatoki tak pernah ada di hadapannya.
Samatoki menariknya kuat tetapi sedikit gemetar, takut jika kertas itu sobek. “Aku meminta pengertianmu, sudah aku bilang desain ini prototype, masih mentah,” ucapnya tak sadar menaikkan volume suara.
“Kau sendiri yang menyuruhku memilih. Lagi pula, kalau gambar ini masih mentah bukankah bisa kita perbaiki?”
Samatoki menahan amarahnya. “Seperti semua orang yang bekerja di sini, kau juga harus menaati peraturan kami, Busujima-san.”
“Pilihanku masih tetap sama,” ucap Riou tetap memegang kertas lebih erat.
“Lepaskan kertas ini sekarang juga. Jangan memaksaku untuk melakukan kekerasan,” kata Samatoki dengan otot wajah mengencang. Ekspresinya garang dan pedas. Kesabarannya sudah surut.
Pria itu tetap diam.
Menyaksikan Riou yang bergeming seraya menatap lurus matanya, Samatoki dengan berat hati mengendurkan cengkraman tangan. Mengembuskan napas keras kemudian melipat tangannya di dada.
“Tch. Begini saja, pertama aku harus tahu area mana yang ingin ditato. Yang menentukan tepat atau tidaknya desain ini bukan mulutmu maupun egoku, melainkan kondisi kulit itu sendiri.”
“Baiklah.” Riou akhirnya bersuara.
“Sekarang buka bajumu,” Samatoki beranjak menegakkan diri sementara Riou mulai memutar arah duduknya, membelakangi Samatoki. “dasar keras kepala,” gerutu Samatoki tertangkap indra pendengaran Riou.
Satu kali singkap, kaus navy Riou terlepas dari tubuhnya.
“Oh…,” lirih Samatoki.
Luka bakar menghiasi permukaan kulit belikat kanan Riou. Luka itu tidak terlalu besar. Bentuknya lingkaran berpendar lalu mengalir ke bawah. Dari jauh bentuknya seperti huruf S abstrak yang merenggang. Riou merasakan jemari Samatoki menyentuh bahunya, mengusap dan sesekali menepuknya pelan hingga ujung luka.
Tangan itu berhenti, ia berasumsi jika Samatoki sedang mengamatinya. Sedikit lebih lama.
Berseberangan dengan asumsi Riou, Samatoki tercenung. Ia terlalu terpaku pada visualisasi permukaan kulit yang telah beregenerasi; warna mereka terlihat lebih muda. Bagian pinggir luka seperti garis tepi dengan warna lebih gelap. Samatoki menelusuri kepalan-kepalan padat otot pria itu sembari mengusap bekas luka secara hati-hati. Pun matanya menemukan beberapa garis luka lain di sekitar punggung Riou.
Samatoki tersenyum kecil, inilah yang ia cari. Kanvas yang berkualitas. Yang kasar. Yang ada tantangannya. Yang punya banyak cerita tersembunyi.
Samatoki mengambil desain yang bebas dari tangan Riou. Kedua matanya mulai menganalisis bagian-bagian yang perlu diolah lagi. Ruang kosong di sekitar objek utama bisa disusupi ornamen dan ombak, opsi warna gelap pekat tercetak dalam pikirannya.
Samatoki menyapu bibir atasnya sekilas. Pilihan sudah dijatuhkan.
“Riou, kau sedang beruntung. Aku akan melukis tato ini di bahumu,” kata Samatoki sontak membuat Riou menoleh. Dalam balutan mata biru yang berbinar Riou tersenyum. Singkat memang, tapi sanggup memaksa Samatoki berpaling ke arah lain.
“Tapi aku harus menggambar ulang dan menambah elemen lain agar menjadi satu kesatuan. Kau ada saran?”
Riou berotasi lagi, “Hmm, sesuatu yang tenang… seperti lautan atau ombak?”
Ujung telunjuk Samatoki berkedut, tak memprediksi bahwa mereka memiliki kesamaan idea. “Kita bisa melanjutkannya diskusi sembari menggambar. Jangan sungkan untuk bicara.”
Riou setuju.
Bagaimana pun Samatoki harus memanfaatkan permukaan itu dengan maksimal.
“Begini?”
“Sempurna.”
“Menurutmu begitu?”
“Ya.”
Samatoki dan Riou menyudahi aktivitas menggambar pola tato dengan raut puas.
Terciptalah desain gambar di atas kertas stensil berupa kerangka mamalia tertua yang disebut-sebut sebagai nenek moyang ikan paus. Basilosaurus, ‘Raja Kadal’ sebesar 65 kaki yang diperkirakan hidup pada era Eosen akhir (sekitar 34-40 juta tahun lalu). Struktur tulang mereka besar dan panjang, bentuk tubuh mereka cenderung ramping, berenang serupa belut.
Samatoki mengubah arah lekukan tulang belakang menjadi meliuk mengikuti alur bekas luka Riou. Dengan posisi kepala di atas, mulut kerangka itu terbuka. Ia menambahkan dua taring di bagian mulut serta pada tiap ujung tulang dibuat lebih runcing. Di belakang struktur tulang Samatoki menggambar elemen ombak, kemudian di tengah-tengah tulang rusuk ia tambahkan sebuah jantung yang nantinya akan terisi pigmen biru. Sulur elemen pengikat Samatoki bubuhkan sebagai penutup.
“Kita bisa mulai kapan pun kau siap,” ujar Samatoki lebih tenang.
“Aku siap,” balas Riou melepas kaus navy- nya lagi.
“Baiklah.” Samatoki menarik laci meja di dekatnya. Mengeluarkan sarung tangan hitam dan masker.
Laki-laki ini menyuruh Riou memilih posisi ternyaman. Dan ia pun memutuskan untuk tengkurap di atas kursi panjang.
“Luruskan tangan kananmu, Riou. Buat bantalan pakai tangan kiri saja,” perintah Samatoki.
Dari samping, Riou menyaksikan Samatoki mempersiapkan mesin tato dan beberapa jarum. Ia melapisi kedua tangannya dengan gel alkohol dan vaselin disinfektan, kemudian memakai masker.
“Astaga, rileks, Riou. Kita tidak sedang berkelahi…,” kata Samatoki memijat kecil bahu kaku itu.
Cukup sulit, pasalnya Riou belum terbiasa dengan sentuhan jemari licin Samatoki yang meraba-raba bahunya.
Setelah cukup lemas, Samatoki membuka lacinya lagi. Kali ini mengambil pisau cukur. Usai dibersihkan, ia mengoleskan cairan sabun antiseptik kemudian mengusapnya perlahan sampai berbusa. Kepala Samatoki merendah, tangan kanannya mencukur bulu-bulu halus di bahu Riou.
Riou dalam keadaan ini harus mempertahankan posisi matanya lurus menatap pigura desain tengkorak dan peti mati di belakang tubuh Samatoki. Karena kalau goyah sedikit saja, Riou berpapasan dengan dada bidang Samatoki. Leher rendah kemeja Samatoki menyebabkan celah dada hingga abdomennya terekspos. Tubuh bagian atasnya terbentuk cukup padat dan atletis, Samatoki jelas laki-laki yang …sehat.
Oh sial, Riou tak sengaja menurunkan arah matanya. Dengan cepat ia berkedip kemudian kembali memusatkan mata pada pigura tengkorak. Mungkin selama lima sampai lima belas menit ke depan bisa bertahan, tapi setelah itu di mana lagi ia menaruh pandangan?
“Kau tahu, bekas luka seperti ini kalau ditato biasanya terasa lebih sakit karena lapisan kulit masih tipis. Mungkin sudah cukup rekat, tapi belum sempurna,” ucap Samatoki memakai sarung tangan karet hitam, “katakan padaku jika kau ingin istirahat.”
“Aku mengerti,” jawab Riou terbebas dari pemandangan dada Samatoki.
Samatoki pelan-pelan menempelkan kertas stensil di bekas luka Riou. Meratakan permukaannya dengan sabar dan didiamkan beberapa saat sebelum nanti dikupas kembali.
Pola itu pun berhasil tercetak di bahu Riou.
“Aku mulai,” ucap Samatoki sebagai aba-aba. Riou mengangguk sebagai respons.
Jarum sudah terpasang, mesin mulai mendesing. Samatoki lekas meregangkan kulit dengan ibu jari dan telunjuknya. Sempat mengambil napas, Riou berusaha meredam refleks yang berlebihan.
Awalnya Riou bisa menahan tusukan demi tusukan yang menghujam kulitnya. Namun tidak bisa dipungkiri terkadang bahunya tersentak akibat sengatan jarum. Ia mendengus halus, menyamarkan rasa tidak nyaman. Samatoki berbisik agar tetap mengendurkan ototnya yang tegang, menyuruhnya bernapas seperti biasa. Suara rendah Samatoki yang terhalang masker entah mengapa membuatnya lebih tenang.
“Dari sekian banyak gambar tato, kenapa kau memilih yang ini?” tanya Samatoki untuk mengisi kekosongan, sekaligus pengalihan rasa sakit kliennya.
“Karena aku pikir, sedikit banyak mewakili pekerjaanku,” jawabnya.
“Jadi selain melatih lumba-lumba kau juga menyukai dinosaurus, huh?”
“Aku tidak melatih lumba-lumba ataupun anjing laut karena berada di bagian Edukasi dan Interaksi Masyarakat,” jelas Riou menyipitkan sebelah mata, “tapi kau benar, aku memang memiliki ketertarikan pada dinosaurus.”
“Ah, begitu,” sahut Samatoki singkat. Meski terhalang masker, entah mengapa Riou berpikir Samatoki sedang tersenyum sekarang.
“Kau sendiri?”
“Apa?”
“Mengapa kau menggambar desain itu?”
Satu pertanyaan dari Riou meluncur seperti anak panah. Menghujam tepat di dada Samatoki. Jarum pun ia tarik, senyumnya pun ikut lenyap.
Samatoki mengambil napas lemah, “Aku punya kenangan buruk yang tidak mau kuceritakan pada orang lain. Termasuk klienku.”
“Hmm,” gumam Riou tak bertanya lebih lanjut.
Setelah menyeka kulit dengan lap kertas, Samatoki mulai merajah lagi. Keheningan menyebabkan mereka merasa rikuh. Ruangan kecil dingin itu makin sunyi karena tak adanya pembicaraan.
Riou menimbang-nimbang tentang bagaimana cara mengatasi keadaan ini. Haruskah ia menanyakan hal lain? Bisa saja, tapi tentang apa? Dinosaurus juga? Apakah Samatoki tahu kalau Diplodocus (dinosaurus yang lehernya panjang) memiliki kaki depan lebih pendek dari kaki belakangnya?
“Omong-omong….,” belum selesai mencari topik, Samatoki sudah mengajaknya bicara kembali, “aku menemukan cukup banyak bekas luka di punggungmu, Riou. Kau ingin aku menutupinya juga?”
Riou tak langsung menjawab. Ia memilah kata-kata yang tepat agar kecanggungan tak meruak lagi. “Hmm, tidak usah. Kadang kita harus membiarkan bekas luka itu menetap dan terlihat apa adanya,” ujarnya. Mereka adalah buah jatuh dari sepeda sampai kecelakaan kerja. Sama halnya seperti teman, mereka juga punya cerita masing-masing.
Jemari-jemari terampil Samatoki terus menari di permukaan bahu Riou. “Tapi kau memperlakukan bekas luka barumu ini sedikit berbeda.”
“Oh ya? Aku rasa tidak. Luka itu masih ada. Luka itu masih di sana. Dia hanya dipoles agar lebih indah.”
Riou mendengar Samatoki terkekeh. “Ternyata kau bermulut besar juga ya.”
“… terima kasih?”
“Aku tidak memujimu, bodoh.”
“Oh.”
Samatoki selesai menggambar garis luar susunan tulang dan jantung basilosaurus. “Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah mendapat klien sepertimu—oii, jangan banyak gerak dulu,” ucap Samatoki menahan tengkuk Riou supaya tetap diam.
“Maaf.” Riou pun kembali ke posisi semula, “maksudmu ini pertama kalinya kau mendapat klien seorang Aquarist?”
Samatoki mengangguk. “Jarang sekali orang yang selalu bersentuhan dengan air malah membuat tato. Omong-omong, sudah berapa lama kau bekerja di akuarium?”
“Lebih kurang tiga tahun.”
“Dan di sanalah kau bertemu dengan Jyuto?”
“Ya. Dua tahun lalu saat menghadiri sosialisasi pemeliharaan habitat laut aku bertemu dengan Jyuto. Karena divisi kami sering mendapat proyek gabungan, maka kami pun memutuskan tinggal bersama.”
“Tinggal bersama? Seperti menjadi teman sekamar?”
“Ya.”
Di balik maskernya Samatoki menyeringai. “Yakin sekadar teman sekamar?”
“Sejauh ini memang begitu. Aku menghargainya sebagai teman dan rekan yang baik,” jawab Riou bertemu pandang dengan Samatoki dalam beberapa sekon, laki-laki itu dengan sigap menjauhkan runcing jarumnya. Untuk beberapa alasan, Riou mengerti arti tatapan itu.
“Lagi pula setahuku Jyuto punya pacar, seorang penulis dan dia tinggal di—”
Samatoki memotongnya cepat, “Wow, wow, aku tidak butuh informasi sedetail itu.”
“Maaf, entah mengapa aku seperti harus menjelaskannya.”
Samatoki menggelengkan kepala. Dua ruby -nya kini meningkatkan fokus pada garis melengkung ombak di samping ekor.
Biru bola mata Riou yang dari tadi menyaksikan pertunjukan Samatoki kini menyadari bahwa kelenturan otot pergelangan tangannya adalah kunci penting untuk menciptakan garis-garis dan sebaran tinta rata. Tangannya bergerak luwes penuh keyakinan, cekatan ia membentuk bidang-bidang yang solid… sentuhan jemarinya membawa sensasi adiktif… dan wajahnya … wajahnya yang tertutup masker tetap… apa istilah tampan dan cantik secara bersamaan? Rupawan?
Astaga. Riou menutup mata rapat-rapat, ingin sekali menenggelamkan diri di palung laut terdalam.
“Kau ingin istirahat?” pertanyaan Samatoki memaksa kelopak mata Riou terbuka. Tidak salah dengar, ia tahu ada kekhawatiran di sana. Maklum saja, profesionalitas dalam memprioritaskan klien adalah nomor satu. Tak ada gunanya merasa istimewa saat ini. Bodoh sekali .
“Tidak apa, lanjutkan saja,” balasnya mencoba tenang.
Tepat saat mulutnya mengatup, Samatoki memundurkan kursi. Suara mesin mengecil lalu hilang, Laki-laki itu membuka sarung tangan kanan. Riou bergumam, apakah sudah selesai?
“Riou, aku memang tidak memiliki kesulitan untuk mentato bahumu, tapi jika ototmu masih tegang begitu kau bisa terluka. Rileks, lemaskan,” ujar Samatoki sambil mempersiapkan vaselin. “Aku mau memainkan musik, kau keberatan?”
“Silakan.” Samatoki benar, sejak awal ini adalah kali pertamanya memasuki dunia rajah. Dia yang setuju, maka dia juga yang harus menyelesaikannya.
Riou akan berterima kasih atas hadiah yang diberikan Jyuto, sepulangnya dari mengurusi telur lumba-lumba.
Samatoki mengaktifkan dua speaker mungil di meja komputer sudut ruangan. Beberapa detik kemudian, lantunan melodi musik klasik memasuki indra pendengaran. Riou hafal betul instrument ini. Ketukan nada-nadanya sama persis dengan musik yang dimainkan ayahnya pada sore hari, dulu, di kampung halamannya: Negeri Paman Sam. Ini adalah piringan hitam favorit sang ayah untuk mengiringi kegiatannya membaca buku.
Tiba-tiba Riou bernostalgia. Ia dapat merasakan hangatnya matahari, suasana rumah yang damai, bahkan embun keringat di dahi; ia seperti pulang.
Tanpa disadari, Samatoki sudah berada di sampingnya.
“Aku hampir selesai, bertahanlah.” Ucapan Samatoki terdengar samar di akhir kalimat.
Seiring musik yang mengalun memenuhi ruangan, ketegangan otot bahu Riou mulai turun.
Menit demi menit berikutnya ia menikmati musik hingga proses merajah selesai.
“Selesai..,” ucap Samatoki usai memfoto hasil tato kemudian memberikannya pada Riou yang masih tengkurap.
“Bagaimana? Kau suka?”
“Aku suka,” sahut Riou mengulum senyum.
“Baguslah.”
Riou mengembalikan ponsel Samatoki. “Apa aku sudah boleh bangun?”
Samatoki sempat memandang ragu, tapi kemudian ia berkata, “Boleh, tapi hati-hati.”
Meninggalkan Samatoki yang membereskan peralatan dan melakukan pembersihan, Riou pelan-pelan duduk. Riou merasakan bahu kanannya berdenyut, rasa perih masih aktif di bawah jaringan kulitnya. Telinganya sudah tak lagi mendengar musik klasik.
Tak lama kemudian Samatoki kembali membawa krim perawatan tato. Sedikit menoleh, Riou melihat jari telunjuk itu menyapa bahunya lagi; mengoles krim dengan sabar dan tipis.
“Setelah ini, bersihkan tato dengan antiseptik dan air dingin. Lakukan rutin dua kali sehari,” kata si seniman beralih menutupi bahu dengan perban. “Kalau kesulitan, suruh si Mata Empat Sialan itu untuk mengoleskannya,” perkataan Samatoki dibalas dengan tawa kecil Riou.
“Selama empat minggu ke depan kau harus menghindari musuh bebuyutan tato yaitu genangan air dan sinar UV matahari secara langsung,” ujar Samatoki mengulurkan dua jarinya ke sisi kanan wajah Riou.
“Tidak ada pantai, tidak ada kolam renang atau berendam di bak mandi.” Samatoki berjalan menuju hadapan Riou. Tinggi mereka hampir sama walaupun Riou tetap dalam posisi duduk. Aroma tembakau dan parfum labdanum dengan sedikit citrus bersatu dengan milik Riou yang sebagian besar didominasi wangi pelembut pakaian. Aroma itu mengitari mereka berdua. Hanya mereka berdua.
“Kau juga dilarang memasuki pemandian umum untuk selamanya.” Riou mengangguk kecil. Tidak ada akibat tanpa sebab, pun sebaliknya. Mereka akan selalu berdampingan. Akan tetapi setidaknya, pil risiko kali ini tak begitu pahit ditelan.
“Aku mengerti,” jawab Riou hendak memakai kaus.
Saat ingin melesakkan tangan kanan, Riou bergerak lambat, terngiang-ngiang perkataan Samatoki. Berbeda dengannya, Samatoki malah mengira pria besar ini sedang dalam kesulitan.
“Hey, bilang kalau butuh bantuan. Aku masih di sini,” kata Samatoki dengan alis berkerut-kerut.
“Aku bisa melakukannya,” tolak Riou berhasil mengeluarkan telapak tangan.
“Ya, ya, tentu saja,” walaupun begitu Samatoki tetap membantu menarik tangannya.
Telapak tangan mereka saling menggenggam. Riou menyambut permukaan yang halus tapi masih berotot itu tanpa paksaan. Bahkan ia tidak menapakkan kelima jarinya kuat, telapak tangan itu terlalu indah untuk ternodai sidik jarinya.
Riou bergumam terima kasih dan langsung disambut decak kecil mulut Samatoki.
“Aku juga akan mengirim hasil tato ke e-mailmu. Pastikan untuk membalasnya dengan foto pemulihan kulit empat hari dari sekarang. Di e-mail kusertakan nomor telepon, jangan sungkan menghubungiku.”
“Ya, itu sangat membantu.”
Samatoki mengedikkan kedua bahu. “Meskipun kau adalah klien terakhirku, aku tak mau melakukannya dengan setengah-setengah.”
“Klien terakhir? Itu berarti…,” Samatoki mengangguk atas konklusi Riou.
“Setelah menuntaskan tanggungjawab, aku resmi keluar dari studio ini,” buru-buru Samatoki menambahkan, “bukan hal serius. Aku hanya berganti pekerjaan.”
“Apa kau ingin membuka studio tato sendiri?”
“Tidak, tapi meneruskan bisnis keluarga.”
Bibir Riou membulat tanpa suara, matanya menatap lurus ke arah Samatoki. Melihat bagaimana kemampuan dan hasil karya yang memuaskan, ia pikir Samatoki punya potensi menciptakan studionya sendiri. Itu pun kalau dia mau.
Riou bertahan mengamati laki-laki itu beberapa detik tanpa berkedip, penuh telisik.
Sialnya, Samatoki menyadarinya.
“Ada apa?” Samatoki merendahkan badan, “ah, aku tahu apa yang kau pikirkan,” ucapnya sedikit memiringkan kepala, menyebabkan helai poninya jatuh terkulai.
Tertegun, Riou lantas menegakkan punggungnya. Seolah mengantisipasi, apa pun yang akan terjadi.
“Kau pasti bertanya-tanya, apakah seorang seniman sepertiku punya tato atau tidak…,” tembak Samatoki. Pernyataan itu salah, tetapi bibir Riou terlalu kaku untuk membantah. Sejujurnya, dia juga cukup penasaran.
Samatoki tertawa atas reaksi lucu Riou.
“Aku tidak punya tato satupun karena..,” jawab pria ini sambil membelakangi Riou.
Ibu jarinya menarik tepi celana ke bawah. Di perbatasan panggul Samatoki terdapat rentang sayap merah gelap yang sangat kontras dengan kulitnya. Tekstur kulit itu timbul dan serupa luka melepuh, mereka terlihat masih baru. Saking rendahnya letak luka itu, Riou bertaruh apabila Samatoki menurunkan ibu jarinya beberapa senti lagi, garis pantatnya akan terlihat. “kulitku cukup sensitif,” tutur Samatoki menyudahi perilakunya yang jahil.
Riou berdeham, menarik kesadarannya yang hilang sesaat. Jawabannya tadi sudah ekstra mewakilkan.
“Jadi, Samatoki, aku hanya perlu bertahan selama lebih kurang satu bulan untuk pemulihan?” tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
“Tergantung. Fase pemulihan orang-orang tentu berbeda. Kalau pun berhasil melewati masa-masa kritis, kau tetap harus merawat tatomu. Makanya aku menyuruhmu untuk mengirimkan perkembangannya, akan lebih bagus jika kita bertemu agar aku bisa menilai apakah perlu perbaikan atau tidak. Salah satu tugasku adalah mencegahmu untuk membuatnya lebih buruk,” jelasnya.
“Aku akan berusaha yang terbaik.”
“Tahan dirimu supaya tidak tergiur menyentuh air, meskipun ikan-ikan itu memanggilmu, Riou.”
“Aku bisa menahannya, tapi aku harus mencari kegiatan lain untuk distraksi.”
“Distraksi,” Samatoki menggigit bibir bawahnya, “kau benar. Aku juga perlu distraksi. Karena sudah tidak aktif di studio ini, aku memiliki banyak waktu luang. Sial, bisa-bisa aku mati kebosanan!” keluhnya gusar.
“Berkunjunglah sesekali kalau kau bosan. Anggap saja sebagai hiburan.” Agaknya kecepatan saraf lidah Riou lebih cepat bereaksi daripada otak. Dia berbicara lancar tanpa berpikir lebih dulu.
Kelopak mata Samatoki melebar. Tak yakin penawaran itu diberikan padanya.
“Bukan ide buruk, tapi pastikan kau bersedia untuk menjelaskan semua spesies air satu-satu,” terselip guyonan dalam kata-katanya.
“Jadwal kunjungan untuk edukasi biasanya padat pada Hari Kamis hingga Sabtu. Kau bisa bergabung dengan kelompok yang lebih besar untuk mengikuti programnya,” imbuh Riou.
“Kalau aku berkunjung di luar program itu, apa kita masih bisa bertemu?”
Tiba-tiba sunyi mengepung. Giliran Riou yang termenung. Serta merta pertanyaan itu terucap. Biasa. Namun, ia menangkap akar makna yang menjalar dalam keambiguan.
“Kemungkinan, iya. Datanglah kapan pun kaumau. Jyuto juga akan senang bertemu denganmu,” jawab Riou sewajar mungkin.
“Aku memang sedikit merindukannya. Tak sabar ingin menginjak-injak wajahnya,” kata Samatoki tertawa singkat.
“Hubungan kalian terlihat sangat rumit,” sahut Riou tertular tawa Samatoki.
“Hey, laki-laki punya cara tersendiri dalam berkomunikasi.”
“Kau benar.”
Usai tawa mereka reda, Riou bergegas untuk berdiri. Memakai topi hitamnya kembali. Pertemuan ini sebentar lagi akan berakhir.
“Terima kasih sudah memberi kesempatan untuk menyelesaikan tugas terakhirku,” kata Samatoki berjalan mendekati meja komputer.
“Justru aku yang harus berterima kasih.”
Samatoki menarik kedua sudut bibirnya. Tersenyum lepas. Tak ada seringaian.
“Semoga kau menyukai hadiah dari Jyuto.”
Sekali lagi Riou diingatkan dengan hari ulang tahunnya.
“Menyukai adalah kata yang terlalu sederhana. Hadiah dari Jyuto dan darimu ini sangat berarti bagiku. Terima kasih,” timpalnya memberi tatapan hangat.
Sontak Samatoki berpaling menuju meja di belakangnya. Pujian yang terlontar dari bibir itu menyebabkan ritme detak jantungnya berantakan. Belum lagi dengan serangan rasa terpukau pada dua mata Riou yang senantiasa jernih kendati berada di bawah lidah topi.
Samatoki berharap Riou tidak melihat kedua telinganya yang memerah.
“Apa-apaan itu?!” timpal Samatoki merapikan apa pun yang berada dalam jangkauan tangan.
“Sesi kali ini sudah selesai, kau boleh pergi. Tidak lupa jalan keluar ‘kan?” tanya Samatoki tanpa memandang pria besar itu.
“Baiklah, aku permisi.”
Namun, tepat saat Riou hendak membuka pintu, Samatoki menyela, “Amerika.”
“Amerika?” lirik Riou melalui ekor mata.
“Aku membuat desain itu ketika berlibur ke Amerika. Kugambar sebagai pelampiasan.”
Lima detik jeda hening menyapa.
“Ah, begitu ya.”
Riou melangkah pergi.
Seniman memang sulit dipahami.
“Dia berkata begitu?”
Pertanyaan itu mengawali pertemuan mereka di ruang kerja Jyuto. Ia sedang mengapit telepon putih di antara telinga dan bahu kirinya sedangkan Riou tengah memakai rompi identitas serta mengganti boots oranye menjadi sepatu karet. Jam kerja mereka hampir berakhir, tetapi Riou masih harus mengambil jadwal kelompok volunteer akuarium musim panas.
“Ya, dia bilang begitu.”
“Aku tidak ingin merusak kesenanganmu, tapi percayalah dia hanya menggodamu,” perkataan Jyuto terpotong, “—aku mengerti, minggu depan aku ke Shibuya, lain kali jangan pakai telepon kantor!” tegurnya pada entah siapa di seberang sana.
Hubungan mereka memang rumit, Riou mengulangi kalimatnya dalam hati.
Jyuto menutup telepon, kemudian menghampiri Riou yang sedang merapikan diri.
“Ingat yang Samatoki katakan, kau dilarang untuk menyentuh air,” ucapnya mengangkat jari telunjuknya setinggi dada.
“Tentu saja. Aku hanya ingin mengambil jadwal kelompok volunteer, bukan untuk berenang bersama hiu,” jawabnya.
Ada waktu di mana Jyuto memandangi tempat di mana tato itu bersembunyi. Tak sadar ia menggigit bibir dalamnya, seolah ada yang ingin dikatakan.
“Ada apa, Jyuto?”
“Tentang tatomu, aku terkejut karena Samatoki memberikannya padamu.”
“Aku memilihnya sendiri,” Riou melirik bahunya sekilas. “Kau tahu cerita tentang tato ini?”
“Aku tahu. Aku bahkan di sana, bersamanya.”
Air muka Riou menyiratkan rasa penasaran. Tidak ada tempat bagi Jyuto untuk menghindar selain menjelaskan.
“Waktu itu, Samatoki mengurung diri hampir tiga hari. Ia sedang tidak ingin bertemu ataupun diganggu oleh siapa pun. Selama tiga hari itu aku selalu membujuknya untuk keluar, tapi usahaku sia-sia. Di hari keempat –aku ingat tepat pukul lima— pintu kamarnya terbuka. Samatoki keluar tanpa mengucap kata, tanpa menyentuh makanan dan minuman. Keadaan kamarnya berantakan, bau tembakau hampir memenuhi ruangan. Ketika aku mulai merapikan, aku menemukannya…,” Jyuto memberi jeda dengan mendorong bingkai kacamata, “gambar itu. Gambar kerangka hewan purba di atas kertas lusuh.”
“Samatoki bilang kalau gambar itu adalah pelampiasan,” tambah Riou.
“Yah, pelampiasan emosi. Dia kehilangan seseorang yang ia cintai tepat setelah kami mengunjungi Museum Fosil.”
Riou menahan napas, jadi begitu rupanya.
“Tidak ada yang lebih buruk daripada mengalami patah hati di musim panas, 'kan?” tandas Jyuto mengakhiri ceritanya.
Riou paham sekarang. Selain yang kasat mata, Samatoki juga memiliki bekas luka tersembunyi. Yang lebih dalam. Mendadak luka bakarnya tak berarti apa-apa dibandingkan dengan milik Samatoki.
Suara dering telepon kantor menginterupsi percakapan mereka. Dengan bibir komat-kamit Jyuto kembali pada meja kerjanya.
“Aku pergi. Aku tidak mau Satoru dan Akira menunggu,” pamit Riou.
Berjalan santai dengan senandung Riou melewati lorong-lorong biru yang menyepi. Pengumuman tentang berakhirnya petualangan air hari ini menggema untuk kedua kali.
Riou masih menjumpai orang-orang yang berjalan lawan arah. Tak sedikit dari mereka, terutama anak-anak yang melambaikan tangan untuk mengucapkan salam perpisahan. Riou tertunduk maklum, asal mereka tahu, hewan-hewan cantik ini akan tetap berenang meskipun tak ada manusia yang melihat. Kesibukan mereka terus berjalan hingga esok hari.
Namun, ketika pria resmi berusia 34 tahun ini hendak memasuki terowongan pameran terakhir sebelum ke tempat tujuan, langkahnya memelan.
Lalu berhenti.
Di sana. Di tengah-tengah lorong yang dipadati lalu lintas ikan pari, hiu hingga jenis ikan berkoloni seseorang berdiri.
Refleksi biru riak air tercetak pada kemeja putih bermotif ornamen ombak di bagian bawah. Celananya senantiasa gelap, tetapi kali ini terbalut oleh jeans berkualitas tinggi. Boots yang menambah tinggi badanya melekat sempurna. Rambut peraknya yang terurai berkilauan.
Ruby -nya, bagian yang Riou kagumi tengah berbinar. Senyum bibir tipisnya menyambut Riou dari kejauhan.
Lambat laun mereka saling mendekat. Mengurangi jarak dengan sedikit terburu-buru.
Sol karet beradu dengan lantai abu-abu, seiring dengan degup jantung yang menggebu.
Keduanya bertatapan, saling menjemput kebahagiaan.
“Kau benar-benar datang.”
“Kau pikun ya? Sudah kubilang aku tak mau mati kebosanan.”
Berubah pikiran, Riou yakin Satoru dan Akira tak keberatan untuk menunggunya.
Selama 1095 hari bergelut di dunia akuatik, Riou telah berkontribusi mengelola ekosistem laut buatan seperti membantu penakaran ikan pari, berenang bersama lumba-lumba hingga melepas tukik-tukik ke lautan. Namun, bekal ilmu pengetahuannya bahkan tidak cukup menjelaskan bagaimana dunia ini saling terhubung melalui hal kecil, termasuk sebuah bekas luka.
Melalui bekas-bekas luka sebuah pertemuan dapat tercipta. Melalui bekas luka kita seolah diberi harapan jika hari esok masih ada.
Bekas luka merupakan sebuah saksi. Mungkin tak beraksara, mungkin tak bersuara, mungkin akan terkubur jaringan baru juga. Namun, mereka tetap duduk di sana, menyaksikanmu tumbuh dan menang.
Mereka setia. Selamanya.
Riou berterima kasih pada alam semesta, karena sudah menambah satu kebahagiaan dalam hidupnya.
The End
