Actions

Work Header

Me & Ur Ghost

Summary:

I'm not alone
It's just me and your ghost
And this cripplin' depression
I thought I learned my lesson
But, I threw out my phone
And I burned all your clothes
And now I'm not alone
It's just me and your ghost

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

“Oi, brat.”

Seperti hari-hari lainnya, Sukuna berisik memanggil Yuuji yang tengah sibuk berkegiatan. Tak pernah ada jeda ia diganggu oleh roh yang kini bersemayam di dalam tubuhnya, mengisi kepala dengan celotehan tak bermutu atau komentar akan hal memalukan yang Yuuji alami. Hidup dihantui oleh seorang pria paruh baya dengan banyak gaya tentu bukanlah sesuatu yang menyenangkan.

Yuuji meringis, berusaha mengabaikan ia yang terus menerus mengganggunya, meski sang Pemilik Tubuh telah memohon agar roh kurang ajar itu menutup mulutnya barang tiga jam saja selagi ia menyelesaikan esainya. Namun, Sukuna tetap saja melanjutkan monolog sembari berusaha mengambil alih tangan kiri Yuuji, membuatnya cubiti pipi sendiri agar ia berikan atensi pada yang lebih tua.

What is it this time?” tanya Yuuji diiringi dengan helaan napas berat. Buyar sudah konsentrasi, sekedar niat untuk menulis saja kini sudah sirna sepenuhnya. “Lo kalo bosen, bisa gak jangan ganggu gue? Tidur kek lo, apa kek. Just stop bothering me for fuck's sake.”

Sukuna terkekeh. This bastard.

And do what exactly, brat? I don't have any other things to do if not taking control of your body.”

Yang bermarga Itadori mengerang, mengacak rambut yang sudah tak beraturan menjadi lebih berantakan. Frustasi menghadapi penghuni lain raga yang seharusnya jadi milik pribadi. “Pengen banget lo ngerjain esai gue?”

I'll rip the pages to tiny little pieces, if that's what you want.” Seringai bodoh menghiasi wajah yang begitu identik dengannya. Yuuji ingin sekali rasanya meninju parasit itu, kalau saja itu mungkin. “I'm bored. Come entertain me.”

Suck my dick, asshole.”

Telinga Sukuna bergerak, satu hal yang Yuuji sadari terjadi jika ia tertarik akan suatu hal. “Oh? You want to get laid that bad, huh?

Yuuji mengusap wajahnya kasar, sekali lagi mengerang setelah mendengar pertanyaan bodoh Sukuna. “Fuck you.”

Wrong answer. Fuck you.”

Yang lebih tua tertawa begitu puas, memegangi perutnya yang mulai keram karena demi Tuhan, reaksi Yuuji selalu berhasil mengocok perut. “Oh God. Fine. I'll keep my mouth shut.” Kalimat yang membuat satu alis Yuuji terangkat heran. Apa yang membuat pria bermarga Ryoumen itu tiba-tiba berubah pikiran dan menurut padanya? Aneh.

Belum ada satu menit Yuuji bertanya-tanya, Sukuna tiba-tiba merangsek keluar dari dalam kepala, mengambil wujud setengah transparan dan muncul dengan wajah yang hanya berjarak lima senti dari wajah Yuuji. “Just kidding. Boo!” Dan ia kembali terbahak, melayang memutari kamar tidur Yuuji yang hanya bisa menatapnya dengan mulut menganga. Merasa bodoh sebab dirinya sempat percaya akan omong kosong yang dilontarkan roh gentayangan.

Rasanya Yuuji ingin sekali menangis. Meratapi nasibnya yang harus hidup berdampingan dengan orang (apa masih bisa disebut begitu?) yang setengah mati menyebalkan (memang benar-benar setengah mati). “I hate you.” Gumamnya dengan bibir yang dimajukan. Sudah tak lagi miliki tenaga untuk usir Sukuna yang kini duduk di belakangnya, memeluk pinggang Yuuji dengan kedua lengan sembari gesekkan hidung pada perpotongan leher dan bahunya. Buat bulu kuduknya berdiri sebab hanya dingin yang terasa mendekapnya.

Don't say that. You're gonna miss me if I'm gone, brat.

Memilih untuk bersandar pada dada bidang dengan detak jantung yang tiada, Yuuji terkekeh dan biarkan sudut bibirnya terangkat naik. “You're right.”

I'm gonna miss you if you're gone, dickhead.”

 

• • •

 

Hari ini hari ulang tahunnya yang ke 24.

Yuuji baru saja pulang dari pesta kecil-kecilan yang diadakan sekumpulan kawannya. Menenggak alkohol dan menari-nari bersama, bernyanyi bak ialah pemilik suara terindah meski hampir semuanya menutup telinga. Yuuji tertawa di dalam rangkul hangat sahabatnya—keluarganya.

Lengket kaosnya menempel pada kulit, langsung ia tarik lepas dan ia lempar ke dalam keranjang pakaian kotor. Memilih untuk langsung membasuh diri, tanpa didahului basa-basi.

Air dingin mengguyur tubuh, Yuuji terdiam beberapa saat. Menutup kedua mata menikmati saat yang hening, hanya ada suara gemericik air diiringi hembusan napasnya yang teratur. Begitu tenang, begitu tentram. Setengah jam ia habiskan di bawah siraman dingin yang menusuk tulang, baru melangkah keluar dari bilik begitu giginya menggertak ribut. Hanya celana pendek yang ia kenakan, dada ia biarkan telanjang sembari berjalan keluar dengan tangan yang sibuk menggosok rambut menggunakan handuk.

Terhenti di depan cermin besar, manik coklat terpaku pada yang juga menatap balik dari pantulan di hadapan. Satu menit berubah menjadi dua, lalu menjadi lima, dan menjadi sepuluh menit. Ia terus berdiam diri, menatap lamat bayangannya yang berdiri sendiri tanpa ada sosok lain yang muncul untuk mengintip—bukan, mengamati-nya terang-terangan saat mengeringkan badan. “Diem aja nih, Om.” Celetuknya memecah hening, tersenyum kala ia mulai berpose di depan cermin. Memperlihatkan otot yang kekar, hasil latihan berbulan-bulan di gym (yang selalu ditemani oleh Sukuna. Pria itu bahkan memberinya arahan untuk menyusun rutinitas work out-nya.). “You should've seen this. Last time I checked, I'm five centimeters taller than you.” Yuuji menyeringai senang, begitu bangga akan pencapaiannya, lantas kembali berucap. “And my cock is definitely bigger than you. Ha!

Kekehan berubah menjadi tawa, Yuuji memegangi perutnya—kebiasaan yang ditularkan oleh roh yang jadi pengikut setianya itu—terbahak lepas seperti tanpa beban, sejenak melupakan kekosongan dalam hatinya. “You should've come and laugh at me, fucker.

Senyumannya perlahan memudar, seiring dengan tawa yang perlahan berubah sunyi. Yuuji berbisik lirik, “Mock me, make fun of me—anything.”

Anything to make you come back to me, Sukuna.”

Yuuji tak sadar, kala air matanya tumpah. Mengalir turun, basahi pipinya yang memerah. Hidungnya pun turut berwarna serupa, saat tangisnya pecah dan ia hanya bisa berpegangan pada sisi wastafel. Menunduk dan biarkan cairan asin itu menetes tanpa ada niatan untuk berhenti. Ia menangis bak anak kecil, membisikkan nama yang selalu ia sebut setiap harinya, yang begitu familiar, namun tak lagi ada di dekatnya.

“Suku..na… Una…” Dadanya terasa begitu sesak, Yuuji terduduk meringkuk di lantai kamar mandi yang seolah menyempit. Menjebaknya di dalam sepi, dengan potongan memori yang terbang mengitari. “...kuna. Sukuna… Where—” Yuuji terbatuk, tersedak di tengah kalimatnya. “Where did you go?

Dingin tangannya digerakkan ‘tuk memeluk diri sendiri. Membuat tangisnya semakin jadi, sebab yang dicari tak lagi ada untuk memeluknya dengan raga yang beku. Tak ada lagi Sukuna yang merengkuhnya erat, menenangkan ia yang tengah berputus asa, ditinggal pergi tanpa aba-aba, bak semuanya hanya ilusi semata. “You promised, bastard. Y-you promised to never leave my side, forever. So, where the fuck did you go?!

Yuuji mengusap wajahnya kasar, ia begitu membenci dirinya yang masih saja tak bisa melupakan, meski tiga tahun sudah berlalu. Kepergian Sukuna yang tiba-tiba masih menjadi sebuah misteri—sebuah tanda tanya terbesar dalam hidupnya. Semuanya baik-baik saja, tidak ada kejanggalan yang berarti saat itu. Matahari bersinar cerah dan Sukuna juga masih saja cerewet seperti biasanya.

Mereka habiskan satu hari dengan berpelukan. Saling menggoda sambil menyaksikan acara televisi yang membosankan. Tak ada hal yang aneh, Sukuna juga tidak terlihat aneh.

Lantas mengapa?

“Oi, don't fall asleep on me, brat.” Titah Sukuna yang sibuk cubiti pipinya main-main. Sesekali dikecup gemas, sebab yang berada dalam dekapan mulai diserang rasa kantuk. “We haven't talked about the things Kugisaki said to you about me.”

Sukuna terkekeh saat Yuuji mengerang tidak suka. Memilih untuk membenamkan wajahnya lebih dalam di ceruk leher yang dingin, mengembuskan napas hangatnya yang terasa menggelitik bagi Sukuna. Sungguh sesuatu yang masih tak bisa dimengerti, bagaimana dirinya masih tetap terima afeksi dari hangat segala sentuhan manusia yang telah ia rasuki. “I'll tell you tomorrow.” Desah Yuuji, dengan suara yang mulai memberat dan mata yang menutup sempurna. “Promise.”

Satu kecupan mendarat di puncak kepala, Sukuna eratkan pelukan, lalu mendengung sebagai jawaban. “Mhm. You better keep that promise, kid.”

“Just promise that you're gonna be here tomorrow and not disappear like those cliché dramas that we watched.”

Yuuji tersenyum mendengar gelak tawa Sukuna, hatinya menghangat kala merasakan getaran di dada pria yang ia jadikan guling, efek dari tawa yang perlahan mereda. “Told you I'm not going anywhere, kid. I'm stuck with you and you're stuck with me.”

“Damn. Is that so?”

Sukuna memutar bola matanya malas, lantas menjawil pelan daun telinga manusia-nya. “Shut up.” Helai rambutnya disisiri lembut dengan jemari Sukuna. “It's forever or never, brat.”

Yuuji tersenyum kecil, “Forever or never.” lantas biarkan dirinya terbang ke alam mimpi, tertidur pulas di dalam dekapan roh yang terus mendekap raganya.

Untuk yang terakhir kalinya.

Dua puluh menit berlalu dan Yuuji masih berada di posisi yang sama, meringkuk memeluk lutut sembari terus gumamkan nama yang begitu berarti untuknya. Nama dari sosok yang begitu rindukan. Yang sepertinya tak akan lagi kembali.

Kehilangan yang begitu dahsyat menghantam Yuuji bak hari pertama ia tak temukan Sukuna dimana-mana. Tidak dalam kepalanya, juga tidak di dalam ruang apartemen yang kini menghangat tanpa kehadiran yang membawa dingin. Jantung Yuuji berdegup kencang, berlarian kesana kemari ‘tuk mencari yang wujudnya bahkan tak kelihatan. Mencoba bertanya pada kawan-kawannya yang hanya dapat menatapnya khawatir, sebab tak ada yang pernah bertemu Sukuna selain Yuuji seorang.

Sukuna benar-benar lenyap. Hilang bak diterpa angin, menghilang bersama dengan kepingan harapan yang ada dalam diri sang Manusia.

Sukuna-nya hilang dan separuh nyawa Yuuji pun ikut terbawa.

Malam berganti pagi, Yuuji terbangun dengan sakit kepala yang luar biasa, bersama dengan tubuh yang menggigil dingin dan pegal, sebab dirinya terjatuh tidur di atas dinginnya lantai kamar mandi. Merutuki diri sendiri yang begitu ceroboh, pasti akan jatuh sakit dalam waktu yang dekat. At least he could use it as an excuse to not show up to work with red swollen eyes.

Perlahan ia bangkit, kembali berdiri menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Terkekeh ringan, karena ucapan bodoh yang baru saja lintasi pikirannya. “We look identical enough with me having hazel colored eyes. And now this?” Yuuji menatap matanya yang memerah lamat-lamat, tersenyum sedih dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak tumpahkan air mata lagi. “I look just like you.”

Though I wish that it were you staring back at me and not my own reflection in the mirror.”

Notes:

Thank you for reading :)

I didn't think that I'd be writing another angst so soon but here we are. I hope you guys and enjoyed it and please pray for Yuuji because he doesn't deserve the heartbreak.

Find me on X @biaubeeren and retrospring.net/@biaubeeren for questions or critiques.