Actions

Work Header

Selalu Menunggumu

Summary:

Ada sesuatu yang mengganjal dalam benak Kagaya ketika ia menonton siaran televisi beberapa waktu lalu. Tentang orang tertua di Jepang yang memiliki nama keluarga yang sama dengannya: Ubuyashiki.
© Gotouge Koyoharu

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Fanfiksi ini mengandung spoiler berat. Cerita terinspirasi dari ending manga Kimetsu No Yaiba/Demon Slayer.

 

__________

 

"Kagaya-san, sedang memikirkan apa malam-malam seperti ini?"

Ubuyashiki Kagaya menoleh ke arah istrinya. Perlahan, wanita itu ikut duduk di sebelahnya, pada engawa yang menghadap ke halaman. Pria itu tersenyum teduh, lalu sorot matanya yang tenang kembali pada halaman berbatu kerikil, dengan beberapa tanaman hias, serta kolam ikan yang diisi beberapa koi. Rumah tradisional yang tidak bisa dikatakan sederhana.

"Halaman," Kagaya memberi jeda. "Halaman rumah kita... cukup luas, ya."

Istrinya, Amane, mengikuti arah pandang suaminya. Dia mengangguk kecil.

Wanita itu sedikit membayangkan: seandainya, hanya seandainya, ada beberapa sosok lain yang mengisi halaman itu, yang mengisi rumah mereka. Agar lebih hidup, agar lebih berwarna. Dan mungkin itulah yang ingin diutarakan oleh suaminya di antara jeda kalimat.

"Bagaimana kalau kita masuk saja? Cukup dingin di luar sini."

Kagaya mendengar itu, tetapi dia menunggu sedikit lama untuk memberi respons.

"Ya, mari masuk ke dalam."

Rumah mereka sangat luas jika hanya diisi dua orang. Sepi, kosong. Banyak kamar yang belum memiliki pemilik. Meskipun ada beberapa pekerja di rumah itu, tetap saja tidak akan ada yang berlarian di selasar, atau berteriak, atau menangis akibat diusili saudara atau saudarinya.

Anak-anak, maksudnya.

Lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menunggu. Pasangan suami-istri itu rindu pada sesuatu yang kenyataannya belum terlahir sama sekali.

Hanya ada berbagai nama di dalam benak mereka. Kalau anak perempuan mungkin Hinaki atau Nichika atau Kuina atau Kanata. Dan hanya ada satu nama untuk anak laki-laki: Kiriya—nama yang sama seperti seseorang yang jauh di sana.

Kagaya membuka sebuah buku yang sudah usang. Ia baru mendapatkannya tadi siang dari seorang kenalan yang selalu membantunya. Ada sesuatu yang mengganjal dalam benaknya ketika menonton siaran televisi beberapa waktu lalu. Tentang orang tertua di Jepang yang memiliki nama keluarga yang sama dengannya: Ubuyashiki. Itu... menarik perhatiannya.

"Mencari tahu itu lagi?" Lagi, terdengar suara istrinya. Dia kembali menemaninya di ruang kerja bersama secangkir teh yang ia siapkan.

"Ini sudah lewat jam 10 malam, kenapa belum tidur?" Suara lembut Kagaya selalu menjadi kelemahan Amane. Wanita itu menggeleng kecil tanpa menjawab apa-apa. Dia hanya ingin bersama suaminya. Amane melingkarkan kedua tangannya di lengan Kagaya, lalu ikut menyaksikan apa yang sedang suaminya lakukan dengan buku tebal yang baunya sudah tidak sedap itu.

"Ubuyashiki yang waktu itu kita lihat di televisi... apakah dia leluhurmu?" tanya Amane.

Kagaya kembali pada kertas yang sudah berubah cokelat dan ujungnya dimakan rayap, lalu dia mengangkat kedua bahunya. "Mungkin saja, karena itu aku ingin mencari tahu. Kalaupun iya, aku pikir jarak kekerabatannya jauh."

"Kau ingin mencoba mengunjunginya? Aku bisa menemanimu."

Tangan yang menempel pada buku tiba-tiba terasa kaku. Bukan karena saran dari istrinya, melainkan sesuatu yang ia lihat melalui iris lavendernya.

"Tidak," tolak Kagaya dengan tegas. "Biarkan berjalan sebagaimana mestinya."

Amane mengerut bingung. "Memangnya bagaimana yang semestinya...?"

"Amane,"

"Ya?"

Kagaya tersenyum. Sebuah kecupan manis mendarat pada kening istrinya. Tangan kanannya menyentuh pipi yang berubah menjadi merah semu.

"Aku akan menunggu Kiriya... dan meminta maaf padanya."

Tanda tanya muncul di kepala Amane. Kiriya? Kiriya yang mana? Nama yang disiapkan untuk calon anak mereka—yang belum ada tanda-tanda kehadirannya—atau Kiriya sang pria tua yang selalu membuat suaminya penasaran?

Apakah kehidupan yang terlalu lama membuatmu kesepian, Kiriya?

Kagaya menutup buku usang itu: Silsilah Keluarga Ubuyashiki.

Notes:

Kalau kau, bagaimana? Apakah kau percaya reinkarnasi? Yang pasti, Kagaya selalu percaya—dan selalu menunggu agar ia bisa meminta maaf pada 'mereka' atas tindakannya yang 'dulu sekali'.