Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-07-06
Words:
1,018
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
24
Bookmarks:
1
Hits:
436

Locker Room

Summary:

Sepenggal kisah Lego dan William yang melepas rindu di ruang loker.

Work Text:

BRAK!

William yang baru saja hendak membuka pintu lokernya dikagetkan oleh sebuah suara keras. Ia tak tahu apa yang sedang terjadi di balik punggungnya tapi ia bisa melihat sebuah tangan kecil di samping tubuhnya. Tanpa perlu berbalik pun ia tahu siapa pemilik tangan itu.

“Kenapa?” tanya William, masih enggan untuk berbalik.

Bukannya jawaban yang ia dapatkan, sebuah gebrakan muncul lagi di sisi satunya. Kini tubuh William terperangkap di antara dua lengan yang mengurungnya.

William terkekeh kecil. Meski pandangannya masih terpaku pada pintu loker, ia sudah bisa membayangkan betapa lucunya ekspresi orang yang berdiri di belakangnya ini.

“Aku tau itu kamu, Lego.” William akhirnya memutuskan untuk berbalik menghadap anggota LYKN yang paling muda. Sebenarnya ia ingin tertawa melihat wajah cemberut dari pemuda kecil itu, tapi tentu saja ia menahan diri karena ia sedang malas bertengkar.

Lego masih memasang ekspresi alot, seperti ingin menerkam mangsanya. Sorot matanya tajam dan mengintimidasi.

“Kamu sama sekali gak nakutin tau.” William malah mencubit pipi Lego pelan. Seharusnya tidak sakit tapi tetap saja membuat pemuda berambut jingga itu semakin cemberut.

“William!” Lego memanggil namanya dengan suara kesal, diikuti dengan pukulan di pintu loker. William tahu ia tak akan mungkin bisa lepas dengan mudah dari kungkungan itu.

William tersenyum melihat wajah kesal Lego yang begitu lucu. Tangannya bergerak untuk mengelus surai berwarna terang itu dengan lembut. Ia gerakkan tangannya begitu pelan dan hati-hati, bagai sedang menyentuh barang yang begitu berharga. Gerakannya terus turun hingga ke belakang telinga, pipi, dan berakhir di dagu pemuda yang lebih pendek darinya.

Lego mendongak semakin tinggi akibat dorongan yang diberikan oleh jemari William. Sekarang kedua matanya bertemu dengan tatapan William yang sekilas terlihat teduh, namun begitu mengintimidasi.

“Kamu kenapa, Lego?” Nadanya mungkin saja terdengar lembut, tapi Lego tahu kalau itu sebuah pertanyaan yang menuntut jawaban. Tak salah kalau pemuda yang sekarang bersandar pada pintu loker itu menyandang titel King of Alpha, auranya memang berbeda.

Tapi bukan Lego kalau ia bisa tunduk dengan mudah. Mau bagaimanapun, ia juga penyandang titel Alpha, tepat di samping William.

Tatapan mata Lego masih memandang lurus ke kedua mata William, sama sekali tak ingin untuk memutus kontak. Meski begitu, dengan pasti ia menangkap tangan William yang masih berada di dagunya, menariknya dan mengecupnya. “Aku kangen tau.”

William terkekeh. Lego selalu bisa membuatnya terkejut. Ia pun memutuskan untuk merengkuh tubuh kecil itu dalam dekapannya, merasakan otot-otot yang terbalut kemeja putih yang cukup tipis.

“Kalo kangen ngomong, dong.” William menggunakan satu tangannya untuk menarik tubuh Lego semakin dekat ke tubuhnya sendiri dan tangan yang satunya lagi untuk mengelus surai jingga pemuda yang lebih kecil darinya. “Aku juga kangen.”

Lego membalas pelukan itu. Jemarinya kini bergerak menyusuri punggung tegap William, mengabsen setiap sisinya yang sudah ia hafal betul. Wajahnya ia benamkan di dada pemuda yang lebih tinggi. Dengan satu tarikan napas yang panjang, ia menghirup aroma tubuh yang ia rindukan itu.

“Masih ada sepuluh menit lagi,” ucap William sambil menatap jam dinding yang tergantung di tembok seberangnya. Ia mendorong tubuh Lego menjauh agar bisa menatap wajah yang lebih muda itu dengan jelas. “Pintunya udah kamu kunci, kan?”

Mendengar pertanyaan itu, Lego tersenyum miring. “Udah, dong.”

William menepuk-nepuk kepala Lego dengan bangga, seakan-akan pemuda kecil itu sudah mendapatkan sebuah pencapaian besar. “Pinter. Kamu mau hadiah apa?”

“Hmm.... Apa, ya?” Lego pura-pura berpikir. Namun sejurus kemudian ia langsung mengalungkan lengannya di leher William. “Enaknya apa ya, Will?”

William tak menjawab. Ia langsung menangkupkan tangannya di pipi Lego dan menariknya ke dalam sebuah ciuman yang tentu saja disambut baik oleh sang penerima.

Ciuman itu lembut dan tidak menuntut. Meski keduanya sama-sama melimpahkan rasa rindu yang menggebu-gebu pada satu sama lain, setiap gerakan dan sentuhan yang mereka bagi begitu hati-hati.

Entah siapa yang memulai lebih dulu, lama kelamaan lumatan itu menjadi semakin menuntut. Sentuhan yang awalnya ringan menjadi lumatan. Keduanya sama-sama tidak mau mengalah, begitu serakah dalam mengecap rasa.

Tangan Lego tak lagi hanya melingkar di leher William. Jemarinya mulai bergerak untuk meremat helaian rambut hitam pemuda yang lebih tinggi.

William tak mau kalah. Tangannya bergerak turun menyusuri tubuh Lego dan berhenti di pinggangnya. Kemeja putih yang dikenakan Lego sudah kusut akibat ulah tangannya.

CEKLEK CEKLEK.

Suara gagang pintu yang diputar membuat mereka berdua langsung menarik diri. Dengan panik keduanya langsung menengok ke arah pintu. Untungnya Lego sudah benar-benar menguncinya sehingga siapapun yang sedang mencoba untuk membuka pintu itu tidak berhasil masuk.

“Abis ini syuting di sini, kan? Kok dikunci?”

Lego dan William saling menatap lalu tertawa ketika mendengar suara Tui di luar.

“Mau lanjut lagi?” tanya William sambil menggerak-gerakkan alisnya naik turun.

Lego membalas pertanyaan itu dengan sebuah tonjokan pelan di lengan pemuda yang lebih tinggi. “Ngaco. Aku bukain pintunya dulu.”

William cemberut tapi ia tetap membuntuti Lego yang berjalan ke arah pintu. Benar saja, ketika pintu itu dibuka, sosok Tui masih berdiri di sana.

“Kok dikunci—” Tui tak jadi bertanya. Ia sudah mendapatkan jawaban ketika matanya menangkap kemeja Lego yang agak kusut dan rambut William yang berantakan. Ia pun tersenyum dan kembali menutup pintunya. “Dua menit.”

Setelah pintu tertutup, William dan Lego masih bisa mendengar suara Nut dan Tui di luar.

“Loh kok gak jadi masuk, Tui?”

“Mau ambil minum dulu. Temenin, yuk.”

Lego berbalik ke arah William dan membantu pemuda yang lebih tinggi itu untuk merapikan kembali rambutnya. Ia tertawa kecil, “Untung Kak Tui bisa diajak kerja sama.”

William menangkupkan kedua tangannya di pipi Lego dan menariknya mendekat. Namun tangan Lego dengan cepat menahan wajah William agar tidak menempel padanya. “Udah. Kak Tui cuma ngasih dua menit.”

“Charge dikit lagi.” William menarik tangan Lego yang menghalanginya. Ia pun menempelkan hidungnya dengan hidung Lego sebentar sebelum menarik dirinya kembali.

Lego tersenyum melihat kelakuan William yang menurutnya lucu. Ia pun mencubit pipi pemuda yang lebih tua hampir setahun darinya itu dengan gemas. “Nanti lagi, ya.”

William mengangguk lalu membantu Lego untuk merapikan kemeja putihnya.

Tak lama kemudian, pintu kembali dibuka dari luar oleh seseorang. Hong masuk dan melihat kedua orang yang sudah berada di dalam dengan bingung. “Loh kalian dari tadi di sini? Dicariin loh tadi.”

William dan Lego membalasnya dengan senyum.

“Yang lain mana, Kak? Langsung mulai aja biar bisa cepet pulang.”

William dan Lego ingin cepat pulang dan kembali melepas rindu.