Actions

Work Header

Dua Belas Lembar Uang Parkir

Summary:

Dua belas lembar uang parkir di dalam dashboard mobil dan panggilan yang akhirnya terhubung dengan Ushijima Wakatoshi.

Notes:

Haikyuu belongs to Haruichi Furudate. This works is the part three of Tolerance—an alternate universe of Gamon AU on X/Twitter.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Oikawa Tooru nggak pernah akrab dengan perasaan bersalah. Baginya, setiap tindakan punya konseskuensi tapi menyesal bukan pilihan. Oikawa paham kapan dia berbuat salah, tapi dia nggak akan pernah paham dengan perasaan bersalah yang hadir di kemudian hari. Mungkin karena Oikawa selalu benar. Mungkin karena Oikawa nggak pernah disalahkan. Atau mungkin, karena Oikawa memang begitu adanya.

 

Waktu hubungannya dengan Ushijima berakhir, Oikawa cuma rasakan marah dan emosi menyebalkan lainnya. Dia nggak bisa bersimpati dengan perasaan sedih Ushijima. Waktu Ushijima bilang bagaimana rasa cinta begitu menyakitkan buatnya, Oikawa hanya bisa mengerti kalau cinta yang mereka punya nggak begitu luar biasa sampai bisa membuat Ushijima terima dia apa adanya. Oikawa nggak bisa bersimpati dengan rasa sedih orang lain, waktu dia terpuruk dengan rasa sakit, dia gagal mengerti kalau dia sendiri sedang sedih.

 

"Sum, ada uang kecil, nggak? Pake bayar parkir," tanyanya dengan lesu. Oikawa bersiap menurunkan jendela untuk membayarkan uang parkir pada tukang parkir di ujung sana. Yang ditanya belum menjawab, tangannya sibuk menggapai saku celana.

"Yaaaah. Nggak ada Ik. Lima puluh sama dua puluh ini. Bukannya dashboard lo ada ya tadi?" Dada Oikawa berdebar dengan cepat. Seperti ditusuk dia rasakan nyeri yang luar biasa. Tenggorokannya kering dan urat di pelipisnya mencuat seolah sedang marah.

 

"Jangan buka!" Dia berseru dengan panik. Tangannya menarik milik Atsumu yang siap membuka dashboard mobil untuk mengambil uang pecahan dua ribu dan lima ribu di sana. Yang tangannya ditepis langsung protes. "Apaan anjir, itu kan uang parkirmu semua? Pelit banget anying," ketus Atsumu. Dia nggak lagi mencoba meraih uang di sana, langsung mengeluarkan uang dua puluh ribu dan menyerahkanya pada tukang parkir.

 

Oikawa nggak banyak bicara. Dadanya masih panas dan kepalanya penuh dengan emosi marah. Yang ini bukan sakit hati tapi perasaan sedih yang mendalam. Oikawa nggak pandai dalam menjaga hubungan, tapi menggenggam erat kepingan memori supaya nama orang yang dia sayang tinggal lebih lama dengannya, Oikawa selalu hebat.

 

"Ik. Gue nanya serius. Lo kayak gak ada semangat hidup gini gak mau move on aja? Ya mau gimana juga salah lo, sih, tapi udah lewat." Atsumu buka suara lagi. Nggak bohong, dia lega Ushijima memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Oikawa memang butuh diajari cara bersyukur dan menghargai pasangan. Tapi Atsumu nggak ingat dengan Oikawa yang ini. Oikawa temannya selalu tau cara untuk beranjak dari masa lalu. Oikawa yang terpuruk dan terjebak dengan perasaan yang sama nggak pernah ada dalam ingatannya.

 

"Jangan bangak ngomong deh, Sum. Gua lagi sakit kepala," sahut Oikawa malas. Dia lihat ponselnya yang tunjukkan notifikasi pesan dari Iwaizumi. Laundry-nya menelepon lagi dan ini keempat kalinya Oikawa melewatkan jadwal pengambilan.

 

Oikawa nggak ingat apapun tentang dirinya semenjak Ushijima pergi. Hari-harinya dulu adalah bagian hidup dari Ushijima. Kalau Ushijima pergi, hidupnya seperti berantakan. Nggak ada pegangan dan ada yang hilang—mungkin cintanya yang hilang, atau kebiasaannya, atau yang lainnya. Tapi yang paling menyedihkan adalah Oikawa kehilangan dirinya sendiri.

 

"Gua udah kelewatan ambil laundry empat kali. Gua putus sama Jim udah tiga bulan. Baju-baju yang Jim beliin gak pernah pengen gua pake lagi, Sum. Tapi selalu gua laundry. Tapi gobloknya gua gak pernah berani ambil dari laundry hahaha."

 

Atsumu mendengarkan dengan seksama. Ada satu jaket yang selalu tergantung rapi di balik pintu kost Oikawa. Atsumu sering lihat dan dia ingat dengan benar kalau jaket itu kepunyaan Ushijima. Terlalu besar untuk Oikawa dan wanginya seperti Ushijima. Oikawa nggak pernah memindahkan jaket itu, nggak juga dicuci seperti baju lainnya. Tanpa Atsumu tanya pun, dia tau kenapa. Oikawa takut lupa seperti apa aroma Ushijima. Cintanya hilang, hubungannya kandas, tapi Oikawa nggak mau kehilangan kenangan mereka. Oikawa nggak bisa terima kenyataan kalau dia lupa aroma Ushijima.

 

"Ik. Udah dong ... kamu yang begini aku yang sedih, jir. Nggak mau ngomong lagi tah? Ushi aku liat-liat gak pernah pacaran lagi. Kali aja bisa balikan?" Atsumu memberi saran yang terdengar konyol. Kembali bukan pilihan bagi keduanya. Oikawa sudah berkali-kali mencoba, tapi Ushijima nggak akan mencoba lagi. Oikawa Tooru memang cinta terhebat Ushijima. Lakukan apapun dia sanggup kalau itu untuk dia. Dia nggak akan pernah temukan Oikawa Tooru lainnya pada orang-orang yang dia temui. Tapi cintanya sudah habis tiga bulan lalu dan Ushijima akan simpan rapi kenangan itu di dalam laci. Dia sayang Oikawa dan selamanya akan begitu—dan sayang adalah perasaan paling menyedihkan yang manusia bisa rasakan.

 

"Dengerin ya, Ik. Kemarin kan lo sempet deket sama anak FISIP, dicoba aja. Daripada kayak gini. Semuanya juga mikirin." Atsumu tutup pintu mobil Oikawa begitu mereka tiba di depan kost-kostan Atsumu. Yang diberi pesan nggak menjawab. Cuma diam mendengarkan bunyi sein mobil yang berkedip-kedip. Tiap detikannya membuatnya migrain. Wangi mobil Oikawa seperti Ushijima dan perutnya seperti diaduk mau muntah.

 

Ushijima nggak pernah meninggalkannya sendirian sejak tiga bulan lalu tapi Oikawa serasa akan mati dicekal kesepian. Dia lihat Ushijima di mana-mana—di kamar kost-nya, di pujasera kampus, di sekitaran kelasnya, di cafe-cafe kekinian, di dalam mobilnya—tapi nggak pernah di sampingnya.

 

"Jim, dahsboard gua yang selalu lu isiin uang buat parkir nggak pernah disentuh siapa-siapa lagi. It feels like they'll steal you away if I let them touch. You're so far away, Jim, anywhere but here." Ucapan Oikawa begitu pelan. Kebiasaannya semenjak putus adalah menelepon Ushijima dan mengatakan apapun yang mau dia sampaikan meski yang dia dengar cuma suara sambungan masuk. Ushijima nggak pernah mengangkat teleponnya.

 

"Uangnya sisa dua belas lembar. Terakhir lu isi waktu gua mau seminar. Terakhir gua pake buat bayar parkir di ATM. Kalau gua pake lagi, I'd have nothing left. I don't want to lose you for the second time. I wanna keep you safe and sound as my belonging," katanya dengan suara bergetar. Dadanya seperti diremas kuat-kuat dan Ushijima nggak di sini lagi untuk mengusap punggungnya dengan sayang. Oikawa sendirian dan dua belas lembar uang parkir di dalam dashboard jadi satu-satunya pendengar. "Your love belonged to me once."

 

Bunyi sein mobil masih memekakkan telinga dan rematan Oikawa pada setir mobil mulai menyakitkan. Lampu sen kiri yang berkedip-kedip pada jalanan malam jadi sinyal kalau masih ada orang patah hati di depan kost Atsumu. Masih ada Oikawa Tooru di sana, nggak beranjak dari masa lalu dan masih berpegang teguh pada cintanya yang kandas tiga bulan lalu.

 

"Jim, gua minta maaf. I am so, so, sorry. You were my greatest love and you will always be." Oikawa akhirnya menangis. Pipinya basah dan dadanya sesak. Pandangannya buram ketika dia membuka matanya. Oikawa nggak pernah menangis waktu mendapat nilai C pada mata kuliahnya. Nggak juga waktu dia jatuh sakit dan jauh dari rumah. Oikawa menangis untuk Ushijima dan rasanya makin menyedihkan karena yang dia punya cuma ingatan akan aroma Ushijima di jaket kulitnya dan dua belas lembar uang parkir di dashboard mobilnya.

 

"You are my greatest love, Tooru. And you're my greatest heartbreak as well." Suara lembut di seberang sana membuat Oikawa tersedak air matanya sendiri. Tangannya gemetar dan nggak sengaja menekan tombol klakson sampai membuatnya terkejut bukan main. Napasnya memburu dan jantung berdebar dengan cepat. Dengan gelagapan, dia menarik ponsel di telinganya dan melihat nama yang tertera di sana.

 

Jim.

 

Oikawa nggak sadar kalau Ushijima mengangkat teleponnya. Suara sambungan berhenti dan waktu panggilan tunjukan menit kelima. Ushijima dengarkan semua ucapan dan isak tangisnya tapi nggak katakan apapun.

 

"Jim? Jim? Halo? Halo? Kamu di sana? Kamu denger aku kan? Jim? Di mana? Ngomong boleh? I am sorry. I am sorry, Jim .... " Tanpa putus, Oikawa cerca Ushijima dengan permohonan maaf. Nadanya naik turun karena frustrasi nggak mendengar jawaban dari seberang. Oikawa mau injak gas dan lari ke pelukan Ushijima, Oikawa mau bertemu sekali lagi dan mulai ulang semuanya.

 

"I miss you. At least you're sorry."

 

Panggilan terputus. "Bangsat!" Dia berseru dengan panik. Berkali-kali menekan tanda panggil tapi Ushijima nggak bisa diraih lagi. Oikawa kehilangan Ushijima untuk yang kedua kalinya dan dua belas lembar uang parkir di dalam dashboard nggak bisa selamatkan dia dari rasa panik dan kesedihan.

 

Oikawa nggak punya apa-apa lagi untuk dikenang. Ushijima pergi sungguhan dan tersisa Oikawa sendirian, di pinggir jalan, di dalam mobil dan kedinginan—

 

Atsumu lihat semua dari jendela kamarnya di lantai dua; lampu sein kiri yang terus berkedip dan mobil Oikawa yang nggak juga beranjak dari sana. Atsumu lihat Oikawa menangis dan berantakan tapi dia nggak bisa lakukan apapun selain teteskan air mata penuh penyesalan. Kalau saja Oikawa dan Ushijima nggak pernah menjalin hubungan, dia nggak perlu lihat sahabatnya hancur berantakan di depan kostan.

Notes:

I am feeling unwell I need to see Oikawa suffers from a breakup. Have a cigarette, X.