Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationships:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-07-10
Completed:
2024-07-10
Words:
2,110
Chapters:
7/7
Comments:
8
Kudos:
30
Bookmarks:
1
Hits:
538

Rubricle

Summary:

Berperang dengan siapa dikala pilihan hanya melawan seseorang pada akhirnya.

 

Prompt 1 : Perang

Notes:

Lookism belong to PTJ Company.

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: Perang Berdua

Chapter Text

- Teori Bigbang sebenarnya tidak sungguh dapat dipercaya, mengingat betapa liar dan luasnya kapasitas imajinasi setiap makhluk hidup yang telah berevolusi tak berbatas waktu. -

 

Satu tulisan bebas pada forum dunia maya membuyarkan fokus Jungoo yang tengah mengintip perguliran laman pada gawai seorang Park Jonggun. Bibirnya mengerucut disertai cebikan malas, sesekali ia memang penasaran pada aktifitas tidak nyata dari si pemuda tampan penyuka warna hitam pada sisinya saat ini, namun semua terhenti.

 

"Komentar sialan."

 

Sebulir keringat menitik pada dagu si tuan Park muda. Bersambut dengan suara dengusan tawa tertahan, dia berbalik dan menindih sebagian kaki Jungoo, yang tengah santai membaringkan diri pada sofa beludru tua di rumah rongsokan si empunya, Jonggun.

 

"Apa?," Jonggun mengangkat alis kirinya, meneliti bagaimana surai keemasan Jungoo sudah berantakan menyapu dahi yang selalu terlihat kering itu.

 

Bukan bersambut baik, justru Jungoo tertarik pada sebongkah kayu yang telah terukir membentuk sesuatu lalu dengan cepat menyambitnya pada leher Jonggun. Namun berbalas seringai bernafsu dari sang korban, ah semi korban.

 

Tebak berapa lama? Tak butuh dari tiga menit.

 

Keduanya saling menautkan jemari sebelum keluar menuju halaman penuh tumpukan benda bekas pakai serta besi-besi tua. Jungoo menjauh terlebih dahulu.

 

Selangkah, tiga langkah hingga tepat pada langkah kesebelas dia berbalik kemudian dengan tangan cantiknya menyambar sebuah tangkai payung patah dan mengarah kembali pada bahu sebelah kanan Jonggun. Mencipta sebuah cakaran beralur merah kemudian.

 

Apa akan berakhir seperti ini? Hal sederhana saja memantik amarah darinya yang selalu menanggapi segala hal dengan tanpa beban, seolah hanya gurauan anak muda labil yang baru setahun menginjak masa remaja menyenangkan.

 

Jonggun mematahkan batang hitam lancip yang sudah menempel pada bahunya seringan tusuk gigi setelah memakan ikan panggang pada malam festival bulan juli.

 

"Kau mengajakku berperang sampai mati atau sampai lumpuh?," suaranya tidak terdengar marah, rautnya sudah berubah senang dan menakutkan.

 

Si kuning mengela napas kasar, memutuskan mati atau lumpuh sendirian karna satu sama lain itu sama sekali tidak menguntungkan. Namun jika mati atau lumpuh bersama mungkin akan jadi cerita lain yang menarik. Otaknya memikirkan hal gila, namun dagunya terketuk-ketuk ujung telunjuknya menguarkan pemandangan polos yang berbahaya. Jungoo mengangguk.

 

"Bagaimana kalau tidak keduanya, kita bisa berperang di... kamar saja."

 

Fin