Work Text:
Pacarku imut banget.
Bukan bermaksud sombong atau gimana, ya. Cuma dilihat dari manapun dia itu sempurnanya minta ampun.
Sudah cakep, ganteng, imut, lucu, mukanya lugu bengong planga-plongo bikin gemas, cool, gentel, keren, cantik, dan diam-diam ternyata seksi banget kalo dia lagi mau snusnu, kalem, pintar, baik banget, toleran, nikmat mana lagi yang Caelus dustakan.
Bahkan kalaupun kematian memisahkan mereka, Caelus mungkin bakal tetap enggak mau ngelepas pacar kesayangannya itu.
Cinta memang berbahaya. Caelus yang memang tolol dari sananya jadi makin tolol kepayang setelah jadian dengan Dan Heng.
Dan Heng itu cinta pertamanya Caelus selain tong sampah deket rumah Mbak Swan. Dan Heng menjadi orang pertama yang membuat Caelus memikirkan masa depannya selain guru BK yang sering menceramahi tingkah enggak masuk akalnya.
Dan Heng juga menjadi seseorang yang membuat jantung Caelus dag-dig-dug serrr tiap memikirkannya selain pr matematika khusus dari Pak Ratio yang ia selalu lupakan dan baru akan ingat saat lima menit sebelum pengumpulan pr-nya.
Dan Heng itu toleran dan hebat banget dalam mengatasi Caelus. Sampai-sampai Caelus sendiri khawatir karena hal ini.
Pertama kali Caelus kenal Dan Heng itu, ngiranya dia anaknya pendiam dingin tipe anak teladan banget. Ternyata pas dekat anaknya baik, toleran, dan diam-diam perhatian. Suka bantu bahkan terkadang dulu ketika ada hal mengganjal yang dipikirkan Caelus, Dan Heng orang pertama yang notice dan tanya kabarnya.
Dan Heng juga orang yang punya ruang privasi yang besar, jadi saat dia lagi down bahkan ada hal yang mengganggunya dia enggak bakalan ngomong itu ke orang sekitarnya. Tapi di saat dia akhirnya minta bantuan, itu sudah sedikit telat.
Maka dari itu Caelus hanya diam saat Dan Heng cerita permasalahannya dengan kakak dan keluarga besarnya, dia enggak ingin interupsi Dan Heng, bukan berarti dia benaran terus diam juga.
Caelus hanya ingin Dan Heng tahu bahwa Caelus dan orang-orang di kosan Astral akan selalu siap bila kala Dan Heng ingin dibantu dan akan terus menemani Dan Heng kapan pun itu.
Jiakkhh kedengeran keren banget, ya?
“Cae.” Enggak cuma kepala yang nengok, tapi sampai torso Caelus ikut muter ke arah suara itu.
“Iya, sayang?”
“!?” Badan Dan Heng terlonjak sedikit mendengar panggilan itu, gemas banget.
Alisnya menurun ke bawah, matanya ia lirikkan ke kiri, dari raut wajahnya memang terlihat kesal dan tidak suka, “Sudah ah, Cae. Malu-maluin.” Tapi Dan Heng kira-kira tahu enggak ya, walau wajahnya cemberut enggak suka gini, telinganya tetap berubah jadi merah padam.
Lucu banget, gemas, bisa diabetes ini Caelus lama-lama.
“Ehehe iya iya. Kenapa, Heng?”
“Enggak, itu... dari sore aku ngeliat kamu bengong saja di sini. Jadi agak khawatir gimana gitu, sebenarnya dari pagi juga aku lihat kamu ngelatur mulu. Cae, gapapa kan?”
Khawatir? Lucu banget. Jadi seharian ini kamu ngeliatin aku terus?
“Jadi seharian ini kamu ngeliatin aku terus?” mata Dan Heng terbelalak mendengarnya.
Ah...gak sengaja keucap, ya?
Bukannya menjawab, pipi Dan Heng menjadi merah merona. Bibir bawahnya ia gigit-gigit, lalu sambil melihat ke bawah kepalanya mengangguk. “...kan kamu pacarku, wajarlah khawatir tiap lihat kamu kayak ke pikiran gini.”
Padahal pikirannya lagi mikirin kamu.
“Maaf... tapi aku seneng banget, hehehe kamu mikirin aku terus ya?” Caelus cengegesan sambil memeluk erat pacarnya.
“Caelus...!” Dan Heng memberontak, tangan kanannya mendorong wajah Caelus lalu mencubit hidungnya sampai merah.
Tapi Caelus kekeuh, makin dia eratkan pelukannya sambil merengek, “Heeenggg!”
Imut banget sih, pacarku!
Meskipun awalnya nolak, Dan Heng akhirnya menyerah dan membiarkan dirinya dipeluk mesra. Dari awal juga Dan Heng bukanlah orang yang bisa romantis atau orang yang memperlihatkan cintanya terang-terangan, ia lebih sering melakukan sesuatu sesuai dengan logikanya.
Ketemu sama Caelus yang kalo ngomong gak dipikir dulu, seserius apapun situasinya dia bakal tetap ngucapin hal yang ada dipikirannya. Mulai dari hal random dan menyeleh, dia tetap ucapin.
Parahnya juga Dan Heng bisa-bisanya kepicut sama pemuda macam Caelus ini. Enggak ada yang menyangka bagaimana bisa orang seperti Dan Heng nerima Caelus yang confess cintanya dia pas Caelus lagi bantu nguli rumah tetangga, baju lusuh celana kotor, poni diangkat ke belakang, dengan wajah penuh percaya diri dia tersenyum dan berkata,
“Dan Heng, aku suka kamu. Jantung ini ‘kan kuberikan padamu!” Caelus sedang memegang jantung pisang, ia membuat pose bertekuk lutut sebelah. Ajaran dari Bang Argentina yang ia akhirnya praktikan.
Sangat berbanding terbalik oleh Dan Heng yang masih berkacamata cakep baru pulang dari perpustakaan dengan baju rapi dan wangi tiba-tiba di confesses dengan cara yang sangat out of the box.
Makin aneh lagi Dan Heng jawab dengan, “Boleh, Mas.”
Sedeng!
Mungkin karena disaat itu Caelus keliatan ganteng banget apa gimana gak ngerti, tapi yang pasti Dan Heng merasa ia tidak menyesal. Walau Caelus pernah tanya ke dia kok bisa-bisanya Dan Heng nge-iyain confessan Caelus yang sebenarnya Dan Heng sendiri juga sejujurnya gak tahu kenapa.
Kalo dipikir-pikir juga, hubungan mereka kadang sampai dicurigai. Pernah satu ketika Mbak Himeko dan Pak Yang tanya ke Dan Heng langsung karena khawatir, “Dek, kamu benaran gak dipelet ‘kan?”
Agak lucu juga kalo dingat, soalnya kalo dari turunan sebenarnya Dan Heng lah yang bisa melet Caelus. Dia keturunan orang penting, dulu keluarganya memakai sihir untuk sehari-hari dan hal itu berakibat ada beberapa yang melukai diri mereka sendiri walaupun ada juga anomali yang malah kebal dengan efek sampingnya.
Tapi mau bagaimanapun itu Dan Heng sendiri gak mau memakai kemampuan ini, sakral. Karena ditakutkan kalo dia pakai malah timbal balik buruknya pindah ke orang sekitarnya.
Sampai waktu di mana Caelus tidak sengaja liat Dan Heng dengan wujud aslinya. Wujud Vidyadhara dengan telinga lancip, apalagi karena Dan Heng keturunan keluarga penting. Ia punya tanduk transparan dikepalanya.
Dua-duanya membeku saat itu, terpaku melihat satu sama lain hingga akhirnya Caelus berkata, “Dan Heng kamu cosplay siapa? Itu dadanya sampe dipamerin begitu...”
Terkadang Dan Heng bersyukur punya pacar aneh nan unik seperti Caelus ini. Dan Heng gak bisa jawab kalo itu baju yang ia selalu pakai ini untuk penghormatan leluhurnya, cuma dia juga gak bisa bohong ke pacarnya.
“Caelus, sebenarnya aku itu keturunan dukun.”
Caelus terdiam, matanya melebar sedikit, “Jadi kamu itu bisa bikin kita kaya sampai 7 keturunan, dong?”
“Bisa... tapi itu cuma berlaku buat pasangan yang sudah menikah doang, Cae.”
“Ya makanya ‘kan, tadi aku bilang ‘kita’.” Mendengar itu Dan Heng terdiam sebentar, lalu alisnya mengkerut dan rona merah muncul di pipinya.
“Jangan, aku nolak.”
“Aku belom aja purpose?!”
“Bukan begitu. Aku nolak kita pakai hal kaya ginian cuma untuk kaya, Caelus. Memang enak kaya instant, tapi efek negatifnya lebih banyak lagi. Keluargaku sudah kena banyak musibah sana-sini karena buyutku main hal kayak gini terus menerus.” Dan Heng menjelaskan sedikit.
Caelus manggut-manggut, pandangannya dibawa ke bawah lalu diam. Melihat itu, Dan Heng merasa bersalah.
“Maaf, Caelus. Aku gak mau kamu ikut kena musibah juga karena aku, aku gak mau ngebahayain kamu.” Caelus hanya menggangguk pelan mendengarnya, ia masih tetap berpaling pandangan dari pacar kesayangannya.
“Iyaa...” Caelus kembali hanya manggut-manggut sambil menunduk ke bawah.
“...engga ada yang ingin kamu tanyain?” Caelus menggeleng kepalanya saat mendengar itu.
Kesunyian di mereka berhenti sejenak saat Caelus memberi Dan Heng bekal bawaannya, masakan dari Mbak Himeko karena ia masak kebanyakan. Setelahnya Caelus langsung berpamitan lalu pergi.
Melihatnya Dan Heng awalnya lega namun lama kelamaan ia khawatir, Caelus bakal illfeel ga ya? Gak mungkin sih, kan ini Caelus. Tapi meski begitu Dan Heng tetep kepikiran banyak hal sampai malamnya ia susah tidur.
Berbanding terbalik dengan Caelus yang saat itu buru-buru pulang karena sebenarnya ia hampir nganceng liat pacarnya yang cosplay ntah, cosplay siapa.
Gila aja!
Pacarnya yang biasanya selalu memakai baju serba tertutup, sopan, anak baik banget tiba-tiba cosplay yang dadanya diperlihatkan seperti itu. Mana bahu kirinya kebuka banget, Caelus lihat jelas gimana lekuk armpit pacarnya dan itu hampir ngebuatnya gila.
Apalagi bagian belakangnya yang dibuka dengan motif baju yang indah banget, memperlihatkan kulit putih bersihnya Dan Heng. Gila. Gilaaaaa!!!
Caelus malam itu berakhir hampir ngabisin kotak tisu yang padahal baru dibeli tadi pagi.
Yah, begitulah. Pacaran di masa muda.
“Caelus? Kok bengong aja?” sautan pelan dari Dan Heng akhirnya menyadarkan dirinya, mengingatkan mereka berdua masih di kosan Astral.
“Ah...iya, sori. Lagi kepikiran sesuatu.” Iya, mikirin gimana cara minta Dan Heng buat wleowleo malem ini juga dikamarnya.
“...soal yang kemarin, kah?”
“Eh?”
“Yang itu, pokoknya pas aku cerita....”
“Kayaknya...?” Caelus terdiam sejenak. Sebenarnya tidak juga, pikirannya sedang mesum sekarang, tapi demi terlihat keren dan ganteng Caelus mengangguk sambil tersenyum tampan.
“Maaf... maaf aku gak pernah ngomongin hal beginian, bahkan ke Mbak Himeko ama Pak Yang. Soalnya bukan cerita yang bagus buat diomongin, lagian juga aku udah pindah ke sini. Jadi... maaf, Caelus.” Dan Heng meraih tangannya untuk pegangan yang langsung dibalas oleh Caelus dan digenggam erat.
Dan Heng bukan orang terbuka, Caelus tahu. Dan Heng privasinya ketat, Caelus tahu. Caelus juga tahu wajah yang sekarang Dan Heng tunjukkan melasnya seperti orang yang takut diputus hubungan oleh pacarnya.
Boleh langsung kokop gak, sih? Mau banget.
“Mau banget....” Caelus akhirnya terlonjak sadar bahwa ia baru saja mengatakan apa yang ada dipikirannya, ia balik menatap Dan Heng yang matanya menyipit menoleh ke bawah.
Waduh.
“Kamu gak illfeel sama aku?” suara Dan Heng terdengar lebih berat dari biasanya, hot banget.
“Ngapain aku illfeel? Kamu aja gak illfeel pas aku rauk-rauk di tong sampah, hehehe.” Caelus tersenyum ceria sambil menggaruk kepalanya.
“Kalau itu aku sebenarnya illfeel.”
“SAYANG?!”
Tawa Dan Heng akhirnya lepas, itu lembut dan manis.
“Sayang, aku mau kokop kamu sampai bibir aku monyong.” Caelus mendekatkan wajah mereka berdua sampai terasa nafasnya.
“Gak mau.” Mendengarnya, Caelus tentu tidak puas. Ia menggembungkan pipinya.
Melihatnya, Dan Heng tertawa kecil. Ia kemudian memeluk Caelus erat, sambil akhirnya berbisik di samping kuping pacarnya.
“Nanti malem aja, ya? Di kamar aku.”
Caelus nge-freeze.
Pacar imutnya... ternyata memang seksi banget! Mantap!
