Work Text:
Taufan berlari tergesa-gesa menyusuri jalan menuju sekolah. Langkahnya berlomba dengan waktu masuk sekolah yang tinggal 10 menit lagi. Kancing seragamnya belum semua dipasangkan dengan rapi, rompi birunya juga diikat sembarangan di lehernya, hingga tali sepatu sekolahnya yang tidak terikat dengan baik. Kacau sekali!
Pasalnya, dia sempat berdebat dengan adik pertamanya, Blaze, akibat kekesalan skateboard kesayangannya rusak olehnya. Dan kalau mereka tidak dilerai si bungsu Ice, Taufan akan semakin telat ke sekolah.
Yang semakin membuat Taufan pusing, penjaga sekolah hari ini Yaya, murid peringkat 1 yang disiplin dalam peraturan sekolah, salah satunya masalah keterlambatan. Dalam hati, dia berdoa agar giliran Yaya ditukar dengan Gempa, si peringkat 2 yang sifatnya lebih lembut. Terlebih, dia dan Gempa berteman baik. Sembari memikirkan itu, Taufan bersenandung riang sampai ia bertabrakan dengan seorang murid bertopi hitam-merah.
"Kau menggangguku saja!" Tukas murid yang terlihat kesal karena ditabrak sembarangan olehnya itu. Taufan terkejut menyadari siapa yang ditabraknya. Halilintar yang populer karena ketampanannya dipuji banyak perempuan, termasuk penggemarnya.
Dia sadar harus minta maaf, tapi Taufan masih kesal perihal skateboard miliknya yang dirusak oleh Blaze. Terlebih, sikap Halilintar tidak ramah padanya dan sudah mencuri sebagian perhatian penggemarnya. Taufan akui dia agak cemburu padanya. "Kau nggak melihatku yang sedang buru-buru?! Aku telat!"
"Aku juga terlambat—"
"Ehem!" Terdengar suara berdeham yang mendekati mereka. Taufan bersorak senang dalam hatinya mendengar suara yang familier itu. Gempa! Doanya terkabul! "Kalian terlambat lima menit. Akan aku bacakan hukumannya."
Taufan sudah bersiap akan membuat pertunjukkan spektakuler untuk membujuk Gempa, kalau perlu merengek di jalan sambil menangis (biar saja kalau dia tidak tahu malu, lagipula penggemarnya sedang tidak melihatnya), namun tindakannya itu didahului oleh Halilintar. Lagi-lagi, dia dibuat terkejut.
Halilintar mengepalkan tangan. Terlihat jelas kesal, tetapi air matanya juga mengalir. Hei, ini bercanda, kan? Dia sedang membuat pertunjukkan juga?
Yang membuatnya bertanya-tanya, sikap Gempa langsung melembut setelah melihat reaksi Halilintar. Padahal dia juga tidak semudah itu dibujuk oleh Taufan. "Ah, baiklah. Enggak masalah untuk kali ini. Kalian boleh masuk,"
Sungguh, Taufan ingin menanyakan sikap Gempa. Namun dia tidak akan melepaskan keberuntungan bisa masuk tanpa dihukum walau terlambat. Dengan langkah cepat, dia segera memasuki sekolah. Sesaat, ia melirik ke belakang. Air mata Halilintar sudah kering. Sikap Gempa juga kembali seperti biasanya saat berjaga di depan sekolah.
Jadi tadi pemandangan nyata atau tipuan belaka?
-0o0-
"Taufan, ini untuk hukuman terlambatmu tadi pagi,"
Oke, Taufan harus tarik kembali ucapannya. Dia tidak beruntung. Bagaimana bisa? Walau Taufan tahu, kalau dia protes percuma. Gempa juga bisa bersikap tegas dan segera fokus pada tugasnya sebagai ketua kelas.
Gempa memberikan kertas kecil tentang daftar hukumannya. Sepulang sekolah pergi ke taman belakang sekolah yang terbelangkai, menyapu dedaunan, duduk selama 20 menit. Apa maksudnya? Meski begitu, Taufan tetap melakukannya. Dengan terpaksa, ia izin dari perkumpulan dengan teman-temannya.
Dia tidak terkejut saat melihat Halilintar ada di sana. Pasti karena hukuman terlambat juga. Namun sebaliknya, Halilintar malah sangat terkejut dengan kehadirannya. Dia salah tingkah. Kening Taufan berkerut melihatnya.
"Kau juga dihukum Gempa soal telat tadi pagi, kan?" Taufan asal berbasa-basi seraya mulai menyapu, memunggunginya. Sapu lidinya sendiri dipinjamkan sang petugas kebersihan sekolah.
Suara Halilintar terdengar panik. "'Juga'? O-oh... Silahkan kalau begitu." Katanya resah. Balasan aneh. Dan sekarang, Taufan bisa mencium aroma bunga melati. Melati?
Hidungnya yang peka itu lantas bertanya dengan penasaran, "Hei Hali, kamu mencium aroma melati, nggak? Ini bukan hal horor kan? Aku sering dengar cerita murid lain soal angkernya taman belakang ini,". Pasalnya, melati bisa jadi bunga di perkuburan orang meninggal.
Halilintar tidak menjawab. Dia mulai merinding, apa jangan-jangan sosok yang dia ditemui itu bukan Halilintar asli, tetapi.... Hantu?
"Wah, Taufan sudah bekerja!" Seru Gempa yang baru datang dengan raut ramah, yang langsung dipeluknya erat-erat.
Saking takutnya, Taufan sampai menangis dan merengek pada Gempa agar hukuman dia diganti karena khawatir dengan hantu berwujud Halilintar yang beraroma melati. Namun Gempa malah tertawa dan menepuk pundaknya, menenangkannya. "Ayolah, kalian malah menciptakan salah paham! Halilintar, boleh aku minta teh melatimu?"
Rupanya teh melati! Barulah Taufan berbalik menatap Halilintar. Ekspresi Halilintar tampak panik dan berkeringat dingin. Semakin salah tingkah. Namun Taufan tidak peduli, sudah bergerak mendorong dada Halilintar dengan kesal. Dia sedikit tertegun karena lelaki itu bergeming. "Hei! Kenapa kamu nggak mau mengatakan itu hanya teh?!"
"Apa pedulimu?" Balas Halilintar acuh tak acuh, membuang muka. Namun tubuhnya tampak gemetar. Masa Halilintar takut? Tapi untuk apa dia merasa takut? Lalu Halilintar menatap Gempa, "Gempa! Kamu sudah janji nggak mau bicara soal teh!"
"Aku sudah bilang, Taufan itu teman yang baik," jawab Gempa, yang mana cukup membuat Taufan tersentuh. Dia masih belum mengerti topik yang dibicarakan, namun sifatnya yang dipuji dapat membuatnya senang. Maka, dia ikut mengiyakan ucapan Gempa dengan mengatakan dirinya teman yang bisa diandalkan.
Tak tahan dengan situasi yang tidak dimengertinya, akhirnya Taufan menyuarakan rasa penasarannya. Sedikit memaksa. Barulah, Halilintar memutuskan angkat bicara. "Sebenarnya, aku suka minum teh. Tolong rahasiakan dari semua orang,"
"Apa ada yang salah dari minum teh? Aku juga kadang minum teh!" Taufan bertanya, tidak mengerti. Halilintar semakin gelisah, hingga akhirnya Gempa yang mewakilinya menjawab pertanyaan Taufan.
"Halilintar punya kondisi kesehatan nggak bisa mengecap rasa makanan. Dia khawatir dihujat orang lain soal itu." Jelas Gempa, membuat Taufan terkaget-kaget. Sungguh ada penyakit semacam itu?
Seolah tahu apa yang dipikirkannya, Halilintar mengangguk. "Intinya, lidahku nggak bisa merasakan apapun, tapi aku suka mencoba berbagai rasa teh. Itu menjadi ketenangan tersendiri bagiku."
Taufan menghela napas. Ia mendekati bangku taman yang dari bebatuan besar itu terdapat tas hitam Halilintar. Dia sudah duduk di batu besar sebelahnya. Mencoba menyamankan diri di sana.
"Aku mau mencicipi tehmu. Asal kamu tahu, indra perasaku itu bagus. Makanya aku bisa menyadari bau teh melatimu." Pinta Taufan, dalam hati merasa geli. Padahal beberapa saat lalu, Halilintar masih seperti teman menyebalkan, namun sekarang dia malah mau mengakrabkan diri dengannya.
Dilihatnya Halilintar yang mengangguk-angguk dengan canggung. Sementara Gempa tersenyum dan ikut duduk bersama mereka. Ikut meminta teh. Akhirnya, keduanya menyaksikan Halilintar yang menyeduh teh. Taufan sedikit tidak percaya saat melihatnya menuangkan gula dan tentu tanpa mencicipi, hendak memprotes, namun dia segera menahan diri.
Gempa yang lebih dulu meminum tehnya karena Taufan masih sedikit ragu. Saat raut wajah Gempa semakin cerah, akhirnya Taufan ikut mencicipinya setelah mengucap doa. Sekali teguk. Tiga kali teguk. Tiba-tiba gelas plastiknya habis dalam sekejap. Taufan ternganga tak percaya.
"Bagaimana rasa tehnya, Taufan?" Halilintar bertanya dengan khawatir. Andai dia tahu seberapa enaknya rasa teh tersebut. Terlebih Gempa bercerita kalau Halilintar sendiri yang meracik melati hingga jadi teh. Taufan menelan ludahnya. Tenggorokannya mendadak terasa tercekat.
Ketika air matanya jatuh dan dia mulai terisak, Taufan juga sudah membulatkan tekad dalam hatinya untuk berteman baik dengan Halilintar. Dan tentunya bersama Gempa. Taman belakang sekolah bisa menjadi tempat pertemuan minum teh bersama.
-0o0-
Setelah agak akrab dalam 1 hari, Halilintar mengaku pada Taufan bahwa alasan dia terlambat ke sekolah adalah karena dia salah membumbui nasi goreng untuk adiknya, Gentar. Tak lain karena lidahnya sendiri yang tidak bisa mencicipi rasa masakannya. Taufan menganggukkan kepala dengan mengerti sebagai sesama anak sulung. Dia ikut mengaku kalau alasan dia terlambat adalah karena skateboard miliknya dirusak oleh Blaze.
Gempa tersenyum kecil, berkomentar di pertemuan kemarin, "Kalian sudah bisa berteman akrab, ya!"
Sedikit tersinggung, bukan Halilintar yang membantah, namun justru Taufan, "Aku masih sedikit kesal sama si Pria Idaman Perempuan," katanya, terkejut sendiri dengan kalimatnya. Syukurlah Halilintar tidak merasa terluka, malah marah mendengar julukan menggelikan itu.
Dan sekarang, Taufan terdiam memikirkan kejadian kemarin. Tanpa disadarinya, diamnya dirinya membawa tanda tanya besar bagi teman-teman sekelasnya. Seorang Taufan tidak mungkin bisa diam!
"Hei, hari ini kau bisa ikut kumpul di kafe, kan?" Adu Du, salah satu kawannya, menegurnya. Taufan sedikit terkejut. Tentu dia tahu maksudnya. Kemarin dia absen dari suatu 'perkumpulan' teman-temannya karena 'hukuman Gempa', walau rasanya bukan hukuman.
Namun, Taufan mendapati dirinya segera menolak ajakannya. "Enggak bisa, hukuman dari Gempa masih berlanjut," Katanya berbohong, dalam hati meminta maaf pada Gempa. Lagipula, dia harus tetap menjaga rahasia Halilintar. Benar, dia hendak minum teh saat sepulang sekolah.
Hari ini sedikit berbeda. Taufan membawa gelas plastik kesukaannya, warna biru. Gempa yang menyarankan agar dia membawa gelas sendiri agar tidak merepotkan Halilintar. Dipilihnya gelas plastik agar tidak beresiko pecah.
Sembari mengamati Halilintar yang menyeduh teh, bahkan sampai 2 kali prosesnya, Taufan bertanya, "Kenapa kamu khawatir ketahuan suka teh? Bukankah rahasiamu tentang sakitmu masih aman?"
Gempa menepuk pundak Taufan pelan. "Fan, aku tahu kamu penasaran. Sebenarnya.... Tentang sakitnya Hali itu pernah tersebar di sekolah lamanya."
"Benar. Makanya jangan main-main," Halilintar menimpali ucapan Gempa. Taufan sudah tidak berani bertanya lagi. Sebagai gantinya, dia memilih menghirup aroma teh yang diseduh itu. Wangi. Seperti mencium bahan yang alami.
"Seperti bahan alami, ya?" Sahut Halilintar tiba-tiba, mengejutkan Taufan. "Namanya teh oolong, dari bahan bunga yang alami. Yang kudengar, rasa teh ini juga unik. Khasiatnya juga bagus sekali,"
Gempa memekik senang, mengejutkan Taufan karena dia tidak pernah melihat Gempa se-ekspresif itu. "Sungguh teh oolong?! Rupanya kamu mengingat teh kesukaanku!"
Taufan seketika teringat kalau dia pernah meminum teh oolong kemasan. Walau rasanya tidak terlalu diingatnya. Karena dia tidak terlalu pecinta teh, dia tidak terlalu membedakan rasanya. Namun tangannya tetap bersemangat menerima teh tersebut.
Sebentar. Taufan mengamati gelas plastik bentuk kotak mereka bertiga. Warna biru, merah, dan kuning dengan pegangan tangan. Anehnya, bentuknya mirip. Mungkin karena mereka beli di toko penjual peralatan makan yang sama. Merasa hal itu lucu, Taufan meraih ponselnya dan memotretnya.
"Taufan! Kau belum izin padaku!" Halilintar terkesiap kaget dengan suara jepretan foto dari ponsel Taufan. Dia yang tengah memasukkan saringan teh ke dalam tasnya, jadi terhenti.
"Ini lucu sekali, lho! Lagipula aku hanya memotret gelas kita. Apa kamu nggak suka berfoto, Hali?" Balas Taufan enteng. Gempa meringis dan menimpali bahwa tidak masalah kalau hanya memotret gelas mereka. Halilintar mendengus, mengangguk.
Usai menyesapnya, Gempa terlihat bahagia. "Inilah teh yang membuatku dapat melupakan semua masalah berat. Rasa manisnya membuatku segar."
"Menurutku, rasanya lumayan pahit! Sepertinya karena bahannya terlalu alami," Taufan yang sudah mencicipi, menggeleng kurang setuju. Namun dia segera menoleh ke Halilintar, "Walau berkat ini, aku jadi ingat rasa oolong kemasan yang pernah kuminum. Ternyata rasanya sedikit berbeda!"
Mendengar topik rasa teh, Halilintar sedikit tertarik. Usai meneguk tehnya sendiri, dia merespon, "Oh, ya? Ceritakanlah!"
Dengan riang, Taufan mulai menceritakan beberapa rasa teh oolong yang telah diminumnya. Sesekali Gempa bertanya teh oolong kemasan merk apa yang diminum Taufan dan bersemangat mencatat semuanya. Sedangkan Halilintar hanya mengangguk-angguk dan tersenyum kecil saat dia menyelipkan candaan.
Taufan cukup penasaran, dibalik senyuman itu.... Pernahkah dia merasa terluka tentang rasa teh yang tidak bisa dirasakannya? Berpikir hal itu tidak adil baginya?
-0o0-
"Sebenarnya, bukan berarti aku nggak bisa sembuh."
Taufan terlonjak senang saat Halilintar mengatakan itu padanya sewaktu mereka bertemu di pagi hari. Namun, Halilintar tidak bisa menceritakan lebih lanjut karena dia sudah dipanggil wali kelasnya tentang tugas sekolah. Dengan bersungut-sungut, Taufan melangkah ke kelasnya sendiri.
Mereka belum dekat. Taufan dan Gempa juga tidak sedekat itu, tetapi cukup bisa berteman baik sebagai sesama teman sekelas. Taufan ingin mengenal kedua temannya lebih jauh. Halilintar maupun Gempa. Setelah melakukan beberapa pesta teh bersama, Taufan merasa perlu berteman baik.
"Ayo kumpul lagi di kafe! Jangan bilang kau masih dihukum?" Probe, salah seorang kawannya mengirimkan pesan ke ponselnya. Taufan terdiam, memutuskan untuk ikut. Dia tidak bisa terus-terusan asyik pesta minum teh. Maka, dia mengirimkan pesan izin ke Gempa. Dia masih tidak punya nomor ponsel Halilintar.
Ketika tiba di kafe tempatnya berkumpul bersama teman-temannya, mendadak semua hal itu tidak lagi menarik baginya. Sebenarnya, ia tergabung kelompok anak yang lumayan berandalan, dan tempat ini sering jadi tempat bolos sekolah. Banyak anak lain yang merokok. Taufan terpikir tentang taman belakang sekolah. Udaranya lebih segar karena banyak pepohonan dan rumput liar.
Lagipula, aku melakukan ini demi adik-adikku juga! Pikir Taufan. Dia sudah menimbrung obrolan Probe bersama Adu Du. Ketika tiba-tiba didengarnya percakapan orang asing di belakang punggungnya.
"Serius tetangga kita masuk rumah sakit? Si Halilintar yang tampan itu?" Komentar perempuan dengan rambut ikal pada temannya yang berjilbab kuning.
"Iya serius! Tadi kulihat adiknya membantu membopongnya. Kalau nggak salah namanya.... Gempa?" Jawab si perempuan berjilbab kuning. Lantas, Taufan bangkit dari kursinya. Dengan terpaksa, dia meminta izin pada teman-temannya. Dia harus memastikan kebenaran cerita ini!
Dia menelepon Gempa. Tidak diangkat. Berkali-kali. Kali ini sengaja ditolak teleponnya berkali-kali. Taufan mulai curiga. Dia memutuskan izin pulang dari perkumpulan pertemanannya dan segera pergi ke tempat tujuan selanjutnya. Sekolah. Taufan perlu tahu alamat Gempa atau Halilintar!
Air mata Taufan mengalir. Terlebih saat dilihatnya di ruang guru, alamat rumah Halilintar dan Gempa memang sama. Cerita orang asing itu bisa jadi benar. Rupanya mereka adalah bersaudara. Dan Halilintar... Taufan sudah bergegas menuju alamat mereka.
Setibanya di sana, dia sudah menangis kencang saat didapatinya rumah itu kosong. Para tetangga memberinya sebuah alamat rumah sakit. Bahkan akhirnya ada orang yang mengajaknya pergi bersama. Taufan mengiyakan, masih dengan emosi terguncang.
Ketika dia terengah-engah dengan mata basah di hadapan Gempa, sang kawan hanya memalingkan wajah. Namun Taufan bisa melihat mata Gempa yang merah, seperti habis menangis. Seorang anak kecil juga berada di pelukannya, yang dia duga adalah Gentar, si adik bungsu yang pernah diceritakan Halilintar.
"Kanker otak Kak Halilintar kambuh lagi. Dia harus kembali kemoterapi, berarti efeknya dia akan semakin sulit untuk mencicipi rasa teh." Penjelasan dari Gempa sama sekali tidak membuat Taufan senang.
"Sebentar, jadi kalian bersaudara?" Taufan bertanya, masih penasaran dengan fakta ini.
Gempa mengangguk pelan. "Maaf Taufan. Aku nggak berniat menipumu. Aku cuma ingin Kak Halilintar punya teman. Dan aku merasa, kau adalah teman yang cocok." Jelasnya lirih, yang hanya membuat Taufan membisu.
Kini Taufan jadi berpikir, bagaimana perasaan Gempa yang sering mengurus saudaranya yang sakit? Tidak-kah dia pilu memikirkan saudaranya dapat pergi meninggalkannya dengan mudah?
-0o0-
Taufan memang sudah mulai ikut stres seperti Gempa, meski bagaimanapun dia jadi belajar tentang teh. Dia ingin memberi hadiah teh terbaik untuk Halilintar yang sakit. Tentu Gempa juga harus ikut meminumnya. Racikannya mungkin tidak seenak Halilintar, biar begitu bukankah hadiahnya tulus?
"HORE!" Teriaknya riang ketika percobaannya yang ke puluhan kali. Dia sampai mengorbankan semua uang tabungannya demi pembuatan teh tersebut. Pada awal percobaan, Taufan memuntahkan racikannya sendiri karena rasanya yang di luar nalar. Sekarang rasanya enak!
"Woah, ini enak! Duri minta racikan tehmu, mau minum bareng Solar!" Duri, tetangganya yang selalu membantu mencicipi rasa tehnya, akhirnya juga menyetujui bahwa Taufan berhasil membuat teh. Taufan tersenyum bangga sembari mempersilahkan Duri untuk mengambil mahakaryanya.
Mengapa tidak? Taufan jadi ingin memamerkannya pada semua orang. Namun dia menahan dirinya, menyadari bahwa tujuan awalnya adalah untuk pertemanannya bersama Halilintar dan Gempa. Seusai menyelesaikan racikan tehnya, dia menulis sebuah surat untuk keduanya yang diselipkan bersama racikan tehnya.
Anggap saja sebagai kejutan! Rencananya, dia ingin diam-diam memberikannya pada suster yang mengurus Halilintar. Dia tahu kalau situasi sekarang tidak cocok untuk minum teh, tetapi Gempa pasti mau menerima hadiahnya.
Dia terkekeh geli memikirkan idenya. Dengan semangat, kakinya melangkah ringan ke arah rumah sakit. Di tengah jalan, ia mendadak bertemu Adu Du dan Probe. Tidak, tidak hanya mereka. Ternyata mereka mengajak geng Bora Ra. Dengan gugup, Taufan menyembunyikan racikan tehnya yang dibawa di dalam kantung plastik di balik punggungnya.
"Fan, ayo ikut! Ada misi yang perlu kita lakukan!" Kata Adu Du tegas tanpa berbasa-basi. Sikapnya seperti itu karena kepatuhannya pada Bora Ra.
Waduh, dia harus memberi alasan apa? Taufan menelan ludah dan berkata bohong, "Eh, aku.... Aku harus antar pesanan tetanggaku ke rumah sakit! Hahaha...". Dalam hati, dia berucap, Maafkan aku, Duri!
Setelah sudah beralasan, Taufan bersiul-siul gugup sembari melanjutkan langkahnya ketika tiba-tiba kantung isi racikan tehnya direbut. Dia segera menoleh, menatap geram ke pelaku yang mengganggunya. Bora Ra. "Teh? Minuman orang lemah! Kalau kau selemah ini, adik-adikmu mudah digenggamku!"
"Kembalikan!" Teriak Taufan, melompat lincah untuk menangkap kantung isi tehnya. Dia seperti angin kencang yang berhembus ke atas kepala Bora Ra. Dengan mudah, dia berhasil mendapatkan tehnya kembali. Tingkahnya dipuji oleh Adu Du dan Probe.
Namun, Bora Ra masih belum membiarkannya pergi. Taufan meringis ketika teman-teman gengnya menutup jalannya. "Urusanku sangat penting! Apa yang kulakukan bersama kalian selama ini belum cukup?!"
"Masih belum cukup. Orang sepertimu cocok berada di kelompok kami." Kata Kiki Ta, yang dibalas anggukan setuju oleh Bora Ra. Taufan berusaha melompat untuk menghindar mereka. Dia sudah hendak lari ketika tiba-tiba Bora Ra mengatakan sesuatu yang mengejutkannya.
"Hei, kalau kau kabur, rahasia temanmu itu akan kubocorkan. Siapa namanya? Halilintar? Lidahnya nggak berfungsi, huh?" Katanya dengan nada mengancam.
Cukup dengan itu, Taufan berhenti melangkah, mendengus kesal. Tangannya sedikit gemetar. Rahasia Halilintar harus tetap aman. Jika tidak, pertemanan mereka bisa kacau balau!
Taufan menyesal sudah bergabung dengan kelompok pertemanan yang buruk. Apa boleh buat? Dia terpaksa gabung karena Blaze dan Ice pernah diancam! Taufan masih ingat bagaimana Bora Ra yang kaya raya itu licik sekali membuat kedua adiknya berhutang banyak, padahal keduanya hanya membeli es krim di tokonya. Bora Ra memberi keringanan bahwa semua hutang dilunaskan, dengan syarat Taufan harus tunduk padanya.
Dia ingin kembali bermain bersama Halilintar dan Gempa. Minum teh bersama. Dia harus kembali. Namun.... Sekarang Taufan dipaksa harus membuat sebuah masalah besar yang tidak diinginkannya. Dia jadi bolos sekolah dua hari dan belum pulang sama sekali. Yaitu menculik anak seorang tokoh penting di Pulau Rintis.
"Angkat tangan!" Teriak polisi pada mereka. Taufan yang sedang menggendong anak yang diculik, mencoba mengatur napasnya. Dia mulai gugup setengah mati dan banjir keringat. Polisi sudah mengacungkan pistol.
Dirasakannya si anak yang berusia 8 tahun mulai menangis di gendongannya. Taufan terdiam, mulai berpikir kalau tindakannya ini salah. Bagaimana nasibnya ke depannya? Apa dia akan menjadi buronan polisi? Hahaha, penggemarku akan langsung kabur! pikirnya dalam hati.
Si anak laki-laki berucap lirih, "Kak, aku mau pipis. Aku bisa sungguhan mengompol..."
Otomatis, Taufan lantas membelanya. Dia tidak mau anak itu mengompol di gendongannya. Kiki Ta menegaskan bahwa dia hanya punya waktu sepuluh menit. Dengan cepat selayaknya angin, Taufan kabur ke toilet di belakang gedung.
Setelah tiba di kamar mandi, Taufan memutuskan untuk mengubah niatnya, "Dik, Kakak lepaskan kamu saja."
"Sungguh Kak?" Tanya si anak kecil, matanya masih basah dan menatapnya tidak percaya.
Taufan mengangguk pasti. Senyum kecutnya melebar. "Iya sungguh, hehehe! Sebenarnya Kakak dipaksa melakukan ini. Kakak cuma bertemu teman-teman Kakak di rumah sakit, mau memberi racikan teh buatan Kakak sendiri. Maaf, Dik! Kamu masih terlalu kecil untuk semua ini!"
Si anak laki-laki terdiam dan menghapus air matanya, lalu telunjuk tangan kanannya mengarah ke toilet paling pojok kiri. "Itu toilet rusak, tapi sebenarnya ada lubang udara rahasia di lantainya, menuju bawah tanah hingga mengarah ke luar. Kakak bisa kabur ke situ. Oh ya, salam perkenalan dariku, Sopan."
Semakin terkaget-kaget saja Taufan dengan anak yang diculiknya. Dia jadi curiga anak itu sebenarnya berniat kabur selama pipis di kamar mandi. Dia tertawa geli karena sadar telah dibodohi oleh anak kecil. Pantas saja Bora Ra ingin menculiknya. "Salam kenal, Sopan! Panggil aku Taufan!"
Dia sudah mengusap-usap lembut kepala Sopan, ketika tiba-tiba terdengar derap langkah cepat. Sopan berteriak menyuruhnya segera pergi. Taufan mengangguk dan mulai hendak kabur, tetapi mendadak nuraninya berkata ini tidak benar. Kalau dia kabur, dia malah semakin diincar polisi. Dia sudah berbalik lagi, berniat menyerahkan diri secara damai kepada polisi.
DOR!
"ARG!" Taufan menjerit syok saat peluru pistol polisi menancap ke dada kirinya. Dia tersungkur lemas sementara didengarnya Sopan sudah berteriak marah pada polisi sekaligus menangis kencang.
Taufan jelas melihat sosok malaikat maut di hadapannya, menyadari nyawanya di ujung tanduk. Terlebih, mulutnya mulai mengeluarkan darah, hingga kesadaran Taufan yang perlahan-lahan lenyap. Bersamaan dengan itu, ada pesan masuk dari Gempa yang sempat dilihatnya di layar ponselnya.
"Fan, dimana kamu? Semua orang mencarimu! Oh ya, Kak Halilintar sudah sadar!"
Akankah racikan tehnya tiba ke tangan Halilintar dan Gempa? Taufan berharap, ketulusan persahabatannya tersampaikan pada mereka.
-0o0-
Untuk Halilintar dan Gempa,
Hehehe, gimana hadiahku? Kaget, kan?! Asal kalian tahu, aku mencoba membuatnya puluhan kali! Itu teh racikanku sendiri! Anggap saja teh itu hadiah persahabatan dariku. Lagipula, aku selalu menikmati pesta teh kita! Itu selalu menyenangkan!
Terima kasih, ya. Aku senang berteman dengan kalian. Di saat aku agak merasa sesak dengan lingkungan pertemananku yang cukup menyebalkan, memaksaku melakukan masalah, kalian berhasil menenangkanku melalui pertemanan damai lewat pesta teh bersama. Untuk ke depannya, mari kita bersahabat akrab!
PS: kupikir, akan lebih baik tunggu Hali sembuh supaya bisa mencicipi rasa tehnya. Ya, semoga saja cepat sembuh. Gempa juga semangat terus dalam menjaga kakak sendiri, ya!
Tertanda,
Taufan yang Kece!
-0o0-
U ntuk Taufan,
Dasar kamu gila. Masalah yang kamu buat itu terlalu gila. Mengapa malah kamu yang mati mendahului aku? Aku sudah mulai membaik dan harus mendapat kabar buruk tentangmu. Coba pikirkan bagaimana perasaanku!
Kamu satu-satunya teman terbaikku sekaligus teman yang menyesakkan bagiku. Biarpun begitu, kuucapkan terima kasih. Terima kasih karena kamu berusaha menjaga rahasiaku. K uharap kamu sudah tenang. Masalah yang dibuat Bora Ra sedang diusut polisi dan perkiraanku sebentar lagi selesai. Dan yang terpenting.... Teh yang kamu berikan melalui Probe sudah diterima olehku. Teh racikanmu benar-benar enak. Ya, aku sungguh bisa mencicipi rasanya. Manisnya pas, serta ada rasa segar yang efeknya menyehatkanku.
Untungnya Gempa juga meminta resepnya ke Duri, tetanggamu itu. Katanya, kamu sampai nggak tidur beberapa hari demi membuatnya enak? Kamu bodoh— Ugh, maksudku, kamu sudah melakukan yang terbaik.
Hei, Taufan. Jangan ingkar janji, ya. Kita sudah harus bersahabat akrab di surga. Bersama Gempa. Kita buat pesta minum teh terhebat kelak.
Tertanda,
Halilintar yang kesal... Ah, tidak.... Rindu pada sahabat akrabnya.
-0o0-
Untuk Taufan,
Ya Allah, aku benar-benar syok tentangmu, Fan. Kudengar dari adik-adikmu, sebenarnya kamu terpaksa ikut pertemanan geng buruk itu karena mereka pernah mengancam adik-adikmu, ya? Terlebih, kalian adalah anak yatim piatu, hanya dapat uang tiga bulan sekali dari pamanmu. Taufan... Aku.... Menangis berkali-kali. Pasti hidupmu berat, ya.
Meski begitu, aku menangis juga karena merasa senang. Terima kasih, Fan. Aku menyukai teh racikanmu. Kak Halilintar juga menyukainya dan berulang kali memintaku membuatkannya sampai aku harus menegurnya karena dia masih menjalani masa pemulihan. Lalu, Taufan... Aku...
Aku.... Sedih. Kalau Kak Halilintar juga meninggal, aku akan semakin sedih...
... Ngomong-ngomong.... Sopan, anak kecil itu, berhasil memberi kesaksian bagus tentangmu. Dengan begitu, polisi yang menembakmu juga sudah meminta maaf dengan layak pada keluargamu. Soal adik-adikmu, kamu tenang saja. Aku selalu rajin menemui mereka. Blaze dan Ice sangat menggemaskan.
Oh ya, Taufan... Aku setuju dengan Kak Halilintar. Suatu saat, mari kita bertiga ciptakan pesta minum teh lagi!
Tertanda,
Gempa yang akan selalu menyayangimu sebagai sahabat akrab.
-0o0-
(End)
