Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-07-15
Words:
1,769
Chapters:
1/1
Kudos:
14
Bookmarks:
1
Hits:
290

Detensi dengan Hagrid

Summary:

Detensi dengan Draco Malfoy benar-benar selalu menyebalkan.

Work Text:

Selalu menjadi pengalaman mengesalkan bagi Harry jika detensinya dilaksanakan bersama Draco. Bocah manja dan songong, setidaknya itu yang selalu Harry nilai darinya. Hanya karena sebuah olokan Draco soal sahabatnya, Hermione, adalah seorang keturunan darah lumpur membuat Harry tidak sengaja melempar mantra jungkir balik kepada Draco. Akibatnya Draco jungkir balik selama kurang dari lima menit hingga Profesor Mcgonagall menemukan mereka dan memberi mereka detensi untuk dilakukan bersama.

Hutan terlarang adalah bagian paling mengerikan dari Hogwarts. Ada banyak hewan-hewan dan makhluk-makhluk yang tidak pernah Harry bayangkan ada di dalam sana. Terakhir kali saat tahun keduanya di Hogwarts dia ingat sekali bertemu dengan Aragog, laba-laba raksasa yang dapat berbicara, yang tentu saja hampir memakannya dan Ron kalau saja mereka tidak cepat-cepat pergi keluar dari hutan.

Namun, kali ini detensinya ditemani oleh Hagrid, sahabat raksasa Harry. Sudah terhitung puluhan kali Draco menggerutu tentang detensinya malam ini sejak sepuluh menit yang lalu mereka memasuki hutan. Harry perhatikan mulutnya itu tidak pernah berhenti mengerucut ataupun mencibir sesuatu yang keliatannya bergerak atau tentang jubahnya yang tersangkut rumput-rumput. Sungguh menyebalkan menurut Harry.

Detensi yang dilaksanakan malam ini tidak cukup mengerikan menurut Harry. Hagrid mengajak mereka untuk mencari seekor unicorn yang tidak terlihat dalam beberapa hari terakhir. Hagrid curiga kalau unicornnya terluka di suatu tempat dan tidak ada yang mengetahuinya untuk menolong. Tidak terlalu sulit untuk menemukan seekor unicorn yang terluka di tengah gelapnya hutan, karena darah unicorn berwarna keperakan bercahaya sehingga sangat kontras dengan gelapnya suasana sekitar.

Untuk sedetik Harry berhasil menangkap ekspresi terkejut dan takjub dari wajah Draco. Saat Hagrid mengisyaratkan mereka untuk maju mendekat, Draco terlihat ragu dan takut. Tidak heran kalau dia merasa takut, pengalamannya terakhir kali dengan hippogriff sangat tidak baik hingga membuat tangannya patah. Dengan sabar Hagrid bilang bahwa ini hanyalah unicorn yang bahkan sudah mati, semuanya akan baik-baik saja dan sama sekali tidak berbahaya. Harry ingat Profesor Snape pernah bilang kalau darah unicorn itu suci, sangat berguna untuk berbagai ramuan dan obat-obatan. Harry juga ingat bagaimana Mundungus rela dikejar banyak perampok demi satu gelas kecil darah unicorn. Sangat berguna dan sangat mahal, pikirnya.

Setelah menyelamatkan tubuh unicorn yang sudah tidak bernyawa itu, Hagrid membawa mereka untuk lebih masuk ke dalam hutan. Harry sih tidak takut karena mereka bersama Hagrid dan Harry sangat mepercayainya. Berbeda dengan Draco yang terus bergerak gelisah bahkan langkahnya terlihat berat sekali.
“Tenang saja aku tidak akan mengajak kalian melewati perbatasan hutan yang boleh dijangkau oleh siswa,” ucap Hagrid sambil terkekeh yang menyadari kegugupan dan kegelisahan Draco. Draco hanya mendengus lalu memasang ekspresi berani dan melangkah mantap pada rerumputan yang berembun walau jelas sekali masih terlihat guratan takut di wajahnya. Ah Harry jadi ingin tertawa.

Harry tidak punya ide tentang mau dibawa kemana mereka oleh Hagrid tapi bagaimana cahaya bulan yang mulai terlihat menyusup pada dahan-dahan pohon dan langit yang mulai terlihat tidak lagi tertutupi oleh daun-daun lebat, Harry tahu bahwa mereka menuju ke tepi hutan. Cahaya keperakan mulai terlihat di depan mereka dan saat itu Harry langsung tahu bahwa mereka berada di dekat danau di seberang Hogwarts karena pantulan cahaya bulan di air danau, yang tentu saja masih berada di kawasan hutan terlarang. Ternyata jauh juga mereka jalannya, pikir Harry.

Hagrid menyuruh mereka menunggu di sana sebentar sedangkan dia pergi ke tengah hutan sendirian. Seketika wajah Draco diliputi kecemasan luar biasa, pasti dikiranya Hagrid akan meninggalkan mereka berdua. Namun belum ada semenit Hagrid pergi dia sudah kembali dengan sesuatu yang berjalan di belakangnya…oh tidak itu centaur, manusia setengah kuda. Harry merasa lengannya diremas oleh seseorang dan merasakan badan Draco merapat ke badannya. Harry tidak punya kesempatan untuk mendorong Draco menjauh karena dia sudah diliputi kebingungan.

Setelah centaur terlihat jelas oleh pantulan sinar bulan, Harry bisa dengan jelas merasakan badan Draco gemetar. Tidak dapat dipungkiri dirinya pun juga ikutan sedikit gemetar. Pasalnya, dari yang Harry tahu sejarah kehidupan centaur dengan penyihir itu sangat tidak baik, centaur merasa bahwa penyihir selalu ingin mencuri ilmu pengetahuan mereka dan memanfaatkan mereka. Lalu kenapa Hagrid malah membawa sekelompok kecil centaur untuk ditunjukkan pada dua siswa tahun kelima.

“Hagrid aku kira Profesor Binns sudah menjelaskan sejarah penyihir dan centaur. Juga pemberontakan-pemberontakan centaur, dan kenapa kamu malah…membawanya pada kami?” dengan sedikit gemetar pada suaranya Harry memberanikan diri untuk bertanya.

“Ah itu…” Hagrid terlihat bingung untuk menjelaskan sesuatu hingga menggaruk belakang lehernya. “Jadi saat musim panas lalu aku berbicara pada mereka dan mendiskusikan tentang bagaimana kalau mereka berbaik hati dengan penyihir-penyihir kecil,” dia menambahkan dengan suara kecil “…seperti kalian.”
“Kita tidak kecil!” Draco menyalak kesal dikata kecil padahal mereka sudah tahun kelima di Hogwarts yang artinya mereka sudah 15 tahun.

Mengabaikan protes Draco, Harry menyuarakan keheranannya, “Semudah itu?” dilihat dari ekspresi Hagrid pasti tidak akan semudah itu meminta para centaur untuk sedikit berbaik hati pada penyihir dan apa itu tadi? Penyihir kecil? Harry berusaha keras untuk tidak berdecih. Namun, sepertinya Hagrid enggan bercerita lebih.

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu bercerita. Jadi apa yang mau kamu tunjukkan pada kami berdua soal centaur?”

“Aku ingin kalian berdua yang pertama kali mendengar berita ini,” suara Hagrid mendadak kembali ceria menatap Harry dan Draco. “Profesor Dumbledore memintaku untuk mengajak bicara para centaur dan memohon bantuan mereka untuk melindungi siswa-siswa yang kena detensi ke hutan terlarang.”

Hagrid berbalik menatap para centaur, “dan terima kasih untuk kalian yang sudah sedikit berbaik hati membantuku dan aku tidak akan menyia–”

“Dengar Hagrid,” suara keras dan lantang tiba-tiba memotong perkataan Hagrid. Salah satu centaur yang berbadan paling besarlah yang bersuara. Suaranya cukup membuat Draco semakin merapatkan badannya ke arah Harry. Harry jadi tidak tega melihat ekspresi yang begitu takut dari Pangeran Slytherin super sombong ini. Jadi dia menyambut genggaman tangan Draco dan menariknya semakin mendekat.

“Kami di sini tidak untuk urusan yang tidak penting, jelas sekali kurasa, tawaran dari Dumbledore menyuruh kami menjaga siswa-siswa yang mendapat detensi ke hutan terlarang apabila mereka dalam keadaan bahaya. Dan setelah kulihat-lihat dua bocah di sana terlihat sangat aman walaupun yang rambut pirang kelihatannya sakit, pucat sekali wajahnya.”

Oh Merlin! Harry benar-benar ingin tertawa sekarang. “Karena semuanya baik-baik saja kami izin pamit pergi.” Segerombolan centaur telah berbalik saat Hagrid setengah berteriak menyuruh mereka menunggu sebentar. “Sesi perkenalan,” katanya.

“Jadi Harry, Draco mereka adalah para centaur dan yang tadi berbicara namanya Blenz, lalu Fierent, Glofalf, Durnbag, dan Edyren,” jelas Hagrid menunjuk satu-persatu centaur.

“Jadi yang pirang namanya Draco?” ucap Fierent. “Jika kamu kena detensi sering-seringlah ke hutan terlarang ya, aku senang wajah imutmu,” lanjutnya sambil terkikik geli.

Tentu saja Harry dan Draco mengerti ‘wajah imut’ yang Fierent maksud adalah wajah pucat Draco yang ketakutan. Samar Harry mendengar Draco mencicit “tidak mau” berkali-kali.

“Baiklah, karena kalian sudah saling berkenalan, Harry Draco aku ingin kalian mengatakan yang baik-baik soal centaur kalau mereka disinggung saat pelajaran atau apapun itu.” Wajah tegas Hagrid saat mengucapkannya menandakan betapa seriusnya ini. Harry dan Draco hanya bisa mengangguk setuju.

Hagrid berbalik menghadap para centaur dengan senang. “Terima kasih sudah mau aku repotin dengan urusan yang tidak penting begini. Sekali lagi tolong jaga mereka ya, bagaimana pun mereka masih kecil.”

Setelah centaur berpamitan, Hagrid langsung mengajak mereka untuk mengikutinya kembali ke kastil, yang mengherankan Harry para centaur berpamitan dengan sopan. Harry jadi begitu penasaran bagaimana cara Hagrid membujuk mereka untuk berdamai. Dengan iming-iming kah? Atau memang Hagrid ini pintar bicara jadi para centaur mudah untuk percaya padanya?

Saat dirasa suara kaki-kaki centaur sudah tidak terdengar Hagrid mulai berbicara, “Dumbledore yang minta.” Tubuhnya berhenti menunggu Harry dan Draco sejajar dengannya karena tentu saja satu langkah Hagrid bisa jadi tiga atau empat langkah manusia biasa. “Dunia semakin mengerikan, kalian mengerti? Sihir gelap mulai bangkit. Dumbledore memintaku untuk mengajak siapapun, bangsa apapun, makhluk apapun yang aku kenal untuk berada di pihak kita.”

“Termasuk para centaur?” Hagrid mengangguk. “Bagaimana dengan kawanannya Aragog, Hagrid, kurasa mereka sangat sulit untuk diajak bicara?” tambah Harry.

“Yah para keturunan Aragog hanya mau mendengarkan perintah dari Aragog, kan? Jadi aku memohon-mohon pada Aragog untuk berada di pihak kita. Tidak mudah memang, tapi aku tahu Aragog itu merasa berhutang budi padaku jadi kumanfaatkan itu.”

“Tunggu-tunggu siapa itu Aragog? Dan kawanan apa yang kalian maksud?” Draco menyentak untuk dapat ikut dalam obrolan.

“Mereka laba-laba raksasa. Saat tahun kedua, aku dan Ron hampir dibunuh oleh mereka,” Harry bergidik ngeri mengingat kacaunya malam itu.

“Tolong jangan membahas soal Aragog jika kalian sedang berada di dalam kastil. Hanya beberapa orang yang tahu soal dia,” samber Hagrid dengan cepat.

“Apa? Laba-laba raksasa ada di dalam hutan terlarang di Hogwarts? Dan tidak ada orang yang tahu? Bahkan kementerian sekali pun?” Draco bolak-balik menatap Hagrid dan Harry dengan horror.

“Yap, bahkan kementerian sekali pun.” Hagrid mendengus, “aku tidak akan bisa membayangkan kalau kementerian sampai tahu tentang ini. Mungkin saja Aragog akan dikirim ke hutan Arab Saudi yang sangat-sangat mengerikan, hutan terlarang belum ada apa-apanya.”

“Bukankah memang sudah seharusnya begitu? Laba-laba raksasa sudah seharusnya tidak berada di Hogwarts, itu kan pelanggaran.”

“Oh tidak, Aragog sudah kurawat sejak kecil, saat masih sebatang kara hingga kupertemukan dia dengan laba-laba betina sampai dia punya banyak keturunan seperti sekarang. Aku tidak akan pernah sanggup untuk berpisah darinya.” Keluh Hagrid.

“Benar-benar gila. Ayahku akan mendengar ini semua dan beliau dengan mudah akan memberi tahu kementerian mengingat seberapa dekat beliau dengan Pak Menteri. Seharusnya kementerian menindak tegas bentuk pelanggaran besar ini,” ucap Draco dengan cara yang sangat menyebalkan hingga Harry ingin sekali melempar kutukan penyengat padanya.

“Dengar Draco,” Harry menarik napas, “kau jangan berani-beraninya untuk membocorkan ini semua kepada orang lain, apalagi kalau sampai ke kementerian. Asal kau tahu saja, kepala sekolah lah yang memberi saran kepada Hagrid untuk menempatkan Aragog di hutan terlarang. Jadi, sudah pasti ini aman. Semua imbauan atau perintah dari kepala sekolah pasti aman.”

Draco berdecih, “memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku sampai berani membocorkan ini pada orang lain, hah? Memberiku mantra jungkir bali seperti tadi? Sungguh Potter sang pahlawan, cih.” Ucapnya sambil berjalan lebih cepat sehingga Harry dan Hagrid tertinggal di belakang.

Harry menatap Hagrid yang tampak panik dan cemas kalau sampai Draco bilang soal ini ke semua orang. “Tenang saja dia itu cuma omong besar, mana mungkin berani membocorkan hal ini pada siapapun.” Harry menghela napas, “lagaknya memang sok paling berani, padahal tadi saat kumantrai di koridor dia nangis dan aku yakin hampir ngompol, dasar si cupu yang sombong.”

Hagrid mengangguk setuju, “tapi Harry, aku tidak mau lagi kalau sampai kamu kena detensi karena bermasalah dengannya lagi, dia itu…menyebalkan, seperti ayahnya.”

Harry bergumam mengiyakan Hagrid sebelum mereka berjalan menuju kastil. Sudah hampir pukul sebelas saat Harry sampai di depan ruang rekreasi. “Dari mana saja kamu?” tanya Nyonya Gemuk yang diabaikan Harry dan langsung saja mengucapkan kata kunci asrama, “kacang giling”. Ruang kreasi Griffindor sudah kosong dan kedua sahabatnya pasti sudah tidur jadi Harry langsung naik ke tangga menuju kamarnya sendiri.