Work Text:
Engahan napas yang berusaha mengejar udara segar yang seakan kabur dari jangkauannya memenuhi seisi kamar, ranjang berdecit kecil tatkala Sahya Rahagi menggulingkan tubuhnya ke samping. Jantungnya mulai memperlambat ritme pompaannya, satu demi satu tungkainya yang tegang mulai melemas. Sisa-sisa euforia yang hinggap sesaat di raganya mulai menguap dan ia langsung merindukan sensasinya.
Di malam yang membeku, seisi tubuh Sahya membara oleh sesi barusan.
Kendati apa yang baru perbuat malam ini, kendati seberapa sering mereka melakukannya, Sahya mendapati betapa janggalnya semua ini. Ganjil baginya untuk melihat bahwa pasangannya malam ini seperti tidak berada di alam mana pun; Cahyo bukanlah bagian dari mereka yang hidup seperti dirinya, maupun mereka yang wafat. Lelaki—apakah dia benar-benar laki-laki? Sahya sendiri tidak yakin—itu berada di alam dan levelnya yang tersendiri.
Cahyo masih terbaring kaku di sampingnya, terlihat sama sekali tidak kepayahan mengejar napas. Rambut kelamnya teracak tak karuan berkat ulah Sahya ketika pria itu sibuk menghabisi bibir sang lelembut, melumatnya tandas ketika gelora gairahnya mendidih.
Begitu merasa seluruh adrenalin di dalam dirinya akhirnya enyah, Sahya bangkit menopang sisi tubuhnya dengan sebelah lengan, kedua matanya menilik Cahyo dari pucuk kepalanya hingga kaki. Betapa bibirnya terlihat normal tanpa adanya tanda-tanda membengkak dari percumbuan sebelumnya, sementara Sahya yakin bibirnya sendiri sudah memerah saat ini. Tak ada jejak napas yang dapat ia temukan dari nihilnya pergerakan dada sang lelembut.
Terkadang ketika ia meletakkan lengannya di atas dadanya sendiri, Sahya mampu melihat tangannya turut bergerak sesuai dengan detakan jantungnya yang stabil, tetapi gerakan itu tak pernah ditangkapnya sekali pun setiap kali ia merengkuh erat Cahyo. Kesejukan yang ia rasakan setiap kali telapaknya menyentuh kulit Cahyo ... Lima tahun berlalu dan ia masih berpendapat bahwa sensasi tersebut sama sekali tidak cocok dengan warna kecokelatan kulitnya yang menyala, membuat orang mana pun percaya bahwa ada darah yang mengalir tepat di bawahnya.
Ia bertanya-tanya apakah sang setan pernah merasa kelelahan? Bukankah baru saja Sahya mendengar dengan telinganya sendiri betapa seisi kamarnya dipenuhi oleh lenguhan pasangan gaibnya ketika ia merengkuhnya erat? Ketika tubuh mereka saling bertaut? Erangannya yang tertahan ketika ia menggigit kecil leher majikannya dengan dua pasang taring atasnya? Bagaimana sesuatu bisa semanusiawi itu sekaligus seganjil sekarang?
Beberapa kali ia menemukan kalimat "keindahan yang tak manusiawi" di literatur-literatur yang mendeskripsikan paras seseorang, betapa mereka seelok dewa-dewi. Sahya memandang sekali lagi dua bola mata merah yang menatap kosong langit-langit kamarnya, ia sepenuhnya yakin yang satu ini sama sekali tidak seperti dewa-dewi, tetapi pastinya telah menemukan jalannya sendiri dalam memikat jiwanya.
Di tengah-tengah isi kepalanya yang berkecamuk sendiri, Cahyo menoleh ke arahnya. "Tuan, ada yang perlu saya lakukan lagi untuk Tuan?"
Kendati tawarannya yang terdengar begitu lembut, begitu penurut, begitu penuh kepedulian, kedua bola merah tersebut sekosong jiwanya.
Sahya tidak langsung menjawab. Lalu suara dentuman halus yang bersumber dari luar perlahan-lahan merebak,, membesar hingga terdengar seperti satu pasukan prajurit sedang berjalan beriringan di atap rumahnya. Dalam sekejap, Sahya merasakan kebekuan yang mendekap tubuhnya. Sekali lagi ia menoleh, makhluk cantik di sampingnya masih bergeming tanpa adanya tanda-tanda terganggu akan suhu yang menurun tiba-tiba. Dengan setia ia menunggu titah majikannya.
Maka sekali lagi Sahya menggulingkan tubuhnya mendekat, sepasang lengan menarik pinggang sang lelembut, menenggelamkan wajahnya dalam ceruk lehernya yang semerbak akan cendana. Jemarinya menyusuri garis-garis hitam yang meliuk di atas dada Cahyo, ia berbisik dalam kantuk yang mulai membuainya, "Terus ingat saya bahkan ketika saya bukan lagi segalanya untuk kamu."
**
Tetesan air mengalir deras bak air terjun sebab hujan yang tampias ke jendela. Ini adalah badai angin kedua minggu ini di Kota Bogor. Pohon-pohon di rumah seberang bisa terlihat susah payah mempertahankan keagungannya di tengah-tengah kebrutalan angin, hari masih pukul lima sore, tetapi langit sekelam pukul tujuh. Meski begitu, suara hujan samar terdengar berkat redaman tembok dan atap yang tebal.
Ratri merasa semua sendi di tubuhnya terkunci, tulang-tulangnya seakan bertambah beban sehingga berat untuk bangkit dari ranjang yang menggugah, segala motivasi apa pun menguap dari dirinya setiap cuaca Bogor kembali berulah seperti ini.Matanya terpejam, aroma cendana mengalir di sekitarnya, ia tak percaya ia mulai menyukai aroma bak dupa rumah duka itu selama beberapa bulan terakhir.
Suara hujan yang teredam, tubuh dingin yang dijadikannya bantal, rasa lelah mulai mengayun-ayunnya. Di sebelahnya, Cahyo setengah berbaring dengan punggung yang menempel pada bantal di sandaran ranjang, kancing bajunya terbuka hingga bawah, menampilkan pola garis-garis hitamnya yang serupa rusuk sementara Ratri bergelung meringkuk di sampingnya, merengkuh erat sebelah lengannya bak guling, salah satu jarinya menempel pada simbol serupa bintang bercabang delapan yang tercetak di tengah-tengah dada Cahyo, berputar-putar di permukaannya sebelum menelusuri cabang-cabang garis hitam di bawahnya.
Kutukan yang telah melilitnya selama 90 tahun terakhir membuatnya menoleh sejenak, matanya yang bercahaya di kegelapan memindai tuan mudanya, setiap helaian keriting berwarna biru kelabu yang sudah luntur berbulan-bulan dengan warna hitam yang mulai mengejar dari akarnya, hingga jemari Ratri yang sibuk sekaligus beristirahat di dadanya.
Kutukan untuk mengingat, kendati tubuhnya barangkali sudah menyatu kembali dengan Ibu Bumi.
"Mbak mengingatkan saya ke seseorang."
Ratri mengangkat kepalanya dari bahu Cahyo, memandang sang lelembut yang tiba-tiba memutuskan untuk bersuara. "Hm? Oh lu tuh ternyata bisa mikir? Jadi sebenernya pala lo itu punya kemampuan buat mikir?"
Tak sepatah kata pun keluar lagi dari Cahyo, Ratri mendengus menyaksikan peliharaannya kembali ke naluriahnya, namun ia tetap lanjut bertanya. "Mang saha?"
"Majikan lama saya, namanya Sahya Rahagi."
"Dih, aneh banget sumpah denger kamu ngomong mendadak gini tanpa disuruh, terus sekarang kamu bilang kamu keinget sama seseorang?" Dahi Ratri berkerut, sesaat ia mengangkat alis mendengar kata-katanya barusan, dalam hati ia mengutuk Cahyo yang sehari-hari memakai saya-kamu kini mulai mempengaruhi pemilihan katanya dalam percakapan. Jangan sampai aja medhoknya si kampret mulai kena ke gue juga, batinnya. Keheranan sesaat terhadap dirinya sendiri ia tepiskan, rasa penasaran terhadap topik yang tiba-tiba Cahyo bawa mulai menghinggapinya. "Orang spesial, hah?"
Cahyo meliriknya, tidak langsung menjawab. Bayangan akan helaian ikal cokelat tua yang mirip dengan helaian keriting hitam-biru milik sosok di hadapannya saat ini mulai memenuhi memorinya. Suara-suara yang senantiasa memanggilnya dengan panggilan-panggilan kesayangan, kontras dengan suara Ratri yang kerap memanggilnya dengan sebutan asal tak karuan. Sentuhan penuh dambaan dari bibir dan tangan besarnya, kutukan penuh kasihnya...
"Ndak," Cahyo akhirnya bersuara, "dia bukan siapa-siapa."
