Work Text:
‘I am pieces of people I have love,’ begitu kalimat yang sering digunakan banyak orang. Dalam versi Hao, akan lebih tepat untuk menggunakan ‘I am pieces of memes I have used.’
Bagaimana tidak? Setahun yang lalu ia mengirim video singkat kepada Hanbin – teman semasa kuliahnya yang lanjut S-2 ke luar negeri tepat setelah lulus S-1 – yang berisikan kalimat ‘Gak semua masalah itu jawabannya kabur S-2 ke luar negeri ya.’ Lalu beberapa bulan kemudian ia mendapati dirinya mendaftar beasiswa untuk melanjutkan studinya.
Benar. Hao menyudahi hubungannya dengan Taerae dan otaknya yang senang belajar itu langsung membanting setir kembali ke dunia perkuliahan, tetapi kali ini di negara lain.
Dengan kecerdasannya itu, tidak sulit bagi Hao untuk mendapatkan beasiswa. Deskripsi yang tepat adalah ‘tidak sulit’ dan bukan ‘mudah’ karena nyatanya ia juga mendapat penolakan dari beberapa institusi – walau akhirnya ia mendapat kabar baik bahwa dirinya layak untuk menjadi penerima beasiswa.
Frasa jenaka kedua yang sering Hao pakai, ‘Walau tahun sudah ganti, tapi hidup masih komedi.’
Mendekati tahun akademik kuliahnya, Hao perlu mencari tempat tinggal di negara tersebut. Oh ya, universitas yang ia pilih terletak di Paris, Prancis. Sempat terbesit olehnya untuk memilih kediaman yang serupa dengan karakter Emily dari serial “Emily in Paris” – kamar di bangunan tua tanpa lift. Namun untuk menetap selama dua tahun? Tidak mungkin Hao menghabiskan waktunya naik-turun tangga sambil menggeret koper.
Lagi pula Hao dibiayai oleh beasiswa, seharusnya ia bisa mencari tempat yang lebih nyaman dan dekat dengan kampusnya untuk mempermudah mobilisasi. Melalui laman yang menawarkan berbagai rumah sewa, Hao memasukkan informasi spesifik untuk mempermudah dirinya mendapatkan tempat yang ia cari; satu orang penghuni, satu kamar istirahat, satu kamar mandi, dan harga yang terjangkau pastinya.
Masa-masa pencarian tempat tinggal ini mengingatkannya pada jaman ketika ia menjadi mahasiswa baru S-1. Selain itu, beberapa kamar yang ditawarkan mirip dengan kamar kos Taerae yang bernuansa minimalis putih – membuatnya mau tidak mau kembali nostalgia tentang momennya bersama kekasihnya dulu.
Aksi tersebut membawanya kepada meme ketiga, ‘Dikasih cobaan malah dicobain.’ Iya, karena pada kenyataannya ia tahu calon tempat tinggalnya itu akan membangkitkan memorinya dengan mantan pacarnya, tetapi tetap saja ia memilih untuk menyewa tempat itu.
Hao tidak terlalu memusingkan akomodasi setelah sudah menghubungi pemilik rumah dan membayar uang muka, ia memiliki urusan yang lebih krusial seperti mengurus visa, tiket pesawat, rencana studi, dan sebagainya.
Tibalah di hari keberangkatan, beberapa teman kuliah S-1 dan teman kerja Hao ikut mengantarnya hingga bandara, juga kedua orang tuanya. Nampaknya kehadiran Taerae memang sangat membekas di mata mama dan papanya hingga mereka tetap menanyakannya.
Sang mama sepertinya lupa karena beliau masih rutin mengobrol melalui media sosial bersama Taerae, yang mana Hao tidak masalah, maka Hao mengingatkannya kembali bahwa mereka sudah tidak berhubungan.
Perkataan papanya tentang Taerae membuat Hao kepikiran pemuda itu – walaupun tanpa dipicu juga Hao tetap sering memikirkannya – “Nak Taerae-nya kalau bisa dikabarin ya, nak.”
Selama menunggu pesawatnya terbang, masih ada waktu bagi Hao untuk mengaktifkan selulernya. Di situ sempat terpikir olehnya untuk mengontak Taerae – agar setidaknya Taerae tahu bahwa dirinya pergi dari dia sendiri dan bukan dari orang lain.
Namun niat tersebut ia urungkan karena: pertama, jika Taerae membalas ketika ia sedang terbang, ia tidak bisa menjawab kembali dengan cepat – yang mana terhubung dengan poin kedua, ia tidak mau membuat Taerae menunggu. Jadi untuk sekarang, ia menahan dirinya untuk tidak mengirim pesan kepada lelaki yang pernah menjadi kesayangannya itu.
Hao tidak ingat kapan terakhir kalinya ia tidak menggunakan ponselnya secara aktif selama 17 jam. Mungkin waktu hari pertama setelah hubungan asmaranya dengan Taerae kandas? Saat itu ia benar-benar mematikan benda pipihnya seharian dan menghabiskan harinya untuk bekerja.
Mulai dari hari itu, Hao menjadi sangat rajin bekerja – tentu karena ia perlu distraksi. Atasan di kantornya sampai bilang, “Whatever pushes you to be this hardworking, keep it up.” Maksudnya Hao perlu terus-terusan memikirkan Taerae dan berusaha keras untuk mengusirnya dengan berdedikasi pada karirnya? Sekeras apa pun Hao mencoba melupakan Taerae, ia akan tetap mengingat lelaki yang lebih muda setahun darinya itu.
Beruntungnya Hao membawa buku referensi untuk salah satu mata kuliah yang akan dipelajari di semester pertamanya, ia dapat membunuh waktu perjalanannya dengan membaca buku tersebut. Buku itu telah dibelinya sebulan yang lalu. Lagi-lagi hal ini mengingatkannya kepada Taerae. Mempersiapkan bawaan dan merencanakan sesuatu merupakan hal yang sangat lekat dengan Taerae, sedangkan Hao condong kepada spontanitas.
Menyentuh halaman 14, Hao berhenti membaca. Kepalanya tidak bisa fokus lantaran otaknya terus-menerus teringat Taerae. Saat mereka berdua masih berpacaran, biasanya setiap dirinya menemukan fakta baru, ia akan sangat senang untuk menukarkan ilmunya dengan Taerae – yang juga akan memberikan suatu pengetahuan baru.
Helaan nafas dikeluarkan oleh Hao. Jika baru di atas langit saja ia sudah dihantui sebegininya oleh Taerae, bagaimana nanti saat mendarat di Paris?
Dan benar saja, setibanya Hao di apartemen sewanya dan diberikan arahan ringan oleh si pemiliknya, ia semakin melihat kesamaan kamar istirahatnya yang sekarang dengan kamar kos Taerae yang dulu.
Ruangan dengan ukuran 12 meter persegi, dua meja di ujung – cocok jika Hao dan Taerae ingin sama-sama mengerjakan sesuatu – serta kasur double bed di ujung lainnya, yang tentunya muat untuk mereka berdua. Hao berusaha menepis kalimat terakhirnya itu, tetapi ia tidak tahu harus bergumam apa selain, “Now I’m sleeping alone.”
Sebagai penutup, setiap bangun tidur Hao cocok dengan punch line, ‘Selamat pagi muda-mudi feeling empty’ – mengingat sekarang ia benar-benar sendiri secara harfiah dan istilah.
Aslinya Hao tidak masalah jika harus menjalani hari tanpa ditemani siapa-siapa. Dua belas tahun, ia pergi ke sekolah tanpa diantar-jemput oleh orang tuanya. Tiga setengah tahun, ia berkendara ke kampus dengan sendirinya. Namun terdapat laki-laki bernama Taerae yang kehadirannya spesial selama empat tahun lamanya, dan itu mengubah prinsip hidup Hao.
Berada di Prancis, khususnya tempat yang sering disebut ‘city of love’ oleh orang-orang. Sayangnya Hao mendatangi kota ini dengan romansanya yang telah usai.
