Work Text:
Hyeongjun membuka kunci ponselnya. Sinarnya yang terang menangkup wajahnya hingga dagu. Ponselnya bergetar, jarinya menyapu layar membentuk garis melintang lurus. Studio. Begitu tulisan yang tertera dengan font besar-besar di bagian atas layar. Tidak seperti biasanya, hari ini wajahnya segar sebelum dering itu berbunyi. Karena hari ini sedikit berbeda. Hyeongjun menaiki tangga bus yang ia tunggu-tunggu.
Suasana toko itu dingin dengan begitu banyak cahaya yang dipasang di masing-masing sudut. Banyak pula kamera pengawas yang merekam pergerakan setiap orang yang ada di dalam. Hyeongjun mendorong pintu kaca dan disambut langsung dengan perempuan berpakaian rapi. Rok selutut dan stocking hitam dengan pantofel.
"Aku ingin membeli sepasang cincin."
Suara Hyeongjun sedikit bergetar ketika mengatakannya. Walaupun semalam ia berkali-kali melakukan image training di dalam kepalanya agar ia tidak gugup. Tapi tentu saja perasaan terintimidasi itu tidak bisa diantisipasi sepenuhnya.
"Baik, mari saya tunjukkan beberapa model yang kami punya."
Hyeongjun mengikuti kemana perempuan itu membawanya, lebih jauh ke dalam toko.
"Ini model yang sedang populer akhir-akhir ini, kalau di sini, versi yang lebih minimalis. Anda suka yang seperti apa, kak?"
Hyeongjun berpikir keras. Ia belum pernah membeli cincin untuk orang lain. Kira-kira model seperti apa yang disukai dia, ya?
"Saya boleh lihat yang warna hitam itu, tidak?"
Perempuan ramah itu mengambil sepasang yang Hyeongjun tunjuk.
"Yang ini cocok dipakai anak muda seperti kakak."
Dalam kepalanya Hyeongjun membayangkan jari manis Seungmin dihiasi cincin itu. Bayangan itu membuatnya tersenyum.
"Sepertinya saya ambil yang ini."
Esoknya, Hyeongjun mengambil cincin pesanannya di toko itu. Dengan perasaan gembira, ia merasakan saku jaketnya yang diisi kotak beludru biru. Ia duduk di bus dan meletakkan tas gitarnya di bawah. Hari masih siang, untung saja cuaca cerah menyambutnya hari ini saat membuka pintu kontrakannya.
"Hai, Seungmin. Aku datang lagi."
Gundukan tanah yang dilapisi rumput itu bersih tanpa sampah daun atau tanaman liar. Persis seperti Seungmin yang selalu memastikan penampilannya oke di depan Hyeongjun. Hyeongjun terpikir untuk memberikan apresiasi kecil kepada pekerja yang membersihkan tempat ini.
"Dulu aku pernah janji sama kamu, di hari ulang tahunmu yang selanjutnya, kita akan beli cincin yang cocok untuk kita berdua, kan?"
"Aku nggak tahu kalau ini akan cocok di kamu atau tidak, tapi aku hapal ukuran jari-jarimu karena mereka adalah hal yang paling suka kugenggam. Setidaknya, cincin ini ukurannya akan pas."
Hyeongjun membuka kotaknya dan memakai satu yang terukir nama Seungmin di dalamnya. Kemudian kotaknya ditutup dan disandarkan ke batu nisan, di depan keterangan tanggal berpulang kekasihnya itu.
"Semoga kamu suka sama cincinnya, ya. Terus, aku ada lagu buat kamu."
Resleting tas gitarnya Hyeongjun buka, dari dalamnya ada gitar warna hijau mint. Seungmin to you.
"Ini lagu yang aku buat setiap kepikiran kamu. Dengerin ya."
"Halo, lama tak jumpa
Aku rindu mengucapkan namamu dan kamu yang menjawabnya
Setahun sudah kamu beranjak meninggalkanku
Setahun juga tidak ada waktu dimana aku tidak memikirkanmu
Apa orang mati juga bisa rindu?
Apa kamu melihatku?
Jangan tergoda bidadari di surga sana, ya? Kamu milikku, ingat itu"
Hyeongjun tersenyum. Puas akan permainan gitarnya yang tidak meleset.
"Gimana? Kamu suka?"
Hyeongjun mengusap nisan itu seperti ia yang biasa mengusap kepala Seungmin. Setelahnya, ia mengucap pamit.
"Maaf aku tidak bisa berlama-lama ya? Ibu akan khawatir kalau aku terlalu lama di sini. Besok aku akan datang lagi. Aku sayang kamu, Seungmin."
Hyeongjun bangkit dari duduknya. Memasukkan gitar ke tasnya, lalu melambai pelan ke makam itu.
