Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-07-18
Words:
1,363
Chapters:
1/1
Kudos:
20
Bookmarks:
1
Hits:
178

the most boring things that he knows about love

Summary:

Bosan. Adalah bosan yang Akaashi rasakan terhadap hubungannya dengan Bokuto. Belakangan ini, dia merasa Bokuto lebih mencintai semua hal dibanding dia. Bokuto lebih mencintai karirnya, lebih mencintai masakannya, lebih mencintai rumahnya, semuanya selain dirinya. 

Notes:

you could listen to this playlist^^

https://open.spotify.com/playlist/1JjJEbXhGJcsr36PjD1K8g?si=5a8546a63fae4db8

Work Text:

Akaashi selalu menyukai Bokuto. Bahkan sejak di sekolah menengah, ia selalu mendambakan hangat sinar seorang Bokuto. Persetan dengan segalanya, Akaashi mati-matian latihan untuk memberikan operan bola voli yang hebat kepada Bokuto. Dia ingin bintang itu bersinar lebih terang. Dia ingin bintang itu bersinar lebih lama, hingga kekuatannya untuk bersinar terkuras habis. 

 

Jikalau Bokuto bagaikan sebuah bintang, Akaashi akan menjadi planet yang mengorbit padanya. Dia rela. 

 

Di hari kelulusan Bokuto, Akaashi merasa kosong. Membayangkan bahwa mulai hari itu, dia akan menjalani hari dengan tidak bersama Bokuto. Ada sesuatu di hatinya yang merasa sendu dan rindu. Akaashi menyadarinya, perasaan itulah yang disebut-sebut orang lain sebagai cinta. Akaashi tidak mengerti, baru pertama kali ia rasakan yang semacam ini. 

 

Hari-hari Akaashi setelahnya terasa lebih kosong. Setelah SMA, dia memilih jalan yang begitu berbeda dengan Bokuto. Meskipun begitu, keduanya masih sering bertemu. Akaashi tentu saja rela menempuh jarak 40 kilometer untuk menemui pujaannya. 

 

"Akaashi... AYO NIKAH SAMA GUE," perkataan penuh kegugupan itu keluar dari mulut Bokuto dengan spontan. Atas dasar kesadaran Bokuto tentang tidak adanya manusia lain yang dapat mengerti dirinya lebih dari Akaashi. Selama berpisah, Bokuto mendadak kesepian dan menyadari nyamannya ketika Akaashi ada di dekatnya. 

 

Sementara yang dilamar hanya terkekeh. Ada kegembiraan yang meletup di dalam dirinya. "You know I would easily say yes, tapi gue masih mau ngejar karir. Lagian kalo mau nikah sekarang, uang dari mana coba kak?"

 

"Ya nggak sekarang juga. Pokoknya, gue. sadar kalo gue selama ini suka sama lo,  Akaashi," Bokuto mengerut kecil, memikirkan apa yang harus dia katakan selanjutnya. "Kalo ga bisa nikah sekarang, mungkin kita bisa nikah 5 tahun lagi. Kira-kira, lo mau nggak jadi pacar gue? Please?"

 

Jelas Akaashi mau. Selama ini, memangnya apa lagi yang bisa dia tunggu kecuali pernyataan cinta itu? 

 

Dengan dikecupnya ujung bibir Bokuto oleh Akaashi, maka hubungan mereka telah diresmikan. Rasa-rasanya, Bokuto dan Akaashi ingin meneriakkan perasaan mereka seharian, memberi tahu dunia bahwa mereka-lah orang yang paling beruntung di dunia karena dapat menemukan satu sama lain. 

 

 

 

Setelah keduanya mengejar gelar sarjana, mereka sepakat untuk tinggal bersama. Bokuto yang lebih fokus kepada karirnya sebagai atlet voli membuat dirinya jarang berada di rumah. Sedangkan Akaashi yang baru memulai karirnya di dunia literatur, menghabiskan lebih banyak waktunya di rumah. 

 

Bokuto Koutarou, sebagai pemain voli profesional seringkali mengikuti training camp di akhir pekannya. Belum lagi ketika ada pertandingan di luar negeri. Tidak berada di rumah selama sebulan penuh bukanlah hal yang asing lagi baginya. 

 

Sepulangnya dari segala kegiatan voli, Akaashi akan selalu menyambutnya dengan senyum dan masakan hangatnya. Kemudian keduanya akan makan bersama, disertai permohonan klasik Akaashi, "tolong ceritain gimana petualanganmu, Kou..." Lalu dengan semangatnya, Bokuto akan menghabiskan sekian jam untuk menceritakan hari-hari yang dia lewatkan tanpa Akaashi. 

Akaashi Keiji telah lama menjadi rumahnya. Tempat Bokuto berpulang, bersandar dan menemukan kenyamanan. 

 

 


 

 


Sudah genap 5 tahun Akaashi menjalani hubungan dengan Bokuto, seorang bintang yang sedang bersinar di titik paling terangnya. Karirnya pun ikut berada di puncak, dia terpilih menjadi penulis naskah untuk sebuah pertunjukan teater penuh bintang terkenal seantero Jepang. 


 
"Jadi, gimana Brazil?" suara Akaashi membuka percakapan rutinitas makan malam mereka.

 

"Keren banget!!! Terus kemarin aku main beach volleyball sama Shoyo yang ternyata susah banget... Mataku sakit kena pasirnya..." kata-kata selanjutnya yang dilontarkan Bokuto terasa tidak begitu penting sekarang. Entah, cerita yang Bokuto sampaikan dengan semangat yang menggebu tidak lagi menarik perhatian Akaashi. 

 

"Oh iya Kei, aku besok pagi udah harus ke bandara lagi. Kemarin diundang buat ke acaranya salah satu brand Italia. Kayaknya baru bisa pulang minggu depan, deh."

 

Mendengarnya membuat Akaashi sedikit murka. Dia sendiri juga bingung alasan murkanya. Dia hanya menanggapi perkataan kekasihnya dengan senyuman hangat dan sebuah perkataan semangat, menutupi perasaannya. 

 

Kegiatan berikutnya, Bokuto dan Akaashi yang telah membersihkan tubuh hanya berpelukan mencari hangat masing-masing di atas kasur. Kemudian, Bokuto mulai menciumi leher Akaashi penuh rindu. Kepala keduanya dipenuhi nafsu membuat cinta yang hebat pada malam itu. 

 

Akaashi terbangun sendirian di pagi hari. Kekasihnya telah pergi, Bokuto Koutarou telah pergi. Dia merasa bila keberadaan dirinya di sana seperti hewan peliharaan Bokuto atau mungkin lebih buruk. Hanya menemani dan melayani, tidak ada timbal balik. Akaashi bagai planet yang kehilangan orbitnya. Jalurnya sudah melenceng, perasaannya telah hilang bersama keberadaan Bokuto di kediaman mereka meskipun jejaknya masih di sana. 

 

'Koutarou udah pergi? Ah... paginya... Piring yang dia pakai buat sarapan tadi belum dicuci, ya? Lemarinya agak berantakan. Nggak sempat banget ya buat pamitan? Semalem juga kayaknya kita nggak ciuman, deh? Kapan ya terakhir kita ciuman?' batinnya menjerit, kepalanya mulai berisik. 

 

Bosan. Adalah bosan yang Akaashi rasakan terhadap hubungannya dengan Bokuto. Belakangan ini, dia merasa Bokuto lebih mencintai semua hal dibanding dia. Bokuto lebih mencintai karirnya, lebih mencintai masakannya, lebih mencintai rumahnya, semuanya selain dirinya. 

 

Pernahkah pria itu menanyakan hari-hari yang dilalui Akaashi? 
Pernahkah pria itu penasaran tentang teman-teman baru Akaashi? 
Pernahkah Bokuto Koutarou ingin tahu keinginan Akaashi? 

 

Akaashi yakin bahwa Bokuto bahkan tidak tahu lagu kesukaannya atau pun proyek terbarunya. Akaashi bosan dengan segala hal tentang Bokuto— atau mungkin bisa dibilang muak. Tidak pernah dia menyangka bahwa mencintai Bokuto dapat membuatnya meragukan eksistensi dirinya sendiri. Akaashi tidak sakit hati atau merasakan apapun, dirinya telah mati rasa terhadap segalanya tentang Bokuto Koutarou. 

 

'Udah tiga hari, ya? Masih berapa hari lagi Koutarou pulang? Ah, masih males lihat dia. Pergi ke mana ya?''

 

Akaashi menggunakan sisa harinya di sana untuk mengemasi seluruh barangnya, menghapus jejak dirinya di rumah itu. Dia berencana menginap sebentar di kediaman teman sekantornya selagi mencari tempat tinggal baru. 

 

Satu per satu barangnya dia pindahkan. Hingga tersisa sebuah tas ransel. Akaashi menarik nafas panjang. Hatinya tidak tenang, tidak menyesali keputusannya untuk pergi, hanya menyayangkan perasaannya yang berubah. Salah kah dirinya? Salah kah untuk meninggalkan Bokuto seorang diri? 

 

'Persetan dengan semuanya, gue cuma mau hidup tenang lagi.' Tekad Akaashi sudah kuat, dibukalah pintu rumahnya setelah menghela nafas berat. Matanya terbelalak begitu menyadari sosok di depannya, "Koutarou? Kok di sini?"

 

"Hehe... Surprise!" Bokuto tersenyum tanpa dosa. Ah, senyum itu... Senyum yang sama dengan senyuman yang meluluh lantakkan dunia Akaashi 10 tahun yang lalu. "Kamu mau ke mana?"

 

"Oh... nginep sebentar di rumah temen. Proyekku kali ini ga bisa ditinggal."

 

"Yah... Padahal aku kangen Keiji. Aku udah bawain ini, loh, katanya beans ini enak kalo dibuat espresso," Bokuto menunjukkan kantong berisi biji kopi. Tanpa pria itu ketahui, Akaashi sudah berhenti meminum kopi sejak berbulan-bulan lalu karena masalah kesehatannya. Bahkan, mesin kopi di rumah itu telah dijual. 

 

Akaashi tersenyum kecut, "Aku pergi dulu ya, Bokuto."

 

 

 

 

 

 

Detik berikutnya, Bokuto hanya bisa mematung bingung. Mata emerald itu kehilangan binarnya. Terdapat janggal dalam hati Bokuto, namun kepalanya tidak bisa berpikir. Apa yang terjadi pada Akaashi Keiji-nya? 

 

Dilihatnya rumah mereka yang tampak lebih kosong tanpa barang-barang Akaashi. Sejujurnya, Bokuto bahkan tidak tahu mana saja barang miliknya sangking jarangnya berada si rumah. 'Jersey! Kalo jersey voli pas SMA punya Keiji masih ada pasti dia nggak bermaksud buat pergi,' instingnya berkata. Namun nihil, hanya ada jersey dengan nomor 4 di sana. Otaknya berkata bahwa Akaashi memang tidak bermaksud tinggal. 

 

Perasaannya kosong seperti rumahnya yang tanpa satu pun jejak Akaashi. Rasa-rasanya, rumah tersebut berguncang hebat dan atapnya meruntuhi Bokuto. Hanya sesak yang ia rasa. Begitu dia keluar untuk mengejar, Akaashi sudah hilang entah ke mana. Tenggorokannya sakit menahan tangis walau matanya telah basah. Bokuto ingin merintih, tetapi sungguh suaranya hilang, dadanya terlalu sakit. 

 

Dengan gemetar, Bokuto segera menghubungi Akaashi. Ponselnya aktif, tetapi dengan sengaja menghiraukannya. Bokuto mencari opsi lain. Ketidak-tahuannya mengenai kenalan Akaashi yang dapat dia hubungi membuatnya tersadar bahwa Akaashi Keiji telah menjadi orang asing. 

 

Bokuto sebelumnya sama sekali tidak tahu menahu tentang rasanya patah hati. Namun ketika menemukan selembar kertas berisikan tulisan tangan Akaashi, mungkin lebih baik bila tulang rusuknya patah saja. Kehilangan orang yang dicintai memang sakit, tetapi fakta bahwa Akaashi Keiji sudah mati rasa terhadapnya membuat Bokuto merasa lebih baik dirinya saja yang mati. 

 

 


Ada sedikit rasa sesal dari lubuk hati terdalam Akaashi. Betapa terpuruknya seorang Bokuto yang seperti tidak tahu cara hidup. Dia sampai diharuskan mengambil hiatus beberapa bulan dengan alasan kesehatan. Bokuto Koutarou, seorang bintang yang kehilangan sumber cahayanya.
 

Mungkin di kehidupan yang lain, Akaashi Keiji memiliki hati yang lebih besar untuk Bokuto. 
Mungkin di kehidupan yang lain, Akaashi Keiji memiliki cinta yang lebih banyak untuk Bokuto. 


Akaashi hanya dapat berandai. Semua hanya sesal, namun cinta pertama memang akan selalu gagal, 'kan?