Actions

Work Header

I want us both to eat well.

Summary:

Mai membuat cintanya di dapur dan menyajikannya dengan lezat di atas meja makan. Noritoshi dengan senang hati menikmati setiap suapannya.

Notes:

Jujutsu Kaisen © Akutami Gege
Please note that this work of fiction is purely made for fun purposes only. While some events mentioned in this story are based on real-life events, they do not relate to reality. I hope you enjoy it, and happy reading!

Work Text:

Satu tepukan pada pundak Noritoshi membuat lelaki itu tersentak, menolehkan wajahnya dengan cepat searah dengan sumber kontak fisik yang tiba-tiba. Tubuhnya kembali melemas santai saat melihat sosok familiar dan telah mengisi hari-harinya selama beberapa bulan terakhir.

“Hey,” sapa si penepuk, tangannya masih memegang pundak Noritoshi lembut. “Udah lama?”

“Enggak, Mai. Ini baru banget duduk,” jawab Noritoshi sembari menepuk pelan tempat kosong di sebelahnya, yang dengan senang hati langsung diduduki oleh gadis di belakangnya.

Noritoshi menatap figur Mai, kekasihnya, yang sedang merogoh tas kecil berwarna ungu muda dengan corak dedaunan di atas pahanya. Atensinya kemudian beralih pada profil samping wajah Mai; cantik, dengan hidung mancung dan rahang lembut yang melengkapi rupa jelitanya. Kulitnya merona merah karena dingin musim hujan bulan Desember. Eloknya populer sebagai model majalah kampus, tetapi orang yang pertama kali bertemu dengan Mai selalu memberikan impresi pertama seperti: Tatapannya mengintimidasi, kayak dia bakal melakukan hal buruk kalau lo salah dikit atau Dia kayak hyena, si predator yang licik. Namun, Noritoshi berhasil membaca cerita yang terukir dalam setiap lekuk dan bayangan si gadis; ia membuka pelukan lebar untuk menerima Mai dan segala yang ia bawa dari masa lalunya ke dalam lembar kisah baru milik mereka berdua di masa sekarang dan, semoga, di masa yang akan datang.

Aroma tanah basah perlahan menguar di bawah hidung Noritoshi. Butiran-butiran air yang menari di angin membawa memori menyenangkan di sela lamunannya.

Hujan juga turun deras saat mereka pertama kali bertemu.

Dua minggu penuh hanya berkomunikasi lewat media meeting online bersama 5 orang anggota kelompok lainnya membuat Noritoshi dan Mai saling mengambil satu langkah mundur saat tubuh mereka nyaris bertumbukkan di depan pintu masuk. Bangunan kafe tempat pertemuan pertama secara luring kelompok kecil yang dibentuk demi mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa itu tergolong kecil untuk ukuran tempat populer yang kerap dikunjungi khalayak muda, sehingga Noritoshi saat itu mengangguk perlahan, mempersilakan Mai agar masuk terlebih dahulu sebelum dirinya.

Ketika mereka bertemu lagi di satu meja yang sama dan saling duduk berhadapan, Noritoshi menyunggingkan senyum tipis untuk menyapa Mai di depannya. Mai, di sisi lain, memberikan Noritoshi tatapan tajam (yang sempat Noritoshi kira adalah tatapan menghakimi, sampai-sampai ia berpikir mungkin perjalanan dari rumah sakit dan pusat perbelanjaan untuk mengantar mama dan adiknya membuat kemeja hitam dan celana jeans yang ia kenakan hari itu terlihat kusut) dan menatapnya dari atas ke bawah, lalu tepat ke matanya tanpa ada rasa ragu.

Begitu, sampai Mai memalingkan pandangannya ke arah kiri, mengarah pada sejumlah kursi kosong dan hidangan yang tersaji di atas meja dengan intensitas pandangan yang sama dengan yang gadis itu berikan pada Noritoshi. Momo — kakak tingkat yang satu tahun lebih tua dari fakultas yang sama dengan Mai, dan juga orang yang mengajak Noritoshi bergabung dengan kelompok PKM dalam kolaborasi lintas program studi — mengajak gadis itu berbicara, lalu setelah itu tatapan Mai kembali pada Noritoshi.

“Noritoshi, ‘kan?” panggil Mai tiba-tiba. “Udah makan?”

“Oh, belum,” jawab Noritoshi, setengah terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Mai.

Mendengar jawaban Noritoshi, Mai lekas berdiri sambil berkata, “Kan. Ayo makan dulu kalau mau. Kita masih nunggu dua orang lagi juga, kemungkinan mereka kejebak hujan, jadi bakal agak lama kalau nungguin mereka dulu. Di sini ada menu nasi kalau mau makan berat.”

Noritoshi refleks ikut berdiri, kakinya mengikuti langkah gadis di depannya walau raut wajahnya masih menampakkan muka kebingungan.

“Di jidat lo,” Suara Mai kembali terdengar, membuat Noritoshi berjalan lebih lebar untuk merapatkan jarak di antara mereka, “ada tulisan kalau lo kelaperan.”

Tangan Noritoshi otomatis menyentuh dahinya sendiri, kemudian gelak tawa memasuki gendang telinganya. Ia melirik Mai di depannya yang sekarang sudah membalikan badan dan menunduk tertawa.

“Percaya aja, deh! Udah, ah. Lo makan dulu aja, biar gak keliatan lemes-lemes banget,” ucap Mai di sela-sela tawa kecilnya, kembali berjalan menuju kasir saat Noritoshi telah berada di sampingnya. “Ayam katsu di sini enak,” lanjutnya, masih menatap ke depan sambil melipat tangan di dada.

Mungkin karena ia melewatkan roti isi yang mamanya siapkan sebelum mereka berangkat (Noritoshi siap mendengar omelan tak berujung jikalau keluarganya tahu ia sering melewatkan sarapan) atau mungkin aroma lezat seporsi ayam katsu dari meja yang ia lewati membuat rasa sakit di perut baru Noritoshi rasakan. Sensasi nyeri dan panas di saluran pencernaannya seakan hanya menumpang lewat ketika ia mendengar Mai berkata, “Makan dulu, Noritoshi. Biar gak sakit.

“Aku bawa ini.” Suara Mai menarik Noritoshi dari lamunan siangnya. Ia melirik hujan yang masih turun sebelum perhatiannya kembali pada kekasihnya yang sekarang sedang memegang dua kotak makan berwarna senada dengan tas kecil di atas pahanya. “Ini, buka dulu. Isinya buah potong.”

Noritoshi mengangguk pelan lalu membantu Mai merapikan kotak-kotak makanan di atas meja. Tangan Mai dengan cekatan mengeluarkan dua kotak makan lainnya dari tas sambil berkata, “Kamu belum makan, ya? Jangan bilang tadi pagi gak sarapan juga?”

Noritoshi hanya dapat menyengir kecil, seketika merasa tak berani menatap Mai di sampingnya yang sedang mendengus sebal. Gadis berambut seleher itu membuka kotak terakhir yang baru ia keluarkan. Wangi lezat ayam dan rempah menguar di bawah hidung mereka, menyebar di udara dalam saung kecil tempat mereka duduk bersamaan dengan turunnya rintik hujan yang menderas di luar sana.

“Chicken pesto pasta. With chicken breast and lots of tomatoes, just as you love.” Dagu Mai menunjuk pada hidangan dalam kotak saat ia menyimpannya di atas meja bersamaan dengan kotak-kotak yang sebelumnya. “Ternyata berasku habis, gak bisa buat nasi. Jadi buat pasta, deh. Tapi kalau kamu mau nasi, kita ke kantin aja.”

Noritoshi sontak menggeleng, menahan lengan Mai pelan kalau-kalau gadis itu bergerak untuk membereskan kotak-kotak makan di atas meja.

“Buat apa kamu siapin banyak kalau ujung-ujungnya kita ke kantin?” kata Noritoshi, “Aku lebih suka masakanmu, kok.”

Mai tersenyum kecil. Tangannya membentuk gestur mempersilakan Noritoshi untuk mengambil suapan pertama, menatap lamat-lamat setiap pergerakan lelaki itu saat meraih garpu dan sendok hingga akhirnya memakan suapan pertamanya.

“Enak banget, Mai. Makasih banyak udah berbagi makanan enak buatanmu ini ke aku.”

Senyuman lebar terulas pada wajah Mai. Ia mengangkat tangannya, mengusak pelan rambut cepak Noritoshi yang terasa tajam.

“Makan yang banyak, ya. Biar gak sakit.”



Ke apartemenku, yuk.” Suara Mai terdengar dari ujung telepon di Jumat sore yang dingin. “Aku mau masakin kamu.”

Sehingga di sinilah Noritoshi, duduk di sisi luar counter table dapur apartemen Mai setelah kekasihnya itu mengibaskan tangannya saat ia menawarkan bantuan untuk memasak. Ketika ia datang, gadis itu telah berkutat dengan ayam marinasi di dalam mangkuk kaca. Mai melirik Noritoshi sekilas dan berkata, “Gak, gak. Kamu diem aja di sana. Semuanya udah siap tinggal aku masak!”

Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, tidak ada kata-kata manis dan persuasif yang dapat membuat Mai mempersilakan intervensi tambahan jika dia sudah mendeklarasikan niatnya seperti itu. Jadi, Noritoshi memilih untuk duduk manis sembari menyiapkan dua gelas teh darjeeling hangat yang ia bawa dari tempatnya.

Noritoshi mengambil tea infuser dari laci kecil di bawah kompor kemudian menyeduh tehnya dengan telaten. Lelaki itu melirik Mai yang sekarang sedang bergumul dengan tumpukan wortel. Yang dilirik menyadari tatapannya lalu menyeringai kecil. “Aku banyakin wortelnya,” kata Mai, tangannya mengacungkan satu wortel pada Noritoshi, “Wortel bagus buat matamu.”

Noritoshi melepaskan tawa kecil sementara kepala-kepalanya bergerak naik turun dalam anggukan pelan. Saat hanya sunyi yang terisi oleh suara desisan lembut antara minyak yang mengudara dan kelelahan yang memudar seiring dengan uap panas yang menyelusup dari dua cangkir teh darjeeling di hadapannya, pandangan Noritoshi meluncur lembut ketika perhatiannya teralih pada sosok Mai yang masih tekun menumis wortel dan bawang di hadapannya.

Noritoshi sudah terbiasa dengan sifat keras kepala, terlebih dari seorang perempuan — oh, dia telah hidup bertahun-tahun di antara ibu dan adik perempuannya yang rewel — dan bertemu dengan Mai menambah satu nama baru dalam daftar itu. Mai adalah gadis dengan ego tinggi, dan Noritoshi, melalui pengalamannya, memahami bahwa Mai mungkin tidak terbiasa dengan kata-kata manis atau ungkapan cinta yang klise. Namun, di balik lapisan ego yang kuat, Noritoshi yakin bahwa cinta Mai diungkapkan dalam tindakan dan bentuk yang berbeda.

Satu hal yang pasti: Mai mengasosiasikan cintanya dengan makanan. Dapur adalah panggung di mana cinta dinyatakan dengan bumbu dan rempah-rempah, dan setiap suap adalah pelukan yang penuh makna.

Dengan Mai, Noritoshi merasakan cinta dalam setiap suapan mashed potatoes hangat, makanan favorit Mai, setelah hari yang melelahkan. Cinta adalah satu hidangan ayam keasinan, yang membuat Mai kelabakan dan siap untuk menyalakan kompor kembali sebelum Noritoshi menambah suapan demi suapan baru tanpa mengindahkan rasa garam berlebih di lidahnya. Cinta adalah tindakan yang saling mengisi presensi satu sama lain, dan bagi mereka semuanya hadir dalam undangan penuh kehangatan untuk bersama-sama di dapur. Cinta adalah kilatan penuh harapan pada mata indah Mai saat ia menunggu Noritoshi mengomentari masakannya.

Mai membuat cintanya di dapur dan menyajikannya dengan lezat di atas meja makan. Noritoshi dengan senang hati menikmati setiap suapannya.

“Aku masukin turmeric, ya. Ditambah smoked paprika juga, biar hangat.” Suara Mai memecah lamunan Noritoshi, membuat perhatiannya kembali tertuju pada gadis berambut pendek yang sekarang sedang menumis ayam di atas wajan. “Kamu suka makananmu agak pedas, ‘kan, kalau lagi capek? I hope this simple chicken and carrot stir-fry can cure your stress a little bit.

Noritoshi terhenyak dalam posisinya, matanya terpaku pada Mai yang menyampaikan semua tanpa memandangnya. Ini adalah bahasa cintanya: Mai selalu berhati-hati dalam memasak hidangan buatannya, memastikan agar cintanya dapat menyatu seiring dengan cita rasa dan aroma hidangan. Mai selalu ingat takaran pedas yang cocok di lidah Noritoshi, dan bagaimana lelaki itu tidak menyukai telur setengah matang di atas ramen miliknya. Meski seringkali memicu perdebatan kecil, Mai tidak ambil pusing dengan kebiasaan Noritoshi yang menuangkan susu terlebih dahulu sebelum serealnya — kebalikan dari kebiasaan milik Mai — atau rasio 7:3 antara selai kacang dan jeli pada roti isi yang menurut Mai aneh; Mai setia dengan rasio 5:5 untuk rasa yang seimbang tanpa ada satu yang lebih mendominasi.

“Mai,” panggil Noritoshi tiba-tiba, “aku suka sama semua masakanmu. Aku suka saat kamu masak buatku; pasta, sayur sop, carrot puree, chicken masala, strawberry cookies. Kadang aku bingung harus balas semuanya dengan apa.”

Suasana menjadi sedikit canggung ketika hening menyelimuti mereka. Desis minyak yang beradu dengan api di bawah wajan menyelinap dalam diam. Mai memilih untuk tidak menjawab apa-apa, tangan lincahnya memasukkan hasil tumisan ayam untuk ditumis kembali dengan sayuran di wajan.

Noritoshi menatap Mai lamat-lamat. Ia berkata lagi, “In case there is an accident, and I will never see you again… I hope in another life we still have a meal together, without too much burden on our shoulders. I hope your food will always convey the love you try to send.

Mai menghela napasnya panjang. Terkadang Noritoshi memang kepalang dramatis seperti ini dan membuat Mai gemas sendiri. Gadis berambut seleher itu mengetukkan spatula ke wajan, mematikan kompor, dan kemudian menatap Noritoshi dari balik bilik dapur.

Why should we bother about another life if we can try it in this life, Nori?” ucap Mai, kedua tangannya ia lipat di depan dada. “Ngomongnya jelek. Aku gak suka. Besides, I will always cook for you: your favorite meals, the new recipes I find on the internet, and I will even make pancakes for dinner, if there’s only flour and eggs in my kitchen. As long as it is for you, I will. Just because I enjoy doing it. Gak usah mikirin balasnya gimana—lagian kamu selalu beresin dapur dan cuci piring setelah makan tanpa aku suruh. I know you know what I’m doing, Nori.”

Makanan selalu menjadi bahasa universal manusia; media komunikasi yang mampu menembus berbagai barier bahasa untuk merangkul perbedaan beribu insan di dunia. Dalam dunia Mai, masakan adalah bahasa cinta yang ia kuasai dengan penuh keahlian. Dan setiap kali Noritoshi menikmati setiap hidangan yang kekasihnya buat, ia merasa mendapatkan sejumput kasih sayang yang tak terukur dari perempuan yang menjadikan dapur sebagai tempat berbicara hatinya.

Ada senyuman manis yang terlukis pada wajah cantik Mai saat mereka menyantap masakan buatannya bersama. Berdua di satu meja makan yang sama, duduk berhadapan, dan ditemani dengan suara desing utensil yang berdansa di antara obrolan ringan tentang keseharian atau candaan kecil yang dapat menghirapkan lelah setelah satu minggu panjang. Suasana itu, seolah mengubur satu percakapan sentimental sebelumnya, merupakan kenikmatan sederhana yang dapat membuat mereka merasakan kebahagiaan.

“Makan, Noritoshi,” I love you, “biar gak sakit.” I want us both to eat well in every chance we can make it.

“Makasih banyak buat makanannya, Mai,” Thank you for giving me the chance to experience the sweet, bitter, and savory taste of your love through a plate of your delectable creation, made with love in the kitchen, then served on the table as your gesture of affection, “aku suka banget.” Therefore, I’ll cherish it as if I experienced it for the first and last time in my life, reserving a special corner of my heart just for it.