Chapter Text
Meninggal.
Begitu saja? Secepat itu?
Hamin berdiri tegap, tanpa ekspresi berlebih. Bibirnya terkatup rapat, matanya menatap nanar keramaian yang ada di hadapannya. Sayup-sayup terdengar isak tangis dari beberapa perempuan dan laki-laki di sekelilingnya, sisanya hanya terdengar bisik ramai, saling berbicara pelan satu sama lain. Aula sekolah yang biasanya ramai oleh sorak sorai penonton dan sportivitas, kini diramaikan dengan kebisingan yang lain.
"Kecelakaan ya?"
"Dengar-dengar dia ditabrak mobil saat menyeberang jalan?"
"Katanya driver mobilnya mabuk ya?"
"Bajingan banget supir mobilnya! Kasihan Kak Yejun.."
"Terseret mobil? Brengsek banget semua orang yang nyetir sambil mabuk memang!"
"Pantasnya masuk neraka saja orang-orang macam begini yang ngebahayain orang lain!"
Dduk! Dduk!
Bunyi mikrofon yang diketuk membuat semua orang termasuk Hamin berpaling ke arah suara, podium di atas panggung.
"Teman-teman murid SMA Seonghwi, hari ini, kita berkumpul disini untuk mengantarkan kepergian senior, teman, sahabat, rekan kita, Nam Yejun.." sebuah suara yang bergetar memecah kebisingan setengah hening itu. Suara wakil ketua OSIS, seorang pria muda dengan rambut kuning blondenya berbicara pelan. Suara erang tangis perlahan sayup-sayup mulai terdengar lagi dari beberapa arah. "Teman-teman, kita diberikan waktu dan kesempatan dari Bapak-Ibu Nam untuk meletakkan penghormatan terakhir kepada teman kita Nam Yejun." lanjutnya pelan. "Bagi yang ingin meletakkan bunga Krisan bisa diambil di sisi--"
Tidak terdengar lanjutannya. Hamin merasa telinganya seakan menyeleksi dan menghilangkan semua bising di sekitarnya menuju keheningan. Pandangannya hanya tertuju ke sebuah foto seorang pria yang terpajang rapi berbingkai di kejauhan.
Nam Yejun, siswa kelas 3 SMA Seonghwi, ketua OSIS di sekolahnya yang disayangi dan dihormati, mungkin oleh seluruh murid di sekolah. Wajar saja, seorang yang ramah, ceria, dan pekerja keras. Sangat mudah berteman, hingga Hamin yang adalah adik kelas dibawahnya 2 tahun pun mengenal pria berambut biru itu. Ya, sebagai ketua OSIS memang Yejun sering datang ke acara-acara yang diselenggarakan di sekolah, salah satunya pertandingan Taekwondo yang biasanya Hamin ikuti.
"Eeeh, Yu Hamin! Tanding lagi ya?" Nam Yejun sering kali menyapanya seusai memberikan pidato pembukaan, dengan menepuk pundaknya dari belakang. "Semangat ya!" ucapnya menyemangati sambil mengepalkan tangan, diiringi dengan senyum manis bagaikan malaikat, sebelum kembali berjalan menuju peserta lainnya dari klub Taekwondo.
"Woaahhhh, Yu Hamin!! Memang ya kebanggaan klub Taekwondo!"
"Nggak pa-pa kok kalau kalah bertanding hari ini. Yang penting cedera pinggangmu diobati dulu sampai pulih lho! Jangan tanding lagi kalau kamu belum sembuh betul!"
"Luar biasa Yu Hamin! Hari ini tanding lagi ya? Hati-hati ya, jangan sampai cedera kayak pertandingan sebelumnya!"
"Wah pertandingan hari ini kamu keren banget!"
Semua kata-kata penyemangat yang pernah berlalu di pertandingan-pertandingan sebelumnya kembali berputar di ingatan Hamin, beserta senyum manis sang penutur kalimat.
Senyum manis yang sama, yang kini menghiasi wajah tampan Nam Yejun dalam keabadian. Terpampang rapi di dalam balutan bingkai hitam, dikelilingi ratusan bunga krisan putih.
Senyum dari seorang pria yang disukainya dalam diam.
Senyum yang Hamin yakin selamanya tidak akan pernah hilang dari ingatannya.
----------
Namun kini senyum itu kembali di hadapannya setelah 6 tahun lamanya.
Hamin kini menatap seseorang dengan senyum yang sama berdiri di hadapannya, di rumahnya, di ruangannya. Bedanya kali ini senyum tipis itu diiringi perasaan yang terlihat sopan namun canggung. Setidaknya itulah yang dirasakan Hamin.
Hamin menatap lekat sosok pria di hadapannya. Rambut biru yang halus, turtleneck hitam yang rapat membungkus tubuh menutupi hingga leher, sepatu pantofel dan kaus kaki hitam, dan coat hitam. Semua kemuraman outfit hitam itu tetap tidak bisa mengurangi efek senyum sopan si pemilik badan. Senyum yang sama yang telah terpatri di ingatannya entah berapa lama.
"Yu Hamin." suara pelan itu memecah keheningan dan kembali menyadarkan Hamin dari lamunannya. "Aku adalah Grim Reaper yang datang untuk mengambil nyawamu. Esok hari, 26-6-2024 pukul 01.23 dini hari adalah batas akhir hidupmu." ucapnya pelan sambil membaca buku yang terbuka lebar di tangannya, terdiam beberapa saat seakan membaca lanjutan dari buku itu dalam hati, lalu mendongak kembali ke arah Hamin.
"Kamu punya waktu 23 jam 58 menit 21 detik sebelum waktumu berakhir, dimulai dari sekarang." lanjutnya sambil menjentikkan jari. Sebuah jam kantong tiba-tiba muncul di tangannya, dan dengan perlahan ia menekan tombol di sisi jam.
KLIK..
Bunyi dari jam kantong itu menyadarkan Hamin dari terkejutnya. "Hah?" Hamin berusaha mencerna peristiwa di hadapannya, beserta kata-kata yang tertutur. Padahal dia baru saja selesai menggosok giginya dan hendak beranjak ke kasurnya sebelum tiba-tiba sosok seperti Nam Yejun muncul di hadapannya. Ia tidak tahu mana yang lebih membuatnya shock, umurnya yang kini dihitung dengan jam kantong dalam waktu kurang dari 24 jam, atau karena sosok yang tampaknya seperti Nam Yejun kini muncul di hadapannya sebagai seorang grim reaper yang datang untuk mencabut nyawanya. "Ulangi sekali lagi." ucapnya dingin.
"Yu Hamin, 24 tahun. Aku adalah grim reaper yang datang untuk mengambil nyawamu. Esok hari, 26-6-2024 pukul 01.23 dini hari adalah batas akhir hidupmu. Kamu punya waktu 23 jam 56 menit 16 detik sebelum waktumu berakhir--" sosok yang seperti Nam Yejun itu kembali mengulang pelan, datar, namun tegas, dengan menekankan setiap kata yang penting untuk didengar meski senyum tipis belum menghilang dari bibirnya.
"KAU BERCANDA YA!" gertak Hamin marah setelah berhasil mencerna semua keterkejutan itu. Dengan kasar ia berdiri, menyerbu pria itu dan kedua tangannya menarik kerah turtlenecknya dengan kasar, dan mengangkatnya ke udara dengan ringannya. Sosok yang tampak seperti Nam Yejun itu tampak terkejut, membulatkan matanya yang gradasi biru violet, menatap dalam dalam mata kelam Hamin. Kedua tangannya memberontak dan memegang kedua tangan Hamin yang mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara.
"T-turunkan aku!" rengeknya pelan sembari menghentakkan-hentakkan kakinya di udara, berusaha melepaskan dirinya sendiri. Jemarinya beradu dengan jemari-jemari Hamin yang kencang memegang kerah turtlenecknya, sambil berusaha melonggarkan dirinya dari tercekik kerahnya sendiri.
'Hangat..' batin Hamin sepersekian detik saat merasakan kedua tangan yang lebih kecil itu mencengkeram balik tangannya.
BUAAKK!!
Sosok seperti Nam Yejun itu kemudian menendang pinggang Hamin, cukup keras untuk membuat Hamin melepaskan cengkeramannya dan menjatuhkannya kembali ke tanah.
Hamin menatap lekat sekali lagi sosok di hadapannya, sambil memegangi pinggangnya yang terkena tendang. Sosok itu kini tampak panik berusaha merapikan kerah turtlenecknya.
"Aku nggak bercanda. Aku serius!" tukasnya keras setelah merasa kerah turtlenecknya kembali ke posisi awal. "Yu Hamin! 24 tahun!" ulangnya dengan suara keras walau sedikit bergetar, kembali menekankan, "Batas akhir--"
Hamin berusaha membungkam mulut sosok itu dengan tangannya, namun dalam satu kedipan mata dia oleng dan jatuh terjerembap ke depan karena sosok di hadapannya mengelak ke samping dan masih melanjutkan ucapannya "--hidupmu: esok hari, 26-6-2024 pukul 01.23 dini hari."
Sosok seperti Nam Yejun itu berbalik, memandang iba Hamin yang terjerembap di lantai. Ia berlutut di sebelah Hamin yang masih tampak shock karena terjatuh itu. "Aku sudah bilang, aku grim reaper, dan aku nggak bercanda." gumamnya pelan
Hamin termenung menatap lantai di hadapannya, lalu berbalik menatap pria di sampingnya. "Kenapa?" tanyanya gusar, mendekatkan wajahnya ke wajah pria lainnya. "Kenapa hidupku harus berakhir besok?"
Pria di depannya menatap lekat dirinya. Hamin dengan mudah dapat kembali melihat dua bola mata biru violetnya. Bulat, berkilat violet yang jernih. Tatapan mata yang sama yang pernah diingatnya beberapa tahun lalu. Hamin menatapnya tajam, berusaha mencari jawaban di antara warna violet yang menghipnotisnya itu.
Yang ditatap lekat hanya menatapnya dengan rasa bersalah, sebelum menelan ludah, kemudian memalingkan wajahnya, memutuskan kontak mata.
"Aku tahu kamu pasti terkejut. Tapi kematian nggak bisa ditunda dan dihindari. Aku pun nggak tahu apa alasannya.. "jawabnya pelan. "Tugasku hanya membawa pesan, memberi opsi mengabulkan 3 permohonan, mengikutimu kemanapun, mengingatkanmu untuk menikmati saat-saat terakhirmu, dan mengantarkan jiwamu kelak.."
Hamin menarik nafas dalam-dalam. Pikirannya sungguh kalut sampai ia tidak tahu harus mulai bicara dari mana. Hening senyap di antara mereka untuk beberapa saat. Pria berbaju hitam itu hanya berlutut sungkan, sedangkan Hamin mengurut kepalanya, pening.
"Uhm....kalau kamu sudah nggak ada pertanyaan lain lagi, aku--" suara pelan si Grim Reaper memecahkan keheningan sembari menegakkan badannya seakan hendak beranjak, sebelum tangan yang besar dan kokoh menarik tangannya pelan, seakan takut sosoknya menghilang.
"Tunggu dulu."
Kali ini suara Hamin terdengar lebih kalem jauh dari sebelumnya. Ia menghela nafas. "Aku nggak masalah kalo aku harus mati. Umur memang nggak ada yang tahu." lanjutnya sembari berdiri dari terduduknya, namun masih tak melepaskan genggaman dari tangan yang lebih kecil. "Tapi paling nggak, mari kita bicara..." ajaknya sembari sedikit menarik tangan grim reaper-nya lembut. Yang ditarik hanya terlihat bingung dan gugup, namun akhirnya mengikuti dengan langkah pelan.
Hamin membawanya ke sofa dan menyuruhnya duduk tenang. "Aku bisa pegang tanganmu, jadi aku nggak halu ternyata..." Ia terkekeh sedikit getir, lalu berjalan menuju ke dapur.
Tidak bohong, tentu saja Hamin masih merasa bingung dan takut. Siapa yang nggak takut kalau tiba-tiba didatangi malaikat maut yang mengultimatum kalau hidupmu hanya tinggal 24 jam? Tapi didatangi oleh sosok yang persis sama seperti 'satu-satunya mantan gebetan seumur hidupnya?', bagaimana bisa ia tidak bahagia?
Harusnya ia takut dan frustasi, marah, tidak terima. Tapi bodohnya dia malah bahagia.
Dasar idiot.
"Hey Tuan Grim Reaper, apa kau juga makan dan minum?" tanya Hamin dari arah dapur. Terdengar bunyi ia sibuk membuka dan menutup pintu lemari dan kulkas.
"Eh? Uhm..." yang ditanya terdengar bingung menjawab. "Uh...iya?" jawabnya lirih.
Tak lama kemudian Hamin kembali membawa dua buah cangkir berisi susu hangat, dan menawarkan salah satunya kepada Grim Reaper-nya, sebelum ia pun ikut duduk di sebelahnya.
"Sekarang ceritakan padaku, dengan lengkap. Bagaimana konsep Grim Reaper ini." tanya Hamin sedikit merendahkan suaranya, membuat nuansa sedikit lebih menekan. Yang ditanya terdiam untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya perlahan membuka mulutnya.
"Grim Reaper..ya seperti namanya, kami memang ditugaskan untuk menjemput jiwa-jiwa yang sudah masuk list." jawabnya sosok berambut biru tua itu pelan, kemudian menyesap susu hangatnya, canggung.
"Ahh...jadi semuanya sudah ada dalam list ya. Termasuk namaku?" tanya Hamin.
"...Ya."
Hamin menghela nafas panjang, sebelum menyenderkan badannya ke sandaran sofa. "Jadi aku mati kenapa? Apa itu tertulis di list juga?"
"Penyebab kamu meninggal...itu rahasia. Tapi iya benar-..." jawab sosok itu, masih belum mengalihkan pandangannya dari cangkir yang dipegangnya dengan kedua tangan. "Seluruh ringkasan hidupmu tertulis singkat di buku yang kubawa tadi."
"Ringkasan seluruh hidupku?"
"Iya."
"Termasuk hal-hal privasi seperti misalnya...Kapan sunatan? Kapan lulus sekolah? Kapan puber pertama?" tanya Hamin sedikit mencecar. "...Termasuk kisah cinta?"
"Ah, hal-hal privasi yang berhubungan dengan orang lain semuanya bersifat anonim. Kami nggak tahu nama, wajah siapa yang akan dipanggil. Semua hanya ringkasan saja. Tapi memang tertulis." jawab sosok itu agak panik karena diberondong dengan pertanyaan.
"Ohhh..."
Sedikit kecewa? Mungkin. Dalam hati kecilnya ia berharap Grim Reaper-nya yang muncul di hadapan matanya dengan wajah Nam Yejun akan berkata 'Iya, aku sengaja datang dengan wajah ini karena tahu kamu patah hati selama 6 tahun karena ditinggal cinta yang belum kau ungkapkan.'
Hamin menopang dagunya dengan tangannya, sembari menatap Grim Reaper-nya. Yang ditatap hanya mengalihkan pandangannya ke cangkir minumnya sambil terkadang menatap ke arah sekitar. Sepertinya dia sendiri sadar Hamin menatapnya penuh tanpa ada rasa canggung dan tanpa menutup-nutupi.
"J-jangan pelototin aku begitu..." protesnya berusaha membuat Hamin berhenti memandanginya terus-menerus. "Aku malu.."
"Jadi gimana ceritanya kamu bisa jadi Grim Reaper?" tanya Hamin penasaran. Basa-basi saja sebenarnya, ia tidak mau kisahnya diulik terlalu dalam.
"Oh, itu.." gumam sosok berambut biru gelap itu lirih. "Orang-orang yang mati sebelum waktunya akan dipekerjakan sebagai Grim Reaper.. Kami akan diberi list 100 jiwa yang harus kami antarkan, sebelum kami boleh reinkarnasi ke kehidupan selanjutnya."
Nafas Hamin sedikit tercekat. Otaknya berpikir keras. Ia tidak menyangka pertanyaan basa-basinya akan terjawab begini. Apakah mungkin? Sosok di depannya benar-benar Nam Yejun?
"Jadi namamu siapa?" tanya Hamin, mencoba memastikan. "Sedari tadi kau hanya bilang kau Grim Reaper-ku. Tentunya kau punya nama kan? Tidak mungkin kamu punya atasan yang memanggilmu 'Hei!', 'Woi!' kan?" lanjutnya mencoba mencairkan suasana.
Yang ditanya tampak bingung, namun tak disangka ia kemudian tertawa kecil. "Wah, kau benar-benar orang yang aneh.." timpalnya sambil mengusap air mata yang sedikit muncul karena tertawa.
Gyuuutt...
Hamin dapat merasakan hatinya diremas erat saat melihat tawa kecil sosok di hadapannya.
Sopan kah begitu?
Tertawa dengan wajah yang persis sama seperti itu?
Yang tertawa berusaha menyelesaikan tawanya. "Hmmm... Aku nggak punya nama. Kami dipanggil dengan code name saja."
"Kalau begitu bagaimana dengan namamu sebelum kamu jadi Grim Reaper? Bagaimana dengan kehidupanmu sebelum meninggal? Apa kau ingat?" tanya Hamin lagi, masih menatap tajam wajah Grim Reaper-nya. Segera ia melihat perubahan air muka dari pria berambut biru di hadapannya.
"T-t-tidak.."
"Kalau begitu, kamu tadi bilang kalau sebelum mati aku bisa dapat 3 permohonan yang akan dikabulkan, kan?" tanya Hamin setelah terdiam cukup lama.
"Inilah permohonan pertamaku." ujar Hamin serius sambil menatap pria bermata biru violet di hadapannya. "Aku mau kasih kamu nama, supaya aku nggak ribet panggil pakai nama Tuan Grim Reaper. Bebas kan sesukaku?" ia tersenyum menang sambil kembali menyesap habis minuman di gelasnya.
"Sampai akhir hidupku, namamu adalah Yejun."
"..Eh?"
"Kenapa? Nggak suka?"
"Eh? Ah? E-Engga.." Pemilik nama baru Yejun itu terlihat panik. "AH! Gimana kalau pakai nama yang lain saja? Hajun? Jihoon? Ah! Gihoon juga terdengar gagah dan ker-"
"Nggak." Hamin tegas menolak. "Ini kan permohonanku, dan katamu kau akan kabulkan." ujarnya sambil meletakkan cangkirnya yang telah kosong ke meja di hadapannya. Tersenyum penuh kemenangan. "Sekarang sudah tengah malam, dan kamu harus mengikutiku sampai waktuku habis kan?" ia pun mengambil cangkir Yejun yang kini telah kosong pula dan meletakkannya di atas meja, akan dicucinya esok hari.
"Waktunya tidur Yejun-ah.." Hamin berdiri, menguap dan merenggangkan badannya.
Yejun mengerjapkan matanya, secara tak sadar ia menautkan tangannya satu sama lain. Matanya tampak keluar fokus dan panik memandang sekitar, sementara kaki kanannya bergetar gelisah.
Hamin menatap tajam pria yang duduk di hadapannya itu. Dari posisinya berdiri ia dapat dengan mudah menyadari gerak-geriknya yang tampak panik. Jelas ada sesuatu yang disembunyikan Yejun. Tapi ia memutuskan untuk tidak mengulik lebih jauh.
"Aku mau tidur, besok adalah hari yang sibuk." lanjut Hamin sambil berjalan kembali ke kasurnya. Yejun tampak terbangun dari paniknya.
"Ah baiklah, aku akan berjaga disini.." jawabnya pelan. "Selamat malam"
"Hu'um... Selamat malam Yejun-ah, Grim Reaper-ku.."
----------
