Work Text:
Tidak ada yang mampu mencinta Yushi seperti apa yang Riku lakukan.
Bibirnya memang tidak pernah menyuarakan kata cinta, tapi eksistensi Riku selalu bisa Yushi jumpa.
Yushi hampir tidak pernah merasa tertekan, apapun kondisinya dia tidak perlu merasa tertekan karena Yushi punya Riku; tidak ada telinga yang bisa mendengar suara Yushi sebaik telinga Riku menangkap suara sang terkasih.
Yushi pun tidak pernah kehilangan dorongan serta semangat, apapun yang dia lakukan, Riku akan mendorongnya dari belakang.
Semua Riku lakukan untuk Yushi. Dan satu-satunya yang Riku dapat adalah cinta yang tidak pernah berbalas.
Riku tidak mempermasalahkan. Karena bagi si Maeda muda, cinta bukan sesuatu yang harus dimiliki. Cinta adalah pengorbanan.
Riku selalu ada di sana, di samping Tokuno Yushi. Suka maupun duka, sisi Yushi tidak pernah kosong.
Bagi Riku, menjaga Yushi adalah tugas nomor satu. Apapun itu, asalkan Yushi bahagia, Riku akan mempertaruhkan segalanya. Termasuk perasaannya, hati kecilnya.
Hatinya tidak lagi berbentuk kala Yushi mengenalkan sosok itu, Oh Sion. Figur yang akan menjadi pasangan Yushi (tempat yang selalu Riku dambakan tapi tidak akan pernah ia dapat).
Riku pikir, Sion lebih baik dari orang lain; dinamika antara keduanya, atau pun karakter serta pribadi Sion itu sendiri hampir bersih tanpa celah.
Saat Riku melihat mereka, Riku akan langsung tersadar, kalau takdir memang tidak pernah berpihak padanya. Sejak awal ia hanya terlahir untuk menjaga Yushi, sampai sosok Sion muncul dan mengganti perannya dengan mudah.
Hari itu adalah hari yang penting, pernikahan Sion dan Yushi.
Riku dengan setelan terbaiknya tidak pernah berhenti tersenyum, sampai akhirnya Hirose muda menepuk pundaknya dan berkata, "Kak, andaikan kamu lebih berani, mungkin yang berdiri di sana adalah kamu."
Riku tersenyum, lantas menggeleng. Sepasang irisnya menatap jauh ke depan, pada altar yang diisi oleh sepasang yang berbahagia.
"Tidak Ryo, itu bukan tempatku." senyum si Maeda muda merekah semakin lebar saat sepasang di altar melampai antusias padanya. "Tempatku bukan di sana-"
"Lalu dimana?" potong si Hirose muda.
"Tidak dimana pun," perkataannya tertahan kala suasana berubah ricuh. Muncul puluhan orang berpakaian serba hitam dari arah pintu utama, menyusul bunyi pelatuk senjata tajam, dalam hitungan detik semua berubah histeris.
Riku melompat, berlari kencang ke arah altar.
"Cepat! Pergi dari sini!" dengan erat ia menggapai bahu Yushi dan Sion di saat yang bersamaan, menuntun mereka ke tempat yang aman.
Tapi sebelum tungkai kakinya berayun lebih lama, satu-dua peluru mengenai punggung Riku.
"Jangan pernah berhenti, jangan pernah menoleh ke belakang. Teruslah berlari!" itu adalah yang terakhir Yushi dengar dari mulut sang sahabat.
Berselang satu jam setelah kekacauan, Yushi menggila—menyusuri setiap sudut tempat hanya untuk temukan sang sahabat yang terbujur kaku.
Tokuno Yushi, if a million loved you, I am one of them, and if one loved you, it was me. If no one loved you, then know that I am dead.
Adalah tulisan tangan di atas kertas yang Yushi temukan—tersemat—pada kantung toxedo milik Riku.
Kertasnya telah lusuh, bercampur merah milik Riku sendiri.
Tokuno Yushi, detik itu juga dunianya telah runtuh.
