Work Text:
Kontrak. Akad. Perjanjian.
Semua kata ini sama sebenarnya. Intinya hanya perjanjian. Kesepakatan dari semua pihak yang terlibat untuk melakukan apa yang telah disetujui bersama, demi ganjaran yang sudah disepakati pula sebelumnya. Cari untung.
Karena perjanjian pula aku berada di sini. Terikat kontrak dimana sanksi pelanggarannya adalah kematian. Entah di tangan pemerintah atau di tangan tuan rumahku ini.
Sejak awal bertemu selalu terlintas di benakku bahwa orang ini salah karir. Dia lebih pantas menjadi juru arsip, akuntan, pengacara, apapun itu yang berkaitan dengan dokumen dan administrasi. Entah salah belok di perempatan mana hingga bisa menjadi bajak laut. Lagipula, bajak laut mana yang lebih senang mengisi (dan memanipulasi) SPT pajak ketimbang berlayar dan merompak?
Dia berbeda dari semua bajak laut yang kutemui sejauh ini. Dia rapi. Semua harus tertata. Semua harus terdokumentasikan. Walaupun ujung - ujungnya dokumen tersebut akan dia hanguskan, paling tidak data apapun itu sudah pernah tertoreh di atas kertas. Begitu cara dia mengingat dan menata pikirannya. Hal ini pernah aku tanyakan ke dia, karena jujur, menurutku dia membuang – buang kertas, umur dokumen hanya 3 hari sebelum mati jadi debu. Kalah sama umur nyamuk.
“Kalau nggak gini, semrawut.” Hanya itu balasannya.
Apa yang semrawut aku juga tidak tahu. Mungkin memang dia tipe yang seperti itu. Harus menuliskan jalan pikirannya, kalau tidak, bisa gila nanti. Jujur aku juga mengerti mengapa dia tidak bisa menyimpan catatan – catatan dan dokumen – dokumennya, karena takut ketahuan. Semua yang dia tuangkan dalam kertas – kertas itu dapat menjatuhkan negara, atau membuat dia dihukum pasung. Aku paham mengapa dia tidak bisa menyimpan buah pikirnya dalam buku dan jurnal seperti orang pada umumnya.
Mengenai hal itu, mungkin kami berbeda. Aku, entah sadar tidak sadar, selalu menyimpan semua buku yang bisa kusimpan. Segala informasi dan sejarah dunia, baik fabrikasi ataupun sejati. Berbalikan dengannya, semua buah pikir dan catatan hidupku, aku simpan di dalam saja. Berat rasanya bila harus melihat semua omong kosong yang terpikirkan, semua yang berlalu sudah berlalu, dan semua yang kurasakan juga tidak penting – penting amat kurasa. Jika aku hendak menuangkan semua itu di atas kertas, maka aku harus mengingat semuanya kembali, dan ya Tuhan, aku hanya ingin lupa.
Namun, aku dan dia sama. Kami tidak memiliki rumah. Bila harus angkat kaki dari belahan dunia ini sekarang juga kami bisa. Semua barang yang ditinggalkan hanyalah barang. Tidak ada artinya.
Dia tidak terikat pada apapun kecuali uang dan ambisinya, uang bisa dicari lagi, ambisinya tidak akan habis.
Namun, mungkin dia masih terkekang dengan masa lalunya, entah mengapa aku berpikir seperti itu. Pandangan mata yang kosong seperti melihat segala kemungkinan yang tidak dapat dia capai, semua ikatan duniawi yang dapat digapai bila saja masa lalunya tidak terjadi. Apapun itu.
Terkadang saat aku berbicara dengannya aku merasa melihat pada cermin. Dalam 15 tahun, di saat aku sudah mencapai umur dia sekarang, apakah aku akan tetap memiliki sorot mata seperti itu?
Tetapi semirip apapun aku dan dia, dia lebih bejat, bahkan hewan – hewan peliharaannya lebih manusiawi. Rela menukar hati demi keuntungan, menggorok leher orang lain hanya untuk melindungi lehernya sendiri. Pembunuh, penipu, penjagal, tidak ada sisa nurani dalam dirinya.
Namun hak apa yang kupunya untuk menghakimi dia sedemikian rupa, dimana aku pun juga sama dengannya?
Aku memang pembunuh, walaupun tanpa sengaja, walaupun untuk mempertahankan nyawaku. Mau aku mencari pembelaan seperti apapun, tidak akan membasuh tanganku dari semua nyawa yang telah kuambil.
Tetapi dia tidak pernah menanyakan akan masa laluku, selayaknya aku tidak pernah menanyakan akan masa lalunya.
“Apa peduli saya?”
Apapun yang terjadi padanya di masa lampau, walaupun masih melekat padanya, tidak menyematkan dia pada satu tonggak, dia tetap berjalan lanjut. Tetapi entah kenapa, bagiku, semua yang telah aku lalui menjerat, menarik kewarasanku tenggelam, jangkar imajiner yang menghantui semua keputusanku.
Jika dipikir kembali, aku sedikit lebih tenang saat dia bilang dia tidak peduli. Mungkin karena dia juga sudah banyak membunuh orang juga. Atau mungkin karena dia bukan menganggapku sebagai ancaman. Aku merasa bahwa untuk pertama kalinya aku menemukan tempatku untuk berpulang.
Lucu. Orang – orang selalu bilang bahwa rumah bukanlah tempat, namun orang – orang tersayangmu.
Yah, dengan teori seperti itu, dia memang bukan rumah.
Dia tidak hangat, dia tidak baik, dia tidak teduh. Lagipula, tidak ada yang dapat mencari ketenangan dalam badai pasir.
Namun dia dekat. Dia ada sekarang. Dan dia tidak menginginkan aku untuk celaka.
Aku tidak menyayanginya, dan tentu saja dia juga tidak menyayangiku.
Satu – satunya hal yang melindungiku darinya adalah kontrak di antara kita. Perjanjian tertulis bahwa aku dan dia akan saling bekerja sama. Akad yang tidak jelas keabsahannya, namun bagaimana hendak diperiksa, di saat kertasnya sudah menyatu dengan abu perapian.
Dia bukan rumah.
Oase juga bukan danau.
Namun air tetap air bukan?
