Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-07-30
Words:
2,078
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
17
Bookmarks:
1
Hits:
237

A Little Cat I Adopted Actually a Human?!

Summary:

Isagi Yoichi adalah salah satu penyihir yang menghabiskan hidupnya untuk bereksperimen dan mengembangkan sihir. Perjalanannya tentu mengalami rintangan, tetapi hal itu menjadi lebih ringan ketika ia memungut seekor kucing lucu menggemaskan yang menjadi temannya. Namun kucing yang ia rawat selama ini ternyata bukan seekor kucing sungguhan.

Notes:

Semua karakter Blue Lock adalah milik Muneyuki Kaneshiro dan Yusuke Nomura. Penulis tidak mendapat keuntungan apapun dari fanfiksi ini dan hanya meminjam nama untuk kepentingan cerita.

Selamat membaca!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Isagi Yoichi adalah salah satu diantara manusia terpilih yang diberkati dengan energi ajaib dalam dirinya, atau lebih dikenal dengan sebutan Mana. Mana ini adalah sumber dari semua mantra sihir yang ada di dunia.

Yoichi sendiri baru menyelesaikan akademi ilmu sihir di salah satu sekolah terbaik di tempat asalnya. Setelah lulus, semua penyihir diperintahkan untuk menetap di istana demi kerajaan. Namun, karena satu dan dua hal Yoichi memutuskan kabur dari istana, meninggalkan kerajaan tempat asalnya dan migrasi ke kerajaan seberang.

Yoichi tinggal di tengah hutan di salah satu desa kecil untuk bereksperimen dan mengembangkan sihir. Salah satu pertimbangan kenapa Yoichi memutuskan hutan sebagai tempat tinggalnya adalah karena di hutan Yoichi bisa lebih mudah menemukan banyak bahan untuk meracik ramuan-ramuan yang inginkan. Sebenarnya alasan utama Yoichi memilih hidup di tengah hutan itu karena pekerjaan menjadi penyihir masih menjadi hal yang tidak biasa di kerjaan ini, terutama di desa tempat Yoichi menetap sekarang. Sihir adalah salah satu hal yang belum lumrah di kerjaan ini.

Beberapa penduduk desa masih belum bisa menerimanya dengan sepenuh hati karena mengetahui Yoichi adalah penyihir. Walapun terdapat beberapa penduduk yang ramah pada Yoichi karena beranggapan bahwa itu semua bergantung pada karakter dan kepribadian penyihir itu sendiri, tetapi masih banyak dari mereka berpikir bahwa semua penyihir itu jahat.

Sudah Yoichi adalah pendatang, penyihir pula. Padahal penyihir itu tidak semuanya jahat, ada pula yang baik, salah satunya Yoichi. Yoichi ingin menyalahkan para penulis buku yang selalu melabelkan penyihir itu jahat pun pada kawanan penyihir lain yang menggunakan kekuatannya untuk hal buruk.

Sejak kecil Yoichi bercita-cita menjadi penyihir yang dapat membuat semua orang tersenyum dan bahagia. Yoichi mempelajari mantra sihir dan mengembangkan ramuan hanya untuk kebaikan manusia, seperti untuk meningkatkan stamina, menyembuhkan luka dan masih banyak lainnya yang akan berguna untuk kelangsungan hidup umat manusia di masa depan.

Namun, Yoichi juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan penduduk. Yoichi sudah tahu akan sulit diterima di lingkungan baru, tetapi bukan Isagi Yoichi namanya kalau ia tidak bisa beradaptasi dan mengatasi hal ini.

Sejujurnya hanya satu hal yang mengusik Yoichi, yaitu ia sedikit kesepian di sini. Yoichi ingin bercengkrama dan berteman baik dengan penduduk sekitar, tetapi karena kata ‘penyihir’ sangat melekat padanya, Yoichi jadi harus berhati-hati untuk muncul di permukaan. Yoichi juga tidak ingin menyebabkan kericuhan jika ia terlalu sering terlihat karena banyak dari penduduk yang masih menolaknya. Oleh karena itu, jika ada penduduk yang membutuhkan bantuan Yoichi, mereka lebih banyak berkunjung langsung ke kediamannya.

Tapi sepertinya Dewa mendengarkan keluh kesahnya, karena tanpa sengaja Yoichi menemukan seekor kucing putih yang tersesat sendirian di hutan, saat ia hendak mengumpulkan beberapa bahan untuk meracik ramuan. Kucing itu terlihat kurus dan pucat, sekujur badannya pun kotor terkena tanah.

Yoichi mendekati kucing putih itu dan berjongkok di hadapannya. Penyihir bermata biru itu bertukar pandang dengan kucing putih bermata abu. Perlahan tangan Yoichi bergerak mengelus bulu lembut kucing itu. “Apa kau tersesat?”

Kucing putih itu mendengkur dan sama sekali tidak menolak elusan Yoichi. Yoichi rasa kucing ini merasa nyaman dan senang dengan usapan-usapan yang Yoichi berikan. Saat melihat kucing itu entah kenapa tiba-tiba sebuah pemikiran yang tak Yoichi sendiri duga pun muncul dalam otaknya.

“Kau kesepian? Apa kau mau tinggal bersamaku?

Seolah mengerti dan berusaha menjawab pertanyaan Yoichi, kucing itu mengeong terus menerus padanya. Yoichi menyadari kalau kucing ini menerimanya. Pada saat itu juga Yoichi memutuskan untuk membawa kucing itu dan merawatnya.

 


 

Yoichi senang sekarang ia tidak harus menghabiskan waktu sendirian saat di rumah, karena kini ia memiliki Shiro. Shiro adalah nama yang Yoichi berikan pada kucing putih yang ia temui di tengah hutan beberapa bulan yang lalu. Kenapa Yoichi menamainya Shiro? Alasannya karena kucing itu berwarna putih.

Sekarang kucing itu sudah lebih berisi dari sebelumnya, ia selalu menemani dan mengikuti Yoichi ke mana pun ia pergi. Sejujurnya Yoichi sendiri pun tidak ingin jauh-jauh darinya.

Shiro itu manja minta ampun, ia selalu berusaha mencari cara agar Yoichi selalu menaruh perhatian padanya. Yoichi paling suka saat kucing manja ini mendusel ke pipinya, Yoichi pun membalas dengan memberikan kecupan pada kucing manisnya itu.

Sejak Yoichi mengadopsi Shiro, entah kenapa sepertinya banyak hal baik mulai terjadi pada Yoichi. Awalnya karena salah satu penduduk yang menemuinya tak sengaja melihat Yoichi merawat kucing. Tak lama kemudian banyak penduduk yang makin sering mampir. Selain untuk mencari ramuan, mereka juga datang untuk melihat Shiro.

Setelah beberapa hari Yoichi baru mengetahui fakta di desa mereka ada kepercayaan bahwa orang yang disayangi kucing adalah orang baik, karena kucing merupakan utusan Dewa. Jadi, jika kucing merasa senang tinggal dengan pemiliknya, maka dapat dipastikan pemiliknya adalah orang baik. Sejak saat itu penduduk desa perlahan mulai menerimanya.

Bahkan beberapa bulan belakang ini, Yoichi merasa sepertinya penduduk desa sudah mulai mengakui kebaikan dan kekuatannya hingga tersebar kabar ada salah satu penyihir yang memiliki ilmu tinggi berada di desa ini. Kerja keras Yoichi membantu penduduk dengan ilmu yang dimilikinya seolah menyentuh hati para penduduk sampai-sampai salah satu bangsawan terkenal di desa memintanya membuat ramuan untuk para prajurit penjaganya. Hari-hari Yoichi semakin sibuk, tetapi ia sangat senang. Bahkan sekarang ia sedang membuat salah satu ramuan pesanan penting untuk pelanggannya, tapi setiap Yoichi melakukan pekerjaannya, ada saja satu gangguan kecil yang disebabkan oleh kucing kesayangannya itu.

Kali ini Shiro sibuk mondar-mandir diantara sebuah kuali wadah ramuan yang sedang Yoichi racik. Jangan sampai kucingnya itu mengacaukannya, kalo tidak ia harus membuat ramuan itu ulang dari awal.

“Shiro! Sudah berapa kaliku bilang, jangan mengangguku saat meracik ramuan, nanti kalau kau tidak sengaja mengenainya bagaimana — ”

Dan benar saja Shiro jatuh ke dalam wadah racikan ramuan yang Yoichi buat.

“Shiro!”

Yoichi yang panik langsung mengangkatnya keluar dan berlari tergesa mencari handuk sebagai pengering. “Apa kau baik-baik saja?!” Belum sampai menuju tujuan tiba-tiba — BUM!

Ada kabut asap tebal yang entah muncul dari mana bertebangan mengelilingi ruangan. Yoichi terus terbatuk karena tak sengaja menghirup asap tebal itu. Ketika kabut asap mulai menipis ia baru bisa melihat dengan jelas dan baru menyadari sesuatu yang aneh. Yang ada di hadapannya saat ini bukan Shiro kucing putih kesayangannya, tetapi seorang lelaki muda berbadan tinggi.

Yoichi menatap mata abu-abu lelaki itu untuk waktu yang lama.

Lelaki itu memiringkan kepalanya. “…Yoichi?”

Yoichi baru tersadar setelah mendengar suara berat yang keluar dari lelaki dihadapannya itu. Yoichi berkedip beberapa kali sebelum akhirnya memperhatikan seluruh tubuh lelaki itu yang ternyata tidak memakai sehelai benang pun alias telanjang — TELANJANG?!

“WAAAAAAA!!!!”

 


 

“Siapa kau?”

Lelaki itu duduk di pinggir ranjang dengan Yoichi yang berdiri bersidekap sambil memegang tongkat sihirnya— untuk jaga-jaga. Untuk tambahan informasi, lelaki itu sudah tidak telanjang lagi, tidak mungkin Yoichi membiarkan seorang laki-laki asing yang tidak tahu asalnya dari mana telanjang bulat di rumahnya. Lelaki itu memakai salah satu jubah milik Yoichi, karena semua pakian Yoichi tidak muat dibadannya yang tinggi dan besar.

“Aku Shiro. Bukankah kau yang memberikanku nama?” Lelaki itu malah bertanya balik pada Yoichi.

“Maksudku, siapa kau sebenarnya? Kenapa kau selama ini menjadi kucing? apa kau mata-mata dari musuhku?!” tanya Yoichi menuntut jawaban, tanpa sadar nadanya jadi naik lebih tinggi satu oktaf.

Yoichi bingung. Yoichi tidak merasakan kekuatan mana saat pemuda itu menjadi kucing, jika ia manusia yang menjelma menjadi kucing, setidaknya ia memiliki sedikit mana pada tubuhnya.

Yoichi melihat pemuda itu menghela napas, sebelum akhirnya mengucapkan kalimat yang tidak Yoichi duga.

“Aku pangeran kerajaan ini.”

1.2.3 sampai 5 detik Yoichi masih diam, sebelum akhirnya Yoichi berteriak tak percaya. “HAH?!”

“Yoichi berisik. bisakah kau berhenti berteriak? Gendang telingaku bisa pecah.” keluh lelaki bermata abu itu.

“Kau jangan bercanda.”

Setahu Yoichi, pangeran kerajaan ini sudah dilantik menjadi raja, lalu bagaimana mungkin pangeran ada di rumahnya sekarang.

Apa dia penipu?

“Kau tahukan aku bisa membuatmu berkata yang sebenarnya dengan ramuan kejujuran milikku.” ancam Yoichi.

“Lakukanlah kalau begitu” Lelaki itu menjawab dengan santai.

“Apa?”

“Aku malas menjelaskannya, berikan saja ramuan kejujurannya padaku. Aku akan langsung meminumnya. dan dengan begitu bukankah aku langsung bisa mengatakan semuanya? Lagipula aku lapar, ini sudah jam makan siang. Yoichi berikan aku makan.”

“Kau pikir aku babumu?!”

Dengan itu Yoichi mengetahui bahwa Shiro atau lebih tepatnya manusia yang berada di hadapannya saat ini adalah salah satu pangeran yang bernama Nagi Seishiro dan yang menjadi raja saat ini adalah adiknya, pangeran kedua bernama Seishi. Seishiro mengaku ia tidak tahu siapa dalang di balik orang yang mengubah dan menyihirnya. Kejadiannya begitu cepat dan tahu-tahu ia sudah berada di hutan dengan tubuh kucing. Yang pasti Seishiro tahu bahwa ini ada hubungannya dengan ia sebagai pewaris kerajaan selanjutnya.

Yoichi pun mendengar penjelasan Seishiro dengan seksama, ia tidak tahu ternyata semua hal yang dialaminya karena intrik politik dan kekuasaan. Setelah mengingat-ingat, sebenarnya Yoichi memang sempat mendengar kabar tentang hilangnya pangeran pertama beberapa bulan sebelum pelantikan.

Tunggu. Itu berarti kerajaan atau pihak yang terlibat dalam masalah ini bekerja sama dengan penyihir ‘kan?

“Sejujurnya aku juga tidak berniat menjadi calon raja selanjutnya, aku sudah bilang akan menyerahkan posisi itu pada saudaraku tapi sepertinya mereka masih menganggapku sebagai ancaman, jadi memberiku mantra sihir dan mensegel manaku.”

Oh! Makanya mana milik Seishiro tidak nampak.

Yoichi tidak menyangka ramuan yang ia racik bisa memutus mantra yang ada pada tubuh Seishiro. Apa artinya ia sudah jadi semakin kuat? kesimpulan dari pemikirannya sendiri tanpa sadar membuat Yoichi senang.

“Kau tidak mau kembali?”

Seishiro menggelengkan kepalanya.

Yoichi mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa? kau tidak dendam pada mereka?”

“Tidak juga. Aku tidak terlalu tertarik dengan politik dan kekuasaan. Pada dasarnya istana tidak cocok untukku. Di dalam sana terlalu rumit, banyak aturan yang harus dipatuhi. Belum lagi dengan perselisihan dan pertumpahan darah antar saudara. Aku hanya ingin hidup dengan tenang dan damai.”

Yah, Yoichi bisa merasakan perasaan yang sama. Tidak terlalu banyak ruang gerak untuknya saat berada di istana. Itu juga merupakan salah satu alasan Yoichi minggat dari istana tempat tinggalnya dulu dan memulai kehidupan baru yang ia inginkan, yaitu bisa meneliti sihir dan mengembangkan ramuan dengan bebas tanpa terikat ikatan dengan istana.

“Sejujurnya aku bersyukur dengan kejadian itu,”

“Eh?”

“Aku bisa mendapatkan kebebasan yang aku inginkan, kehidupan yang tenang dan damai. Aku lebih suka di sini, bersama Yoichi.” aku Seishiro memandang Yoichi.

“Tidak.” Yoichi meggelengkan kepalanya. “Kau tidak boleh tinggal di sini.”

“Kenapa?” Seishiro menggerutu.

Karena aku tidak ingin terlibat dengan hal-hal yang berbau dengan istana lagi.

“Kau harus kembali.” ucap Yoichi tegas.

Seishiro menunduk. “Apa semua ucapanmu selama ini bohong?”

“Hah?” Yoichi memandang Seishiro dengan tatapan bingung.

“Kau bilang aku boleh tinggal di sini selamanya.”

“Kapan aku mengatakannya?”

Sekarang Seishiro kembali menatap mantap Yoichi. “Kau tak ingat? Yoichi, kau mengelus-elus kepalaku dan memintaku untuk tidak meninggalkanmu sendirian sambil tersedu-sedu.”

Yoichi ingin protes, namun sedetik kemudian ingatan masa lalu Yoichi seolah kembali terputar. Yoichi yang mengajaknya kucingnya berbicara, berkeluh kesah dan berbagi janji bersama — tidak ia juga tidur bersama kucingnya itu, bahkan menciumnya ...  Jadi selama ini dia… Argh! Pipi Yoichi mulai memanas, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran itu.

“Aku mengatakannya pada Shiro! Saat itu kau kucing, aku kan tidak tahu kalau kau manusia,” sangkal Yoichi.

“Aku bahkan membiarkanmu menyentuh tubuhku setiap waktu — ”

“Hei! Kalau kau berkata seperti itu, aku malah terlihat seperti orang mesum.”

“Padahal kita sudah membuat janji bersama. Aku tidak percaya ternyata kau lelaki yang ingkar janji.”

“Ughh…”

Tanpa bisa membalas ucapan bertubi-tubi yang datang dari Seishiro, Yoichi melihatnya merajuk.

Kenapa sekarang Seishiro bertingkah seperti kucing ngambek?

Yoichi jadi teringat waktu Seishiro jadi kucing. Rasanya Yoichi bisa melihat dua telinga kucing berada di kepala Seihiro dengan ekor yang dikibas-kibaskan. Astaga bagaimana bisa ia terlihat menggemaskan— Tidak. Tidak. Tidak. Yoichi tidak akan terpengaruh hanya karena itu.

“Master Yoichi…”

Hei! Bagaimana bisa kau mengatakan itu sambil memperlihatkan wajah memelas dengan binar mata seperti itu padaku? Itu tidak adil!

Setelah beberapa menit sibuk bergulat dengan pikiran dan batinnya, akhirnya Yoichi memilih menyerah karena tidak tahan dengan tatapan matanya itu. Yoichi mendesah. “Baiklah, kau boleh tinggal di sini.”

Wajah Seihiro berubah seketika, dari yang awalnya murung menjadi bersinar cerah. Tiba-tiba Seishiro bangkit dari duduknya dan langsung memeluk Yoichi.

“Terima kasih Yoichi,” ucap Seishiro sambil menjilat pipi kiri Yoichi. “Aku menyukaimu.”

Tindakan tiba-tiba dari Seishiro membuat Yoichi gelagapan. “Hu-huwaa…Le-lepaskan aku…!”

Shiro memang sangat suka menjilatnya. Jika yang bergelantungan manja dan menjilatnya sekarang adalah kucing putih kesayangannya Si Shiro, mungkin Yoichi tidak masalah. Namun sekarang itu berbeda! Perubahannya terlalu mendadak, Yoichi belum terbiasa menerima bentuk manusia Shiro saat ini. Dan bagaimana pula ia masih bertingkah seperti kucing padahal sudah berubah menjadi manusia?

Yoichi berusaha medorong tubuh Seishiro agar pemuda itu sedikit melonggarkan pelukannya. Tetapi sepertinya manusia ini benar-benar keras kepala.

Gerakan-gerakan yang terjadi membuat Yoichi kehilangan keseimbangan hingga tubuhnya terjatuh ke lantai, yang menyebabkan posisi Yoichi kini ada di bawah Seishiro. Dan tanpa sengaja juga membuat jubah yang melapisi tubuh Seishiro merosot dan memperlihatkan tubuh telanjangnya untuk kedua kalinya.

“WAAAAAA!!!”

Notes:

Hai! Kembali lagi dengan cerita nagisagi! Tulisan ini terinspirasi dari official art terbaru Isagi yang jadi penyihir! Anak aku cakep banget pakai outfit penyihir T_T Pingin aku uyel-uyel.

Terima kasih untuk yang sudah mampir baca, tolong berikan banyak cinta untuk nagisagi! <3