Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-08-03
Updated:
2024-08-03
Words:
4,152
Chapters:
2/?
Comments:
4
Kudos:
12
Bookmarks:
2
Hits:
155

Reirse

Summary:

Calon astronom yang fobia samudra bersua ahli kelautan yang benci konstelasi. Tak sengaja keduanya bertaut, bersama mengurai sengkarut rasa takut.

Notes:

Alur Maju. Menggunakan sudut pandang pertama para tokoh utama.
Ditulis sembari mendengarkan; ๐๐š๐๐ข๐ง ๐€๐ฆ๐ข๐ณ๐š๐ก- ๐“๐š๐ฐ๐š

Chapter 1: Introduksi

Chapter Text

๐–๐จ๐ง๐ฐ๐จ๐จ

Sorak-sorai senandung manusia beserta denging nyamuk mengetuk gendang telinga. Petikan gitar menggema di tengah hutan belantara. Inti api unggun menggerogoti kayu kering sedangkan lidahnya menjilat-jilat udara. Kobaran dikitari beberapa orang yang duduk dalam formasi lingkar. Seseorang di dekat gue menyalurkan bebek peking tersodok ranting dari mulut ke anal yang baru saja diangkat dari perapian. Asap panas masih mengepul dan bara merah masih menitik nyala di kulit terluar si unggas bakar. Dan huahh, aroma sedap menguar harum hingga membuat kelenjar ludah gue bekerja lebih ekstra.

โ€œAaaaaak,โ€ mulut menganga siap memasukkan daging lezat ke dalam rongga. Namun tetiba dijeda dengan suara dentum.

DUMM! Pijakan kaki berguncang menyalurkan getar sampai ke pucuk pepohonan damar. Gempa! Woy gempa gempitaaa!

โ€œWon, bangun anjrit! Demi dewa, indeks matkul lo dalam bahaya kalo gak bangun sekarang!โ€ Kenapa gerangan suara Bonon terdengar menggema di langit?

Setelah lantun manusia raksasa itu menggelegar, bumi berguncang kian kencang. Dan ppoop! Bebek peking dalam genggaman gue tiba-tiba hilang.

Sekejap kemudianโ€“GUBRAK! Selamat datang di dunia Jeon Wonwoo yang gelap tapi tetap unyu ramai asik seru, 11 12 sama pasar malem.

Buku catatan dan pena terjun dari atas meja. Cahaya silau menyapa mata. Rupanya rangkai kisah indah sedari tadi cuma mimpi. Realitanya, gue sedang mendudukan diri di bangku kelas kuliah Oseanografi.

โ€œSatt! Bisa gak banguninnya nunggu gue selesai ngunyah bebek peking dulu?! โ€

โ€œBebek peking apaan sih, bre? Kagak penting tolil! Lebih penting lo nyiapin mental karna barusan dipanggil sama Pak Kiming!โ€

Mampus! Gue ditunjuk ketika pikiran gue ngawang. Serius nyawa gue masih melayang-layang.

โ€œYang namanya Jon Wowok yang mana ya?โ€

Jon-wo-wok? Cobaan rasa apa lagi ini, Ya Tuhanku. Gue laporin momi baru tau rasa! Kalo momi tahu nama anak kesayangannya diganti seenak hati, si Kiming dijamin babak belur ditampol pantat panci dah gue yakin.

โ€œNama saya Wonwoo pak,โ€™ jelasku lantang sembari mengacung tangan.

โ€œOh, di sana rupanya. Saya ulang pertanyaannya ya, Wowok. Takutnya tadi Anda gak memperhatikan.โ€

Aelahh, suka-suka elu dah! Untung gue masih punya tabungan sabar dan pemakluman. Kalau enggak udah gue cubit usus dua belas jarimu itu, sayang.

โ€œBisa kamu deskripsikan di layar itu gambar apa? Bebatuan kah? Atau organisma?โ€

Loh loh, kok malah bapak tanya saya? Sebenarnya di sini pengajarnya siapa ya? Anda atau saya? Ah, kebiasaan nih pasti mau nilep gaji buta. Ini nih sejenis dosen yang hidup ongkang-ongkang kaki, yang diajarin seuprit terus mahasiswanya disuruh belajar sendiri dan berkali-kali presentasi.

โ€œSetahu saya, kalau yang dimaksud bagian abu-abu padat keras membatu itu termasuk benda mati, Pak. Bagian tersebut disebut terumbu yang terbentuk atas sedimentasi kapur CaCo3. Sedang bagian yang lunak dinamakan karang, termasuk organisme hidup penghasil kapur kalsium karbonat yang membentuk terumbu tadi. Tapi keduanya kurang bisa dibedakan satu samalain soalnya biasanya mereka hidup menyatu.โ€

โ€œOkelah, jawabannya kurang pas, tapi masih bisa diterima. Terus, Jon, kalau menurutmu karang masuk ke dalam kingdom apa? Plantae atau animalia?โ€

Bentar guys. Ini gue salah masuk kelaskah? Kenapa kelas oseanografi serasa kelas biologi? Bukankah seyogyanya gue sedang belajar fenomena yang mempengaruhi pola distribusi biota laut? Bukan malah mengulik taksonomi makhluk hidup. Kalau gini kasusnya sekalian aja lo nanya perkara karang sampai ke tingkat ordo-spesies-subspesies boleh tanya sampai ke urutan kode DNA juga.

โ€œAnimalia, Pak.โ€

โ€œYakin? Bukannya morfologinya mirip tumbuhan? Coba dilihat, Jon. Emang dia bisa mobilisasi buat memperoleh buruan seperti umumnya hewan? Bukannya dia immobil dan bisa berfotosintesa di tempat? Coba elaborasikan kenapa termasuk animal, saya mau dengar penjelasan lengkapmu, Wowok!โ€

Wah, fix gue salah kelas.

โ€Sepengetahuan saya karang atau coral termasuk ke dalam filum Porifera, Pak, sejenis organisme invertebrata yang strukturnya sederhana. Memang benar makhluk ini hidupnya tidak berpindah-pindah selayaknya tumbuhan. Namun sangat kurang tepat jika ia digolongkan sebagai tumbuhan sebab coral tidak bisa memproduksi nutrisi dengan kemampuan dirinya sendiri. Melainkan dia memeroleh makan dengan cara bersimbiosis dengan zooxenthellae yang punya pigmen serupa klorofil, tapi yang ini warnanya coklat kemerahan. Nah, berkat pigmen inilah alga memiliki kemampuan berfotosintesis yang secara lebih lanjut hasil metaboliknya nanti dibagikan pada si coral.โ€

โ€œKamu pasti anak biologi ya?โ€

Yakin amat, Pak?

โ€œE-eh? Lain, Pak. Saya dari prodi astronomi hehe.โ€

Garis alis si dosen muda itu terangkat sebelah.

Kaget ya? Iya gue juga heran sama diri sendiri kenapa bisa impulsif setengah mampus. Cuma gue makhluk astro yang tersasar di kelas oseโ€“yang biasanya dihuni populasi homo sapiens jurusan biologi, mikrobiologi, atau oseanografi itu sendiri. Asli jauh banget korelasi antara ose dan astro. Ibarat air-udara, langit-bumi, surga-neraka.

Bonon, temen sedaerah gue juga sempat mempertanyakan keputusan pengambilan mata kuliah pilihan gue ini.

โ€œSumpah, lo nekat,โ€ katanya waktu itu.

Mungkin taraf impulsivitas yang mengalir dalam darah gue udah gak bisa diukur pakai skala. Mau bagaimana lagi? Kepepet. Sebagai mahasiswa tingkat dua, gue dituntut ngejar pemenuhan SKS luar prodi yang masih kurang biar gak keteteran soalnya semester depan padet gila. Di sisi lain, gue juga butuh teman kelas yang familiar biar kalo mau bolos gampang tipsennya. Dan ya, gue ingat punya teman baik bernama Bonon yang ambil jurusan biologi murni. Dua konsiderasi yang pada akhirnya membawa gue meng-klik tombol ambil mata kuliah pilihan luar jurusan di web akademik. Tapi lumayanlah matkul ini punya bobot sebesar 3 SKS. Biasanya matkupil lain cuma dapat 2 SKS iya kan?

โ€œKamu anak astro?โ€

โ€œBetul, Pak.โ€

Gimana? Gue keren kan? Pasti lu mau muji gue kan, Mut? Ayo, gue udah siap membusungkan dada dan membalas pujian Anda dengan butir demi butir kata mutiara. Satuโ€ฆ Duaโ€ฆTi-

โ€œGak ada relevansinya sama mata kuliah ose.โ€

Oh? Gak ada apresiasi sekalipun itu secuil upil? Malah kritik yang menyentil? Tuh kan. Ini nih yang bikin gue rindu Bu Prapti Prikitiw kesayangan rakyat satu kelas oseanografi. Disayangkan sekali si ibu harus ambil cuti untuk melahirkan dedek bayi. Jadilah dari pertengahan semester, kelas ose diambil alih oleh si Marmut-imut-amit-amit. Dosen muda bermuka songong yang gemar mencecar dan mengejar interaksi seisi penghuni kelas. Pokoknya kelas ini tuh tegang banget dari salam sampai wasalam. Deg-degan mulu, takut ditunjuk si Mamat.

โ€œOiya, Wowok, lain kali diusap dulu ya..โ€

Apa lagi neh? Kalo bersabda suka setengah-setengah dan gak jelas gini konteksnya. Ahli dah bikin dag dig dug mahasiswa. Kayaknya outcome dari matkul ini tuh penyakit jantungan ya.

โ€œDilap apanya ya, Pak?โ€

โ€œItu pipimu โ€ฆ ilernya diusap dulu. Basah ngalir sampe dagu,โ€ adalah kalimat paling membagongkan pertama kali seumur hidup yang kuterima di tengah kerumun manusia. Sial! Seisi kelas mengelorakan tawa membahana.

King Marmut bajigurrr! Bisa-bisanya mencetus isu palsu yang bisa mencoreng kesucian makhluk mungil lucu sepertiku.

โ€œSi Mar nipu kan, Bon?โ€ Gue menoleh ke arah Bonon. Berbisik.

Bonon melotot, mulutnya menganga, alisnya berjengkit. Ekspresi macam apalah ini? โ€œEbuset! Beneran ada iler! Eh anjing, sumpah masih seger ngalir itu, Won.โ€

Telapak tangan gue dituntun Bonon untuk meraba gundukan pipi. Alamak, beneran becek sampai ke rahang. Akan gue tandai hari ini dalam kalender kehidupan sebagai hari dengan puncak rekor kemaluan (read; rasa malu) terbesar hanya gara-gara imaji godaan seonggok bebek peking yang bahenol itu. Sialan lu, beking!

โ€œPantes aja tadi lo molor udah kek dugong terdampar di daratan. Gini nih, Won.โ€

Bonon menengadahkan muka, menutup setengah mata sampai yang nampak hanya putihnya saja, mengangakan mulut O selebar-lebarnya. Buset, nista amat. Gak! Pasti dihiperbola.

โ€œSama ngorok dikit.โ€ Bonon mengerutkan hidung, memproduksi suara nasal. ngrokk ngrook. โ€œKek babi.โ€

Baji--gurrrr!

โ€œSerius, Bon?โ€ tanyaku hampir menangis.

โ€œSeribu-rius sangat menariq perhatian, seyeng. Kayaknya si bapak udah sadar dan ngincer lo dari awal kelas sih. Ngelihatin lo mulu sangking kagumnya karna ada spesies persilangan langka di kelasnya. Spesies dubi-dubi! Dugong babi!โ€

โ€œAnjing!โ€ Detik itu juga gue seketika pengen musnah dari semesta raya.

โ€œOh, mau nambah disilangin sama anjing juga? Melet-melet dong nanti tidurnya.โ€

โ€œDiem lu!โ€

โ˜†โ˜†โ˜†

๐Œ๐ข๐ง๐ ๐ฒ๐ฎ

Tengah malam selalu identik dengan secangkir kopi pahit, pencahayaan remang, dan tumpukan berkas akademik. Begitu pula petang ini. Kubalik lembar demi lembar folio hasil karya mengarang bebas para mahasiswa. Menelisik analisis rancu atas pertanyaan ujian yang diajukan. Ngawur-ngawur semua! Namun tidak dengan sebuah lembaran dengan tulisan tangan yang sepertinya punya hubungan kekerabatan dengan rumput teki.

๐พ๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘ ๐‘Ž๐‘™๐‘›๐‘–๐‘ก๐‘Ž๐‘  (6-8) ๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘š๐‘Ž๐‘ ๐‘ข๐‘˜ ๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘˜๐‘Ž๐‘ก๐‘’๐‘”๐‘œ๐‘Ÿ๐‘– ๐‘›๐‘œ๐‘Ÿ๐‘š๐‘Ž๐‘™ ๐‘ข๐‘›๐‘ก๐‘ข๐‘˜ ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ข๐‘›๐‘—๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘˜๐‘’โ„Ž๐‘–๐‘‘๐‘ข๐‘๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘œ๐‘๐‘ข๐‘™๐‘Ž๐‘ ๐‘– ๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘‘๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘›๐‘”. ๐‘†๐‘’๐‘™๐‘Ž๐‘–๐‘› ๐‘–๐‘ก๐‘ข, ๐‘™๐‘œ๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘– ๐‘’๐‘˜๐‘œ๐‘ ๐‘–๐‘ ๐‘ก๐‘’๐‘š ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘’๐‘˜๐‘Ž๐‘ก๐‘– ๐‘‘๐‘Ž๐‘ ๐‘Ž๐‘Ÿ ๐‘™๐‘Ž๐‘ข๐‘ก ๐‘‘๐‘’๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘˜๐‘’๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘’๐‘›๐‘’๐‘ก๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘ ๐‘– ๐‘๐‘Žโ„Ž๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘š๐‘’๐‘›๐‘๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘– ๐‘˜๐‘’๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘› 7 ๐‘š๐‘’๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ (๐‘๐‘Žโ„Ž๐‘Ž๐‘ฆ๐‘Ž ๐‘๐‘ข๐‘˜๐‘ข๐‘) ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘–๐‘š๐‘๐‘™๐‘–๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘– ๐‘๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž ๐‘˜๐‘’๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘‘๐‘ข๐‘˜๐‘ข๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘Ÿ๐‘œ๐‘ ๐‘’๐‘  ๐‘“๐‘œ๐‘ก๐‘œ๐‘ ๐‘–๐‘›๐‘ก๐‘’๐‘ ๐‘–๐‘  ๐‘˜๐‘œ๐‘š๐‘ข๐‘›๐‘–๐‘ก๐‘Ž๐‘  ๐‘Ž๐‘™๐‘”๐‘Ž. ๐พ๐‘œ๐‘›๐‘‘๐‘–๐‘ ๐‘– ๐‘™๐‘–๐‘›๐‘”๐‘˜๐‘ข๐‘›๐‘”๐‘Ž๐‘› ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘œ๐‘๐‘ก๐‘–๐‘š๐‘ข๐‘š ๐‘ก๐‘’๐‘Ÿ๐‘ ๐‘’๐‘๐‘ข๐‘ก ๐‘๐‘’๐‘Ÿ๐‘‘๐‘Ž๐‘š๐‘๐‘Ž๐‘˜ ๐‘๐‘Ž๐‘‘๐‘Ž ๐‘–๐‘›๐‘‘๐‘’๐‘˜๐‘  ๐‘’๐‘˜๐‘œ๐‘™๐‘œ๐‘”๐‘–๐‘  ๐‘ ๐‘’โ„Ž๐‘–๐‘›๐‘”๐‘”๐‘Ž ๐‘‘๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐‘˜๐‘Ž๐‘ ๐‘ข๐‘  ๐‘–๐‘›๐‘– ๐‘‘๐‘–๐‘‘๐‘Ž๐‘๐‘Ž๐‘ก๐‘˜๐‘Ž๐‘› ๐‘ก๐‘–๐‘›๐‘”๐‘˜๐‘Ž๐‘ก ๐‘˜๐‘’๐‘Ž๐‘›๐‘’๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘Ž๐‘”๐‘Ž๐‘š๐‘Ž๐‘› ๐‘๐‘–๐‘œ๐‘ก๐‘Ž ๐‘ฆ๐‘Ž๐‘›๐‘” ๐‘ก๐‘–๐‘›๐‘”๐‘”๐‘–.

Jawaban ini terdengar lebih waras dan tak begitu kopong daripada paragraf penjelasan yang ternoktah pada kertas mahasiswa lain. Ah, tidak sampai aku melihat deret nama yang tergurat di sebelah titik dua.

๐๐š๐ฆ๐š : ๐‰๐ž๐จ๐ง ๐–๐จ๐ง๐ฐ๐จ๐จ

Seketika aku ingat kelakuan bocah itu jauh-jauh hari.

โ€œSyarat menghadiri kelas saya adalah fokus menyimak. Kalau mau tidur, bukan di sini tempatnya. Ini bangku kelas bukan kasur kos-kosan,โ€ kataku serius.

Lelaki berkacamata itu lantas bangkit dari duduk. Dengan muka polos tanpa dosa, ia melenggang menuju pintu keluar.

โ€œSiapa yang nyuruh kamu keluar di tengah kelas perkuliahan?โ€ Geram sekali aku, Tuhan.

โ€œMaaf, Pak, tapi seperti yang baru saja bapak sampaikan, saya seharusnya tidak diperbolehkan mengikuti kelas karena tadi ketahuan tertidur pulas โ€ฆ sampe ileran.โ€ Dua kosakata terakhir disebutkannya lirih.

โ€œTapi apa saya minta kamu keluar sekarang?โ€

โ€œOh, saya gak diusir nih, Pak? Tapi saya tetap mau minta izin untuk keluar seโ€“ โ€œ

โ€œIzin keluar? Masih kurang tidurnya? Mau ngelanjutin tidurmu di kosan?โ€

โ€œOh, bukan begitu, Pak Mar-Mingyu. Saya izin keluar mau membasuh bersih cairan iler saya ini nih,โ€ katanya sembari memamerkan jejak air beraroma kecut yang mengkilat-kilat tersiram cahaya.

โ€œBagaimana, Pak? Apakah diizinkan? Kalau tidak diperbolehkan keluar, ya sudah, saya kembali duduk kembali saja.โ€

Mengingat kejadian di luar normal, membuatku refleks meremas kertas yang ada di tangan sekarang. Entah kenapa aku agak kurang berkenan pada si mahasiswa dan persona yang dimilikinya. Lebih tepatnya, aku tidak suka dengan tipe mahasiswa yang gemar menganggap remeh proses pembelajaran. Suka membanyol dan bercanda berlebihan.

Teruntuk kalian yang masih bersatatus sebagai pelajar, catat ini ya! Dosen itu sadar mana mahasiswa yang serius dalam menggali pengetahuan, mana yang terlihat fokus tapi pikirannya jalan-jalan, dan siapa yang benar-benar menyepelekan pengajar. Dosen tahu segala rupa kelakuan mahasiswa, tapi kami bertindak seolah tak tahu apa-apa. Kami anggap nalar kalian telah matang. Maka sudah sesadarnya bersikap dewasa sebab sudah paham mana yang salah-benar dan mana yang harus-tak harus dilakukan.

Jeon Wonwoo. Oh, Jeon Wonwoo. Nalar anak ini entah kemana perginya.

Berkat makhluk itu, ruang kelasku menjadi sebuah medan perang untuk menguji kadar kesabaran. Aku sudah berhasil mengacuhkan mahasiswa lain yang kelakuannya juga melenceng dari garis wajar. Namun, sungguh si Wowok-wowok ini masuk ke dalam kriteria mahasiswa dengan skala kekurangajaran jauh melebihi standar.

Bayangkan kau jadi pengajar lalu punya murid seperti dia yang; 1) suka tidur sampai ileran bahkan ngorok 2) ngobrol terus sama kawan bule medoknya 3) setiap jawab pertanyaan dosen terdengar menggampangkan dan setengah hati. Tapi kok bisa makhluk modelan seperti ini bisa diberkahi Tuhan otak cemerlang bukan main! Lihatlah ini lembar ujiannya terisi penuh dengan penjabaran yang hampir tepat seluruhnya. Kupindai tugas esai per topik pertemuan juga tuntas dengan hasil analisis yang lumayan berbobot.

๐๐จ๐ข๐ง ๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐›๐š๐ง : ๐Ÿ—

Tapi, bolehkah sekali saja aku menilai secara subjektif? Akhlaknya terlalu rendah untuk angka wawasan setinggi ini. Sialan! Kenapa benakku malah memutar bayangan masa depan bagaimana ia akan menungguku di luar ruangan untuk mengecek berkas ujian? Bisa kubayangkan mulut mengecimus protes terhadap skor mungil yang kuberikan. .

Ah, masa bodoh! Biarlah aku diteror.

ฬถPฬถoฬถiฬถnฬถ ฬถjฬถaฬถwฬถaฬถbฬถaฬถnฬถ:ฬถ ฬถ9ฬถ

Coret.

๐๐จ๐ข๐ง ๐ฃ๐š๐ฐ๐š๐›๐š๐ง: ๐Ÿ”

Penilaian ini demi kebaikanmu juga. Semoga bisa membantumu berinstrospeksi diri.