Actions

Work Header

Perubahan Signifikan

Summary:

Kesehariannya tak berbeda jauh sebelum menikah, hanya saja malam yang biasa Hitoya lewati sendiri kini sudah memiliki pendamping.

[ 25y.o!Jyushi x fem!Hitoya ]

Notes:

ヒプノシスマイク/Hypnosis Microphone, lores, contents, properties, and characters © King Records, Otomate, dan Idea Factory
Perubahan Signifikan © Arisa Morishita (Arisa_Mo)

Penulis tidak mengambil keuntungan secara materiil!
Fanfiksi ini ditulis hanya untuk kesenangan semata!

Work Text:

.

.

.

Umur pernikahan mereka sudah berjalan lima bulan, selama itulah Hitoya menyandang nama depan Aimono.

Hingga saat ini, wanita itu tak percaya jikalau ia akan sepenuhnya ditaklukkan oleh pemuda cengeng namun bermental baja. Mengiyakan lamaran cinta yang diajukan tulus dan menginjakkan kaki di pelaminan bersama.

Roda waktu berputar sangat cepat, sungguh hal yang tak terbayangkan.

Dari yang semula tak terbiasa, pada akhirnya Hitoya menerima pemuda itu sepenuhnya—menaruh kepercayaan padanya dalam hubungan rumah tangga ini. Terlebih, sang dara bisa menyaksikan perubahan pada sang suami dari hari ke hari secara dekat—yah, walaupun sifat keanak-anakkan dan cengeng masih melekat.

Misalkan seperti malam ini; mendadak Jyushi menawarkan diri untuk mengurusi semua tagihan rumah yang tenggat waktunya sudah dekat. Hitoya bisa menangani sendiri, tetapi lelaki itu keras kepala dan ingin mengambil alih—katanya, sih, sekalian belajar.

Pun sang nona berdiri di ambang pintu kamar, dengan membawa nampan berisikan kue kering dan teh hijau hangat—harapnya bisa dijadikan teman camilan malam. Namun, bukan hanya itu saja yang ia bawa kali ini.

Pasalnya, kini Hitoya hanya berbalut setelan lingerie tipis berwarna merah marun.

Terus terang, ini kali pertamanya bagi Hitoya untuk menggunakan pakaian sejenis ini bahkan setelah lima bulan menikah. Harus ia akui: memakai ini jauh lebih memalukan dibanding tak berbusana—hanya berlaku saat mereka serius memadu kasih dalam kegiatan dewasa.

Tetapi, Hitoya rasa mengenakannya bukan ide buruk—sekalipun harus mengorbankan urat malu. Toh, hitung-hitung sebagai hadiah kecil atas usaha sang suami sejauh ini dalam menyelesaikan urusan tagihan rumah.

Tarik napas dalam-dalam sebelum melangkah mendekati Jyushi yang sibuk di atas kasur, terlihat dia memegangi beberapa kertas. Nampan diletakkan pada meja kerja yang bersebelahan dengan kasur. Sejenak Hitoya melirik punggung Jyushi, tampaknya dia terlalu serius sampai tak menyadari kehadirannya.

Karenanya sang dara tak mampu menahan senyum.

Lantas ia duduk di tepi kasur secara perlahan—berusaha untuk tak menciptakan derit akibat pegas ranjang. Memandanginya sebelum menyerukan suara guna memecah hening. “Bagaimana, Jyushi? Ada hal yang tidak kau mengerti?”

“Ah! Hitoya! Kebetulan ada yang ingin ku—”

Jyushi berbalik, tutur kata terhenti tatkala netra menangkap sosok Hitoya. Terlihat jelas dia mematung sebentar, rona merah sontak memenuhi pipi si lelaki.

“E-Eh!? H-Hitoya!? B-Baju itu—!?” Terkejut bukan main, Jyushi tergagap sampai kertas di tangannya jatuh ke kasur.

Mata yang ditunjukkan membuat pipi Hitoya juga bersemu, rasa malu masih bersemayam—padahal ia menunjukkan penampilan ini hanya di depan suami sahnya. “Kenapa? Tidak cocok?”

“Tentu saja tidak!”

Lantas secara cepat Jyushi merapikan kertas yang berjatuhan di kasur, menyingkirkan ke atas meja kerja terdekat. Tanpa sepatah kata, dia menarik Hitoya ke dalam peluknya. Kurva pinggang kecil didekap begitu erat, lengkung senyum hangat bercampur bahagia mengembang di bibir.

“Mau baju apapun yang mau pakai, Hitoya akan selalu terlihat cantik dan seksi.”

“… aku tidak akan termakan gombalanmu begitu saja.”

Jyushi terkekeh setelahnya. Lalu membawa Hitoya berbaring bersama, dengan sang istri berada di atasnya tanpa menjauhkan pelukkan.

“Tadinya aku ingin bertanya mengenai salah satu tagihan yang tidak kumengerti, tetapj itu bisa nanti saja. Jatuh temponya masih lama.”

Berkedip, paras ayu menunjukkan raut kecut. “Kau tidak boleh menunda tugasmu, Jyushi.”

“Nanti akan kulanjutkan, kok!” balas Jyushi setengah histeris. Pun senyum serupa kembali mengembang, lalu melanjutkan, “Tapi sekarang aku ingin bermanja dulu dengan Hitoya. Apalagi kau sampai mengenakan lingerie ini.”

Tertegun, tetapi di saat bersaman merasa malu. Bukannya tak suka, hanya saja ungkapan Jyushi mengundang sedikit rasa sebal. Hitoya mendecih, bibir mengerucut masam. “Ah, dasar.”

Satu detik, Hitoya mendengus ringan dan ranum menarik senyum. Pada dasarnya ia tak membenci sisi Jyushi satu ini, malah menimbulkan perasaan bagai bunga bermekaran dalam dada.

“Asalkan nanti tagihannya kaulunaskan, aku akan memanjakanmu sampai puas.”

(Kesehariannya tak berbeda jauh sebelum menikah, hanya saja malam yang biasa Hitoya lewati sendiri, kini ada pendamping sah yang menemani. Sebuah perubahan yang menghangatkan dada—sejujurnya.)

.

.

.

.

.

End.