Actions

Work Header

one sixth gravitational pull

Summary:

Menurut Rui, semenjak Nene mulai sering menginap, apartemen miliknya jadi terasa terlalu kecil untuk mereka berdua.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

 

Awalnya, pada hari-hari tertentu, Rui akan pulang dengan disapa wangi sup miso dan sayup suara tembakan dan teriakan dari televisi di ruang tengah. Ia akan menyimpan pantofelnya di sebelah sepatu flat cokelat muda di rak depan, dan berkata aku pulang dengan suara pelan dari belakang sofa.

Biasanya, yang duduk setengah terbaring di sofanya sambil menindas tombol-tombol konsol gim itu akan menjerit sebelum duduk tegak, memelototinya setelah meratapi layar GAME OVER di televisi.

"Sialan," katanya, ketara cuma marah pura-pura.

"Oya? Kata orang yang menerobos masuk ke apartemenku?" Rui akan terkekeh, lalu merunduk untuk mencium poni gadisnya. "Sore, Nene."

Nene hanya akan menggumam sebelum mengganti tayangan televisi ke channel acak dan beranjak menuju dapur. Rui akan melepas dasi dan kemeja dan berniat untuk melemparnya ke salah satu sudut ruangan, tapi segera urung begitu menyadari apartemennya terlihat lebih rapi dari saat ia tinggalkan pagi tadi.

"Aku sudah bilang kamu nggak perlu beres-beres kalau menginap di sini," katanya sambil menuju kamar mandi, menatap punggung Nene di dapur yang hanya dibatasi meja makan kayu dari ruang tengah.

"Aku beres-beres bukan untuk kamu," cibir Nene saat ia membuka pintu kamar mandi, "Mana ada yang tahan menginap di apartemen yang kelihatan seperti habis kena badai."

“Wah. Aku sakit hati, nih."

Ia akan menemui Nene di meja makan selepas menyimpan ikat pinggangnya di kamar dan mengganti kaus dalamnya dengan kaus rumahan yang sering dikatai dekil oleh Nene, dan setelah hampir mati saat kepalanya nyaris menghantam sudut meja karena tersandung tas jinjing kelebihan muatan milik Nene yang diletakkan sembrono di kaki tempat tidur. Nene akan menunggu dengan dua mangkuk sup miso yang baru selesai dihangatkan di meja makan, dan Rui tahu Nene tidak pernah sanggup menahan senyum saat melihat Rui duduk di seberangnya.

"Tolong lebih rapilah sedikit, Rui."

"Aku kira kamu sudah menyerah bilang begitu ke aku."

Dan Nene akan menatapnya geli sebelum berkata selamat makan dan Rui akan mulai bercerita sembari makan; perihal keadaan di rumah produksi, soal gosip tentang salah satu aktornya, atau tentang kucing yang masuk lewat jendela ke ruangannya tadi siang. Kadang Nene akan balas menimpali dengan cerita harinya di studio atau insiden produser lagunya yang bertengkar dengan songwriter-nya; kadang tidak. Rui tidak masalah.

 

Awalnya, Nene akan mengiriminya pesan di malam hari. Pesan singkat seringkas 'besok aku mau menginap' dan Rui akan membalas dengan stiker kucing mengangkat jempol dalam selang waktu kurang dari lima menit.

Nene selalu menginap di apartemennya tiap kali ada jadwal rekaman lagu, karena apartemennya sendiri jaraknya 'terlalu jauh' (dengan tanda kutip, karena menurut Rui sebenarnya tidak sejauh itu, Nene saja yang enggan menghabiskan total tiga jam untuk transportasi dari dan menuju apartemennya setiap hari rekaman) dan apartemen Rui lebih leluasa ia gunakan untuk latihan suara karena tidak akan ada tetangga-tetangga yang menggedor pintunya sambil mengajukan komplain suara (terima kasih pada Rui yang menyewa unit di bangunan baru yang masih minim penghuni, tentu saja. Masalah Rui bertanya perihal apakah unit di kanan-kirinya kosong sebelum memutuskan untuk deal biarlah jadi rahasia ia sendiri).

Rui akan meninggalkan apartemen seperti biasa di pagi hari menuju rumah produksi, dan ketika ia pulang kerja, pasti sudah ada Nene di ruang tengah dan tas jinjing berisi pakaian dan kebutuhan lainnya di salah satu sudut kamar Rui. Ia tidak pernah keberatan, meski besok paginya ia akan selalu bangun dengan punggung pegal karena terpaksa tidur di sofa.

(Pegalnya selalu langsung melebur ke udara kosong begitu ia sadar yang membangunkannya adalah pacarnya dengan rambut diikat serampangan dan mata yang kantongnya terlihat sama mengkhawatirkannya dengan ia sendiri. Ada wangi mentega di tangannya, dan Rui akan menitip kecup di jemari Nene sambil bergumam dengan suara serak,

"Kalau kamu masukkan tomat lagi di sandwich-ku, aku bakal ngambek sampai weekend.")

 

•••

 

"Mama bilang mau ke sini minggu depan."

Rui menggumam dan menyahut setengah hati, terlanjur fokus menyisiri rambut Nene yang pagi ini beraroma lavender, "Oh, ya? Tiba-tiba?"

"Mhm."

Ada jeda panjang yang membuat percakapan mereka menggantung begitu saja di tengah ruangan dan hanya disahuti oleh gemerisik pelan sisir di rambut Nene, tapi tidak ada yang peduli. Selang beberapa tarikan napas, Nene mulai menggumamkan melodi lagu barunya, yang sudah Rui dengar entah berapa kali saat gadisnya itu berlatih vokal, termasuk tadi malam saat kesadarannya perlahan dicuri oleh kantuk. (Ia ingat tidur lebih lelap tadi malam.)

Pundak Nene menegang saat Rui tidak sengaja menyentuh tengkuknya, dan ia langsung memalingkan muka dari cermin. Rui terkekeh, menyelipkan satu wah, maaf, ya sembari meraih meja rias dari belakang Nene untuk meletakkan sisir dan mengambil ikat rambut. Nene mendengus, dan Rui terpaksa menelan niat untuk menyentuh tengkuknya lagi kalau tidak mau Nene menyikut rusuknya sebal.

"Kamu," suaranya pecah di akhir kata, ia lupa belum minum sama sekali semenjak bangun dan dimintai tolong untuk menata rambut Nene, "mau dikepang?"

Mata Nene akhirnya menemui pandangannya lagi di cermin, lalu mengangguk. "Boleh."

Lalu ia mulai membagi rambut Nene menjadi tiga bagian, memilin dan menjalin berteman nyanyian. Nene sering bilang tangan Rui terlalu cantik dan cekatan untuk ukuran orang yang sehari-hari bergelut dengan mesin dan kabel, dan Rui selalu tertawa tiap kali Nene mulai membanding-bandingkan ukuran tangan mereka yang jauh berbeda. Maka, Rui pastikan ia selalu menyentuh Nene dengan hati-hati, mulai dari gandengan tangan, usapan pipi, tepukan di pundak, sampai kepangan rambut.

Ia mengeratkan kepangan di ujung jari-jarinya, "Begini terlalu erat, kah?"

Nene menggeleng samar, senandungannya sama sekali tidak terputus. Rui membalas oke tanpa suara dan mengikat ujungnya perlahan, satu-satu jari dilepaskan dari helai rambut Nene.

Rui menunduk, satu kecup dilayangkan ke pucuk kepala Nene. Pandangan mereka bertemu di cermin. Rui tersenyum lebar ketika dagunya ia istirahatkan di pundak Nene, tangan mencari genggaman tangan Nene di pangkuannya.

"Selesai."

Jeda dua detik, suara Nene terdengar seperti tersedak, "Makasih."

Rui berpura-pura tidak menyadari pipi Nene mulai merah perlahan ketika ia kembali menegakkan tubuh, disusul Nene yang terburu-buru membereskan alat rias di meja. Manisnya.

"Jangan lupa beres-beres dulu minggu depan sebelum Mama datang–Rui, jangan tidur lagi!" Nene menendang kakinya yang tergantung dari sisi tempat tidur ketika Rui memutuskan berbaring melintang di kasur.

"Aaah," rengeknya, "punggungku masih sakit. Aku cuma mau baring sebentar."

"Kamu nanti kesiangan," tegurnya lagi, tapi Rui langsung tahu Nene tidak betul-betul marah ketika gadis itu duduk di sebelahnya dan menyisir pelan-pelan poni Rui yang tercecer ke wajahnya. "Minggu depan aku nggak ke sini. Kamu beres-beres sendiri, ya?"

"Hm?" Rui membuka sebelah matanya, "Terus untuk apa mamamu ke sini? Aku kira mau ketemu kamu."

"Hah?" Nene ikut bingung, Rui mengerutkan alis, "Siapa yang bilang mamaku mau datang?"

"Tapi tadi kamu bilang Mama―"

"Mamamu, Rui."

"Eh?" Kalau ia punya sedikit saja lebih banyak tenaga, mungkin Rui akan langsung bangkit untuk duduk, tapi karena seluruh tubuhnya sungguhan masih nyeri karena tidur di sofa, ia memutuskan untuk hanya membuka kedua mata.

"Kamu kenapa, sih?" Nene tertawa pelan.

Rui baru sadar ia lupa Nene sudah memanggil Ibu Kamishiro dengan sebutan Mama sejak beberapa bulan lalu.

(Ia puas sekali menggoda Nene saat itu. Ledekan Kamishiro Nene selalu ia lemparkan beberapa hari setelahnya tiap mereka bertemu, dan ia akan tertawa tanpa henti ketika Nene memekik malu dan memukuli punggungnya.)

"Ah―" Ia mengusap muka, menggenggam tangan Nene di sisi wajahnya sambil lalu. "Maaf, aku― lupa."

"You tend to forget things when you're burned out." Ujung jempol Nene mengusap punggung tangannya, "Kamu betulan capek, ya? Ya sudah, tidur dulu sebentar."

Rui hanya menggumam. Matanya baru terbuka ketika ada pergerakan dari sisi Nene. Gadis itu merunduk di atasnya, menahan berat tubuh sendiri dengan kedua tangan di dada Rui. Ujung poninya menggantung di atas ruang pandang Rui, menggelitik kelopak matanya, dan, oh, mata Nene tertutup.

Seluruh tubuhnya masih pegal, betul, tapi untuk yang ini Rui sanggup mengumpulkan tenaga untuk bangkit beberapa senti dari tempat tidur dan mengecup bibir Nene. Pelan, hanya bersentuhan, hanya beberapa detik, tapi hatinya terasa penuh.

Ia kembali menjatuhkan diri ke tempat tidur dengan bunyi bruk halus saat Nene menjauh. Rui memandanginya yang meluruskan kerutan baju dan merapikan rambut sebelum berdiri dan beranjak menuju pintu kamar.

"Hati-hati di jalan."

"Hn. Jangan kesiangan."

Nene tersenyum sebelum menutup pintu perlahan. Beberapa detik kemudian Rui bisa dengar suara pintu depan apartemennya terbuka dan terkunci lagi. Ia membuang napas panjang.

Lipstik Nene hari ini baunya seperti madu.

 

•••

 

Ada fase di mana Nene akan jadi sangat sibuk dan kunjungannya akan jadi beberapa hari lebih lama dari biasanya. Rui tidak pernah mempermasalahkan jangka waktunya, tapi Nene di tengah-tengah jadwal padat bisa bertransformasi jadi super pemarah.

Ia pernah tidak sengaja menjatuhkan vas plastik di meja kerja dan Nene langsung memelototinya habis-habisan. Suasana apartemen langsung tegang seharian. Atau waktu Rui menyisihkan kentang dari sup yang dimasak Nene untuk makan malam ke piring terpisah. Ia masih ingat itu pertama kalinya seumur hidup ia merasa suara Nene jadi sangatsangatsangat menyebalkan karena gadis itu mengomelinya hampir lima menit penuh tentang selera makannya yang kekanak-kanakan dan bla bla bla entah apa lagi yang tidak ia ingat. Nene baru melunak keesokan harinya ketika Rui dengan (tidak terlalu) sukarela makan setengah lembar selada di sandwich sarapan mereka.

Kali ini, kesalahannya adalah lupa mengantar pakaian kotor ke laundri.

Seperti normalnya orang yang sering menginap lainnya, Nene sering meninggalkan barang di apartemen Rui. Awalnya barang-barang kecil seperti alat rias atau buku saku. Lalu kaus dan celana pendek. Sampai ke titik di mana ia bisa datang ke apartemen Rui tanpa membawa apa-apa dan ia akan tetap bisa menginap dengan tenang dan nyaman karena semua keperluannya sudah ada di sana. Mampuslah Rui, karena baju-baju Nene yang ia tinggalkan di apartemen Rui menjadi sekian persen penghuni keranjang laundri yang tidak ia antar itu.

Rui terlambat menyadari mautnya ketika Nene pulang hari itu; wajah sekusut struk belanjaan dan sepatu disimpan asal-asalan. Ia sedang menimbang-nimbang apa sebaiknya ia menawarkan diri untuk masak makan malam agar Nene tidak terlalu kelelahan ketika suara pintu kamar mandi yang dibuka menghantam gendang telinganya. Jantung Rui rasanya jatuh ke dasar perut.

Ia baru ingat sebelum pergi tadi Nene sudah mengingatkannya sedikitnya empat kali untuk turun ke laundri sebelum Nene pulang.

Beberapa saat (yang rasanya seperti beberapa tahun, bagi Rui) kemudian, Nene menendang keranjang berisi pakaian kotor ke luar kamar mandi. Rui berani sumpah wajah Nene terlihat sungguhan ingin membunuhnya dan membakar jasadnya di belakang apartemen saat itu juga, tapi Rui tidak bilang apa-apa. Tidak ada yang bilang apa-apa.

Ketika Nene membanting pintu kamar mandi menutup, barulah Rui berani bernapas. Kantong laundri ia pungut dan akhirnya ia bawa turun ke tempat laundri di lantai dasar sambil berpikir bagaimana caranya agar ia tidak muntah tiap memakan sayuran yang pasti akan dimasukkan Nene ke masakannya beberapa hari ke depan.

 

Malamnya, Rui tersentak bangun. Ia mengusap punggungnya yang pegal sambil meringis dan berpikir sejak kapan ia tertidur. Ada cetak biru di meja dan kertas-kertas berisi sketsa properti panggung yang belum selesai. Melihat dari pena Rotring yang tutupnya entah ada di mana tergeletak di lantai, tebakannya adalah ia tidak sadar terlelap beberapa saat setelah menggambar sketsa.

Baru saja Rui merenungkan lebih baik ia cuci muka dan menyeduh kopi untuk lanjut bekerja atau lanjut tidur saja, suara teriakan frustrasi terdengar dari kamar. Ia serta-merta menoleh, baru ingat semalaman ia belum minta maaf dan sama sekali tidak diajak bicara oleh Nene.

Pandangannya jatuh ke jam dinding di atas televisi: jam dua dini hari. Sebentar. Ia ingat Nene bilang harus pergi ke studio jam tujuh pagi, kenapa jam segini dia masih … bangun?

Senandung teredam bisa ia dengar ketika tiba di depan pintu kamar. Pelan-pelan ia nekat mengetuk daun pintu dua kali, dan suara senandung langsung berhenti.

"Ne?" panggilnya dan nihil jawaban. Ia coba sekali lagi, "Sayang?"

Ada ya pelan yang terdengar dari dalam. Terlalu pelan, sampai Rui berpikir bahwa mungkin saja itu cuma imajinasinya belaka.

"Aku boleh masuk?"

Tidak ada jawaban. Peduli setan! Rui mendorong pintu perlahan, diam sejenak saat pintu terbuka satu inci–masih terang, cahayanya luber ke ruang tamu yang remang, bersiap kalau-kalau Nene melemparinya bantal. Nihil. Sambil menahan kuap, ia akhirnya membuka pintu lebar-lebar.

Nene ada di atas kasur, ditemani lembaran music score dan call sheet yang tercecer di mana-mana. Dari wajah suntuknya, Rui langsung tahu kalau ia belum tidur sama sekali. Setelah entah berapa detik berlalu dan mereka hanya saling tatap seperti orang bodoh, Rui tiba-tiba gelisah sendiri. Kehabisan akal sehat untuk menghadiahi Nene kalimat penenang, ia cuma bisa bertanya, “Mau aku bawakan minum?”

Nene mengangguk.

Ia berdiri di samping tempat tidur tidak lama kemudian, membantu Nene minum sambil mengusap rambutnya ragu-ragu, masih belum yakin apa Nene sudah bisa ia ajak bicara atau belum. Rui baru sadar ia melamun ketika Nene akhirnya merengek pelan, menarik ujung kausnya agar duduk di tempat tidur. Ia menurut, gelas yang masih tersisa setengahnya disimpan di nakas sebelah tempat tidur.

“Kamu oke?” tanyanya ketika Nene memposisikan diri seenaknya di atas pangkuannya.

I feel like shit.”

Rui meringis. Ia bisa melihat wajah Nene lebih jelas saat ini, dan, Tuhan, Nene kelihatan menyedihkan. Matanya setengah tertutup, bulu mata menari enggan tiap kali ia berkedip. Rasa bersalahnya makin menjadi-jadi. “Susah? Kamu mau tidur dulu?”

Nene tidak menjawab apa-apa lagi. Tidak masalah, Rui tahu proyek Nene kali ini cukup besar. Rui juga tahu kalau Nene yang tertekan akan macam-macam persiapan ini adalah sangat manusiawi. Di tengah usahanya untuk tetap terjaga dan menepuk-nepuk punggung Nene yang bergetar dan menyadari bahunya mulai basah, Rui akhirnya memutuskan untuk menjatuhkan diri ke atas kasur dengan Nene di pelukan.

“Ssh. Nanti pagi kita coba lagi.” Ia mengelus tangan kiri Nene, menelusuri jari-jarinya satu persatu selagi isakan Nene makin jelas. “Aku minta maaf, ya. Harusnya aku nggak kayak begitu tadi. Won’t happen again.”

Nene sempat membalas dengan maaf juga sebelum tertidur sungguhan, yang Rui balas dengan ciuman di ujung hidung. Lepas memastikan gadisnya sudah benar-benar pulas, Rui bangkit dari kasur untuk kembali bekerja.

Kalau tidak salah, meteran pitanya ia letakkan di laci perlengkapan yang paling atas.

 

•••

 

Sebentar lagi aku keluar.

Rui membalas dengan mengirim oke sebelum menutup ponsel dan kembali memandangi lobi teater yang masih ramai dilalu-lalangi orang meski sudah hampir tengah malam. Musik masih terdengar sayup-sayup dari teater utama, dan sedari tadi ia sudah disapa oleh sedikitnya empat kru panggung yang kebetulan pernah bekerja bersama rumah produksinya.

Malam ini, Nene akhirnya selesai menampilkan judul teater yang (katanya) jadi sumber segala masalah kehidupannya beberapa bulan belakangan. Adaptasi musikal dari La Llrona, yang cukup jauh dari genre yang biasa Nene mainkan. Tetap saja, Nene meniti panggung layaknya kupu-kupu. Lampu sorot yang membingkai tubuhnya membuatnya terlihat bersinar. Lagu-lagu yang Nene nyanyikan mungkin sudah Rui dengarkan ratusan kali, tapi ia, di kursi VIP, tetap memandangi Nene sepanjang pertunjukan sambil tersenyum mirip orang idiot. Rasanya seperti kembali ke masa ia berusia enam dan baru mendengarkan Nene bernyanyi untuk pertama kalinya.

Ketika tirai diturunkan, ada jeda beberapa ketukan sebelum audiens berlomba bertepuk tangan, seakan baru saja lepas dari hipnotis. Bohong kalau Rui bilang ia tidak mendengus bangga ketika mendengar penonton di kanan-kirinya memuji dan memuja Nene seolah gadisnya baru saja menyelamatkan peradaban manusia.

“Rui!”

Panjang umur, bintang panggung hari ini memanggilnya begitu keluar elevator, kedua tangan penuh tas-tas kertas yang isinya entah apa dan buket bunga berbagai rupa. Rui mengambil sebagian besar bawaannya begitu Nene sampai di hadapan, meninggalkan Nene dengan satu tas kertas yang paling kecil.

“Itu,” Rui memotong sebelum Nene sempat protes, menunjuk sofa yang tadi didudukinya dengan dagu. Nene mengikuti arah pandangannya. “Buatmu. Maaf, ya, masih ada yang belum mekar. Aku salah hitung, ternyata.”

Nene mengerjap. Meraih buket yang dibungkus kertas ungu tipis itu ragu-ragu, senyum asimetris ditempel di muka. “Ini –masa … dari kebun kamu di rumah Mama?”

“Hehe. Kamu kira kenapa aku telat masuk tadi?”

Nene memandanginya tidak percaya dari balik buket. Rui mengangkat bahu. Menghitung sekali lagi dalam hati, memastikan, satu, dua … tepat sembilan mawar. Tiga di antaranya belum mekar sempurna, tapi ia yakin Nene tidak keberatan. Malah, mungkin ada setengah menit Nene diam memandangi mawarnya, sebelum akhirnya tertawa ringan dan menepuk-nepuk lengan Rui malu-malu. “Yah, hahah,” tarikan napas, “–makasih, ya, sudah jauh-jauh demi aku.”

“Jangan nangis, dong,” ledek Rui, satu tangan berusaha merangkul Nene yang protes setengah hati ketika Rui menumpu sebagian berat badan padanya sambil berjalan terseok menuju parkiran. Memberi salam pada petugas lobi dan satpam, Nene akhirnya mendorong Rui menjauh ketika mereka berpapasan dengan kolega Nene di area parkir. Rui terbahak-bahak, “Kamu lapar, nggak?”

Satu tatapan sinis dilempar, “Mau makan?”

Dan dibalas senyum belagu, “Ayo.”

Matahari akhirnya terbit di wajah Nene. Ia mengangguk dan berlari lebih dulu ke kursi penumpang mobil yang baru saja di-unlock. Rui mengetuk jendelanya kemudian, memberikan kunci mobil dan meminta Nene menyalakan mesin sementara ia menyimpan barang-barang Nene di bagasi. Nene memekik protes ketika Rui menarik salah satu bunga dari buket pemberian manajernya, tapi kemudian semua komplainnya meleleh menjadi kikik salah tingkah ketika Rui menyelipkan bunga tersebut ke jalinan rambut tepat di atas telinganya.

Bagasi terbuka, dan Rui menatap bagian belakang kepala Nene dari bagasi sambil menghela napas. Buket di sini, tas kertas di sini …. Sejujurnya ia bukan telat masuk karena pulang ke rumah orang tuanya. Ini apa? Ah, kue. Jangan ditimpa. Mamanya sudah marah-marah jam sepuluh pagi tadi karena Rui datang tanpa aba-aba dan langsung pulang setelah ‘panen’ bunga. Nene sejak dua hari yang lalu sudah menginap di teater, jadi kalaupun ia berbohong, Nene tidak akan tahu. Boks apa ini? Bisa ditimpa? Nyatanya, alasan ia telat adalah janji dengan sebuah outlet yang ternyata memakan waktu lebih lama dari dugaan. Tas Nene agak berat. Lebih baik diletakkan di-BRUK. “AH!”

“Hah! Kenapa?” Nene menoleh, kaget dengan teriakannya yang tiba-tiba.

Rui menggeleng, berharap senyumnya tidak kelihatan patah selagi ia membetulkan posisi tas Nene, “Barangku jatuh. Bukan apa-apa.”

Nene ber-ah pelan sebelum kembali menghadap ke depan, tapi jantung Rui rasanya bisa meloncat keluar dari tenggorokan kapan saja. Nene tidak tahu kalau barang yang jatuh tadi adalah kantong kain kecil dari satin, yang sekarang digenggam Rui erat-erat dengan tangan gemetar. Alasan keterlambatannya tadi. Rui amat sangat bersyukur lahan parkir ini remang luar biasa.

Kantong satin ia selipkan ke dalam tasnya sendiri sebelum menutup pintu bagasi. Napas terhela berat sebelum masuk ke kursi pengemudi, masih gugup setengah mati.

 

•••

 

Rui menutup pintu kamar di belakang punggungnya suatu Jumat. Ada Nene di kursi dapur, bernyanyi tipis-tipis ditemani suara gerimis teredam dari luar. Ia masih libur selepas pertunjukan kemarin, dan memutuskan untuk menginap di apartemen Rui.

"Ada apa?" tanyanya begitu Rui berjongkok di sebelahnya. Barangkali heran kenapa pacarnya tidak duduk di kursi seperti orang normal lainnya jika hanya ingin menemaninya di dapur, jadi ia putuskan bahwa pasti ada sesuatu yang terjadi.

Rui menggeleng, berusaha menjaga kontak mata meski sia-sia. Nene mendengus, meraih kepala Rui dan mendekapnya ringan, berusaha untuk tidak tertawa geli ketika napas Rui terasa hangat di perutnya.

"Kamu mau cerita apa?" tanyanya lembut dan Rui hampir kabur dan mengurung diri di kamar karena kewalahan dengan puluhan emosi yang tiba-tiba meluap ke permukaan.

"Aku," Suaranya tercekat. Rui mencari ketenangan dengan mengubur kepalanya lebih dalam ke perut Nene, "boleh bicara?"

"Ya?"

Ada jeda hening yang lama sebelum akhirnya ia berkata dengan suara yang, mengejutkannya, lebih mantap dari dugaan. "Apartemenku terlalu kecil untuk kita berdua."

Tangan Nene yang mengurai rambutnya langsung berhenti. Jeda hening lagi dan Rui meringis dalam hati, terburu-buru melingkarkan kedua lengan di pinggang Nene tanpa mengangkat wajah sebab baru sadar kata-katanya barusan bisa disalahpahami. Nene berdeham sekali, "Kalau kamu terganggu―"

"Bukan," potongnya cepat. “Aku selalu senang kalau kamu datang, tapi ini sejatinya memang apartemen untuk satu orang."

"Mmm ... lalu?"

Satu, dua tarikan napas, "Kamarnya cuma satu dan aku harus tidur di sofa tiap kamu menginap. Bukannya aku keberatan, sih. Selagi kamu nyaman, aku nggak masalah sama apa pun. Tapi apa kamu nggak merasa apartemen ini terlalu kecil?"

Nene masih siaga, tapi jarinya sudah kembali berlarian di rambut Rui, “Aku masih nggak paham kamu mau bicara apa ...."

"Sebentar, Nene. Dengarkan aku dulu," potongnya, “Aku pikir … mungkin kita bisa pindah ke apartemen yang lebih besar. Kita bisa cari di antara studiomu dan rumah produksiku. Apartemen untuk dua orang. Mungkin tiga, mungkin juga empat. Tapi kalau kamu mau cuma berdua, I'll still be happy to comply.

Kita bisa bawa Nenerobo dari apartemenmu. Kamu pernah bilang mau pelihara kucing, kan? Kita bisa cari apartemen yang mengizinkan hewan peliharaan. Atau kita juga bisa cari rumah," Rui tersedak napas sendiri, "jadi aku juga bisa punya kebun. Tapi itu–diskusi untuk lain hari."

Rui merasakan kausnya diremas, dan ia tidak yakin ekspresi seperti apa yang ada di wajah gadisnya, tapi sepertinya tubuhnya sedikit bergetar di pelukannya. Kotak beludru di dalam kantong satin di saku celananya tiba-tiba terasa berat sekali; menusuk kulitnya penuh urgensi.

Rui menemukan Nene yang matanya berkaca-kaca ketika ia akhirnya memberanikan diri untuk mengangkat wajah (dan, hei, kaus Nene masih kering, yang artinya dia tidak kelepasan menangis di pelukan Nene). Sebelum keberaniannya habis dan ia tergoda memutuskan kontak mata, Rui meraih wajah Nene dengan satu tangan.

"Kusanagi Nene, do you want to move to a bigger apartment with me?"

 

 

•••

 

Notes:

post-notes (yang 'agak' penting):
title: (inspired by 1/6 out of gravity by vocaliodP) fun fact!!! gravitasi bulan sama dengan seperenam gravitasi bumi. a) rui is often associated with the moon. b) familiar with the saying “i love you to the moon and back”? :]
meteran pita: in case you missed it … sebelum nenenya tidur rui megang tangan kiri which is tangan tempat cincin dan cincin sebelum dibikin harus diapain adek-adek? yabetul, diukur.
rui’s bouquet: 9 roses means “i want to be with you forever” jadi sbnrnya dari sini udah dilamar guys lol tp nenenya gapaham.

post-notes 2 (yang gak penting-penting amat):
• spt yang kalian liat settingnya vague banget makanya aku bingung ini masuknya canon apa au yak HHHHH tapi yaudah setting sesuai kepercayaan masing-masing aja
• sorry for the bahasa jaksel aku ada hc rui eventually bakal kerja sama international prodhouse n sering ngomong belepotan bahasa and nene picks up that habit… hehe

post-notes 3 (gak penting isinya yapping):

hoek /mati cringe/

lollll halo semuanya its been ages since i last wrote for them :/// sbnrnya ini fik udah mengendap di draftku dari tahun lalu terus niatnya mau dipolish buat publish di ultah rui tapi a-aku malas bingit ^__^….. kemalasan ini pun berlanjut sampe ke tanabata -> ultah nene -> ACCEPTANCE STAGE “udahlah emang mending kagausah dipublish” -> aku mendapat ilham di suatu hari karena kalah JUDI gacha-> fik selesai yaaaaaay (gak ada yang peduli juga sih)

ANYWAYS!! happy to contribute again karena aku BETULAN kangen mereka (nene focus KAPAN anjir awas ya lu KARAFURU PARETTO) n semoga fik ini gak terlalu krinj for your tastes ;,) huhuhu aku syg bgt sm mereka gusy plis semoga kalian bahagia selamanya ok ;,((((

terima kasih sudah mampir &&& any feedbacks would be vv appreciated <33 loveeeeyou all hihihi (menghilang dgn efek asap)