Work Text:
“K-Kak,” Melanie menarik baju seragam kakak kelasnya, memegang senter dan disorot sembarang arah. Sekolah mereka sedang mengadakan malam keakraban untuk anak kelas satu dan kelas dua. Semua anak kelas satu wajib berpartisipasi, sedangkan kelas dua hanya diikuti oleh mereka yang berminat—Shaw satu diantaranya. Tentu saja alasannya karena sang gebetan ada di kelas satu. Tidak perlu bercerita panjang bagaimana ia bisa jatuh hati dengan anak kelas satu dari Departemen Sastra itu, ia sedang mencari jalan keluar dari lorong sekolahnya yang digunakan untuk area jerit malam.
Jerit malam termasuk agenda malam keakraban di SMA PAW. Sangat-sangat merepotkan karena mereka harus mencari jalan keluar dan mencari secarik kertas merah lalu menyelesaikan perintah yang tertera pada kertas. Semua perintah sudah dilakukan, tinggal mencari jalan keluar. Sudah berapa kali mereka mendengar suara teriakan baik dari perempuan maupun laki-laki, semakin membuat Melanie mendekat pada kakak kelasnya. Shaw tidak tahu kalau adik kelasnya ternyata seorang penakut. Di kala kebosanan melanda karena tak mendapat jalan keluar Shaw mengerjai adik kelasnya itu, melihat reaksinya dan menertawakannya. Namun, karena gadis tersebut hampir menangis (tentu sebabnya adalah Shaw) ia tidak melakukannya lagi.
“K-Kakak yakin ini jalannya?” tanya sang gadis, membuat Shaw mendecak. Dia memang menggemaskan karena selalu mengeluh dan terlihat tidak yakin dengan kakak kelasnya—mengingat mereka sudah berapa kali memutar di jalan yang sama. Apalagi sekarang Melanie tidak mau melepas cengkramannya dari seragam Shaw, berjalan begitu dekat hingga tiada celah di antara mereka. Bagaimana tidak? Gadis itu sudah berapa kali dikejutkan dengan properti hantu sampai memukulnya dengan menutup mata tanpa memedulikan benda tersebut rusak. Meskipun hanya boneka, dia tidak peduli. Dia ingin semua benda itu lenyap dari pandangannya.
“Yakin, ikut aja.” Shaw menjawab lalu menyeringai. “Kalau kau jalannya jauh sedikit bakal kutinggal loh.”
Mendengar hal tersebut membuat Melanie semakin mempertipis jaraknya pada Shaw, membuat lelaki itu terkekeh. Dia tak masalah kalau tersesat berdua dengan adik kelasnya, toh melihat sang gadis menempel padanya karena takut semakin membuatnya ingin mengerjai Melanie.
Di saat mereka melangkah, sebuah tepukan di bahu Melanie membuat gadis itu membatu. Kakinya pun berhenti, tidak memiliki keberanian untuk berjalan. Genggamannya pada seragam Shaw mengerat, sang lelaki yang sadar menghentikkan langkahnya dan menoleh. Ia mendapati Melanie termangu karena sebuah tangan menyentuh bahunya.
“K-K-Kak, i-ini apa,” ucapnya takut, sama sekali tidak ingin bergerak. Melihat hal tersebut membuat Shaw mengernyit, ia segera melayangkan tinjunya pada makhluk tak jelas (yang sudah menyentuh gebetannya) hingga menimbulkan bunyi ‘ buagh ’ cukup keras. Melanie mendekatkan tubuhnya pada Shaw, menyorot senter pada makhluk—yang ternyata seorang manusia—mengusap pipinya karena baru saja ditinju oleh Shaw.
“Sakit, sialan,” umpat orang tersebut—kemungkinan lelaki jika didengar dari suaranya. “Ternyata kau seagresif ini saat bersama gebetanmu.”
“Ya maaf, manusia ternyata.” Shaw menjawab enteng. Ia juga menjulurkan lidah pada teman seangkatannya yang sedang menyamar sebagai hantu—mengejeknya. Melihat itu pun membuat perempatan muncul di dahi sang lelaki. Namun sebelum ia membalas Shaw, Melanie tiba-tiba berteriak dan menyembunyikan wajahnya di punggung Shaw membuat sang lelaki mengernyit.
“ Ngagetin aja,” keluhnya. “Kau lihat apa?”
Melanie gemetaran. Ia menggeleng, tidak mau menjawab. “A-Ayo kita keluar.”
“Gak mau. Hantu yang kau lihat belum aku temuin.”
“D-Dia muncul di jendela!”
“Ciri-cirinya?”
Gadis itu menyembulkan kepala dari punggung Shaw. Matanya berkaca-kaca, entah benar atau tidak yang baru saja dilihatnya tetapi sosok tersebut benar-benar mengerikan. “M-Matanya merah … dia tersenyum lebar ke arahku.”
“Oh~” Shaw merebut senter dari tangan Melanie, menggendong gadis itu di punggungnya—membuat Melanie refleks berteriak karena kaget—lalu menyorotkan senternya ke arah jendela dimana adik kelasnya melihat makhluk tersebut. Wajahnya terlihat bersemangat, meski penerangan di sekitar benar-benar minim dengan senter di tangannya ia pun dapat bergerak leluasa. “Hei, adik kecil, pegang erat-erat ya,” Shaw mengingatkan diiringi seringai di wajah. “Malam ini kita berburu hantu!”
