Work Text:
"Sayang sekali. Padahal aku lebih senang kalau kau lebih lama menahanku. Selamat tinggal, Rangiku. Maafkan aku"
Rangiku tiba-tiba terbangun malam itu. Beberapa hari setelah kematian Gin, ia masih memimpikannya. Memimpikan kenangan-kenangan mereka. Termasuk memimpikan saat-saat Gin mati di hadapannya dan ia meneteskan air mata untuk teman masa kecilnya itu.
Rangiku tak bisa menilai apakah mimpinya buruk atau tidak. Meski mimpinya tentang Gin bukanlah mimpi yang indah, namun setidaknya Rangiku tahu. Gin yang jauh di alam sana, nyatanya masih berada dekat di hati Rangiku.
Jadi, jika seseorang bertanya, apakah Rangiku bahagia sepeninggal Gin? Tidak juga.
Rangiku adalah yang paling kehilangan Gin saat ini. Untuk ketiga kalinya, Rangiku ditinggal pergi oleh Gin. Kepergian Gin yang ketiga inilah yang pada akhirnya membuat Rangiku mati rasa, sebab Gin meninggalkannya untuk selamanya.
Mungkin Rangiku sadar Gin menyimpan rasa padanya. Rangiku sendiri tak menyangkal bahwa ia juga menyimpan sekelumit rasa untuk mantan Kapten Divisi 3 itu. Namun, selagi tak ada kata cinta untuknya terucap dari mulut Gin, Rangiku tak bisa memperkuat dugaannya.
Jika benar perasaannya untuk Gin adalah cinta, maka selepas kepergian Gin, hati Rangiku mati rasa untuk mencinta
Jika memungkinkan, Rangiku ingin pergi ke masa lalu, melihat memori masa lalunya dengan Gin dan tak akan kembali. Masa itu dirasa lebih baik, sebab di waktu itu mereka masih hidup bersama tanpa ada hal yang perlu dikhawatirkan selain apa yang harus mereka makan besok untuk menyambung hidup.
Ia rindu mengumpulkan buah kesemek dan memakannya berdua bersama Gin. Ia rindu masa-masa di mana ia dan Gin masih bisa bebas berbincang dan menikmati setiap detik interaksi keduanya. Mungkin, kondisi kehidupan mereka saat itu tidak sebaik saat mereka sudah sama-sama menjadi shinigami. Tapi setidaknya, mereka ada untuk satu sama lain dan tidak perlu berpura-pura tidak saling kenal dan bertegur sapa dengan formal seolah tak pernah ada hubungan apa-apa di antara keduanya.
Berbeda dengan Gin yang dijemput ajalnya, Rangiku melanjutkan hidupnya bersama teman-teman dekatnya di Seireitei. Ia menghabiskan banyak waktu bersama mereka dan merasa senang. Meski begitu, Rangiku tak menyangkal bahwa ada ruang hampa di hatinya.
Ruang hampa yang tak bisa diisi siapapun. Kecuali Ichimaru Gin.
Malam itu, Rangiku mengenang Gin seraya meneteskan air matanya perlahan. Masih terbayang jelas di pikirannya Gin yang sekarat dan penuh darah perlahan meninggalkannya. Tanpa sepatah kata pun.
Rangiku mulai bertanya pada dirinya. Mau sampai kapan ia meratapi kepergian Gin? Apakah ia akan selamanya bersedih karena Gin? Apakah mungkin ia harus menyusul Gin ke alam sana?
Semalam penuh, Rangiku terus merenungkannya sembari masih meratapi Gin. Menjelang pagi, ia terlelap dengan raut wajah yang sendu. Menyongsong hari dengan hati yang masih dilingkupi kesedihan.
***
"Matsumoto"
"Ya, Hitsugaya-taichou?"
"Tak biasanya aku melihatmu murung"
Rangiku tertangkap basah. Hitsugaya mungkin memang dingin dan kaku, namun ia cukup peka untuk bisa membaca suasana hati Rangiku yang sedang tak baik. Rangiku buru-buru mengubah ekspresi sendunya menjadi ceria. Tentu Hitsugaya tak bodoh. Ia telah mengenal letnannya itu berpuluh tahun sehingga bisa membedakan mana ekspresi ceria yang biasa ia tunjukkan dan mana yang dipaksakan.
"Ah, Taichou! Aku tidak—"
"Jangan membohongiku, Matsumoto! Aku tahu kau sedang tidak baik-baik saja" Tegas Hitsugaya.
Hening. Keduanya diam. Tanpa Rangiku harus mengaku, Hitsugaya tahu tebakannya benar.
"Matsumoto, temani aku berlatih" Pinta Hitsugaya dengan nada datar yang biasanya.
"Tak biasanya, Taichou?" Tanya Rangiku. Ia tahu dibandingkan dengannya, Hitsugaya masih lebih rajin berlatih. Tapi biasanya, Hitsugaya lebih suka berlatih sendirian.
"Ikut aku, Matsumoto. Aku tahu kau butuh pergi keluar sejenak"
Usai percakapan singkat itu, sepasang kapten dan letnan itu pergi meninggalkan posnya.
***
Di dalam sebuah gua, Hitsugaya terus berlatih tanpa beristirahat. Mencari celah kelemahan demi menyempurnakan bankai miliknya. Setelah insiden di mana Hitsugaya secara tidak sadar menikam Hinamori Momo, ia merasa bersalah dan masih belum cukup kuat untuk bisa melindungi Seireitei dan orang-orang di sekitarnya.
Selagi Hitsugaya sibuk berlatih, Rangiku menunggunya di dekat jalan masuk gua. Serpihan kristal es yang dihasilkan oleh bankai Hitsugaya terkadang keluar dari gua.
Di luar gua, Rangiku kembali teringat Gin. Matanya seolah menangkap bayangan Gin yang memunggunginya dan pergi semakin jauh. Tangannya mencoba meraih bayangan Gin, namun sia-sia. Gin yang dilihatnya saat itu hanyalah sebuah fatamorgana. Rangiku pun kembali menangis.
Rangiku membenci Gin yang selalu pergi tanpa berpamitan. Namun jika saja Gin meninggalkan sebuah jejak untuknya, atau setidaknya sebuah ucapan selamat tinggal, maka Rangiku tak akan mampu untuk terus melanjutkan hidup, sebab ia akan terus teringat kenangannya dengan Gin.
Setidaknya, Rangiku masih bisa terus bertemu dengan Gin setiap kali ia mengingatnya kembali, bukan? Secara tersirat, Rangiku bisa paham bahwa Gin ingin ia melanjutkan hidupnya meski tanpa kehadiran lelaki itu. Terus hidup tanpa perlu terus terikat dengan masa lalu mereka.
