Actions

Work Header

INTERTWINED

Summary:

Jika kau benar-benar ada bersamaku, maka itu lebih dari cukup.

Day 5 of #WinBreWeek2024 - Holidays, Holding Hands.

Notes:

Halo!

Berikut beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum membaca cerita ini:
-Cerita ini FIKSI belaka, tidak berhubungan dengan kehidupan nyata.
-Karakter yang digunakan pada cerita ini merupakan milik Nii Satoru (Wind Breaker).
-Ditulis menggunakan bahasa Indonesia. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan pengetikan (typo) meskipun telah diusahakan untuk menyesuaikan dengan EYD V dan KBBI.
-Cerita ini dipublikasi secara gratis untuk mengikuti event #WinBreWeek2024, penulis tidak mengambil keuntungan apa pun dari penulisan cerita ini.
-Cerita ini sedikit Out of Character (OOC).
-Cerita ini terinspirasi dari lagu Orion by Kenshi Yonezu.
-Jika cerita ini dirasa tidak sesuai dengan selera pembaca setelah melihat tagsnya, mohon diabaikan saja, ya. DLDR.

Semoga terhibur, ya.
Selamat membaca!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Tepat pukul 12 siang, matahari terasa terik. Sakura sudah memakai topi yang diberikan oleh Umemiya tadi pagi setelah sebelumnya ditinggalkan di atas kasur. Bahkan ia juga mengaplikasikan ulang tabir surya di bagian tubuhnya yang tidak tertutup. Sedangkan Umemiya terpaksa harus mengganti kausnya lagi yang penuh dengan keringat usai bermain voli pantai bersama rekan setimnya, yaitu Sugishita, Suō, dan Mizuki, melawan tim Hiiragi yang beranggotakan Kaji, Tsubaki, dan Momose. Padahal sebelumnya Umemiya juga sudah berganti kaus karena dipenuhi pasir pantai akibat mencari sandalnya yang hilang.

Rasa-rasanya Sakura masih ingin mentertawakan momen yang terjadi satu setengah jam yang lalu itu. Lucu sekali. Meskipun pada akhirnya Sakura ikut membantu Umemiya membersihkan rambutnya sampai berjinjit-jinjit. Untungnya saja Umemiya segera berjongkok supaya Sakura bisa lebih leluasa.

Sakura pun tidak menyadari jika Umemiya tak bisa menyembunyikan rasa senangnya karena diberi perlakuan yang spesial seperti ini. Sebab Sakura terus fokus membersihkan bagian kepala dan pundak Umemiya sampai akhirnya menepuk-nepuk tangannya sendiri karena pekerjaannya telah selesai. Penampilan Umemiya sudah lebih mendingan daripada sebelumnya, pikir Sakura.

Dan, di sinilah ia sekarang, di beranda vila sambil duduk bersedekap menunggu Umemiya dan juga memandangi dua ekor kelomang yang disimpan Umemiya dalam akuarium kecil. Akuarium itu memang semula terpajang di ruang tamu vila dan hanya berisi batu karang yang sepertinya asal saja digunakan sebagai penghias ruangan.

Umemiya tampak serius mengajak Sakura untuk merealisasikan niat mereka yang terkesan main-main, yaitu memelihara kelomang selama berlibur di Pantai Makochi ini.

Di dalam akuarium tersebut sudah Umemiya isi dengan pasir pantai, air bersih di dalam wadah kecil untuk diminum oleh kelomang, dan juga selembar selada hijau.

Sakura tersenyum mengamati pergerakan hewan mini tersebut. Benar-benar imut, apalagi mata yang mereka miliki hanya terlihat seperti dua titik noda hitam saja.

Bagaimana rasanya hidup menjadi kelomang, ya?

Setiap hari hanya merangkak ke sana-kemari, makan, bersembunyi, dan mengganti cangkang saat sudah waktunya. Haha, lucu sekali memikirkannya. Pasti kalian juga tidak merasa pusing memikirkan masa depan, ya, kan?

Irinya.

Saat Sakura masih asyik dengan pikirannya sendiri, tak lama kemudian Umemiya datang menghampirinya sambil menyunggingkan senyum. “Ayo! Aku sudah siap!”

“Hmmm. Lama sekali!” keluh Sakura.

“Maaf,” ucap Umemiya seraya menyentuh kepala Sakura yang tertutup oleh topi.

“Lagi pula kau bawa kaus berapa banyak, sih? Padahal kau masih bisa memakai kaus yang tadi.”

“Hmm … 8 sepertinya?”

“Hah? Banyak sekali.”

Umemiya tersenyum. “Karena aku ingin tetap terlihat rapi di depanmu walau hanya sekadar mengenakan kaus, Sakura.”

Sakura menggelengkan kepala dan bangkit dari tempat duduknya. Kemudian ia memegang akuarium yang berisi kelomang tersebut.

“Mau dibawa akuariumnya?”

“Menurutmu?”

“Sini, aku saja yang bawa.”

“Aku saja. Kita ganti giliran setelah aku merasa lelah.”

Umemiya mengangguk dan tersenyum. “Baiklah kalau begitu.”

Lantas mereka berjalan menjauhi vila. Mereka harus menyusul teman-teman lainnya yang sudah lebih dulu berangkat ke kafe untuk makan siang.

Sepanjang jalan Umemiya menceritakan pengalamannya saat bekerja paruh waktu di kafe tersebut tahun lalu. Katanya dia bertugas untuk menyiapkan bahan makanan. Mulai dari memilih sayuran segar, membersihkannya, memotong-motong, dan menempatkannya di berbagai wadah yang sudah disediakan. Jika kondisi dapur sedang benar-benar sibuk, dia bersama Hiiragi pun ikut membantu memasak atau sekadar melakukan plating sebelum makanan tersebut dihidangkan kepada pelanggan.

“Jadi, kau bisa masak?”

“Tentu saja!” jawab Umemiya bangga. “Kau ingin mencoba makanan buatanku?”

“Yah, siapa juga yang akan menolak bila diberi makanan gratis?”

Pipi Sakura bersemu setelah merespons seperti itu. Lantaran dalam kepalanya sekilas terlintas bagaimana kiranya penampilan Umemiya jika sedang sibuk memasak di dapur. Tetapi, seketika saja ia menggelengkan kepalanya dan tersandung kakinya sendiri.

Beruntung Umemiya tidak pernah melepaskan pandangannya dari lelaki mungil itu. “Oops! Hati-hati, Sakura,” ujarnya seraya menahan tubuh sang lelaki.

Sakura segera mengangkat tinggi-tinggi akuarium yang ia bawa. “Wah …,” ucapnya. Wajah Sakura berubah panik sebab air minum untuk kelomang mereka tumpah dan membasahi pasir di dalam akuarium. Kedua kelomang pun langsung bersembunyi di dalam cangkang.

Lantaran Sakura terlihat sangat panik, sontak Umemiya meraih akuarium tersebut dan mengecek kondisinya. “Tidak apa-apa. Nanti kita isi lagi airnya, ya. Ayo, jalan lagi. Kita sudah hampir sampai.”

Akan tetapi, Sakura masih bergeming di tempatnya. Seperti masih terkejut dengan kejadian yang baru saja terjadi.

Umemiya sedikit kebingungan karena baru pertama kali dirinya melihat Sakura seperti ini. Padahal ini termasuk hal yang sepele, tetapi kenapa Sakura terlihat sangat memikirnya? Apakah dia merasa bersalah? Atau bagaimana, pikir Umemiya. Lantas ia pun mencoba menyejajarkan pandangannya dengan Sakura. Ditatapnya lekat-lekat dua bola mata berbeda warna itu dan tak lama kemudian sang empunya bola mata mengalihkan pandangan. Pipinya merona, bahkan pundaknya terlihat bergetar.

Umemiya semakin merasa bingung hingga ia meletakkan akuarium di sebelah kakinya. Ia melepas topi Sakura dan mengelus puncak kepalanya. Umemiya pun berusaha membuat Sakura mau menatapnya kembali dengan berkata, “Aku izin pegang tanganmu, ya? Supaya kau tidak tersandung lagi.”

Mendengar hal tersebut membuat Sakura mau tak mau menoleh ke sumber suara. Ia pun mengangguk saja sebab merasa sulit untuk berkata-kata.

Kemudian Umemiya memasangkan kembali topi Sakura dan meraih tangan kiri lelaki mungil itu, sementara tangannya yang lain digunakan untuk membawa akuarium berisi kelomang.

Mereka nyaris berjalan dalam diam. Namun, lagi-lagi Umemiya-lah yang memecah keheningan. “Jangan terlalu dipikirkan, ya. Kelomangnya tidak kenapa-kenapa, kok. Justru aku jadi sedih melihatmu yang mendadak diam seperti ini, Sakura,” ujarnya, tetapi sang pemilik nama tidak menghiraukannya. “Sakura … Haruka …,” ucap Umemiya lagi dengan suara yang sangat lembut.

Lantas Sakura menghentikan langkahnya dan Umemiya mau tak mau berhenti juga. “J-Jangan panggil namaku begitu,” ujarnya pelan.

Umemiya mengernyitkan alisnya. “Kenapa?”

“Malu!” teriaknya dengan wajah yang merona hebat. Segera saja Sakura mengurai tautan tangannya dengan Umemiya dan berlari ke meja di luar kafe yang diisi oleh Suō dan Nirei.

 

🍅🌸

 

Jika boleh memutar waktu ke saat masih berada di beranda vila, pasti Sakura akan menerima saja tawaran Umemiya untuk membawa akuarium berisi kelomang itu. Sakura menyesali sikapnya yang terlalu antusias dan merasa mampu melakukan hal seremeh membawa akuarium kecil.

Lantaran sudah lama sekali sejak terakhir kali ia bermain bersama hewan yang bisa dijadikan piaraan. Ketika masih berada di sekolah dasarlah tepatnya dan sang bibi yang membantunya merawat kucing kecil yang tidak sengaja ia temukan di pinggir jalan saat pulang sekolah. Cuaca kala itu sedang hujan deras, Sakura pun memakai jas hujan berwarna kuning beserta sepatu botnya yang berwarna serupa. Dan, jemari mungilnya juga memegang sebuah payung kecil transparan yang memiliki gantungan bertuliskan nama lengkapnya.

Awalnya Sakura hanya ingin meninggalkan payungnya saja di sana, sebab ia tidak tahu bagaimana caranya merawat kucing. Namun, di sisi lain ia merasa kasihan melihat kucing kecil di dalam kardus yang kuyup akibat guyuran hujan.

Bibinya terkejut bukan main saat mendapati keponakan satu-satunya bersusah payah membawa kardus sambil menahan gagang payung dengan cara memiringkan kepalanya. Hampir saja Sakura dimarahi, tetapi sang bibi urung melakukannya tatkala telinganya mendengar suara mengeong. Mereka akhirnya merawat kucing tersebut hingga Sakura hampir masuk SMP dan Sakura pikir ia akan bisa terus bersama kucing itu selamanya. 

Nahasnya, setelah hampir tiga tahun mereka bersama, si kucing tertabrak oleh mobil jasa pengangkut barang yang sopirnya tidak menyadari keberadaan hewan berbulu tersebut di jalan. 

Saat Sakura mendengar kabar kematian kucingnya yang tiba-tiba, ia langsung menyalahkan dirinya sendiri. Karena sepertinya penyebab si kucing keluar rumah adalah pintunya yang tidak tertutup rapat ketika Sakura terburu-buru untuk pergi ke sekolah. Sakura menangis sejadi-jadinya dan sang bibi sangat kesulitan saat menenangkannya. Tatkala sang bibi menawarkan untuk mengadopsi kucing lain dari tempat penampungan hewan, Sakura pun menolaknya. Lantaran bagi Sakura hanya kucing itulah yang paling berharga dan benar-benar ia sayangi sepenuh hatinya.

Kucing itu adalah teman, keluarga, dan segalanya baginya. Tidak ada yang bisa ia banggakan pada semesta selain betapa menggemaskannya kucing yang ia pelihara. Tidak ada yang bisa ia pamerkan selain betapa baiknya sang bibi yang mengizinkan bahkan membantunya mengurus kucing tersebut, di saat anak-anak seumurannya selalu membangga-banggakan apa yang mereka dapatkan dari orang tua mereka. Sakura tidak sama, apa yang ia alami berbeda, dan tidak seorang pun paham dengan apa yang ia rasakan.

Lantas sejak saat itu, Sakura tidak ingin memelihara hewan apa pun lagi. Sebab ia tidak ingin pengalamannya merasa kehilangan terulang kembali. Rasanya sangat menyesakkan.

Hanya saja, tatkala dirinya melihat Umemiya yang begitu serius mencarikan kelomang bahkan dicari yang paling bagus menurutnya, Sakura hanya bisa terdiam dan tidak mengutarakan penolakan. Sakura tidak ingin raut wajah Umemiya yang tampak bahagia dan bersemangat seketika berubah menjadi sendu dan memancarkan kekecewaan.

Sakura tidak ingin mata yang memancarkan kelembutan itu seketika menghilang. Meskipun dalam hati Sakura masih terasa tidak nyaman tatkala mengingat hal yang sengaja dilupakan.

Jika Umemiya tidak berada di sana saat dirinya hampir terjatuh dan berakhir memecahkan akuarium yang ia bawa, pasti Sakura akan menangis. Pasti Sakura akan merasa dirinya memang tidak becus untuk berurusan dengan makhluk hidup lain, terlebih yang berukuran sangat kecil.

Akan tetapi, Umemiya berbeda. Umemiya sangat bisa diandalkan dalam hal apa pun. Umemiya sangat telaten dan cekatan. Umemiya sangat perhatian. Umemiya betul-betul terlihat seperti bintang yang bersinar terang di dalam hati Sakura yang selalu bergejolak dengan rasa sepi hingga menciptakan badai di dalam kegelapan.

Sakura bingung setengah mati harus bagaimana mendefinisikan perasaannya yang kini terkesan mudah terombang-ambing padahal belum genap satu hari mereka lalui bersama. Jarinya, hatinya, matanya, semuanya benar-benar menghipnotis Sakura.

Mengapa bisa ada manusia sesempurna dia?

Ya Tuhan … aku memanglah bukan makhluk yang religius. Tetapi, setidaknya Kau bisa memberiku sebuah pencerahan. Mengapa tiba-tiba saja aku merasa jika dia selalu ada di sampingku, maka aku sudah merasa cukup?

Dari mana datangnya perasaan semacam itu, Ya Tuhan?

Bagaimana bisa?

Bahkan jika dia adalah bintang, aku pun ingin membentuk rasi bintang bersamanya di langit dan mencerahkan dunia ketika malam tiba.

Ah, sial! Sepertinya aku berpikir terlalu jauh. Karena kalau diingat-ingat kembali hubungan kami hanyalah berstatus pacar percobaan.

“Sakura! Astaga larimu cepat sekali,” ujar Umemiya tersengal-sengal dan ia pun meletakkan akuariumnya di atas meja.

Sakura hanya mengerlingkan matanya dan mendudukkan diri di samping Nirei.

Kemudian Umemiya berjongkok di hadapannya. “Maaf. Maafkan aku. Aku janji tidak akan melakukannya lagi tanpa persetujuanmu.”

Suō dan Nirei saling bertatapan dengan bola mata yang membesar, mereka keheranan sebab tidak mengerti apa konteks yang sedang dibicarakan oleh Umemiya. Siapa pun yang mendengar pasti akan merasa ambigu. Lantas keduanya menoleh ke arah Sakura seakan meminta penjelasan.

Namun, sosok yang dimintai penjelasan pun berteriak, “Apa, sih? Ucapanmu membuat orang lain salah paham!”

Sakura melepaskan topinya untuk menutup wajahnya yang sudah semerah tomat di kebun Umemiya, bahkan leher dan telinganya pun tak kalah merahnya.

Umemiya hanya berkedip-kedip dan kebingungan sendiri.

“Memangnya apa yang salah dari ucapanku?”

“Pikir saja sendiri!”

Akhirnya Umemiya meminta maaf lagi setelah menyadari kesalahannya dan menceritakan sekilas permasalahan yang terjadi pada Suō dan Nirei. Kemudian ia pamit sebentar untuk mengganti pasir dan mengisi air minum untuk kelomang peliharaan mereka.

“Ada-ada saja. Kupikir kenapa,” ujar Suō diakhiri senyum andalannya. “Tapi, tidak heran juga, sih. Ini kan Sakura-kun, si paling peka radar cintanya.”

“Suō-san! Jangan meledek Sakura-san terus, ih!”

“Diam kalian!” perintah Sakura. “Kalian berdua yang sudah lama berpacaran saja belum pernah memanggil satu sama lain dengan nama depan kalian. Selalu pakai nama marga! Apa-apaan?!” cercanya.

Lantas Nirei tersipu dan Suō membentuk tanda ‘V’ dengan jarinya.

Alhasil, Sakura memperoleh kesimpulan bahwa dalam suatu hubungan, perubahan nama panggilan itu merupakan sesuatu yang sulit untuk dilakukan. Jadi, wajar saja jika ia malu setengah mati tatkala Umemiya menyebut nama depannya. Terlebih saat itu Umemiya juga sedang menggenggam tangannya.

Dasar gila!

Makinya dalam hati diiringi dengan debaran jantung yang sepertinya lepas kendali.

 


 

Selesai.

Notes:

XD Sakura oh Sakura ~

Jadi, gimana teman-teman?

Series this work belongs to: