Actions

Work Header

Boleh Tolong Cium?

Summary:

Wonbin minta dicium.

Notes:

Terinspirasi dari live weverse Tonnen

Work Text:

Menjadi mahasiswa baru buat Anton sangat sibuk hingga tak sempat berbicara dengan kakak kesayangannya. Bukan, bukan kakak kandung, melainkan pacarnya yang lebih tua dua tahun darinya. Barusan saja dia baru bisa bertemu dengan pacarnya setelah seharian mengikuti kegiatannya sebagai maba.

"Kakak, kangen.."

Baru juga bertemu, dia sudah peluk-peluk pacarnya itu. Buat yang lebih tua terkekeh melihatnya.

"Anton, bahkan kita tadi ketemu.. aku kan jadi panitia, masa kamu nggak tau?" Tanya Wonbin.

"Tapi kan kita nggak ngobrol berdua.."

"Kamu nggak inget ya aku bikin hampir nangis tadi?"

Dibegitukan sama pacarnya itu bikin Anton makin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya di dada Wonbin.

"Yah, kak, jangan dibahas dong yang itu! Tadi aku beneran hampir nangis, tau" jawaban Anton bikin Wonbin makin cekikikan.

Duduk di gazebo alun-alun malam hari begini adalah hal yang menyenangkan, apalagi kalau bersama orang kesayangan kayak Anton yang nikmati waktunya bersama Wonbin.

Anton pandangi wajah pacarnya, ditatapnya lekat lekat. Cantik, Wonbin cantik sekali. Anton dibuat nyaris kehilangan akal tiap memandangi wajah cantik pacarnya. Diciumnya pipi mungil itu, Wonbin-nya sih mau mau aja. Kanan, kiri, semuanya kena. Wonbin juga udah siap siaga kalau misalnya Anton tiba-tiba mau mencium bibirnya, tapi yang terjadi selanjutnya malah Anton nggak ngelakuin apa yang diharapkan sama Wonbin. Dia malah cuma peluk-peluk Wonbin, kekang tubuh Wonbin yang lebih kecil (padahal Anton notabenenya lebih muda).

“Kamu serius cuma meluk aku daritadi?” Tanya Wonbin, “udah nggak sayang?”

Pertanyaan terakhir yang dilontarkan Wonbin sudah pasti buat Anton ketar-ketir, mana mungkin dirinya tidak menyayangi kakak cantiknya itu.

“Nggak gitu atuh, kak.. emangnya kakak mau aku ngapain?”

Anton malah balik bertanya.

“Bukannya biasanya kamu suka cium aku?”

Anton-nya malah kasih tatapan usil waktu dengar pertanyaan itu, “coba kakak minta dulu ke aku.”

“Minta? Minta gimana maksud kamu?”

“Ya minta biasa lah, kak.. aku mau denger kakak minta aku buat cium kakak.”

Disuruh begitu, jelas Wonbin setengah mau setengah tidak mau. Tapi apa boleh buat? Demi ciuman sama brondong-nya itu sih, Wonbin mau mau aja melakukannya.

“Anton, boleh tolong.. cium.. aku..?” Pinta Wonbin, suaranya terdengar kecil, bahkan lebih kecil dari suara normal Anton.

“Yang bener dong kak.”

Wonbin ulangi lagi, kali ini ada sedikit kemajuan. “Anton, boleh tolong.. cium aku..?”

“Kok kakak ragu gitu suaranya?”

Bisa-bisa Wonbin nangis kalau dibeginikan.

“Anton, boleh tolong cium aku?”

Kali ini Anton tersenyum lebar dengarnya. “Boleh, kakak, boleh.”

Dan malam ini Wonbin berhasil mendapat ciuman dari Anton, yang lebih muda lebih banyak memimpin kali ini. Berulang kali dirinya merasa seperti tersengat listrik, padahal, mereka sudah sering melakukannya. Lengan Wonbin semakin erat mengalungi raga Anton, sudah tidak memperdulikan sekitar.

“Haa-hh..”

Keduanya melepaskan ciuman, mengatur napas yang tak karuan.

“Udah aku cium ya, kakak cantik.”