Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-08-17
Words:
478
Chapters:
1/1
Comments:
3
Kudos:
14
Bookmarks:
1
Hits:
100

People said you're a damn trouble, I said, you’re a miracle.

Summary:

Setiap saat Ron berjalan bersama Hermione, ia mendapatkan dukungan emosional yang mengingatkannya bahwa ia dihargai dan dicintai. If Hermione says Ron is her miracle, so does Ron. Hermione is just more than a miracle.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Ron terkadang iri—lebih pas dikatakan sering iri terhadap Harry karena cowok itu jauh lebih berprestasi daripada Ron. Terlebih semua orang di Hogwarts ini kenal dan sayang Harry. Tiap Valentine atau Natal ada saja peri rumah atau burung hantu yang datang mengirimkannya cokelat dan hadiah-hadiah.

Ronald Bilius Weasley hanyalah anak keenam dari keluarga Weasley yang miskin. Jubah dan tongkat sihirnya bahkan warisan dari kakaknya. Sudah jubahnya kusam, tongkatnya pun sudah pernah patah dan hanya direkatkan dengan selotip. Entah gaji Arthur Weasley memang kurang untuk menghidupi ketujuh anaknya atau apa. Tidak seperti para Malfoy yang pakaiannya mewah, atau Hermione yang sangat terawat dari ujung kaki hingga ujung rambut.

Kemarin sore burung hantu milik keluarganya datang bertengger di jendela kamarnya, membawa sepucuk surat. Isinya lagi-lagi omelan. Tentang mengapa dirinya memiliki nilai-nilai yang sangat rendah, tidak seperti Ginny, Harry, atau pun Hermione yang nilai-nilainya sangat enak untuk dipamerkan. Ah, kalau Ron jadi kepala sekolah Hogwarts, prosedur mengirimkan nilai-nilai siswa ke orangtua harus Ron hapuskan.

“Kamu kelihatan murung. Kenapa?” Hermione bertanya ketika mereka berjalan beriringan keluar dari gerbang Hogwarts. Beriringan bergandengan tangan menuju Hogsmeade di tengah musim semi yang hangat.

“Ibu mengirim surat. Yah kau tahu pasti seperti apa isinya.” Ron merengut kesal. Diam-diam tangannya meraba surat yang dia jejalkan asal-asalan ke dalam saku celananya. Ron berencana membakarnya nanti.

Hermione tertawa geli. “Kenapa kamu malah murung begini? Memang apa isinya? George akhirnya akan menikah? Atau Ayahmu dapat kenaikan pangkat?”

“Apa sih?” Ron tertawa sumbang. “George itu terlalu konyol untuk menikah.”

“Oh ayolah, Ron! Kita berjalan-jalan sore ini bukan untuk bermuram durja. Senyum dong!” Hermione berhenti tiba-tiba menghalangi jalan Ron. Ya pria itu sempat tersenyum walau kesan yang ditangkap Hermione itu adalah senyum palsu penuh sarkasme.

“Aku sudah tersenyum ya. Nih senyumku.” Ron memamerkan deretan gigi rapihnya yang masih dianggap Hermione sebagai senyum terpaksa.

Gadis itu menghembuskan napasnya pelan. “Ya sudah. Kita lanjut jalan saja.” Langkah mereka berdua berlanjut menuju desa Hogsmeade, desa di pinggir Hogwarts yang menawarkan berbagai tempat keren bagi para penyihir. Tujuan mereka saat ini adalah Madam Puddifoot’s, sebuah kedai teh berdekorasi romantis yang sering digunakan para penyihir berkencan.

Sebelum tangan Ron membuka pintu kedai, Hermione menahannya. “Ron, aku cuma ingin kamu tahu, jangan pernah minder. Jangan terus memikirkan komentar negatif dari orang-orang.  Kamu punya aku, Harry, juga kakak dan adikmu. Terlebih aku yang akan selalu mengapresiasimu.”

Ron masih dalam mode cengo ketika Hermione melanjutkan kata-katanya. “Orang-orang bolehlah berkata kau itu masalah, tapi menurutku, kamu itu keajaibanku.” Dan bertambah cengo ketika Hermione mengelus pipinya.

“Sekarang kita masuk ke kedai saja.”

Kadar cengonya makin bertambah ketika melihat sederet teman-teman Gryffindor berdiri tersenyum dengan sekotak kue tart besar diatas meja, juga dekorasi Madam Puddifoot’s yang tiba-tiba menjadi lebih meriah.

“Happy Birthday, Ronald Weasley. I love you.” Hermione berbisik di sampingnya kemudian membubuhkan kecupan ringan di pipinya.

If Hermione says Ron is her miracle, so does Ron. Hermione is just more than miracle.

 

 

Notes:

My first ever Romione fanfic. Terimakasih sudah membaca!