Chapter Text
THE BERNADOTTE
PART 1 START : AWAL MULA
Hujan mengucur begitu deras di luar, Rai tengah sibuk mencari-cari dimana kartu tanda ujiannya. Namun setalah mengobrak-abrik lemari hingga lorong ranjangnya yang besar, kartu berbentuk persegi panjang itu tetap tidak ditemukan. Nafasnya memburu, sudah tidak ada waktu, dan dia harus segera berangkat ke sekolahnya jika tidak ingin terlambat dalam mengikuti ujian penentu kelulusan di tahun terakhir SMA-nya. Tapi … dengan tidak adanya kartu ujian bagaimana dia bisa masuk ke dalam ruangan?
Hela napas kasar ia hembuskan melalui sela bibirnya. Wajahnya murung, lalu dengan langkah gontai ia membawa dua tungkai jenjangnya menjejaki lantai pualam kamar menuju ruang makan yang menyatu dengan dapur. Ransel hitamnya dilempar sembarang ke atas meja yang masih kosong, tidak ada apapun disana selain teko bening berisi air putih.
“Kenapa lagi kau? Apa lagi yang ilang? Udah kubilangnya, elok-elok diperhatikan barang penting tu. Tapi tengok, lupa lagi kau ‘kan.”
Hah … haruskah dia mendapatkan ceramah panjang lebar dari ibu rumah tangga di rumah ini? Iya, dia tahu kalau dia telah salah dan lalai dengan barang penting sendiri, tapi tidak bisakah memberinya nasihat yang biasa saja, tidak dengan nada yang mirip dengan ibu tiri Cinderella ketika berbicara? Haih … bahkan Cinderella sendiri tidak dimarahi dengan logat Medan yang kental milik Mamaknya. Terkadang Rai sendiri bingung, bagaimana dia dan ayahnya selama ini tahan dengan semua celotehan dan ocehan Mamaknya yang serupa gerbong kereta tak memiliki ujung ini? Sejujurnya, harga diri lelaki di rumah ini dipertanyakan.
“Sarapan kau! Butuh energi buat ujian.” Piring yang terbuat dari nikel diletakkan tepat di depan wajahnya. Ada mie telur dadar dan nasi goreng kampung dengan irisan cabai rawit dan bawang merah tercampur di dalamnya. “Hari ni hujan, hati-hati kau pas nyebrang di simpang itu nanti. Mamak tengok banyak truk besar lewat dari semalam. Tau kau kenapa? Gegara pabrik minyak yang baru dibukak itulah. Bikin makin macet aja di simpang itu.”
Rai tak bersuara, hanya memberi anggukan singkat sebagai respon. Tangannya sibuk mengambil suapan besar nasi goreng serta telur dadar untuk disantap.
“Ada jas hujan baru itu mamak belik semalam. Pakek kau nanti. Di rak sepatu Mamak taroh”
“Oke.”
Setelah mendengar jawaban dari mulut putranya, wanita paruh baya itu mengangguk mengerti untuk kemudian beranjak dari meja makan, tumpukan pakaian kotor harus ia pilah untuk dibawa ke tempat laundry siang nanti. Di musim penghujan seperti ini, dengan mesin pengering rusak, akan sulit bagi berlembar-lembar pakaian untuk kering tanpa aroma amis mengerikan. Jadi memang keputusan terbaik untuk membawa setumpuk pakaian kotor itu ke tempat laundry saja. Sangat praktis dan tidak membuat capek tentunya.
Rai sendiri sudah selesai dengan sarapannya. Melirik pergelangan kiri, tempat dimana jam tangan digital miliknya bertahta, sudah pukul tujuh lewat lima belas menit. Ada waktu empat puluh lima menit baginya untuk tiba ke sekolah sebelum pintu gerbang di tutup. Maka lebih baik dia bergegas, Karena sungguh akan menghancurkan mood bila ia datang terlambat dan harus menerima ceramah panjang lebar dari guru piket hari ini.
Meraih ransel untuk ia sampirkan pada bahu kiri, Rai berjalan menuju pintu depan rumah. Tangannya bergerak meraih sepatu kets hitam di atas rak sepatu, tidak mempedulikan jas hujan berwarna coklat dengan aksen garis-garis berwarna hitam yang juga ada disana. Dari suara rintik hujan yang menimpa atap rumah, menurutnya tak apa jika tak mengenakan jas hujan yang sungguh merepotkan itu. Basah sedikit tidak akan menjadi masalah bagi remaja lelaki sepertinya.
Membuka pintu garasi di samping rumah, Rai merogoh saku celana seragamnya, mengeluarkan kunci motor listrik yang baru dibelikan oleh ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Dengan cepat ia menaiki motor lalu melajukannya menuju sekolah.
Udara dingin menghantam tubuh. Jaket hitam yang menutupi seluruh seragam bagian atas sekolahnya tidak dapat menghalau terpaan angin. Rintik hujan yang awalnya hanya berupa gerimis ringan mendadak berubah deras, Rai mengumpat dalam hati, jaket dan seragamnya basah, kaca helm tertutupi rintik-rintik hujan yang tidak ada habisnya menghantam, hingga membuat cakupan pandangannya menjadi terbatas. Decakan kasar keluar dari sela bibirnya. Pada saat ini dia merutuki diri sendiri kenapa tidak mengiyakan keinginan sang ayah dalam belajar mengendarai mobil sebulan lalu. Jika saja saat itu dia menuruti perkataan ayahnya, maka tidak akan ada hari ia terjebak dalam hujan deras di pagi hari dengan mengendarai motor listrik seperti sekrang ini.
Terjebak hujan deras, seragam sekolah yang basah, dan jarak pandang tak sampai lima meter membuat Rai mau tidak mau berhenti di tengah jalan. Hela napas kasar keluar dari indra penciumannya. Matanya melirik sekitar, mencari tempat yang setidaknya dapat ia gunakan untuk berteduh sejenak. Ia butuh tempat teduh agar dapat mengeluarkan jas hujan plastik tipis dari dalam bagasi yang hanya dapat melindungi bagian atas tubuhnya saja. Sekarang, Rai merutuki diri sendiri karena tidak memakai set jas hujan yang sudah disiapkan oleh sang ibunda.
Melepas helm sembari lengan kiri mengusap wajahnya yang basah, Rai seketika dibuat tersentak oleh sirine panjang dari belakang tubuh. Suara apa itu? Apakah ada kendaraan lain di jalan ini? Bagaiamana bisa, jalanan ini masih bagian kompleks perumahan.
Jadi darimana suara itu berasal?
Matanya menyipit, terlalu sulit untuk mengetahui suara sirine panjang itu berada dimana. Sampai ketika bagian depan truk besar melaju dalam kecepatan normal di depan membuat kelopak matanya membola, tak ada waktu untuk menghindar, Rai bahkan baru saja berniat lari dengan turun dari motornya namun takdir berkata lain. Derasnya hujan membuat jarak pandang pengemudi truk terbatas, kala indra penglihatnya mendapati pemuda SMA terhenti di tengah jalan raya, sudah tidak sempat untuk membanting setir, sehingga dalam kecepatan normal kendaraan besar itu tetap tak mampu menghindari laka lantas di hari hujan. Ketika mobil besar yang memuat minyak tanah berhenti sepenuhnya, Rai yang tak dapat menghindar di detik terakhir tergeletak di bawah badan truk dengan kepala belakang terluka ketika menghantam tanah juga kaki kiri remuk redam terlindas ban besar truk muatan.
Si pengemudi dengan panik turun dari kursi pengemudi, matanya terbelalak, kedua tangannya tak terkendali menjambak rambut. Tergesa ia mendekati rumah terdekat, memanggil sang pemilik rumah untuk membantunya dalam menolong pemuda yang baru saja ia tabrak. Sedang di sudut lain, pemuda dalam balutan setelan serba hitam dengan payung lipat terbentang di atas kepala melindungi tubuhnya dari derasnya air hujan, berdiri kaku dengan kepalan tangan kanan menutupi mulut.
“Astaga, aku melakukan kesalahan!”
*********
Rasa sakit pada bagian belakang kepala begitu menyengat, Rai tanpa dihindari tersadar. Penglihatannya memburam, matanya tak sanggup untuk membuka seluruhnya, goyangan ringan di sekitar membuat rasa pening yang tak terkira semakin parah merambati belakang kepalanya. Tak kuasa memiliki rasa sakit tak terpera, Rai jatuh pingsan kembali, kepalanya dengan ringan menghantam dinding kayu dibelakangnya.
Pemuda dalam setelan hitam-hitam itu ada disana, duduk di dalam kereta kayu yang sama sembari menatap penuh prihatin lelaki muda yang pingsan ini. Hela napas berat terdengar, jempol dan jari telunjuknya kanannya bergerak mencubit bagian di antara alis dengan raut frustasi yang terlihat jelas. Dia salah, dia telah melakukan kesalahan. Langit akan memarahinya, hukuman akan menantinya. Ingin hati menyalahkan rinai air yang jatuh dari langit karena menghalangi jarak pandang indra penglihatannya di hari hujan waktu itu, tapi memang pada dasarnya dia tidak cukup berpengalaman hingga berakhir membawa jiwa seseorang yang salah ke dimensi yang lain.
“Benjamin.” Suara berat memasuki ruang pikirannya.
Tamat sudah.
Kali ini dia akan di kurung berapa ribu tahun lagi?
Bersambung ….
