Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-08-20
Words:
1,722
Chapters:
1/1
Kudos:
6
Hits:
126

"Minho, gue suka sama lu."

Summary:

Chan ngaku dia suka sama Minho dan itu bikin Minho kepikiran seharian.

Notes:

idk what i wrote lol, enjoy!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

“Minho, gue suka sama lu.”

Minho menggelengkan kepalanya. Ucapan Chan siang tadi di kantin terus terngiang di dalam otaknya.

“Ngapain gue pikirin terus sih,” Minho menghela nafas panjang, “Please, fokus Minho, besok harus dikumpulin.” Ia kembali berusaha fokus pada tugas matematika yang sudah menunggu untuk dikerjakan.

“Minho, gue suka sama lu.”

Sial, wajah merah Chan saat mengatakan kalimat itu muncul kembali. Minho ingat bagaimana telinga Chan memerah di balik rambut ikalnya.

“Gak, gak bisa kalo begini terus,” Ia ambil HP yang tergeletak di atas meja, “Chat gue masih belum dibales juga? Gila...”

Jam istirahat tadi, Chan, teman sekelas Minho mengajaknya untuk makan siang di kantin. Minho tentu saja tidak menolak, walau dia merasa sedikit aneh karena Chan hanya ingin mereka makan berdua saja.

Mereka berdua memutuskan untuk memesan bakso sebagai menu makan siang mereka. Seperti biasa, Minho menambahkan lima sendok sambal ke mangkuknya, sedangkan Chan hanya memberikan sedikit saus dan kecap sebagai tambahan.

“Min, itu ngga pedes apa? Banyak banget loh sambelnya.” tanya Chan sambil menatap mangkuk bakso Minho seakan itu akan membunuhnya.

Tawa Minho menguar, “Hahaha, engga kok, Chan. Aman. Mau coba?” Mangkuk itu ia sodorkan ke arah Chan.

Yang disodorkan mangkuk pun menggeleng ribut, “Ngga, ngga, makasih. Gue makan punya gue aja.”

Mereka mengobrol banyak hal, mengenai tugas, teman-teman, hingga gosip yang sedang hangat diperbincangkan.

Sampai akhirnya bakso di mangkuk mereka tandas. Chan memainkan sedotan di gelas es tehnya. Sesekali pandangannya ia tundukkan, tak berani menatap Minho.

Diamnya Chan membuat situasi di antara mereka agak canggung. Baru saja Minho ingin membuka mulutnya, ia dikejutkan dengan Chan yang tiba-tiba mengangkat kepalanya.

“Min, gue mau ngomong sesuatu,” ucap Chan dengan nada yang terdengar ragu.

Minho memiringkan kepalanya, menatap chan dengan rasa penasaran. “Kenapa Chan?”

Minho bisa lihat ujung telinga Chan mulai memerah. Jari-jarinya masih terus memainkan sedotan es teh. Pandangannya masih tertunduk.

Helaan napas panjang terdengar dari Chan sebelum ia mengangkat kepalanya dan berkata, “Minho, mungkin lu bakal nganggep gue aneh atau freak setelah ini, tapi gue ngga bisa buat nyimpen ini sendirian.”

Dahi Minho mengernyit, lalu memberikan isyarat pada Chan untuk melanjutkan kalimatnya.

“Gue seneng banget jadi temen lu, Min. Gue seneng waktu kita main bareng, belajar bareng, nugas bareng, bahkan bolos bareng. Keren banget ya, gue yang gak pernah bolos ini mau mau aja diajak seorang Minho buat ke burjo cuma karena kita belum ngerjain tugas Bu Sri.”

Ia sesap es teh yang sebenarnya hanya tinggal es batunya saja. Minho pun masih diam, menunggu Chan menyelesaikan ucapannya.

Tatapannya lurus pada Minho. Tangannya terkepal erat-erat di bawah meja kantin. Ia yakin wajahnya sudah sangat merah sekarang.

“Minho, gue suka sama lu.”

Begitu kalimat tersebut terucap, bel masuk berbunyi. Tanpa menunggu Minho, Chan bergegas beranjak dari kantin dengan terburu-buru.

Minho yang masih memproses perkataan Chan melihat kepergiannya dengan tatapan kosong. Begitu Changbin, teman sekelasnya, menegurnya barulah ia tersadar.

“Oi Min, lu gak balik kelas?” tanya Changbin sambil menepuk bahunya.

“Eh, Bin,” Minho sedikit terlonjak, “Iya ini mau balik. Lu duluan aja.”

Mendengar jawaban Minho, Changbin pun melanjutkan perjalanannya ke kelas. Namun, Minho tidak langsung kembali ke kelas. Ia pergi ke toilet dan mencuci mukanya, berusaha menenangkan diri.

Sesampainya ia di kelas, ternyata Pak Ali sudah berada di dalam. Pembelajaran akan segera di mulai. Chan sudah sibuk di tempat duduknya, menyiapkan buku yang akan digunakan. Minho pun bergegas menuju tempat duduknya di ujung belakang. Melewati Chan yang seolah menghindari tatapannya.

Ia belum punya kesempatan untuk memberikan tanggapan atas pengakuan Chan. Mungkin nanti, pulang sekolah, gue harus ngomong sama Chan.

Pak Ali sudah mulai menerangkan materi. Namun Minho tidak bisa fokus sama sekali. Persetan dengan mekanika kuantum dan tetek bengeknya. Di kepala Minho saat ini hanya ada Chan yang mengakui bahwa ia menyukainya dengan wajah semerah tomat itu.

Saat bel pulang berbunyi, Chan segera membereskan buku-bukunya dan bergegas pulang. Melihat hal itu, Minho pun bangkit dan berniat mengejar Chan.

Hanya niat, karena sebelum ia berhasil mengejar Chan, ia mendengar ketua kelasnya berteriak, “Minho, lu mau kemana?! Hari ini jadwal lu piket, jangan kabur loh!”

Ah, benar juga, ini hari kamis, jadwal Minho piket. “Ngga kok gue ga kabur, sebentar aja gue keluar dulu, nanti gue balik lagi, oke?” pinta Minho.

Sayangnya, permintaan Minho ditolak, “Ngga ada ya, lu kemarin-kemarin bilang gitu ujung-ujungnya gak balik lagi.” Tasnya ditahan oleh temannya, sebuah sapu disodorkan ke arahnya. Minho gagal lagi untuk berbicara dengan Chan.

Mau tak mau Minho pun segera melaksanakan bagiannya dan bergegas pulang setelah selesai. Chan biasa pulang dengan ojek online, mungkin dia masih menunggu ojeknya datang, pikir Minho. Ia sedikit berlari menuju gerbang depan sekolah. Sayang sekali, begitu ia sampai, Chan sudah duduk manis di atas motor ojek onlinenya. Gagal lagi.

Minho bingung. Bukankah Chan sendiri baru saja mengakui kalau ia menyukainya. Namun mengapa Chan bertingkah seolah ia menghindari Minho.

Minho menggambil HP nya, mengirimkan beberapa pesan singkat untuk Chan.

chan

lu udah pulang ya?

kabarin kalo udah nyampe rumah ya, gue mau ngomong sesuatu juga

Setelah pesan tersebut terkirim, Minho pun berjalan menuju parkiran dan kembali ke rumahnya.

Sepanjang perjalanan, ia masih saja memikirkan ucapan Chan. Memikirkan momen-momen yang membuat Chan bisa jatuh hati padanya.

Karena sejujurnya, Minho tidak memiliki perasaan khusus terhadap Chan. Chan hanyalah teman baiknya. Itu yang dia percaya sampai beberapa saat lalu.

Namun, apakah benar? Apakah ia benar benar tidak punya perasaan apapun terhadap Chan? Kalau begitu mengapa wajah Chan dengan rambut ikalnya tak kunjung beranjak dari pikirannya.

Minho menutup bukunya dan melemparkan dirinya ke tempat tidur. Chan masih belum membalas pesannya. Ini sudah jam 11 malam, dan Chan pasti sudah tidur.

Ternyata ia juga masih belum memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Chan. Kalau begitu, besok, sebelum jam pelajaran dimulai, ia akan mencoba berbicara dengan Chan.

Esok harinya, Minho terlambat. Ia baru diperbolehkan masuk kelas di jam kedua. Artinya ia tidak bisa bertemu Chan sebelum jam pelajaran dimulai. Sial, sial, sial. Mengapa sesulit ini hanya untuk berbicara dengan Chan.

Sampai di jam istirahat, Minho langsung bangkit dari tempatnya menuju Chan. Ia tidak akan melewatkan kesempatan ini. Chan tidak boleh kabur lagi darinya.

Chan yang sudah bersiap-siap akan pergi ke kantin, ditarik tangannya oleh Minho. “Ikut gue, cepetan,” bisik Minho.

Pasrah. Chan rupanya tidak bisa lagi menghindar dari Minho. Ia pun mengikuti Minho dengan jantungnya yang bergemuruh kencang.

Gimana kalo dia nganggep gue aneh. Gimana kalo dia gamau temenan lagi sama gue. Apa nanti gue bakal di cut off. Apa dia bakal bilang ke orang-orang kalo gue suka sama dia. Gimana kalo—

“Chan, duduk sini,” ucapan Minho membuyarkan Chan dari lamunannya. Ah, ternyata Minho membawa mereka ke taman di samping perpustakaan. “Sini duduk,” Minho mengulagi perkataannya sebab Chan masih saja membatu.

Barulah Chan duduk di samping Minho. Duduk dengan jarak sedekat ini dengan Minho membuat dadanya semakin sesak.

“Chan,” Minho memanggilnya, “Kok chat gue ga dibales sih?”

Chan masih menundukkan kepalanya, tergagap, “Gue gak buka hp.” Bohong. Chan tahu Minho pasti tahu ini hanyalah alasan.

Minho menggamit jemari Chan, mengelusnya pelan untuk memberi ketenangan. “Chan, jujur aja. Gue gak marah kok sama lu.”

Chan mengangkat kepalanya, melihat ke arah Minho dengan tatapan yang sarat akan penyesalan. “Minho, maaf.”

“Lu pasti nganggep gue aneh kan, Min? Lu gamau temenan sama gue lagi ya? Gue gapapa kok, Min kalo lu ga mau temenan sama gue lagi. Gue—” Chan terus saja meracau. Air mata hampir keluar dari matanya.

“Chan denger gue dulu, oke?” Minho sedikit panik melihat Chan yang hampir menangis. “Gue ngga nganggep lu aneh, Chan. Gue juga masih mau temenan sama lu. Jadi tenang, ya?”

Minho membenarkan posisi duduknya menjadi sedikit lebih dekat dengan Chan. Usapannya pada jemari Chan masih belum berhenti.

“Sebelumnya, makasih ya karena udah berani ngaku ke gue. Lu keren, Chan. Btw, Gue gak masalah sama semua itu Chan. Gue cuma bingung kenapa lu malah menghindar dari gue? Bukannya lu suka sama gue? Kenapa malah ngga mau deket sama gue? Gue bahkan belum ngomong apa perasaan gue ke lu, loh.”

Ada sedikit nada frustasi dari rentetan kalimat Minho. Namun, Chan masih saja diam.

“Chan, sekarang perasaan gue belum sama kayak lu,” Minho menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Chan. Benar saja, kepala Chan langsung mengarah ke arahnya dengan mata yang merah.

“Tapi, mungkin, suatu saat nanti, perasaan gue juga bisa sama kayak lu, Chan.”

Chan kembali tundukkan kepalanya, tak berani tatap Minho.

“Ini bukan penolakan, loh ya. Kita masih punya banyak waktu, Chan. Mungkin seiring berjalannya waktu, perasaan gue bakal berubah.”

Setelah sekian lama membisu, Chan akhirnya membuka mulutnya, “Kenapa lu mikir bakal berubah, Min?”

Minho mengusak rambut ikal Chan yang sudah hampir menutupi matanya, “Lu orang yang penting buat gue. Dan setelah gue pikir-pikir, kita udah ngelakuin banyak hal bareng-bareng. Gue yakin, suatu saat jantung gue bakal berdetak buat lu juga.”

Minho angkat dagu Chan yang sedari tadi menunduk. Ia tatap mata Chan yang masih memerah dengan lembut. “Tapi, pelan-pelan, ya Chan?”

Anggukan pelan Chan berikan sebagai jawaban untuk pertanyaan Minho. Senyum manis pun tercetak di wajah Minho.

Tak tahan dengan pemandangan di depannya, Minho mengacak rambut ikal Chan dengan gemas, sampai Chan mencicit kecil memanggil namanya.

“Min..” panggil Chan ragu-ragu.

Minho hentikan seluruh kegiatan memainkan rambut Chan dan fokuskan perhatiannya pada si rambut ikal.

Setelah lama berdebat dengan pikirannya sendiri, Chan akhirya keluarkan kata-kata dari mulutnya.

“Boleh peluk?” tanya Chan masih dengan suara lemahnya.

Mata Minho melebar. ah jadi ini yang mau Chan bilang. Masih dengan senyum lembutnya, “Boleh dong,” ia buka lengannya lebar-lebar, “sini, peluk.”

Tanpa menunggu lama, Chan sudah mendarat dalam dekapan Minho. Ia dekap Minho dengan erat, sampai-sampai Minho merasa sesak.

“Thank you, ya, Min. Udah ga nganggep gue freak karena suka sama temen sendiri. Thank you for not rejecting me dan nganggep gue orang yang penting buat lu, Min.”

Minho usap-usap pelan punggung Chan, tenangkan si rambut ikal di dekapannya.

“Sesuai kata lu, gue bakal pelan-pelan buat deketin lu lagi, dengan intensi yang tentu beda dari sebelumnya. Kita bakal bikin banyak memori lain yang gak kalah indah,” final Chan.

Minho mengangguk, ia lepaskan pelukan erat Chan. Ia lirik jam tangannya, jam istirahat sebentar lagi usai. Wajah Chan sangat kacau, matanya memerah dengan rambut berantakan akibat ulah Minho.

Ia pun beranjak dari kursinya, “Bentar lagi masuk, yuk, gue temenin lu cuci muka dulu. Liat tuh matanya merah banget.” Tangan kanannya ia sodorkan di depan Chan.

“Jangan dibahas ih, maluu,” balas Chan yang menggamit tangan kanan Minho.

Mereka berdua melangkah ke kamar mandi dengan hati yang ringan kemudian kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran.

—end

Notes:

what's next? i don't know. but i wish they could make it happen. when minho's heart finally beating for chan, chan isn't fall alone, and they live happily as a couple for a long time.