Work Text:
Siang itu, Theodore memandang kearah luar dari taxi yang ia naiki. Hanya dalam kurun waktu tiga tahun begitu banyak hal berubah. Gedung tinggi di area tempat tinggalnya yang bertambah, minimarket yang semakin bertebaran, dan juga kini kedai bakmi langganannya yang terletak tak jauh dari apartment ternyata sudah tutup sejak setahun yang lalu.
Begitu juga dengan perubahan yang terjadi dalam dirinya sendiri. Kini Theodore lebih suka bangun di pagi hari dan memulai aktivitas dengan mendengarkan musik jazz yang tenang. Mungkin kebiasaan itu terjadi karena ia jarang menghabiskan malam di bar seperti dahulu. Mengingat pekerjaan yang menyita sebagian besar waktunya membuat Theodore seringkali pulang ke apartemennya dalam keadaan lelah dan buru-buru ingin segera tidur.
Entah mulai sejak kapan, Theodore sudah jarang bermimpi buruk. Bahkan tidurnya terlalu nyenyak hingga tidak sempat bermimpi.
Meski harus memulai dari awal, Theodore sangat menyukai pekerjaannya sekarang. Memulai dari hal kecil membuat Theodore menghargai setiap pencapaian yang ia lakukan, membuat setiap milestone dalam karirnya terasa begitu penuh makna dan bukan hanya sekedar peduli mengenai seberapa banyak uang yang ia hasilkan dari sana.
Theodore mulai mengerti arti dari bahagia ketika ia bisa mengenal dan menyayangi dirinya sendiri. Berujung kepada pandangannya terhadap setiap orang yang ia temui pun berubah. Membuatnya menyadari bahwa ia tidak perlu menghabiskan waktu tidur sana sini dengan banyak orang hanya untuk mengingatkan bahwa dirinya sendiri berharga dan layak dicintai.
Hal yang di lain sisi juga membuat Theo menyadari betapa berharganya orang-orang disekitarnya yang selalu dan masih mendukungnya sampai saat ini. Meski banyak hal yang berubah, banyak hal juga yang tetap sama. Seperti beberapa teman-temannya, termasuk Tirta, yang membuat Theo bersyukur bisa memiliki seorang teman yang baik.
Theo mulai mengerti apa yang psikiaternya dulu katakan, bahwa cinta ada di sekitarnya selama ini tanpa ia sadari. Dengan tidak membiarkan tubuhnya dijamah sembarangan orang saja merupakan bentuk bagaimana Theo mencintai dirinya sendiri. Teman-temannya yang mendukung apapun keputusannya, dan juga dengan tulus mengharapkan kebahagiaannya juga salah satu bentuk cinta yang selama ini ia cari.
Suara pintu tertutup terdengar setelah Theo berucap terimakasih kepada sang supir taxi. Kakinya melangkah ke salah satu rumah dengan bangunan berwarna putih yang terletak di hook.
Matanya menangkap deretan mobil buatan Eropa familiar yang ia ketahui sebagai milik Jonathan sebelum menekan bel di pintu.
“Oh my God! Theo!”
Tirta segera menghamburkan diri dalam pelukan Theo yang membuka kedua tangannya lebar. Ia tidak bisa menahan tawa ketika Tirta atau yang lebih akrab ia panggil Tata itu kini mencubit perutnya.
“Iih! Bisa-bisanya kamu lama banget nggak balik?! Aku kan kangen!”
Meski mengomel Theo bisa melihat manik Tata yang berkaca lalu kembali membenamkan diri di pelukannya.
“Hahaha, aku juga kangen banget Ta.”
Theodore tertawa ketika melihat Tata mengusap air matanya, membuat hatinya menghangat karena meski telah lama jauh, rupanya masih ada teman yang menantikan kepulangannya selama ini.
“Eh, Theo?”
“Kak Nathan?”
Jonathan yang sedang menggendong seorang anak laki-laki menghampiri keduanya.
“Wah udah lama banget kita nggak ketemu. Kok kamu nggak bilang Ta kalo Theo dateng?”
“Iya iih aku lupa Abang, abis dari kemarin sibuk banget ngurusin birthdaynya adek.” Tirta menepuk dahinya.
“Oh iya The, ini adek! Kenalan dulu dong!”
Theodore mendekat kearah bayi laki-laki dengan rambut cokelat ikal di gendongan Jonathan. Matanya bulat lucu, dengan pipi yang hampir tumpah.
“Hi, birthday boy! Siapa namanya Ta?”
“Hello Uncle, ini Harley. Anaknya papi sama daddy, adeknya Abang Hen!” Tirta menirukan suara anak kecil, mengecupi pipi kemerahan milik Harley yang kini tertawa lucu.
Theodore menggamit tangan kecil Harley, membuat si bayi satu tahun itu bergerak-gerak excited dalam gendongan Nathan.
“Oh iya, Abang Hen mana Ta?”
“Lagi main taman tuh. Oh iya, ada Jaden juga, The.” Bukannya Tata, kini malah Jonathan yang membalas. Membuat hati Theodore seakan kelewat satu detak jantungnya sejenak setelah mendengar nama tersebut diucap.
“Iya The, katanya kamu pengen ketemu Abang Hen! Kesana duluan aja, nanti birthday partynya di taman juga kok sama anak-anak. Aku mau gantiin popok Harley sama urus yang lain dulu yaa!”
Kini Theo terdiam sendirian di ruangan tengah berdominasi warna earth tone yang luas. Di ujung ruangan ada pintu kaca besar yang mengarah ke taman. Suara ramai dari anak-anak bermain sudah terdengar dari kejauhan. Semakin Theo melangkah mendekat kearah taman entah mengapa rasanya degup jantungnya berdetak semakin cepat.
Sejak kepergiannya tiga tahun lalu hingga detik ini, tidak ada sama sekali hubungan yang terjalin antar dirinya dan Jaden lagi. Theo kehilangan kontak lelaki itu karena mengganti ponselnya, sementara di sisi lain Jaden juga tidak pernah menghubunginya terlebih dahulu. Semua sosial media milik Jaden juga terlihat tidak aktif, membuat Theo berpikir mungkin lelaki tersebut tidak ingin berhubungan lagi dengannya. Seolah malam terakhir yang mereka habiskan bersama dan ungkapan cinta Jaden tidak ada artinya apa-apa.
Meski begitu, tidak dapat dipungkiri di sela-sela waktu luangnya Jaden seringkali mampir di pikiran. Membuat Theo menerka-nerka bagaimana kabar lelaki itu sekarang. Apakah Jaden masih suka tertawa sebelum melontarkan leluconnya sendiri? Apakah lelaki yang lebih tua darinya sepuluh tahun itu masih menyimpan namanya dalam hati sama seperti dirinya tanpa sadar selama ini?
Sinar matahari siang itu begitu terik, membuat mata Theo silau ketika kakinya menapak di rerumputan. Terdapat water fountain di tengah taman yang bersuasana riang penuh dengan anak-anak berlarian. Meski begitu, dari kejauhan Theo sudah bisa menangkap presensi lelaki yang kini tengah bermain pistol air dengan seorang anak laki-laki.
Tawanya masih sama, begitu juga matanya yang menyipit. Belum sempat Theo membuka suara, lelaki berkulit seputih susu itu menengok terlebih dahulu.
“Uncle Theo!”
Anak lelaki berumur empat tahun bernama Hendery itu membuang pistol airnya begitu saja, berlari menghampiri Theodore.
“Halo, Abang Hen! Apa kabar?” Theodore berjongkok. Meski hanya sempat bertemu sejenak sebelum ia pergi ke Paris, Tata sering menunjukkan si anak sulung melalui panggilan telepon sehingga Hendery bisa mengenali Theodore dengan baik.
Theo memeluk anak lelaki tersebut, ia tertawa karena kini bajunya basah setelah Hendery mengeratkan pelukannya.
“Theo?”
Manik Jaden pun akhirnya bertemu dengan Theodore. Rupanya kemeja khaki yang Jaden kenakan juga sudah basah karena air.
“Hey…” Begitu melihat wajah Theodore, rasanya Jaden hampir hilang kendali.
Entah sudah berapa kali bayangan Theo muncul bahkan hadir di mimpi Jaden, hasil dari rindu yang selama ini ia pendam sendirian. Kini ketika lelaki itu berada di hadapannya, rasanya Jaden tidak percaya.
“Ini beneran kamu?”
Theo terkekeh mendengar pertanyaan lucu barusan, “Yeah, it’s me, Jay.”
Jaden tersenyum lebar. Ia merasa konyol karena tidak bisa mengatur ekspresi wajahnya yang kelewat senang.
“Oh God, you look.. the same.”
Still beautiful as ever, batin Jaden melanjutkan dalam hati.
Wajah mungil itu tetap cantik seperti dahulu. Pipi Theodore sedikit lebih tembam membuatnya terlihat lucu. Rambut blondenya tertata rapi begitu menawan dengan senyuman. Jaden tidak bisa melepaskan sedetikpun pandangan dari lelaki di hadapannya saat ini.
“How’s life?” Tanya Theo terlebih dahulu.
Sementara Jaden yang seakan masih tidak percaya apa yang ia lihat kini mengusap tengkuknya kikuk.
“G-great, yeah.” Jaden buru-buru meletakkan pistol air di tangannya, berpikir mungkin ia terlihat konyol sekarang.
“How about you? Apa kabar? I mean, how’s Paris?”
Theo tertawa mendengar suara Jaden yang sedikit terbata. “Kabar aku baik, dan ya Paris is great as well. I like it there.”
Jaden mengangguk cepat, matanya tidak terlepas sedikitpun dari Theodore. “I just.. don’t expect to see you here..”
“Me neither.” Theo menjawab dengan senyuman.
“Uncle Jaaay, ayo main lagi sama abang!” Hendery yang sudah mengambil mainannya lagi kini menarik celana Jaden.
“Eeh-jangan ditarik gitu celananya Uncle!”
Theo yang menyaksikan itu tertawa, sementara Jaden bisa merasakan telinganya panas karena malu. Bagi Hendery yang ia inginkan kini hanyalah bermain dan bermain, ia terus merengek kepada Jaden.
“Udah Jay, main aja dulu. Kasian tuh si Abang Hen.”
“Bentar ya, Theo.”
Theo terkekeh melihat tangan Jaden yang ditarik kuat oleh Hendery, bahkan anak lelaki itu tanpa aba-aba menyemprotkan pistol airnya tepat ke muka Jaden, membuatnya terkejut dan mengejar Hendery yang tertawa kesenangan.
Beruntungnya tak lama setelah itu, Tata datang menghampiri bersama dengan Harley. Acara ulang tahun yang diadakan di taman siang itu begitu meriah. Kebanyakan anak-anak yang hadir sebenarnya adalah teman-teman dari Hendery sendiri.
Setelah menyanyikan lagu dan meniup lilin, beberapa orang tua dari anak-anak yang hadir dan juga kenalan Tirta serta Jonathan terlebih dahulu masuk untuk makan siang. Pesta kecil itu juga dihadiri oleh orang tua mereka yang menyaksikan dari dalam rumah.
“Theo! Ayo sini makan!” Panggil Ibu Jonathan yang telah mengenalnya sejak kecil, membuat Theo segera berlari dan menghampiri.
Ibu Jonathan memang selalu memperlakukannya dengan baik sejak dahulu. Terkadang membuat Theo membayangkan bagaimana rasanya mempunyai keluarga yang harmonis.
Pemandangan Tirta yang kini tengah menggendong putranya dengan Kak Nathan di sebelahnya menggoda si kecil Harley hingga tertawa, membuat Theo sadar bahwa mungkin sebenarnya masih ada sedikit harapan dalam hatinya yang menginginkan juga mempunyai sebuah keluarga kecil dengan rumah yang hangat.
Suara tawa dari anak-anak yang berlarian membuat Theo tersadar dari lamunan. Maniknya bertemu dengan Jaden yang kini terduduk bersandar di sofa. Entah sejak kapan sudah dikelilingi anak-anak kecil yang tertawa dan bermain di sekitarnya.
Senyuman Jaden di seberang ruangan terlihat begitu manis, menunjukkan lesung pipinya yang sama sekali tidak berubah. Tangan besarnya menggenggam jemari anak kecil yang kini duduk di pangkuannya dengan nyaman. Theo bisa merasakan gelenyar aneh di perutnya melihat pemandangan tersebut.
“Seems like the kids like to be around you?” Sapa Theo sembari duduk diatas sofa sebelahnya.
Jaden mengedik sebagai balasan, “I don’t know, all I did was just sit here and they came like bees.”
Theo terbahak, memukul bahu Jaden yang ikut tertawa. “Mungkin kamu udah cocok jadi ayah.” Ujar Theo membuat Jaden mengulum senyuman.
“Eh, Theo! Lihat Abang Hen nggak?” Tanya Tata celingukan mencari anak sulungnya.
“Tadi masih main tuh sama anak-anak yang lain di luar.” Balas Jaden santai.
Tirta melihat kekanan dan kekiri di taman, tetapi tidak mendapati anaknya berada disana.
“Abaaang Heeen!”
Setelah menitipkan Harley pada Jonathan, Tirta mencari anak sulungnya itu untuk makan siang. Rupanya ternyata Hendery bersama beberapa anak lainnya sedang bermain di samping kolam bermain air serta sepeda.
“Aduuuh, Abang! Kan papi udah bilang, jangan main di deket kolam. Bahaya tau nggak — abang!!!”
Baru saja diperingati kembali, anak lelaki berumur empat tahun yang sedang menaiki sepeda kecilnya terlalu dekat dengan kolam itu berakhir terjatuh kedalamnya, membuat Tirta memekik panik.
Mendengar hal itu, Jonathan, Theo, dan juga Jaden segera menghampiri. Jaden yang kemudian langsung menyelam untuk mengangkat Hendery yang sudah menangis keras, menyelamatkan juga sepeda milik Hendery yang basah. Membuat Tirta dan juga Jonathan hanya bisa menepuk dahi dan menghela nafas melihat kelakukan anak sulung mereka yang terkadang diluar nalar.
Pintu di ketuk, lalu setelah mendengar jawaban Theo membuka pintu tersebut.
“Are you done?”
Jaden yang basah total berakhir mengganti pakaiannya dengan pakaian milik Jonathan. “Yeah.”
“Are you okay? Tadi kayaknya tangan kamu berdarah?”
“Oh, ini?” Jaden melihat kearah tangannya yang luka entah terkena sudut tajam sebelah mana di dalam kolam tadi.
Theo berjalan mendekat menghampiri, membawa satu kotak P3K yang diberikan Tata.
Sementara kedua orang tua tersebut masih sibuk mengurusi anak mereka, Jonathan menggendong Harley yang masih kecil dan tidak mengerti apa-apa sementara Tata menenangkan dan mengganti pakaian Hendery di kamar sebelah mereka.
Jaden kini sudah berganti mengenakan sweatpants serta kaus milik Jonathan. Theodore menggenggam tangannya, melihat kearah luka yang lumayan panjang di tangan Jaden hingga hampir ke siku.
“Perih banget ya?”
“It’s not a big deal.”
Tanpa sadar Jaden menahan nafas ketika Theo mendekat dan mulai membersihkan lukanya dengan kapas dan alkohol.
“Ouch.. aw…”
“Diem dulu, Jay…”
Jaden mengerang pelan ketika obat merah itu menyentuh lukanya secara langsung.
“Tadi katanya it’s not a big deal…”
“Yah gimana dong, perih ternyata..”
Theo terkekeh, ikut terduduk di sebelah Jaden dan meniupi lukanya. Dari jarak yang lebih dekat Jaden bisa melihat bulu mata indah milik Theo. Hingga tanpa sadar ia tersenyum sendirian.
“Duduk disini dulu, aku mau cari plester.”
Theo kemudian bangkit, berjalan kearah meja mencari plester dari kotak P3K tadi.
“Theo..”
“Iya, bentar..”
“Theodore…”
“Kenapa sih Jay…?” Pertanyaan Theodore menggantung setelah menoleh dan mendapati Jaden kini sudah berada tepat di belakangnya.
“I miss you.”
Suasana di lantai dua yang lebih tenang membuat keheningan yang mengisi diantara keduanya lebih terasa. Meski samar-samar mereka bisa mendengar suara anak-anak dari lantai bawah. Jaden menatapnya sedikit lebih intens, membuat Theodore sedikit kikuk karena di tatap demikian.
“Sorry…” ujar Jaden kemudian memutus kontak mata mereka setelah menyadari perubahan raut Theodore.
“I just can’t lie that I really miss you…”
Theodore menarik nafas panjang, berusaha menenangkan degup jantungnya yang tak karuan.
“I thought you already forgot about me.”
“Why did you think so?”
“Selama tiga tahun ini, aku nggak tahu kabar mengenai kamu sama sekali. Social media kamu nggak aktif, and I can’t even reach you out since I lost your number, and so maybe I thought you don’t want to us to be friend anymore…” Ujar Theodore dengan nada yang semakin lama semakin lirih.
“I just don’t want to be a bother for you, Theo.” Jaden mengambil satu langkah semakin dekat. Theo bisa menghirup wangi parfum milik Jaden yang sepertinya tidak berubah.
“And I don’t think I can handle it, if I ever see you with another person.”
Jaden menunduk dan tertawa kaku. “I’m such a loser, right?”
Dengan tangan yang sedikit gemetar Theodore mengusap bahu Jaden perlahan, membuat tatapan keduanya kembali bertemu.
“I miss you too.” Ucap Theo dengan volume pelan hampir berbisik.
“Mm-hmm? You do?”
Theo mengangguk, merasakan tangannya digenggam lembut.
Untuk sementara keduanya terdiam, membiarkan rasa nyaman mengambil alih. Berharap rasa rindu mereka bisa tersalurkan lewat genggaman erat serta momen saling tatap.
“So… for these past three years, have you found what you looking for?” Kini Jaden yang bertanya terlebih dahulu.
Theodore belum sempat menjawab ketika Jaden kembali melanjutkan kalimatnya.
“Or… have you found someone…?” Suara Jaden terdengar lirih.
Andai saja Theo tahu, Jaden berusaha keras menahan debaran di dada ketika melontarkan pertanyaan tersebut, ada rasa cemas di hati bila ternyata jawaban yang ia ingin dengar tidak sesuai dengan kenyataan.
Theo menggeleng, dan rasanya nafas Jaden baru bisa kembali normal. Jaden mengusap jemari Theo di tangannya perlahan.
“Kalo kamu…? Have you found — ”
Belum sempat Theo menyelesaikan pertanyaannya, Jaden sudah menjawab. “No.”
“Kenapa?”
“What if I say I’m still waiting for you?”
Begitu mendengar hal itu, Theo mengalihkan pandangannya. Jaden merasa hatinya jatuh begitu saja ke lantai ketika Theo berusaha melepaskan tautan tangan mereka.
“Wait.. Theo..”
“Dengerin aku dulu… please..”
Jaden memohon, menarik tangan Theo untuk digenggam erat.
“I want you, Theo… Aku cuma mau kamu.”
“Sorry aku egois, kali ini aku bener-bener nggak mau lepasin kamu gitu aja…”
“I’m so desperate, I know.. tapi aku juga nggak bisa bohongin diri aku sendiri kalo aku masih mau kamu.”
Mata Theo terasa panas, air matanya mengalir begitu saja. Dan Jaden yang melihat hal itu seketika merasa bersalah.
“Sorry… aku minta maaf Theo. I’m really sorry..” Jaden mengusap wajahnya sendiri frustasi.
Tetapi alih-alih menjauh, Theodore malah kembali menggenggam jemari Jaden erat.
“Aku juga mau… mau kamu.” Ujarnya masih dengan air mata mengalir.
“Aku berusaha keras buat nolak semuanya, but I just can’t lie to myself that I really want you, even after all this time…”
Jaden menangkup wajah Theodore, matanya ikut berkaca memandang kearah lelaki yang lebih muda tersebut.
“It’s hard for me… but if it’s about you, I don’t mind trying. Would you wait for me a little bit more?”
“Theodore… I can wait forever. If it’s about you, I don’t mind waiting, even for my whole life.”
Jaden menyatukan bibirnya dengan milik Theo, setelah sekian lama merasakan kembali hangat dari bibir merah muda itu.
Keduanya merasa lepas, seolah semua beban dan rasa janggal dalam hati selama ini akhirnya hilang begitu saja.
Terlebih karena keduanya tahu, hati mereka telah pulang. Hati keduanya telah sampai di pelabuhan terakhirnya.
“I love you. I really do…”
Theodore tersenyum sebelum kembali melumat bibir lelaki yang begitu ia rindukan. Diikuti dengan Jaden yang mengangkat tubuh ringan Theo, membawanya untuk duduk di sofa yang lebih nyaman. Tangan Theodore mengusap tengkuk Jaden, mengundang lenguhan pelan sebelum suara dari luar terdengar keras diiiringi dengan ketukan.
“Mas Jaden!! Theo!! Kok lama sih??”
Ah, rupanya semesta mengingatkan mereka ini bukan waktu yang tepat untuk keduanya kangen-kangenan.
— end
