Work Text:
Kupu-Kupu
▫️
▫️
Dahulu, aku selalu bertanya-tanya, menjadi kupu-kupu itu seperti apa rasanya? Mengepakkan sepasang sayap indahnya hingga tinggi ke langit biru. Sesekali hinggap dari bunga ke bunga sembari mengistirahatkan sayap-sayap lelahnya.
Seperti seorang putri yang tak bisa keluar dari kastilnya, aku hanya bisa berkhayal. Aku tahu takkan bisa menjadi kupu-kupu. Namun, aku boleh berharap suatu saat akan dijemput pahlawan berkuda putih, bukan?
▫️
▫️
Disclaimer: DanMachi © Fujino Ōmori & Suzuhito Yasuda
"Kupu-Kupu" ditulis oleh Lil' Pink Rabbit. Tidak ada keuntungan materi apa pun yang diambil dari fanfiksi ini.
One-shot. Canon-based. Haruhime POV.
Timeline: DanMachi Season 2, pertemuan pertama Haruhime & Bell Cranel.
🚫 WARNING! 🚫
Tema prostitusi.
▫️
▫️
Bukan pahlawan berkuda putih, melainkan pemuda mungil berambut putih dan bermata merah yang pada suatu malam mendatangi kamarku. Dia seperti kelinci. Aku tahu, mungkin kedengarannya tak sopan, tapi memang seperti itulah kesan pertamaku.
Reaksi pertamaku, tentu saja kaget. Pemuda itu tampak sangat murni di mataku. Bukan seperti pria-pria yang datang ke tempat penuh noda milik Ishtar Familia ini. Tempatku bernaung dalam beberapa tahun terakhir.
Betul. Aku memang tak bisa menjadi kupu-kupu. Dan tak pernah sedetik pun terlintas di pikiranku di masa lalu, bahwa aku akan menjelma menjadi kupu-kupu malam.
Sama cantiknya dengan kupu-kupu yang terbang di bawah cahaya sang surya. Namun, dia ternoda oleh kegelapan. Noda yang sampai kapan pun takkan pernah hilang.
"Pelanggan yang terhormat, apakah ini yang pertama bagi Anda?"
Kata-kata itu terucap spontan ketika mataku menangkap kegelisahan pemuda di hadapanku. Dia tampak sangat gugup. Jujur saja, sebenarnya aku pun sama. Ini juga yang pertama kali bagiku.
"Jangan khawatir. Serahkan semuanya kepada Haruhime."
Kalimat yang dengan pongah terlontar itu pada akhirnya gugur dengan memalukan. Kupikir aku bisa mengatasinya, tapi ternyata tak bisa. Bersentuhan langsung dengan lawan jenis, ternyata bukan sesuatu yang bisa kutanggungkan.
Mungkin nanti. Namun, tidak untuk saat ini.
Untungnya, pemuda itu ternyata tak seperti yang kukira. Sulit dipercaya, tetapi dia benar-benar hanya seekor kelinci yang salah masuk ke sarang rubah betina.
Namanya Bell Cranel. Seorang petualang yang berjuluk Little Rookie. Entah bagaimana, pada akhirnya malam itu kami lewatkan hanya dengan bercakap-cakap. Dia ternyata seorang pemuda yang sangat baik.
"Nona Haruhime," katanya pada suatu kesempatan. "Kau suka cerita-cerita pahlawan?"
Aku tak tahu, perbuatan baik apa yang pernah kulakukan, sampai mendapatkan keberuntungan semanis ini. Dalam sekejap, diriku dikuasai antusiasme yang hangat, menyenangkan.
Dia sama denganku, menggemari kisah-kisah kepahlawan dari berbagai negeri. Setiap nama pahlawan yang kusebutkan, dia pun mengetahuinya. Hanya dengan melihat binar di matanya, aku segera mengerti, dia pun sangat mengagumi mereka.
Aku sangat senang. Setelah sekian lama, ternyata ada seseorang yang benar-benar bisa memahamiku.
Akan tetapi, aku hanyalah kupu-kupu malam. Perempuan hina dina seperti diriku ini, sudah tak berhak lagi menyentuh kisah-kisah para pahlawan.
Tak peduli apakah keberadaanku di sini atas kehendakku sendiri atau bukan. Apakah aku yang suka rela datang untuk suatu tujuan, ataukah hanya gadis renard malang tak berdaya yang terjebak menjadi budak belian.
Yang jelas, aku sudah ada di sini. Di kota Orario. Jauh dari kampung halamanku di Negeri Timur. Jauh dari kisah-kisah para pahlawan yang kukagumi.
"Pahlawan sejati tidak akan meninggalkan seseorang sepertimu yang membutuhkan pertolongan."
Kira-kira seperti itu kata-kata lembut yang diucapkan oleh Bell Cranel. Sungguh, dia adalah seorang yang sangat baik hati. Namun, kata-kata itu tak berlaku untukku.
"Bagi para pahlawan, perempuan malam adalah lambang kehancuran."
Kebaikan hati Bell Cranel membuatnya tak bisa menerima pernyataanku. Sangat jelas terlihat di matanya. Namun, pada akhirnya dia hanya terdiam.
Jadi, kami tidak membahasnya lagi sampai tiba saatnya berpisah. Seperti yang kujanjikan, aku menyembunyikan keberadaannya dari para anggota Ishtar Familia yang lain. Kemudian, ketika situasi telah aman, kuantarkan dia menuju kebebasannya.
Sampai saat itu, aku masih melihat dilema di matanya. Apakah dia ingin menjadi pahlawan yang menyelamatkanku, walau kami baru saja bertemu?
Cahaya harapan seolah kembali bersinar untukku. Namun, segera kupadamkan kembali. Perempuan malam adalah lambang kehancuran bagi para pahlawan. Dan jika Bell Cranel memiliki jiwa pahlawan itu di dalam hatinya, maka aku tak ingin dia hancur karena diriku.
Tak mengapa. Semenjak diriku menginjakkan kaki ke dalam Ishtar Familia, aku tahu diriku takkan bisa kembali lagi ke tempat yang penuh cahaya.
Aku tahu para pahlawan di dalam kisah-kisah itu hanya menyelamatkan para putri, atau para perempuan suci yang patut diselamatkan. Bukan perempuan sepertiku.
"Karena aku hanyalah kupu-kupu malam."
▫️
▫️
▫️
FIN
▫️
▫️
▫️
🐰 Cuap-cuap LiRa 🐰
▫️
Good day. 😊
Ini pertama kalinya LiRa publish fanfiksi DanMachi (bukan crossover) berbahasa Indonesia di sini. Kalau ada yang membaca ini, LiRa ucapkan terima kasih. 😊💕
Sejak pertama melihat Bell bersama dengan Haruhime, enggak tahu kenapa, rasanya suka aja. Mereka sangat manis. Rasa-rasanya sejak saat itu, LiRa langsung nge-ship, he he he ....
Btw, betul kan, Bell kayak kelinci. LiRa suka banget sama kelinci. 🐇💕💕💕 (ya terus?)
▫️
LiRa (24/08/2024)
