Actions

Work Header

A [???] Day to Present as an Omega

Summary:

Woonhak harusnya ke sekolah karena ada ulangan harian materi perkembangan gender sekunder untuk mata pelajaran Biologi. Namun, Woonhak justru ujian praktek pertolongan pertama pada omega yang sedang heat di dorm mereka. Maksudnya, Kak Jaehyun ternyata omega early bloomer dan hari ini heat pertamanya.

Notes:

Didedikasikan kepada 1mun-chan pemilik prompt!

Aku nulis ini lancaaaar banget soalnya lucu... Destiny Boyz kita sangat lucu... Aku nyoba nyebarin informasi terkait world building terutama sistem alpha/beta/omega dynamics di sepanjang narasinya, tapi kalau ada yang kurang jelas, boleh ditanyakan aja! Oh iya, ini latarnya sebelum BND debut, jadi anggap saja mereka memang udah di dorm yang sama kayak sekarang sejak bertahun-tahun sebelum debut mwuehehe

Selamat membaca dan semoga bisa dinikmati (terutama untuk 1mun-chan)!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Woonhak sudah dapat materi perkembangan gender sekunder di tahun pertama sekolah menengah atas. Setelah lima pertemuan kelas Biologi, akhirnya materi itu selesai. Besok ulangan harian. Masalah paling besar yang Woonhak hadapi, ia bukan tipe siswa yang mudah menyerap pelajaran.

“Arggghhhh!” Woonhak berteriak sambil acak-acak rambut.

Sungho ketuk meja tiga kali. “Fokus, fokus. Katanya tadi mau dibantu belajar? Nah, tadi Kakak udah jelasin poin-poin pentingnya sekarang coba kamu sebut satu-satu.”

Woonhak menyesal minta tolong ke Sungho. Masalahnya (lagi), Sungho yang paling pintar. Sungho masih ingat materi ini di luar kepala dan kakak-kakak yang lain masih makan malam. Ketika pintu kamar yang Woonhak gunakan bersama Dongmin dibuka, ternyata yang datang Jaehyun.

“Sini aku yang ajar Woonhak,” ujar Jaehyun.

“Yakin?”

Nyali Jaehyun memang tidak besar, tapi ia tidak pernah mundur. Woonhak lihat Jaehyun telan ludah ketika ditanya oleh Sungho, tapi setelah itu Jaehyun mengangguk.

“Ada buku paketnya gak? Aku sambil lihat itu aja supaya enggak salah.”

“Ada, kok, Kak! Ada!” Ini Woonhak yang jawab penuh semangat. Jaehyun soalnya tidak seketat Sungho di segala hal. Sungho lebih galak. Jaehyun tidak. Woonhak langsung angkat buku paketnya tinggi-tinggi di tangan kanan dan buku catatannya di tangan kiri. Semuanya ada! Woonhak rajin mencatat! Buku paketnya sudah dia beli! Aman! lengkap!

Jaehyun pun duduk di atas kasur Woonhak. Sungho pamit untuk kembali ke lantai bawah. Woonhak senang bukan main. Ia penuh semangat beri dadah ke arah Sungho yang hampir tabrak pintu karena tidak pakai kaca mata.

“Kim Woonhak,” Jaehyun tiba-tiba memanggil Woonhak dengan suara yang direndah-rendahkan. “Sudah siapkah dirimu menaklukkan ulangan harian Biologi itu, Dik?”

Jaehyun memperbaiki kaca mata yang sebenarnya tidak ada di pangkal hidungnya itu, lalu ia mengedipkan sebelah mata ke arah Woonhak. “Dengan bimbingan Myung Jaehyun, lulusan dengan nilai sastra terbaik, tidak ada yang tidak mungkin!”

Kali ini, Jaehyun mengangkat tangan kanannya dalam kepalan lalu pasang posisi siaga. Kepalan tangannya pelan-pelan ia turunkan sampai sejajar dengan wajahnya. “Ulangan harian Biologi nilai sempurna akan ada di tangan Kim Woonhak seorang!”

Woonhak tertawa terbahak-bahak. Tepuk tangan Woonhak menggelegar di kamar. Jaehyun juga ikut tertawa sambil pegang perut. Keram sedikit. Woonhak tidak ungkit fakta sastra tidak ada hubungannya dengan ulangan harian Biologi tentang perkembangan gender sekunder. Sekarang, belajar dulu.

Dua jam Woonhak berlatih dengan sesi tanya jawab lisan, kuis kilat, dan sesekali ia akan baca isi buku paket dengan mulut berkomat-kamit. Harapannya, materi ini bisa Woonhak kuasai semalam karena besok sudah ulangan harian.

Presenting biasanya umur berapa?”

“Dua puluh satu sampai dua puluh lima tahun!”

“Benar! Ada berapa gender sekunder?”

“Tiga! Alpha, beta, omega!”

“Seratus! Bagaimana gejala omega yang akan heat?”

“Panas dingin!”

“Woonhak.” Lagi, Jaehyun sebut nama Woonhak. Kali ini, ia meraih pundak Woonhak lalu berkata, “Nanti kalau ujian, jelasin dikit, oke? Minimal jadi empat kalimat. Jadi kamu bisa sebut gejalanya dulu. Tiga kalimat pertama yang penting kamu sebut itu, kontras suhu tubuh dan suhu ruangan yang dirasakan omega, perut yang rasanya muter-muter, dan yang paling penting omega itu ada slick yang ngalir. Tapi, omega di heat pertama enggak butuh dipenetrasi, mereka butuh rasa aman. Terus slick-nya meski masih sedikit, disarankan tetap pakai pembalut karena bisa buat si omega gak nyaman. Nah, kalau alpha, hasrat seksualnya langsung tinggi. Oke?”

Woonhak tidak tahu mau bilang apa. Woonhak baru akan 16 tahun. Jaehyun yang di depannya baru akan 19 tahun. Jadi, 15 tahun dan 18 tahun. Gender sekunder Jaehyun terungkap setidaknya dua atau tiga tahun lagi. Masih lama. Woonhak jauh lebih lama lagi. Woonhak takut … sedikit.

“Kak, kira-kira nanti aku pas presenting jadi apa, ya?”

“Enggak tahu,” jawab Jaehyun cepat, sambil cengar-cengir.

“Kalau Kakak sendiri?”

“Gak tahu juga.” Jawaban Jaehyun datangnya cepat, tapi kali ini sambil tunduk. Woonhak mau tanya kenapa. Asumsi Woonhak, mungkin tamat SMA menyenangkan tapi ketidakpastian masa depan menakutkan. Atau mungkin Jaehyun punya ekspektasi tersendiri tentang gender sekundernya. Guru di sekolah bilang, banyak yang percaya stereotipe padahal tidak begitu adanya. Jadi, jawaban tidak tahu yang keluar dari mulut Jaehyun sangat realistis, sampai-sampai bisa buat Jaehyun khawatir sendiri. Woonhak jadi ikut khawatir.

“Kak.” Suara orang ketiga datang dari pintu. Ah, ternyata Dongmin. “Udah malem. Akhir-akhir ini gak enak badan, kan?”

Oh, tidak, Woonhak lupa akan hal itu. Woonhak jadi merasa tidak enak karena sudah sita waktu istirahat Jaehyun yang sangat berharga untuk trainee seperti mereka. Woonhak tahu ia sedikit lambat menangkap pelajaran sekolah. Bukan hal yang mudah Jaehyun mengajarnya berjam-jam saat sedang tidak enak badan. Ujung bibir Woonhak langsung berubah seperti emotikon sedih. Woonhak benar-benar sedih.

“Gapapa, Woonhak. Sana kamu istirahat juga,” ujar Jaehyun sambil acak-acak rambut Woonhak. Jaehyun juga tepuk bahu Dongmin yang masih di pintu lalu pergi ke kamarnya sendiri.

Woonhak sulit tidur malam itu. Guling ke kanan, Jaehyun enggak bisa istirahat karena Woonhak. Guling ke kiri, meski diajar berkali-kali pun Woonhak susah ingat materi. Andai Woonhak adonan mie, pasti sudah jadi panjang dan tipis karena terus berguling-guling. Namun, Woonhak mau jadi unagi saja. Soalnya enak sekali, tapi ketika sadar menjadi unagi berarti Woonhak akan dibunuh lalu dimakan, keinginan itu ia urungkan.

Akhirnya Woonhak tertidur sambil pikirkan di kehidupan selanjutnya nanti mau lahir jadi apa. Mimpinya sekarang soalnya sudah jelas. Woonhak ingin jadi bintang yang bisa bersinar, bukan berarti mau meninggal lalu jadi bintang di langit karena Woonhak tertarik lahir kembali dan reinkarnasi ke berbagai macam hewan supaya tidak sombong saat jadi manusia. Woonhak mau jadi bintang yang dikagumi banyak orang. Sosok bintang yang meski sudah mati pun, cahayanya tetap terang.

Woonhak susah tidur.

Woonhak juga susah bangun.

Kasur di seberang Woonhak sudah kosong. Dongmin berarti sudah bangun. Hari ini tidak ada jadwal latihan pagi, jadi mungkin Dongmin ke studio untuk garap lagu. Woonhak buru-buru mandi bebek dan sikat gigi karena semalam ia tidak mandi sebelum tidur. Tidak ada yang Woonhak ingat selain sepatu yang ia tenteng keluar. Parfum pun Woonhak tidak pakai karena lupa. Ia jadi panik sendiri.

Oh, benar. Kan mau sekolah. Woonhak kembali lagi ke kamar untuk ambil tasnya. Dari kamar ke pintu depan, Woonhak mengecek bukunya. Untung saja semalam Woonhak sudah atur buku sesuai jadwal mata pelajaran.

Namun, Woonhak tiba-tiba sadar. Daritadi ada bau susu stroberi yang menyapa indera penciumannya. Apa ada yang menumpahkan susu stroberi? Woonhak akhirnya cek ke dapur, tapi tidak ada. Bahkan maunya melemah. Saat Woonhak coba tutup mata dan ikuti sumber baunya, dahi Woonhak menabrak pintu.

Pintu kamar Jaehyun.

Woonhak tidak berpikir ketika ia putar kenop pintu di hadapannya. Hanya saja, yang menyambut Woonhak adalah bau susu stroberi yang lebih intens (tanpa ada bekas tumpahan susu stroberi di mana pun) dan Jaehyun dengan piyama biru tua andalan yang tergulung selimut.

“Kak?”

Jaehyun mencari sumber suara dan menemukan Woonhak yang ada di pintu. Dengan susah payah, Jaehyun pun berhasil duduk. Akan tetapi, tangannya membantu menumpu seluruh tubuh. Keringat membasahi seluruh tubuh Jaehyun.

“Demamnya makin parah kah, Kak?” Woonhak langsung lari mendekati Jaehyun. “Tadi udah sarapan belum? Udah minum obat? Kak Dongmin tahu gak? Apa aku telepon orang agensi aja?”

Jaehyun mengernyit mendengar rentetan pertanyaan Woonhak. Ia pun hanya menggeleng pelan.

Unak, kayaknya Kakak omega, deh,” gumam Jaehyun.

“Hah?”

Belum sempat Jaehyun jelaskan apa yang dirasakannya, kesadaran Jaehyun sudah hilang. Pingsan. Mata Woonhak membelalak. Ia langsung mengirim pesan di grup mereka berenam, lalu ia coba telepon pihak agensi yang bertanggung jawab memantau kehidupan sehari-hari mereka.

Woonhak mengusap wajahnya. Naik-turun-naik-turun. Sekali di kanan dan sekali di kiri, Woonhak lalu menepuk pipinya sendiri. Tidak boleh panik. Sekarang cuma ada dia dan Jaehyun yang pingsan di ruangan ini. Akhirnya, Woonhak pinggirkan selimut yang membalut tubuh Jaehyun. Keringat di sekitar dahi dan leher Jaehyun juga Woonhak seka dengan tisu yang ada di nakas.

Yang jadi masalah, Woonhak tidak tahu orang pingsan sebaiknya dibiarkan tidur terlentang atau bagaimana. Woonhak pun memilih untuk memapah Jaehyun supaya bersandar di bahunya. Jaehyun benar-benar berbau susu stroberi.

Berarti … Jaehyun benar-benar sedang presenting. Early bloomer. Seingat Woonhak, yang belum presenting memang sudah bisa mengidentifikasi feromon sejak masa pubertas, tetapi mereka belum punya feromon, seperti dirinya sekarang.

Jaehyun sudah punya feromon, sudah presenting, dan sudah pasti omega.

Woonhak pun menepuk-nepuk punggung Jaehyun pelan. Entah mengapa, Woonhak yang merasa sedikit takut. Kalau Woonhak takut, Jaehyun pasti takut juga. Mereka sama-sama pengecut. Namun, sekarang Woonhak harus sedikit lebih berani. Jadi, Woonhak coba kendalikan diri. Tidak boleh menangis.

Karena feromon Jaehyun yang baunya manis dan hangatnya tubuh Jaehyun seperti sebuah boneka untuk Woonhak yang mengantuk setelah begadang, remaja yang belum presenting itu tertidur. Posisi mereka tidak berubah. Woonhak bersandar di sandaran ranjang dan kepala Jaehyun di bahunya.

“Kak Jaehyun … Kak ….”

Woonhak meraba-raba tempat kosong di sampingnya.

“Kak Jaehyun?!” Ia langsung duduk terbangun. Bukannya tadi Jaehyun ada di samping Woonhak? Apa semuanya mimpi? Tapi, Woonhak benar-benar masih gunakan seragam sekolahnya. Oh, tidak! Woonhak harusnya sekolah! Hari ini ia ulangan harian! Tunggu, sudah pukul berapa sekarang?

“Tidur aja lagi.” Itu suara Dongmin.

“Kak, Kak Jaehyun gi — ” panggil Woonhak.

“Udah diperiksa dokter, katanya lagi heat. Dokternya bilang, harus ada yang temenin Kak Jaehyun. Tapi pihak agensi ngelarang kami deket-deket Kak Jaehyun, katanya takut nge-trigger kami jadi early bloomer juga,” ungkap Dongmin dengan suara kecil.

Woonhak jadi sedih. Mereka semua pasti khawatir dengan Jaehyun. Woonhak paham alasan agensi. Umur Kak Jaehyun dengan teman-teman yang lain dekat. Kalau semuanya early bloomer, persiapan debut mereka bisa tertunda. Jahat, tapi Woonhak tidak tahu harus bilang apa. Masalah paling besar di kepala Woonhak, kalau mereka dilarang menemani Jaehyun, siapa dong?

“ — kamu.”

“Hah? Apa, Kak?”

“Umur kamu lumayan jauh sama Kak Jaehyun. Kamu dibolehin nemenin Kak Jaehyun. Makanan ada di dapur. Kamu panasin aja kalau mau makan yang hangat. Kakak mau turun lagi ke lantai bawah. Kalau lama-lama nanti dimarahin. Petunjuk lengkap buat nemenin Kak Jaehyun ada di meja dapur. Dadah, Unagi.” Dongmin mengacak-acak poni Woonhak lalu sebelum keluar dari kamar ia berkata, “Tolong, ya.”

Woonhak seperti mendapat sebuah misi penting untuk menyelamatkan sebuah negara. Ia pun bertekad untuk menemani Jaehyun sepenuh hati agar kakak-kakak yang lain tidak perlu khawatir. Woonhak bisa! Tapi, ulangannya bagaimana, ya? Woonhak ingin bertanya, tapi Dongmin sudah tidak ada di depannya. Ketika melihat sekeliling, ternyata ia dipindahkan dari kamar Jaehyun ke kamarnya bersama Dongmin.

Tidak menunggu lama, Woonhak beranjak ke dapur. Ia belum makan seharian. Makanan yang disiapkan Dongmin (mungkin) masih agak hangat, jadi Woonhak langsung makan. Menunya gukbap. Nasi dengan kuah, intinya. Di dalamnya ada sayur mayur dan lauk pauk. Mengenyangkan dan sehat. Ada dua mangkuk. Setelah makan, Woonhak ingin membawa satu mangkuk yang tersisa ke kamar Jaehyun. Ia lalu mencari minuman di kulkas dan ada susu stroberi.

Woonhak hanya bawa air dingin biasa. Mungkin Jaehyun bisa pusing kalau cium bau stroberi lagi di saat feromonnya sendiri sudah seperti susu stroberi.

Penuh hati-hati, Woonhak mengetuk pintu kamar Jaehyun. Setelah tiga kali ketukan, Woonhak pun masuk. Pakaian Jaehyun sudah berbeda dengan pagi tadi. Feromonnya juga sudah tidak begitu menyengat.

Namun, Jaehyun tidak banyak sadar selama sedang heat. Setelah Woonhak tanyakan ke dokter, katanya itu efek organ reproduksi Jaehyun yang matang terlalu cepat. Alhasil, energi yang Jaehyun butuhkan berlipat ganda. Woonhak juga tidak bisa banyak membantu. Setiap malam saat dokter memeriksa Jaehyun serta perawat memastikan kebutuhan nutrisi Jaehyun terpenuhi, Woonhak akan tidur di samping Jaehyun.

Woonhak suka tidur dengan Jaehyun karena kakaknya itu lebih kecil dan sekarang berbau susu stroberi. Mungkin firasat Woonhak saja, tapi Jaehyun selalu cari scent gland Woonhak yang belum terbuka di ceruk leher itu. Rasa penasaran Woonhak besar, tapi Jaehyun tidak bisa diajak berbicara.

Lima hari seperti itu. Sepulang sekolah dan latihan rutin, Woonhak pasti tidur bersama Jaehyun. Untung saja, agensi sudah membayar perawat yang mengurus kebutuhan sehari-hari Jaehyun. Namun, di hari ke enam, Jaehyun sadar!

Oh my God!” Woonhak berseru heboh ketika melihat Jaehyun duduk di atas ranjang.

Woonhak menutup mulutnya yang menganga, lalu pelan-pelan senyumnya mekar setelah lihat Jaehyun tersenyum tipis ke arahnya. Ia pun langsung duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang. “Udah mendingan kah rasanya, Kak?”

“Iya, tapi — uhuk — aghak lemes,” jawab Jaehyun. Suaranya agak parau. Woonhak langsung berdiri mengambilkan Jaehyun air hangat. Pandangan Woonhak tidak lepas dari Jaehyun yang menenggak air minum.

“Gapapa, Kak. Dokternya bilang itu karena seminggu badan Kakak panas, tapi Kakak sendiri ngerasa dingin, jadi pasti lemes. Nanti kalau udah selesai pelan-pelan jadi bugar lagi, kok, Kak,” jelas Woonhak serius.

Jaehyun terkekeh mendengar perkataan Woonhak. “Kamu jadi banyak belajar, ya, gara-gara jagain Kakak. Makasih, ya, Woonhak,” ujar Jaehyun sambil mengusap pucuk kepala Woonhak.

Senang kerja kerasnya dilihat oleh Jaehyun, Woonhak tersenyum lebar. Jaehyun lalu menepuk tempat kosong di sebelahnya. Woonhak pun beranjak ke atas kasur. Jaehyun juga meminta tolong untuk dibantu kembali berbaring. Energinya sudah habis setelah duduk sejak sesi pemeriksaan dokter tadi.

Perlahan-lahan, Jaehyun akhirnya berbaring dengan nyaman. Seperti biasa, Woonhak juga ikut berbaring. Feromon Jaehyun semakin samar setiap hari. Woonhak secara tidak sadar mencari-cari scent gland Jaehyun. Woonhak soalnya suka susu stroberi. Jaehyun tertawa karena geli, tapi tenaganya tidak ada.

Jaehyun pun memperbaiki posisinya supaya Woonhak dekat dengan scent gland-nya. Woonhak yang sebesar itu menjadi little spoon yang kepalanya sejajar dengan leher Jaehyun. Sungguh pemandangan yang menggemaskan. Jaehyun tidak bisa mendeskripsikan semenggemaskan, selucu, semanis, sebaik, dan sekecil apa Woonhak di matanya. Rasanya seperti adik kandung sendiri. Satu kecup Jaehyun labuhkan di pucuk kepala Woonhak.

Kehangatan ini begitu nyaman sampai Jaehyun melepaskan feromonnya tanpa sadar. Hal tersebut masih asing untuk Jaehyun. Ia belum tahu cara melepaskan feromon dengan teratur, tetapi sekarang sepertinya Jaehyun sudah paham. Ia hanya perlu mengomando tubuhnya sesuai dengan apa yang ada di pikirannya perlahan-lahan sampai feromonnya terlepas.

“Feromon Kakak enak banget baunya. Manis kayak susu stroberi,” gumam Woonhak.

“Enggak bikin enek, kah?”

Woonhak menggeleng. “Enak, kok, baunya. Aku suka.”

“Ohoho, tapi Kakak lebih suka bau kamu, deh.”

Mendengar perkataan Jaehyun, Woonhak menjauhkan kepalanya. Kali ini, wajah mereka sejajar. “Tapi aku kan belum punya feromon, Kak?”

“Emang bukan bau feromon, tapi bau kamu aja. Kayak, sekarang tuh bau kamu mirip bau bayi.”

“Kalau Kakak cium bau yang Kakak suka, berarti bisa jadi tenang kan?”

Jaehyun mengangguk.

Woonhak lalu menarik kepala Jaehyun untuk beristirahat di lengannya. Sekarang, Jaehyun diapit oleh kedua tangan Woonhak dalam sebuah pelukan yang hangat. “Kalau gitu, Kakak cium aja bau aku.”

Ah, adik kecil yang dulu Jaehyun kenal sudah besar. Woonhak sudah bisa diandalkan. Namun, Jaehyun tidak berharap Woonhak jadi dewasa secepat ini. Jaehyun ingin lihat Woonhak tertawa saja, atau sesekali marah ketika ia ganggu bersama Dongmin. Jaehyun ingin tatap Woonhak menempel dengan Donghyun lamat-lamat. Jaehyun ingin perhatikan Woonhak yang akan makan daging bersama Sungho, lalu ikut makan pizza dan berbagai macam makanan manis bersama Sanghyuk. Tidak perlu cepat besar.

“… soalnya di buku paket aku katanya sekarang ini Kakak cuma butuh ketenangan dan kenyamanan, hehe.”

Jaehyun tutup matanya guna nikmati bau alami Woonhak. Entah itu bau dari pewangi pakaian atau lemari kayu yang Woonhak pakai, baunya sangat menenangkan. Woonhak sekarang pakai piyama corak beruang cokelat dengan pita sebagai dasi. Mirip Woonhak.

“Eeeh?” Woonhak heran ketika merasakan ada yang basah di lengannya. Ketika ia menunduk, ternyata Jaehyun yang menangis. “Kak? Kok nangis? Ada yang sakit, kah?”

Jaehyun menggeleng, tapi tangisnya semakin deras.

“Terus kenapa …?”

Getaran di suara Woonhak bisa Jaehyun dengar. Woonhak tetap anak kecil yang panik jika lihat salah satu dari kakak-kakaknya menangis. Jaehyun pun menggeleng lagi sambil mengusap air matanya.

“Enggak apa-apa, kok. Ayo tidur aja,” ujar Jaehyun.

Woonhak mengangguk, lalu ia rapikan selimut untuk dirinya dan Jaehyun.

Lembutnya bahan piyama Woonhak, bau khas Woonhak, dan hangatnya pelukan Woonhak buat Jaehyun cepat tiba di alam mimpi. Meskipun menjadi seorang omega bukan sesuatu yang membuat Jaehyun kecewa, ia tetap sedikit takut. Namun, kehadiran sosok adik yang Jaehyun sayang berhasil buat lebih kurang seminggu yang sepi menjadi jauh lebih baik.

Untuk Jaehyun, hari ini sungguh hari yang sempurna sebagai seorang omega.

Notes:

A kudos and comments are much appreciated! Thank you for reading <3

X/Twitter | Retrospring