Chapter Text
Chris melebarkan bola matanya. Ia tak menyangka akan mendapatkan dare dari Jisung mencium ganas Seungmin—pemuda murah senyum namun tampak mengerikan itu—minimal lima menit dan harus mendokumentasikannya.
"Seungmin? Who is he?" tanya Chris, pura-pura tak tahu-menahu siapa itu Seungmin.
Sebuah seringai tipis tampak di bibir pemuda di hadapannya. "Gak usah sok pura-pura gak kenal lo," ucap Jisung, menyeringai. Sontak, dua pemuda lain yang duduk melingkar di dekatnya tertawa puas.
“Udahlah terima aja, cemen lo ciuman doang gak mampu,” ujar Changbin.
Damn! Fuck you! Chris mengumpat dalam hati.
“Liat aja lo nanti, Bin.”
Botol kosong di meja diputarnya. Tak sampai tiga menit, ujung botol itu mengarah pada Jisung. Manik matanya menatap pemuda yang suka tebar pesona itu dengan tatapan tajam—jangan lupakan pula ia mengukir seringai di bibirnya.
"Jisung." Chris sengaja menjeda perkataannya, memerhatikan ekspresi Jisung yang terlihat memamerkan senyuman—namun sebenarnya Jisung deg-degan setengah mati. "lo harus bisa godain Minho, sampe dia terang-terangan ngaku cinta atau suka sama lo."
Minho? Siswa yang terkenal dengan penyuka kucing, tak peka, dengan tingkah 3D alias aneh itu? Apa tak salah? Meluluhkan hatinya saja sulit, apalagi mendapatkan pernyataan cinta darinya? Gila!
"Huh? Apa?" tanya Jisung. Ia mengedipkan mata beberapa kali dengan mulut setengah terbuka. Detik kemudian, ia mengatupkan mulutnya.
Seringai Chris semakin melebar. "Gak berani ya lo?"
Jisung menghela napas. Jika ia tak menyanggupi pilihan ini, ia tak mau mengambil resiko mencium orang aneh atau bahkan yang lebih buruk, mendapat dare yang bahkan membuat harga dirinya jatuh di mata semua orang.
Jisung menyelipkan jemari pada rambutnya, tersenyum. “Yaudah, oke."
Dan tinggal tersisa satu orang lagi yang belum mendapatkan dare, Changbin. Sebelum Jisung hendak menyebutkan dare yang diberikannya, Chris mengisyaratkan sesuatu lewat tatapan mata, membisikkan sesuatu ke telinganya. Changbin harap-harap cemas kini memperhatikan Jisung yang perlahan membuka bibirnya, berdoa dalam hati semoga dare yang diberikan padanya tak seburuk dari mereka semua.
Tapi harapanmu tak akan terkabul, dear.
"Changbin lo harus nembak Felix di tengah lapang basket dan harus pacaran sampe seminggu, gak boleh kurang dari itu."
Nah 'kan?
Changbin mematung ditempat. “Jangan Felix, ganti orang please.”
“Siapa tadi yang bilang, udahlah terima aja dare-nya. Cemen lo nembak doang gak mampu.”
“Bangsat,” umpatnya. Chris tertawa puas melihat Changbin marah karena termakan kata-katanya sendiri.
Changbin harus menembak Felix, yang jarang bicara maupun interaksi, pemilik deep voice, penghuni perpustakaan, dan wakil kesiswaan itu? Dan ... Menyatakan cinta di lapang basket? What the hell!
..
Stupid Bet Series
[1/3] More Than a Dare
Changlix Fanfiction
written by Arla
..
Changbin menghela napas panjang. Ia berdiri, menghampiri pilar koridor ruang kesiswaan lalu menyandarkan punggungnya pada pilar itu. Ia sudah menunggu seseorang sejak sepuluh menit lalu. Dan sampai saat ini orang yang ditunggu-tunggunya belum menampakkan batang hidungnya.
Hampir putus asa, ia berniat pergi ke cafetaria dan memutuskan untuk menunda keperluannya dengan orang itu setelah pulang sekolah. Namun belum sempat ia melangkah, suara pintu ruangan kesiswaan yang dibuka seseorang mengalihkan perhatiannya. Seorang pemuda bersurai pirang, dengan ciri khas freckless di sekitar pipinya, keluar ruangan lalu menutup kembali ruang kesiswaan.
Tak salah lagi. Orang inilah yang ditunggu-tunggunya sejak bermenit-menit lalu.
Sebelum pemuda itu melewatinya, dengan gesit, ia meraih pergelangan tangan kanan pemuda itu—tangan kirinya membawa cukup banyak map-map merah. Sontak, langkah kaki pemuda Briton terhenti. Menatap Changbin dengan tatapan tak suka seolah berkata apa-urusanmu-berani-beraninya-menggenggam-lenganku.
"Felix, lo bisa ikut gue bentar?" pintanya.
Pemuda yang bernama Felix itu berdecak kesal. Ia melepaskan cengkraman Changbin dengan paksa. "No," jawabnya ketus.
Changbin yang tak mau kehilangan kesempatan berharga ini—bayangkan saja ia sampai menunggu lima belas menit, melewatkan jam makan ketika istirahat—kembali meraih pergelangan tangan Felix.
"Gak lama kok, bentar aja."
Felix mendengus, memberikan tatapan tajam pada Changbin namun ia sama sekali tak memedulikannya. "What do you want, Changbin?"
Sesaat, Changbin heran ternyata Felix mengetahuin namanya. Tapi ia tak memedulikan hal remeh begitu karena memang, ia terkenal, bukan? Ya ya, siapa sih yang tak pernah mendengar nama Changbin, salah satu anggota 3RACHA, pemuda yang kadang membuat onar namun pandai dalam bidang olahraga dan beberapa kali mendapatkan piala kejuaraan?
Changbin berdehem kecil, mengukir seulas senyum tipis. "Gue mau ..." Ia tak meneruskan kata-katanya, melainkan ia membawa Felix ke tengah lapang basket, dan berhenti di tengah-tengah. Siswa-siswi yang sedang berjalan di koridor sontak mengalihkan perhatian padanya yang menggenggam pergelangan seorang pemuda. Di tengah lapang pula.
Pemuda yang memang terkenal sebagai pemain football itu menarik napas dalam-dalam, berusaha menampilkan senyumannya yang membuat gadis-gadis memekik tak tahan.
"Apa?" tanya Felix tak sabaran. Ia risih diperhatikan banyak orang. Dan lagi, ia merasakan firasat buruk akan menimpanya.
Dengan suara lantang Changbin berujar, "Felix, lo mau gak jadi pacar gue?"
What?
Jadi ... Apa tadi katanya? Apa ia tak salah dengar?
Seketika bisik-bisik merebak di koridor, sampai-sampai ada yang histeris, tak terima seorang pemuda populer seperti Changbin menyatakan cinta pada seseorang book worm yang keberadaannya tak begitu disadari banyak orang.
Rasa panas menjalar ke pipinya. Antara rasa malu, marah, dan rasa aneh berbaur menjadi satu. "Are you kidding me? Jangan bercanda—"
"Please, terima ya~" ucap Changbin dengan nada memohon. Tentu saja ia memotong perkataan Felix sebelum pemuda itu menolaknya.
Felix mendengus. Ia tak mau lebih malu lagi jika terus menjadi bahan tontonan banyak orang di tengah lapangan begini. "Ya. Oke. Let me go."
Senyum sumringah terukir di bibir Changbin. Sedangkan Felix melangkah pergi dengan jantung yang entah mengapa berdebar lebih cepat dari biasanya. "Thanks Lixie!"
Felix berdecak sebal. Berani-beraninya pemuda itu memanggilnya Lixie. Tapi ia tak mungkin berbalik arah untuk kembali menghadap Changbin hanya untuk mengomentari nama panggilan yang terdengar seperti pet name itu.
Changbin sudah biasa mengencani perempuan maupun laki-laki, bahkan dikenal sebagai cassanova seperti member 3RACHA lain yang sering hang out dengannya itu. Ia ... Mengambil keputusan yang benar 'kan?
It’s okay, paling juga hubungan ini gak bakal tahan lama. I know, I’m boring, batinnya bersuara. Felix meninggalkan lapang dengan seulas senyum miris tampak di bibirnya.
.
.
.
.
.
"Lix, itu ada Changbin nyariin lo di depan kelas." Ucapan Ryujin sontak membuat Felix mengerutkah dahi. Changbin? Kenapa dia menunggunya di luar?
Oh ya, ia baru ingat kemarin Changbin meminta menjadi pacarnya. Huh.
Berdecak sebal, Felix menyimpan alat tulis dan menutup buku tugas essay-nya. Ia menulikan telinganya dari tanggapan teman sekelasnya—yang kebanyakan iri dan benar-benar menyebalkan.
"What do you want?" tanyanya ketus. Ia sudah lelah menjadi topik pembicaraan di sekolah gara-gara pernyataan cinta di tengah lapang basket itu. Ia tak mau bibir-bibir cerewet dari banyak orang semakin berkoar membicarakan tentangnya. Ia merasa aman keberadaannya tak banyak yang menyadari.
Changbin sedikit memajukan bibirnya mendengar jawaban ketus pacarnya yang baru sehari jadian itu. "Jangan galak-galak dong Lix, kan udah jadi pacar. Gue Cuma mau ngajak makan bareng di kantin."
"Tapi—"
"Gak ada tapi-tapian."
Secara sepihak, Changbin menarik pergelangan tangan Felix dan mulai melangkahkan kakinya menyusuri koridor kelas. Mau tak mau Felix mengikutinya, dengan menggerutu dan mengumpat dalam hati.
Yang lebih mengesalkan lagi, ia harus duduk bersama dua orang yang terkenal dengan pembuat onar, yang salah satunya pernah menjadi teman dekat—coret, ia tak mau mengakui Jisung seperti itu pernah menjadi teman dekatnya ketika masa kecil—yang benar-benar menyebalkan.
"Hai Lix, long time no see," sapa Jisung, menampakkan senyum di bibirnya.
Felix berdecak sebal, tak berniat sama sekali melirik Jisung.
Lima belas menit kemudian, Felix kembali ke kelas dengan rasa dongkol ia pendam dalam hatinya. Siapa yang tak sebal jika ia berada di antara ketiga orang yang tertawa-tawa menertawakan hal-hal tak penting? Felic bahkan tidak menyimak sama sekali obrolan mereka dan enggan untuk berbicara sepatah kata pun!
Besoknya, lagi. Changbin menunggu di depan kelas Felix di jam istirahat. Ketika ia sedang berjalan keluar kelas hendak menyantap sandwitch buatannya dengan temannya—yang membawa sekotak bekal makan—di bawah naungan pohon belakang sekolah, Changbin berhasil meraih pergelangan tangan Felix.
"Apa lagi?" tanya Felix kesal.
Changbin menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal, lalu menampakkan seulas senyum di bibirnya. "Mau ngajak lo ke kantin lagi."
"No," jawab Felix, langsung menolak ajakan Changbin. "Liat gue lagi makan bareng—"
"Lix, kayaknya nanti lagi aja makan barengnya," kata temannya, ia pamit lalu berjalan meninggalkan Changbin dan Felix yang masih berdiri di depan kelas dengan tangan Changbin masih menggenggam pergelangan tangan Felix.
Felix menggeram pelan, men-death glare Changbin. Namun Changbin tak takut sama sekali dengan tatapan horror itu. "Lix, lo keliatan imut kalo natap gue penuh sayang gitu."
Huh, kenapa ia malah menganggap ia imut, dan tatapan penuh sayang?
"Shut up!" bentak Felix. Changbin bilang ia imut? Seketika rasa panas menjalar ke pipinya. Cepat-cepat, ia berbalik badan dan mulai melangkah menyusuri koridor.
Changbin tersenyum lebar melihat pipi Felix dihiasi rona merah. Lupakan perkataannya tadi yang bilang Felix imut, karena yang dilihatnya kali ini keimutannya meningkat berkali lipat.
"Lix, lo mau kemana?" tanya Changbin. Segera mungkin ia menyesuaikan langkahnya dan berjalan di samping Felix yang menggerutu dalam bahasa Inggris yang tak dapat dipahaminya.
Tanpa mengalihkan pandangan pada Changbin, Felix menjawab, "Tadi katanya mau ke kantin."
Ya, ya, Felix lebih baik menuruti kemauan pacarnya daripada terus-terusan diganggu seperti tadi, 'kan? Paling-paling, di kantn ia hanya makan dalam diam, tanpa harus menimpali atau mendengarkan apa yang dibicarakan 3RACHA. Seperti kemarin.
Ketika Felix membuka bekalnya, ia merasa berpasang-pasang mata memperhatikannya. Apa salahnya membawa bekal ke sekolah? Tapi ia tak acuh. Persetan dengan tanggapan orang lain.
"Lix, lo bawa bekel tiap hari?" tanya Changbin, yang sedari tadi memperhatikan Felix.
Chris dan Jisung yang baru datang ke kantin bergabung dengan Changbin dan Felix. Jisung yang mengambil tempat duduk di samping kiri Felix.
“Itu lo bikin apa? Sandwitch?” tanya Chris.
Tampak olehnya roti yang dibakar sampai agak kehitam-hitaman, hampir hangus. “Jangan bilang lo yang buat sendiri, sampe gosong gitu," tanggap Jisung. Mendadak ia merasa ngeri membayangkan ia mencicipi masakan Felix—pernah sekali ia merasakannya waktu kecil, maktu bermain masak-masakan—dan ia tak ingin merasakan untuk yang kedua kalinya.
Felix mendelik tak suka. "Emang kenapa?"
Jisung terkekeh, ia tak berniat menanggapi karena ia belum memesan makanan.
Berbeda dengan Jisung, kini Changbin malah menatap Felix dengan tatapan kagum. "Lo bisa masak, Lix?" tanyanya. Felix hanya diam, mulai menyantap makanannya. "lain kali lo bisa bikinin gue bekel juga," tambahnya.
Jisung tertawa mendengarnya. "Jangan ngarep, lo bisa-bisa mati keracunan, Bin."
Felix menaruh kembali sandwitch ke tempat bekalnya, menutup kembali kotak makannya lalu menggebrak meja agak nyaring. Cukup. Felix sudah tak bisa menahan kekesalannya lagi. Ia tak peduli orang-orang melirik padanya, atau apapun tanggapan mereka itu! Ia hanya perlu pergi dari sini!
"Lo mau kemana?" tanya Changbin kelimpungan. Felix tak menoleh sedikitpun melainkan terus berjalan cepat melalui meja-meja di kantin.
Belum sempat Changbin mengejar, Jisung menarik paksa lengannya sehingga ia yang sedang berdiri kembali terduduk di bangkunya. "Udahlah, ngapain lo kejar. Mending lo makan," saran Jisung, melirik ke arah makanan kantin yang kini terhidang di meja.
Chris yang daritadi enggan untuk berkomentar apa-apa, kini mendukung perkataan Jisung. “Abisin dulu makanan lo.”
Ya, urusan Felix bisa diurus nanti.
.
.
.
.
.
.
Felix menghela napas panjang. Ia masih sebal dengan Changbin yang membawanya—lebih tepatnya memaksanya—ke stadion untuk menontonnya bermain football. Kejadian kemarin di kantin masih membuatnya kesal—walaupun Changbin telah meminta maaf padanya.
Seharusnya ia tak berada di sini. Seharusnya ia memeriksa proposal kegiatan atau anggaran dana pengeluaran yang menumpuk di mejanya. Bukan membuang-buang waktu dengan menonton pertandingan macam begini.
Penonton ramai bersorak ketika Changbin menggiring bola mendekati gawang lawan. Felix mendengus. Apa bagusnya pemain bola sepertinya? Oh ya, ia akui parasnya sedikit tampan. Kata kebanyakan orang, ia ahli di bidang olah raga. Benarkah?
Felix mengawasi setiap gerak-gerik Changbin. Permainannya tak buruk. Bahkan bisa dikatakan lebih bagus dari pada teman setim lainnya. Tanpa sadar, ia terus mengamati permainan boyfriend-nya itu sampai-sampai bersorak kecil saat Changbin berhasil mengoper bola kepada temannya, mengoper padanya lagi dan ia menghindari dua orang lawan yang menghadangnya lalu ... stadion dipenuhi dengan euforia keberhasilan mencetak gol.
Felix berdehem kecil, merasa malu dengan apa yang dilakukannya bak seorang fan girl yang memekik kegirangan. Ia menenangkan kembali dirinya dengan duduk manis. Dalam hati ia meyakinkan pada dirinya sendiri. Ia hanya ingin memastikan Changbin lihai dalam bidang olahraga, hanya itu.
Seseorang yang menepuk pundaknya secara tiba-tiba membuatnya terkejut. "Woah Felix? Gak nyangka ternyata lo ikut nonton di sini. Lagi liat Changbin ya?" tanya orang tadi, siapa lagi kalau bukan Jisung yang kini melemparkan tatapan menggoda padanya.
Tangan yang masih bertengger di pundaknya ia singkirkan tanpa perasaan. "Apasih, gue liat pertandingannya," bantahnya. Jisung hanya tertawa geli melihat ekspresi Felix yang aneh dengan pipi sedikit memerah begitu.
"Iya, serah lo," tanggapnya sembari memutar bola matanya. "Serius lo betah nonton di sini sampe akhir pertandingan? Udah jelas-jelas tim Changbin yang bakal menang."
Felix membuka mulut, mengatup lagi. Ia sampai-sampai lupa sudah berapa lama ia menyaksikan pertandingan ini. Ia melirik jam tangannya, dan hampir satu jam telah berlalu.
"No. Mending meriksa proposal kegiatan."
Sebelum Felix meninggalkan stadion, ia sempat melirik pada Changbin yang sedang meminum sebotol air mineral di waktu time out. Tak sengaja, manik mereka bertemu dan ... Changbin tersenyum. Senyum buat siapa? Gue? Tanya Felix dalam hati. Dengan cepat, ia menggeleng pelan dan melanjutkan langkahnya.
.
.
.
.
.
Changbin mendudukkan diri di bangku sekertaris kesiswaan, memperhatikan Felix yang tengah membaca sebuah dokumen—ia tak mau memusingkan diri sendiri menebak dokumen apa—dengan alis berkerut, mengangguk, menggeleng, dan terkadang mencoret-coretnya. Changbin berdecak kagum melihat Felix tampak serius dengan pekerjaannya.
Sembari memainkan bolpoin yang ia temukan di meja, ia membuka suara. "Lixie, masih lama?"
Felix menoleh sekilas pada Changbin, mengembuskan napas panjang lalu melirik map-map merah yang terletak di atas meja. "Kerjaan gue masih banyak." Changbin mengangguk kecil dan ber-oh pelan. "and stop calling me Lixie," tambahnya, menggerutu. Kalau dipikir-pikir, intensitas Changbin memanggilnya Lixie semakin tinggi.
Tapi tentu saja Changbin menghiraukan komplain terakhir Felix.
"Jangan lama-lama ya, Lixie!" ujar Changbin, malah semakin memberikan penekanan pada nama panggilannya itu.
Tak menjawab, Felix kembali fokus memeriksa dokumen yang dipegangnya. Satu-persatu, dokumen yang menumpuk berkurang. Tinggal dua dokumen lagi. Ia merenggangkan saraf-saraf motoriknya dengan menggeliat kecil. Ketika ia melirik ke meja sekertaris kesiswaan, seseorang sedang terlelap dalam tidurnya.
Felix tersenyum hambar. Ia merasa bersalah membuat Changbin tertidur karena menunggunya menyelesaikan proposal kegiatan dan dokumen lainnya. Ia melirik jam dinding, sudah jam lima sore. Pantas saja Changbin tertidur karena kelelahan setelah permainan football tadi pagi.
Menghela napas panjang, Felix memisahkan dokumen yang belum diperiksa dengan yang belum ke sudut kiri meja. Ia berdiri, melangkah mendekati meja yang ditiduri Changbin. Lengannya hendak menepuk pundak pemuda yang sedang tertidur itu, namun tangannya kini mengambang di udara. Changbin tampak damai dalam tidurnya. Ia jadi ragu untuk membangunkan pemuda itu.
Sudut-sudut bibirnya terangkat ke atas, mengukir seulas senyum. Tangannya yang mengambang di udara secara perlahan mengelus helai rambut Changbin. Halus. Lembut. Dan mungkin ... wangi? Tersadar dengan apa yang dilakukannya, cepat-cepat ia mengangkat tangannya. Gue ngapain sih? batinnya menggerutu dalam hati. Ia merasa tiba-tiba detak jantungnya over kontraksi dan pipinya terasa memanas.
Ia menggeleng pelan, menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan dengan perlahan—berusaha menetralkan detak jantung dan meminimalisir rona merah yang tampak di pipinya.
Menit kemudian, ia menepuk pelan pundak Changbin. "Changbin, wake up. Udah sore."
Kelopak mata itu perlahan membuka, mengerjap beberapa kali lalu menampakkan iris matanya yang memesona. Felix mengalihkan pandangan ke sembarang arah ketika suara serak khas orang yang baru tidur berkata padanya. "Udah selesai?"
Felix mengangguk, menatap Changbin sembari tersenyum tipis. "Hmm. Let’s go home," jawab Felix, mengulurkan tangan yang langsung disambut senang oleh Changbin. Ia melangkah mendahului dengan Changbin mengikuti di belakangnya mengukir senyum lebar. Mereka berjalan dengan jemari saling bertaut—siapa lagi kalo bukan Changbin duluan yang berinisiatif meraih dan menggenggam tangan pacarnya.
.
.
.
.
.
Besoknya, pulang sekolah Changbin meminta—lebih tepatnya memohon—pada Felix untuk berkunjung ke rumahnya. Felix yang melihat Changbin bertingkah sok imut merasa tak tega dan akhirnya membawa ke apartemennya.
"Ternyata lo emang tinggal di apartemen," gumam Changbin pada dirinya sendiri ketika Felix membuka pintu apartemennya. Karena yang ia dengar keluarga Felix sudah pindah ke Australia, sedangkan Felix memilih untuk tinggal di sini menyelesaikan sekolahnya hingga lulus.
Ruangan apartemennya tak terlalu besar, bahkan bisa dikatangan kecil dan sederhana. Hanya terdapat sebuah rak buku berukuran mini namun cukup tinggi, meja belajar, kasur, lemari pakaian dan sebuah lemari yang didalamnya berisi rajutan-rajutan yang dibuatnya.
"Lixie, lo yang bikin ini semua?" tanya Changbin keheranan. Laki-laki yang suka merajut, menjahit, dan hal-hal semacam itu agak aneh 'kan?
"And then?" jawab Felix ketus. Ia tak ambil pusing pandangan Changbin padanya tentang hobinya satu itu. Ia lebih memilih menyimpan buku yang ada di dalam tasnya ke atas meja belajar.
Changbin terkekeh kecil. "Gak nyangka aja kalo lo—ya kalo dipikir-pikir, masuk akal juga sih."
"Itu salah satu hobi gue," tanggap Felix yang kini mengambil buku-buku pelajaran untuk besok. "daripada ngabisin waktu lari-lari di lapangan ngerebutin satu bola," tambahnya dengan nada pelan, hanya bergumam namun masih bisa didengar Changbin.
"Lo aja yang gak paham seberapa keren Football itu."
Felix memutar bola matanya. "Whatever."
Masih asyik memperhatikan isi apartemen, Changbin membaca sekilas judul-judul buku yang tersusun rapi. Changbin mengangkat sebelah alisnya ketika menyadari hampir semua buku koleksi Felix berkaitan dengan unicorn, peri, dongeng-dongeng yang biasanya kebanyakan dibaca oleh anak kecil sebagai dongeng pengantar tidur.
"Lo ngoleksi buku-buku dongeng, huh?" Changbin bertanya dengan dahi berkerut. Jemarinya menyelusuri judul-judul buku. Ketika ia menemukan sebuah buku yang tak ada judulnya, ia menarik keluar buku itu.
"Ini buku apa?"
Deg
Felix menoleh. Bola matanya melebar saat melihat buku yang dipegang Changbin. "Lo jangan coba-coba buka atau ba—"
"CHANGBIN!" teriaknya kencang ketika Changbin mulai membuka sampul buku. Dengan cepat, ia melesat menuju Changbin—yang langsung disadari oleh pemuda itu sehingga mengangkat buku yang digenggamnya tinggi-tinggi.
Felix melompat, namun Changbin lebih dulu menggerakkan tangannya ke samping. Melompat lagi, Changbin menggerakan tangannya ke atas, Felix gagal mendapatkannya untuk kedua kalinya.
Shit! Shit! Shit!
Felix mengumpat dalam hati. Harus berapa kali ia melompat sampai ia bisa meraih dan mendapatkan kembali bukunya?
"Changbin, balikin gak?!"
"Gak akan gue balikin kalo lo gak manggil gue pake panggilan kesayangan."
"Like hell I could!" Felix lagi-lagi melompat. Dan lagi-lagi ia hanya meraih udara kosong. "dan itu bukan buku diari, tapi jurnal," tambahnya.
Apa bedanya diari dengan jurnal? batin Changbin.
Changbin sedikit mengerucutkan bibirnya. "Jadi lo lebih milih gue baca jurnal lo, gitu?"
Felix tak menanggapi melainkan melompat setinggi mungkin. Changbin melangkah mundur. Jarak tubuhnya dengan tubuh Felix hanya terpaut beberapa senti saja. Hei, bahkan dada mereka sempat bergesekkan beberapa kali.
"Nyerah aja Lix—"
Changbin tak sempat menyelesaikan perkataannya karena ia merasa Felix kehilangan keseimbangan tubuhnya. Dengan sigap, Changbin menangkap tubuh Felix, membawa pemuda itu ke dalam pelukannya.
Hangat. Itulah yang dirasakan keduanya saat ini. Beberapa menit berlalu seakan waktu membeku. Mereka diam tak berkutik. Entah karena kerja otak belum memproses sepenuhnya apa yang terjadi atau memang menikmati tiap detik yang bergulir dalam kedekatan ini.
Felix mengerjap. Ia mengangkat kepalanya dan langsung disambut oleh tatapan Changbin dengan senyuman di bibir pemuda yang mendekapnya. Oh tidak. Jantungnya bagaikan berhenti saat ini juga.
Bunyi suara ponsel yang mengalun membuat Changbin menurunkan lengannya, mengambil ponsel, lalu menjawab panggilan yang ternyata dari pelatih football-nya. Felix tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia merebut paksa jurnalnya lalu kembali duduk di bangku belajarnya.
"Iya bentar, gue otw ke sana," ucap Changbin mengakhiri pembicaraan.
Klik
Changbin menaruh ponselnya, melirik Felix yang kini sibuk di meja belajarnya—well, sebenarnya ia pura-pura menyibukkan diri karena tak mau memandang atau berbicara dengan pemuda yang membuat jantungnya tak karuan itu.
"Lixie, gue pulang dulu ya. Jangan kangen."
Suara pintu apartemen yang ditutup dari luar membuat Felix menoleh, menatap pintu apartemennya dengan tatapan kosong. Kenapa ... ia merasa sepi dan kehilangan saat pemuda itu telah pulang? Ia menggeleng, lalu mengalihkan perhatian pada jurnalnya yang hampir saja dibaca oleh Changbin.
Tertawa hambar, ia membaca salah satu lembar jurnalnya yang isinya berkaitan dengan Changbin. Apa jadinya jika pemuda itu membacanya? Entahlah. Ia tak mau memikirkan kemungkinan itu.
.
.
.
—to be continued.
