Actions

Work Header

Hiburan

Summary:

Mammon bosan, ia butuh hiburan.

Di dalam mansion besar itu ia mencari hal yang menarik, malah jadi korban sosialisasi Lucifer.

Mammon menggaruk kepala.

 

“Apa? Aku tidak paham. Apa nama acaranya?”

Notes:

Ting!
Unread messege from Lucifer

 

➢ Website: https://indonesianfanfictionawards.wordpress.com/
➢ Facebook: http://facebook.com/groups/ifaffn
➢ Fanpage: https://www.facebook.com/officialifa
➢ Twitter/X : https://x.com/IFA2024_
➢ Instagram: https://instagram.com/ifa2024_

 

Mari majukan fanfiksi berbahasa Indonesia!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

HIBURAN

 



 

 

Mammon mengerutkan alis, sudah beberapa hari ini ia melihat Leviathan sangat sibuk dengan D.D.D nya di mana pun mereka berada.

 

“Apa itu?” ia bertanya pada akhirnya.

Namun, Leviathan seolah tuli.

 

Orang berambut ungu itu justru malah asik senyum-senyum dan cekikikan menatap layar.

 


Lelaki yang lebih tua itu mendekat, menarik paksa lengan Leviathan untuk melihat apa yang
ada di sana.

 

 

“Apa sih?!” ia memekik, tidak terima diganggu.

 

“Oh, baca cerita.” Mammon tersenyum mengejek.

 

“Itu saja? padahal tinggal jawab,” katanya lagi. Sebelum tersadar untuk segera pergi karena orang itu akan berbicara tentang Ruri-Chan tanpa henti.

 

 

 


“Eh, hey–”

 


Mammon sudah keluar dari ruang keluarga.

 

 


Iyap, betul sekali.

 

Untung saja ia langsung kabur.


Mau sebosan dan seluang apapun, rasanya sangat membuang-buang waktu jika hanya
mendengarkan ocehan seseorang seharian.

Lebih baik ia berkeliling Devildom tujuh kali
untuk mencari hiburan lain.

 


Ngomong-ngomong soal hiburan, selama libur panjang sebelum memasuki tahun baru
akademik kali ini benar-benar kacau.

Tidak ada kegiatan menarik yang mereka lakukan
secara khusus, Lucifer pun masih sibuk mengurus sesuatu–yang bahkan Mammon tidak tahu apa–dengan Diavolo.

 

Ayolah, mereka baru saja libur.

Kenapa tidak ada bosan-bosannya mereka?

 

Kalau saja Mammon tidak tertipu dan rugi karena investasi bodong, ia akan pergi mencari hiburan sendiri di luar mansion.

 

 


Berjudi misalnya.

 

 


“Hahaha…”

 

 


Eh?

 

 


Itu bukan suara Mammon, lelaki itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara.


Dari balik pintu ruang kerja. Ini sudah pasti suara Lucifer, tetapi kenapa ia tertawa?

 


Mammon mengetuk sekali dan membuka pintu.

 

“Oi,” ia menyapa sang kakak yang berada di balik meja.

Tangan lelaki itu juga tampak sibuk mengetik di depan monitor.

 


“Ada apa?” Lucifer langsung tembak. Tatapannya masih fokus di sana dengan senyum kecil di wajah.

 


“Sedang apa?”

 

“Aku?”

 


Ingin rasanya Mammon berteriak.

Memangnya siapa lagi yang berada di ruangan ini?

 


“Aku sedang menulis.”

 


Ah, iya, iya tahu!


“Apa yang kau tulis?” Mammon mengintip layar, isinya narasi panjang yang malas ia baca.

 


Lucifer tampak sedikit terkejut menyadari pergerakannya.

 

“Untuk apa?”

 


Lucifer memperbaiki posisi tubuhnya untuk berbicara dengan Mammon.

 

“Ah, bukan apa-apa. Aku hanya mencoba untuk menulis cerita.”

 


“Cerita? Coba jelaskan.”

 

Entah kenapa ia merasa sebal dengan jawaban setengah-setengah dari kakaknya.

 


“Ya, [Name] bilang di dunia manusia ada acara penghargaan fanfiksi setiap tahunnya.
Setelah aku teliti acara tahun kemarin, ternyata banyak cerita-cerita yang bagus. Aku sudah
membacanya beberapa, dan sekarang sedang mencoba menulis dengan bahasa Indonesia.
Siapa tahu bisa membantu [Name] untuk meramaikan kegiatannya.”

 


Mammon menggaruk kepala.

 

“Apa? Aku tidak paham. Apa nama acaranya?”

 


IFA,” jawab Lucifer.

 

Indonesian Fanfiction Awards, ini ajang fanfiksi berbahasa Indonesia. Lebih tepatnya di dunia manusia, di negara [Name] berasal, mereka sedang mengkampanyekan fanfiksi berbahasa setempat agar lebih banyak hiburan dan memajukan bahasa tanah air mereka.”

 


Mammon membulatkan bibir.

 

“Keren juga [Name], sepertinya ia berasal dari daerah yang maju, ya? Sampai bisa memikirkan keberlangsungan hiburan seperti ini.”

 


Lucifer tertawa.

 


“Memangnya apa yang membuatmu tertarik?”

 


“Ah, genre! Karena ini ajang penghargaan fanfiksi atau fiksi penggemar, jadi para penulis dibebaskan untuk bereksplorasi terhadap cerita yang dibuat. Bagian yang paling aku suka adalah IFA memberikan penghargaan bagi setiap kategori. Baik dari segi genre, penulis, favorit atau pilihan, dan pembaca. Jadi ketika melihat pengumuman pemenang, kita memiliki daftar rekomendasi bacaan bagus secara tidak langsung. Isinya pun unik-unik.”

 


Kembali mengerutkan kening, Mammon merasa kurang paham dengan apa yang baru saja
Lucifer katakan.

“Tunggu, tunggu, pembaca katamu?”

 


“Iya, IFA juga memberikan penghargaan kepada pembaca favorit yang memberi ulasan di
platform AO3, Wattpad, Fanfiction.net. Tiga situs itu tempat cerita-cerita terbaik dipilih."

 

 

 

“Hmm…”

 

Jujur, Mammon bingung harus menanggapi dengan ekspresi apa.

Sejatinya ia tidak begitu tertarik, apa lagi membaca.

 

“Jangan bilang… Leviathan–”
“Benar, semenjak tahu IFA ia jadi banyak membaca fanfiksi dari anime kesukaannya.”


“Ah… begitu. Pantas saja.”

 


“Kau,”

 

Mammon mengerutkan kening, bingung.

 

“Cobalah ikut meramaikannya. Ikut menulis,
atau membaca karya orang lalu menominasikannya. Hitung-hitung mencari hiburan di waktu luang.”

 


“Hiburan? Memangnya kalau menang lantas aku menjadi orang terkaya di Devildom?”

 

Ia menyeringai.

 

“Jangan konyol, aku malas baca.”

 

 

“Ya sudah, terserah kau saja. Tapi perlu kau tahu, nominasi terbaik itu…” Lucifer balas
menyeringai, dua jempolnya terangkat mantap.

 

 

“Mendapat sertifikat dan pengakuan.”

 


Ah, dasar Avatar of Pride.

 


Mammon menggeleng.

“Tidak, tidak, tidak. Maaf aku tidak mungkin berpartisipasi secara langsung.”

 


“Iya, iya. Akan kukirimkan tautannya, barangkali kau tertarik untuk melihat-lihat.”


“Apa, sih? Kenapa kau memaksa sekali?”

 


Tertawa, Lucifer mengedikan bahu. “Entah, aku hanya ingin membantu [Name] yang menjadi humas IFA.”

 


Begitu rupanya.

 


Baiklah, jika sudah tidak ada yang menarik lagi maka Mammon pamit undur diri.

 

 

Ke mana?

 


Tidak tahu.

 

Mungkin ia akan berjalan-jalan mengitari mansion sebentar.

 

Tetapi belum sampai satu menit ia meninggalkan ruangan, Lucifer benar-benar mengirimkan tautan tentang IFA 2024.

 


Mammon membuka, melihat-lihat apa saja yang sekiranya menarik. Dan soal kategori yang
Lucifer bilang, memang sangat beragam. Bahkan Mammon sampai mencari istilah-istilah seperti ‘Canon’, ‘Crossover’, dan sebagainya.

 

Lalu…

 

 


Eh, tunggu.

 


Kenapa tidak bilang genre ini termasuk kategori?

 

Ekhem, maksudnya… keren sekali jika
ada karya yang meraih penghargaan ini.

 

Tidak, tidak, maksud dari genre ini kan luas…

 


Hmm. Apa, ya?
Aduh, jadi tidak karuan.

 

“Pantas saja si Leviathan sialan itu seolah pelit informasi dengan model hiburan seperti ini,”
Mammon berasumsi kotor.

 

 


Pasti karena genre mature, kan?

 

-END-

Notes:

Info lebih lanjut tentang IFA 2024 👇👇👇

📌 https://bit.ly/TentangIFA24

 

Persembahan lainnya untuk meramaikan IFA 2024

Masih, tiada bosan-bosannya, yuk teman-teman, pantengin terus fanfiksi Bahasa Indonesia yang kece abies

Terimakasih pada Dira selaku salah satu humas IFA 2024 yang udah membantu ngerjain ini, dan tentu, semua orang yang terlibat di IFA 2024 tanpa terkecuali. ///

#IFA2024MENYALA #PESTAPORAIFA2024 #IFA2024 #IFA2024UHUY