Work Text:
"Glacier bin Amato, kamu bisa hidup baik-baik bersama kakekmu, kan?"
Glacier kecil yang masih berusia enam tahun, harus menerima kenyataan baru. Dia harus hidup terpisah dari orang tuanya sekaligus saudara-saudara kembarnya, FrostFire dan Supra. Alasannya karena sang Ayah maupun Mama memiliki masalah keuangan dan sibuk dengan pekerjaan. Keputusan akhirnya, FrostFire, sang kakak kembar ikut bersama Ayah, sedangkan Supra, sang adik kembar ikut bersama Mama. Glacier diminta tetap tinggal bersama Tok Aba di Pulau Rintis.
"Iya, aku bisa. Jangan khawatir." Jawab Glacier tenang. Dia tidak mau merepotkan Mama yang sibuk dengan pekerjaannya, sekaligus sang Ayah yang punya kesulitan keuangan. Tidak apa-apa.
Dilihatnya mata FrostFire yang menatapnya begitu dalam, masih menangis sesegukan akibat keputusan orang tua mereka. Supra juga tertunduk murung, matanya sembab karena sempat menangis semalaman, tidak mau berpisah dengan kakak-kakak kembarnya. Glacier menahan tangis, mencoba menguatkan dirinya. Dipeluknya kedua saudara kembarnya seraya berkata,
"Biarpun kita terpisah oleh apapun itu, kalian tetap selalu ada di hatiku."
-0o0-
Waktu berlalu 7 tahun sejak kejadian tersebut. Pada tahun pertama, orang tuanya masih suka mampir ke rumah untuk memastikan Glacier hidup dengan baik. Setelah tahun kedua, baik Ayah maupun Mama agak jarang pulang. Meski begitu, Glacier tidak terlalu khawatir dengan itu.
Agak disayangkan memang. FrostFire maupun Supra juga jadi ikut jarang menemuinya. Malah mereka lebih jarang menemuinya dibandingkan orang tua mereka. Glacier berusaha memaklumi. Mereka belum cukup dewasa untuk bepergian jauh. Terlebih Supra yang sering ke luar negeri bersama Mama.
Lagipula, Glacier masih menetapi janjinya. Dia masih menyayangi kedua saudara kembarnya. Kepada FrostFire yang terkenal, dia sering mengikuti update sosial media sang kakak. Kepada Supra, dia suka mengirimkan pesan chat menyemangati sang adik.
"Dey, kamu dengar nggak, sih? Bagaimana pendapatmu soal tema tugas kita?" Panggil Gopal, mengerutkan kening melihatnya asyik menatap layar ponselnya, tepatnya kontak nama FrostFire dan Supra yang dia beri tanda bintang sebagai tanda prioritas. Glacier tersentak, baru sadar dia sedang melakukan kerja kelompok suatu tugas sekolah bersama teman-temannya.
"Haiya, kamu harus fokus pada tugas sekolah, ma!" Tegur Ying, teman sekolahnya yang lain, ditanggapi anggukan oleh Glacier. Dia lantas menjawab pertanyaan Gopal. Ditanggapi Yaya yang ikut memberi saran serta ditutup oleh Fang yang mencatat semuanya.
Usai menyelesaikan tugas, Gopal menyarankan mereka untuk makan-makan. Mereka pun memesan beberapa makanan sembari mengobrol. Mereka berlima memang lumayan akrab sebagai teman di kelas. Sembari menunggu pesanan makanannya datang, Glacier kembali membuka ponselnya.
Dia tertawa lepas melihat layar ponselnya, yang langsung ditatap oleh semua temannya. "Kamu kelihatan senang. Ada apa?" Yaya bertanya. Gopal mengangguk menyetujuinya. Wajar saja, Glacier jarang tertawa selepas itu.
"Kakakku update cerita di Instagram. Katanya lidahnya ternistahkan habis makan es krim rasa pedas dan rasa asin! Hahaha!" Glacier mengusap sudut matanya yang basah oleh air mata, menunjukkan layar ponselnya pada Yaya dan Gopal yang penasaran.
Keduanya ikut tertawa riang. Hanya Ying dan Fang yang tetap diam, menatap Glacier lekat-lekat. Fang menyahut dengan nada serius, "Hei Glacy, saudara-saudaramu sudah lama nggak pulang, kan? Kamu yakin mereka masih peduli padamu?"
Ucapan Fang itu ditanggapi tamparan dari Ying. "Haiya, bukan begitu! Glacy, aku pikir saudara-saudaramu sibuk sekolah seperti kita, tapi bukankah mereka berlebihan kalau nggak pulang bertahun-tahun?"
"Apalagi kamu bisa saja mati muda—" Gopal ikut hendak menyahut menambahkan, tetapi mulutnya langsung disumpal pizza oleh Yaya yang tersenyum kesal. Berkata hal baik atau diam saja!
Yaya berdeham, kini menatapnya dengan ekspresi khawatir. "Bukankah alasan orang tuamu sangat bekerja keras sampai jarang pulang adalah demi membiayai obat untukmu? Nah, menurutku, saudara-saudaramu nggak punya alasan untuk jarang pulang. Kami berkata seperti ini sebagai teman yang khawatir padamu,"
Glacier tertegun dengan perkataan teman-temannya yang memedulikannya itu. Itu benar. Mulanya, Glacier memang tidak sadar kalau tindakan orang tuanya adalah untuk dirinya. Namun semakin lama, dia semakin menyadari kepedulian orang tuanya. Tok Aba juga yang memberitahukan kepadanya. Bahwa ini semua demi Glacier.
Dia hendak menjawab ketika mendadak Gopal berseru panik, mengatakan Glacier mendadak mimisan lagi. Dengan tenang, dia berusaha menghentikannya sendiri sebagaimana kebiasaannya. Benar, sebagaimana dia seorang penderita suatu kanker sejak kelas 1 SD. Malah teman-temannya yang cemas setengah mati pada keadaannya, menyuruhnya pulang saja.
Walau mungkin memang pilihan tepat bagi Glacier untuk pulang ke rumah. Dia tiba bersamaan ketika Amato, Ayahnya datang. Melihat bekas darah di baju seragamnya, Amato langsung memintanya beristirahat.
"Kak Frost nggak ikut datang?" Tanya Glacier, sedikit limbung akibat sakit kepala dan nyaris rubuh kalau tidak ditangkap Amato. Dengan penuh perhatian, sang Ayah menuntunnya melangkah ke tempat tidur.
"Dia sibuk sama urusan ekskul memasaknya. Lain kali dia pasti pulang!" Ucap Amato enteng, lalu hendak membacakan buku dongeng kalau tidak dilarang Glacier. Dia merasa geli diperlakukan seperti anak kecil, padahal usianya sudah 13 tahun. Lebih baik dia langsung tidur saja.
Ketika bangun tidur, Amato sudah tidak ada di rumah, kembali bekerja ke kantornya. Namun, kali ini Mama yang datang pulang. Membawakan sup jagung kesukaannya. Sekali lagi, Glacier menanyakan sosok saudaranya yang tidak kelihatan itu, "Supra nggak datang, ya?"
"Dia sedang sibuk belajar bersama teman klub sekolahnya. Enggak perlu dipikirkan, di lain waktu dia akan pulang," jelas Mama ringan, kemudian dengan tegas menyuruhnya fokus istirahat saja. Glacier mengangguk menurutinya.
Tidak apa-apa. Tidak masalah. Wajar saja kalau kedua saudaranya punya kesibukan masing-masing. Namun, Glacier jadi lumayan kepikiran perkataan Gopal. Bagaimana kalau dia mati lebih cepat sebelum dirinya sempat bertemu FrostFire dan Supra lagi?
-0o0-
"Adik pertamamu sakit kanker."
FrostFire memukul angin kosong dengan banjir keringat. Dia sudah curiga dengan rencana orang tuanya sewaktu kecil. Keluar rumah padahal keduanya tidak terlihat hendak bercerai, dengan alasan aneh masing-masing, bahkan meninggalkan Glacier seorang diri di rumah kakek. Dia berpikir, ada rahasia yang disembunyikan orang tuanya.
Pada usianya yang ke 9 tahun, FrostFire baru mengetahuinya setelah memaksa duel bersama sang Ayah. Dari hasil duel, dia menang, membuat Amato membongkar rahasia. "Ayah sepakat dengan Mama untuk memisahkanmu dari Glacy. Supaya kamu nggak perlu menyaksikan penderitaannya." Beliau mengaku. Setelahnya, FrostFire tidak mau bertemu adiknya. Selalu beralasan sibuk, sibuk, dan sibuk. Pada dasarnya, FrostFire memang sengaja menyibukkan diri.
Dia merasa sesak memikirkan saudaranya yang sakit. Dia takut terlampau dekat dengan adiknya sampai sulit menerima kematian adiknya kelak. Anehnya, FrostFire jadi mudah peduli pada temannya yang sakit. Berlebihan sekali. "Gentar, kudengar kamu sakit? Sudah makan? Sudah minum obat? Sudah ke rumah sakit? Cek tekanan darahmu? Cek—" ucapannya harus dihentikan lawan bicaranya.
Dia tahu, cepat atau lambat, FrostFire harus menemui Glacier. Sayangnya, FrostFire terkena karmanya. Di SMP, dia berniat ingin kembali mengunjungi Glacier, tetapi dia malah betul-betul dihadapkan pada kesibukan. Kemampuan panahannya diikutkan berbagai lomba, kemampuan memasak hebatnya juga menarik perhatian ekskul memasak, hingga kemampuan silatnya juga membuatnya harus ikut lomba mewakili sekolah.
"Wuih, jagoan sekolah kita kelihatan keren!" Puji Gentar ketika FrostFire berlatih silat sendirian sepulang sekolah. Niatnya, dia hendak menjernihkan pikirannya. Sekaligus mencari alasan agar bisa mengunjungi Glacier setelah sekian lama.
Akan tetapi, air matanya jatuh juga. FrostFire menangis memikirkan kebodohannya. "Arg, sial!" Keluhnya sembari memukul tembok sekolahnya. Tangannya sedikit perih, tetapi yang paling menyakitkan adalah hatinya.
"Kenapa kamu menangis?! Masa kamu lelah sama lomba silat?" Tanya Gentar terkejut dengan dirinya yang mendadak menangis itu. FrostFire memang jarang menangis di hadapan teman sekolahnya. "Apa aku saja yang menggantikanmu? Hahaha, aku bercanda!"
FrostFire mencoba berpikir keras. Mungkin ini saatnya dia melepaskan semuanya. Demi persaudaraannya. "Iya, aku lelah sekali. Aku sudah ikut terlalu banyak lomba. Kamu sungguh-sungguh mau membantu menggantikanku, Gentar?"
Sebelum Gentar memprotes, FrostFire sudah mengangkat ponselnya dan menelepon guru pembimbing silat. Sementara Gentar yang melongo kaget, semakin terkejut saat mendengar telepon FrostFire yang meminta dirinya digantikan Gentar itu. Terlebih, suara dari guru pembimbing juga memutuskan menyetujui permintaan FrostFire.
"APAAA?!?! KAU SERIUS?!?!"
-0o0-
"Kakak keduamu sakit kanker."
Supra berdecak jengkel ketika mengingat perkataan sang Mama. Kenapa pula dia baru tahu di usia ke 9 tahun? Mama bilang, "Ini demi kamu! Kamu yang masih kecil belum tentu sanggup menanggung penderitaan soal kakakmu.". Namun, Supra tidak sependapat. Dia juga jadi merasa bodoh karena tidak tahu menahu kondisi kakaknya sendiri. Padahal sebelumnya, mereka begitu dekat.
Alhasil, Supra memilih menjauh dari Glacier, tidak mau menemuinya lagi. Dia malu menemui kakaknya. Dia merasa bersalah karena sudah tidak tahu menahu dan semakin merasa bersalah karena mereka jadi tidak bisa bertemu bertahun-tahun. Sebagai pelampiasan rasa bersalahnya, Supra fokus belajar IPA, salah satunya tentang penyakit.
Selain itu, Supra juga sering mengabaikan pesan kakaknya. Padahal, kontaknya itu diletakkan paling atas. Namun, Supra khawatir akan langsung menemui kakaknya kalau dirinya terlampau bercakap-cakap lebih dalam dengan Glacier. Dia takut akrab dengan sang kakak yang beresiko meninggal cepat. Dia belum siap. Tidak, dia tidak akan sanggup menemuinya.
"Supra? Ada yang kamu cemaskan?" Sopan, teman klub IPA-nya, bertanya dengan tulus mencemaskannya. Supra tersentak, kembali menatap bukunya sembari memijat keningnya yang pening. Tidak, dia tidak demam. Hanya sedikit kepikiran tentang Glacier.
"Hei, Sopan. Menurutmu, orang yang sakit kanker itu bisa sembuh atau enggak? Seberapa besar presentase kesembuhannya? Aku serius bertanya." Supra melontarkan pertanyaan itu. Dia tahu kalau dia sudah terlalu sering bertanya hal ini, tetapi dia selalu mencemaskannya.
Sopan terdiam, sudah tidak kaget dengan pertanyaan yang selalu diutarakan itu. Kali ini, dia ingin menjawab dengan jawaban berbeda dari biasanya, "Enggak. Sulit sekali. Mungkin lima persen saja. Banyak dari mereka yang ditakdirkan hidup singkat."
Sebenarnya Sopan merasa kejam dengan menjawab seperti itu, tetapi dia merasa harus menjawab begitu. Baru-baru ini dia tak sengaja tahu kalau Supra punya saudara kembar yang sakit kanker dan sudah lama tidak dikunjungi. Sopan harap, temannya itu mengunjungi saudaranya sendiri sebelum terlambat.
"Kau sungguh-sungguh dengan perkataanmu? Jangan lupa aku bisa memukulmu dengan kemampuan silatku yang diajarkan oleh kakak pertamaku." Kata Supra, sedikit mengancamnya. Sopan sedikit tertegun. Baru kali ini, Supra terlihat emosional.
"Hamba sepenuhnya bersungguh-sungguh. Dan hamba akan menerima tantangan seranganmu." Jawabnya, walau suaranya terdengar sedikit takut. Sopan tidak terlalu yakin apakah dirinya sanggup melawan atau tidak.
Supra menghela napas berat. Dia memutuskan bangkit berdiri. Sopan sudah sedikit memejamkan mata dengan khawatir, tetapi suara Supra yang didengar setelahnya membuatnya terkejut,
"Halo, Mama. Aku mau pesan tiket pesawat untuk pulang ke Pulau Rintis. Hari ini. Izin sekolah sebentar nggak masalah, kan?"
-0o0-
Glacier itu setenang air dan selembut tanah yang baik. Baik FrostFire maupun Supra selalu merasa nyaman dengannya. Walau terkadang dia seram ketika marah, tetapi marahnya juga tanda kepedulian.
"Kak Frost... Kenapa wajahmu terluka?!" Teriak Glacier ketika dilihatnya sang kakak pulang seusai main basket. Biasanya sang kakak sulung tergolong berhati-hati, terlebih dia hanya bermain basket saja. Dengan penuh kepedulian, Glacier segera masuk ke rumah untuk mengambil kotak obat.
"Aku cuma sedikit kurang beruntung! Tadi aku ditantang lawan basket sama Adu Du dan Probe. Padahal niatku hanya ingin latihan bersama Fang." Cerita FrostFire apa adanya. Sebab, dia sendiri merasa nyaman bercerita pada si anak kedua yang selalu mau mendengarkannya.
Setelah Glacier datang, dia tertunduk diam. Raut wajahnya juga agak murung. Glacier yang berusaha mengobati kakaknya, jadi bertanya, "Lalu apa yang terjadi? Ceritakan saja."
"Aku kalah. Memalukan sekali." Jawab FrostFire dengan suara lirih. Dia khawatir dicemooh oleh sang adik. Hancur sudah sisi kerennya. FrostFire selalu ingin terlihat keren dan baik.
Diliriknya Glacier yang masih tenang, tidak berkomentar apa-apa. Setelah selesai membantu mengobati kakaknya, Glacier langsung masuk ke rumah. Dengan ragu, FrostFire ikut masuk sembari tetap menunduk, menghindar tatapan Supra yang duduk di sofa ruang tamu ataupun Tok Aba yang sedang merapikan meja makan. Setidaknya, dia tidak mau bercerita masalahnya ke siapapun selain Glacier.
Dia terburu-buru masuk ke kamar, merebahkan diri dan menutup wajahnya dengan bantal, tanpa sempat menguncinya. Tanpa menyadari Glacier yang masuk, membawakan sebuah minuman dingin. Baru ketika Glacier merintih sakit, FrostFire menoleh terkejut. "Kau baik-baik saja?!"
"Enggak apa-apa." Kata sang adik, tetapi gesturnya mencurigakan, menyentuh kepalanya dengan raut sedikit pucat. Barulah mata FrostFire menangkap ada minuman dingin kesukaannya di meja belajarnya. "Diminum, Kak. Maaf, aku nggak jago menghibur. Semoga Kakak bisa menang di lain waktu."
Inilah khas Glacier. Dia memang jago mendengarkan masalah orang lain, walau sayangnya sering sulit menghiburnya. Senyum FrostFire berseri. Setidaknya perasaannya jadi membaik. Dia mengambil minuman tersebut. "Aamiin, makasih! Ngomong-ngomong, kamu sungguh nggak apa-apa? Kepalamu terbentur, ya?"
"Iya. Enggak perlu dipikirkan," kata Glacier tanpa berbalik menatapnya lagi. Sang kakak pun menganggapnya enteng, mengira adiknya sungguh baik-baik saja. "Setelah Kakak membaik, aku mau menghabiskan waktu dengan Kak Frost." Perkataannya itu ditanggapi kekehan ringan tanda setuju dari FrostFire.
Di lain waktu, Glacier pernah menghadapi Supra yang belajar keras. Dilihatnya sang adik yang sampai mimisan. Dia yang kesal, jadi melempar semua buku-buku Supra dari meja belajarnya ke lantai. Otomatis, Supra terkejut dengan sikap kakak keduanya yang biasanya selalu tenang itu.
"JANGAN MEMAKSAKKAN DIRI!" Bentak Glacier, ekspresinya yang gelap cukup membuat bulu kuduk Supra merinding. Dia segera menghentikan mimisannya dan buru-buru merebahkan diri untuk beristirahat. Diliriknya Glacier yang sampai terengah-engah dan sulit mengatur napasnya. Sekesal itu kah?
Meski begitu, Glacier kembali tenang dalam sepuluh menit dan merapikan buku-buku Supra yang sudah dilemparkannya. Supra mencoba memejamkan mata walau kantuknya tak kunjung datang. Dia terdiam, mendadak berpikir ingin sedikit curhat. "Kak Glacy, nilaiku turun. Guruku jadi sedikit menegurku."
"Oh... Biarpun nilaimu turun, kamu tetap adikku yang kusayang." Balas Glacier enteng. Harusnya Supra sudah menduganya. Namun, perasaannya menghangat. Setidaknya, ada orang yang tidak memandangnya sebagai orang yang harus pintar secara akademik.
"Kalau nilaiku nol?" Supra bertanya sembarangan. Dia belum pernah tanya pada siapapun karena khawatir terkena marah, tetapi dia merasa Glacier tidak akan mengejeknya. Sang kakak kedua tidak pernah membuatnya cemas.
Benar saja, jawaban Glacier cukup menenangkannya dan sedikit di luar dugaannya, "Enggak masalah. Bagiku, kamu cukup sehat saja. Supaya kita bisa menghabiskan waktu bersama lagi."
Supra mengangguk samar sebagai tanda persetujuan, sementara Glacier sudah menepuk kepalanya lembut. Sang kakak bertanya apakah ada makanan atau minuman yang diinginkannya. Supra menjawab kopi dan langsung mendapat tamparan di pipi. "Enggak sehat! Aku mau membuatkanmu teh!" Gerutu Glacier, seraya berlalu dari kamarnya.
Tamparannya tidak sakit. Entah kenapa, Supra merasa tersenyum lembut ketika itu walau dia tidak sedang melihat wajahnya di cermin. Ya, dia pasti tersenyum lembut pada sang kakak. Glacier selalu membuat perasaannya nyaman.
Waktu itu Supra belum mengerti. Bahwa alasan kakak keduanya yang ingin melihatnya sehat itu karena dirinya sendiri yang sakit. Rupanya dibalik kebaikan sang kakak kembar kedua, ada luka yang dipikulnya.
-0o0-
FrostFire dan Supra merasa amat bodoh. Mereka baru menyadari bahwa sebelumnya Glacier pun selalu mengatakan bahwa dia sangat menghargai waktu bersama saudara. Bagaimana mungkin mereka melupakannya? Walau mereka menyesal, tetapi waktu tidak bisa diputar. Mereka sudah memutuskan untuk segera pulang.
Keduanya berpapasan di ruang tunggu bandara Pulau Rintis. FrostFire terkejut setengah mati, kecuali Supra yang sudah menduga kakaknya juga pulang. Dia sempat curi dengar telepon Mama dengan Ayah yang membahas bahwa jam penerbangan FrostFire maupun Supra kurang lebih disamakan saja. Malah, Supra sedikit memperlambat langkahnya agar bisa bertemu FrostFire.
"Aku menunggumu, Kak." Kata Supra tanpa berbasa-basi lagi, mengulurkan tangan padanya. FrostFire terkejut dengan sikap adiknya. Namun dia baru sadar, selama setahun sibuk pun dia tidak berhubungan dengan Supra. Dia pun menerima uluran tangan adik terakhirnya itu.
"Ini demi Glacy, ya?" Tanya FrostFire, yang ditanggapi anggukan sekilas dari sang adik. Glacier memang lebih suka melihat mereka akur meski terkadang suka bertengkar. Maka, FrostFire dan Supra tidak banyak berdiskusi lagi, sudah saling berencana untuk akur saja.
Dengan kikuk, FrostFire mencoba mengusir kecemasan dengan bercerita tentang rutinitasnya belakangan ini. Supra hanya mengangguk-angguk saja, kebanyakan sudah tahu sendiri dari media sosialnya. "Lalu.... Emm.... Aku sudah lama nggak bertemu Glacy. Kurang lebih sejak umur sembilan tahun."
Supra mengangguk-angguk, walau dalam hati terkejut setengah mati. Dia ingin mengumpat pada sang kakak sulung, tetapi dirinya segera sadar bahwa kelakuan dia juga sama saja. "Aku juga. Walaupun aku sudah tahu soal penyakitnya."
Giliran FrostFire yang terkejut, sudah membuka mulut ingin mengumpat pada adik bungsunya, tetapi batal akibat sadar sikap dirinya juga sama saja. Dia menyemburkan napas berat. "Kita saudara kembar yang kejam juga, ya?"
Selama menunggu grab online yang dipesan untuk pulang ke rumah Tok Aba, Supra menyamankan dirinya di samping kakaknya, membuka bukunya. "Iya, tapi aku punya alasan bagus. Aku belajar soal kesehatan untuk Kak Glacy. Cita-citaku ingin jadi dokter untuk dia. Bagaimana dengan Kakak?"
Merasa tertohok, FrostFire tertunduk lesu. Dia tidak punya alasan sekeren Supra. Mendadak dia merasa menjadi kakak yang gagal bagi Glacier. "Aku cuma mengumpulkan uang agar dia bisa dapat pengobatan layak." Katanya, tanpa berbohong. Dia memang mau ikut banyak lomba agar ia mendapat hadiah uangnya untuk sang adik pertama.
"Itu juga alasan bagus, Kak. Eh, ngomong-ngomong supir truk itu sepertinya bermasalah, ya?" Supra menunjuk sebuah truk yang melaju kencang. Dia mengerutkan kening, sudah menggenggam erat tangan FrostFire untuk mundur. Syukurlah, sang kakak sulung cukup peka dan menurutinya. Dia berpindah posisi ke sisi kanan, dengan maksud menjaga adiknya. Serta mengisyaratkannya untuk segera mundur.
Betapa lengahnya FrostFire dan Supra. Mereka tidak berpikiran nyawa mereka juga bisa dicabut kapanpun meski fisik si kembar itu sehat-sehat saja. Truk yang dimaksud— dengan supir yang sedang mengantuk— mengendarai kendaraannya dengan amat buruk.
Dengan kecepatan truk yang sekencang itu, keduanya tak mampu menghindar. Nyawa FrostFire yang lebih dulu melayang akibat hantaman keras di kepala. Nahas, Supra juga menyusulnya ketika 30 menit kemudian, ambulance baru terdengar datang.
Sekonyong-konyong, kabar duka itu meruntuhkan hidup Glacier.
-0o0-
"Glacy sayang, ayo istirahat dulu, Nak."
Glacier menatap kosong ke arah kamar yang pernah ditempati FrostFire, kemudian disusul menatap kamar Supra di sebelahnya. Dia tak menyangka saudara-saudaranya begitu cepat meninggalkannya. Namun, apa mau dikata, takdir umur manusia sudah ditentukan oleh-Nya.
Sepeninggalan FrostFire dan Supra, kesehatan Glacier malah semakin menurun, mengkhawatirkan orang tuanya. Glacier paham, dia tidak boleh bersikap seperti itu. Selama masih hidup, dia harus menjaga diri. Terlebih, sekarang dia adalah anak satu-satunya Amato dan istrinya. Harapan terakhir dari orang tuanya.
"Ayah nggak punya harapan tinggi padamu. Enggak masalah kalau nilai sekolahmu turun atau kamu nggak menjadi orang sukses." Kata Amato saat membantunya meminum obat. Seolah-olah dari ucapannya menyiratkan bahwa Glacier tak perlu jadi orang sepintar Supra ataupun seberprestasi FrostFire. "Yang Ayah mau, kamu tetap hidup dan sembuh dari sakitmu."
Glacier tidak tahu harus merespon apa. Dia merasa bersalah pada orang tuanya karena dirinya seperti kehilangan semangat hidup. Saudara-saudara kembarnya terasa seperti separuh nyawanya. Biarpun selama ini mereka terpisah oleh jarak, Glacier masih merasakan ikatan persaudaraan mereka.
Sekarang bagaimana dengan ikatan itu? Kedua saudara kembarnya telah pergi selama-lamanya. Padahal rasanya baru kemarin Glacier diajak bermain oleh FrostFire. Serta dirinya diajarkan oleh Supra tentang materi pelajaran yang tidak dipahaminya. Dia tidak masalah jika dirinya tidak dijenguk kedua saudaranya. Glacier hanya ingin melihat hidup mereka baik-baik saja.
"Glacy dan Sup, kita kembaran jaket bulu, yuk! Biar kelihatan kembar!"
"Ogah, jaket bulumu bikin geli di hidung! Mending aku pakai visor yang keren."
Sakit. Perasaan Glacier sakit. Dia sadar kalau seharusnya dia tetap berjalan maju. Bukan seperti ini keinginan FrostFire dan Supra kepadanya. Kakaknya sudah susah payah mengumpulkan uang untuk kesembuhannya, sementara adiknya sudah susah payah belajar dan menulis banyak catatan ilmu kesehatan untuknya. Dia tersentuh oleh bentuk kasih sayang saudara-saudaranya.
"Glacy, aku menyayangimu! Rasanya aku ingin sekali memelukmu setiap hari!"
"Kak Glacy, kamu itu kakak kesayanganku. Kupikir, aku bisa hidup baik berkatmu."
Lagi-lagi, air mata Glacier tumpah. Dia selalu teringat kenangannya bersama saudara-saudaranya. Dia mencoba menyibukkan diri dengan belajar seperti Supra, tetapi dia tetap menangis. Selain itu, Glacier juga mencoba sering memakan makanan dan minum minuman kesukaan FrostFire, tetapi dadanya tetap sesak akibat air mata.
Karena anaknya yang masih terlarut dalam kesedihan, Amato memintanya izin sekolah terlebih dahulu. Diajaknya main ke mall dalam rangka menghibur perasaannya. Glacier menerima ide Ayahnya dan lumayan bisa sedikit tertawa. Kekonyolan Sang Ayah memang selalu lucu.
"Hai! Kamu suka main di mall ini?" Mendadak, seorang asing menyapanya ketika Glacier duduk beristirahat di sudut mall. Amato sendiri pergi mencari makanan kesukaannya dan mengizinkannya istirahat agar sakitnya tidak kambuh.
"Emmm, enggak terlalu. Kamu siapa, ya?" Tanya Glacier, menatapnya dingin. Orang asing yang tampak ceria, dengan pakaian warna hijau-kuning. Wajahnya tidak dikenalnya. Walau sepertinya mereka seumuran.
Anak itu terkekeh riang. "Wah, sayang sekali kamu nggak mengenalku! Panggil aku SoRi! Kamu itu Glacier, kan? Aku pernah mendengar tentang kamu dari saudara-saudara kembarku, Gentar dan Sopan. Tepatnya.... Mereka ialah teman dari mendiang FrostFire dan mendiang Supra." Raut mukanya cukup serius ketika mengucapkan kalimat terakhir.
Glacier tertegun mendengar nama saudara-saudaranya disebut. Telinganya lantas menegak. SoRi yang ceria masih terus mengoceh, "Gentar bilang, dia sahabat karib FrostFire. Bahkan dia mengagumi sahabatnya. Kalau Sopan.... Dia teman satu eskul Supra dan mereka cukup akrab dalam membahas pelajaran."
Kebetulan, Glacier sedang merasa merindukan saudara-saudaranya. Dia membuka mulut, bertanya, "L-lalu...? Bolehkah aku mendengar lebih banyak tentang mereka?"
"Saudara-saudaramu, ya? Tentu saja boleh!" Balas SoRi riang. Dia ikut duduk di bangku sebelah kiri Glacier yang masih kosong. "Sebelum itu, sebenarnya aku pergi ke Pulau Rintis itu untuk istirahat dari belajar sekaligus ingin menemuimu. Gentar dan Sopan yang menyarankanku ke Pulau Rintis, terutama Sopan. Katanya aku harus menghiburmu. Sayangnya ponselku dicopet kemarin!"
Mendengar kabar buruk dari orang yang berniat baik padanya, Glacier spontan menunduk untuk meminta maaf. "Maaf. Kamu pasti kesulitan gara-gara aku."
"Enggak sama sekali, kok! Sebenarnya, aku malah lupa soal ponselku dan tujuan awalku, ehehe! Aku malah asyik main di mall ini! Dan entah mengapa, kita bisa bertemu secara mendadak. Ini pasti takdir dari Tuhan!" Seru SoRi dengan sorot mata bersinar. Glacier tersenyum kecil, merasa sedikit terhibur dengan sifat jenaka SoRi yang mirip dengan Amato.
Kemudian SoRi bercerita tentang kehidupan FrostFire dan Supra berdasarkan cerita dari saudara-saudara kembarnya. Kadang-kadang, FrostFire terlihat tersenyum melihat ponselnya dan Gentar melihat foto FrostFire dan Glacier di sana. Dan kadangkala pula, Supra terlihat tersenyum saat membaca pesan chat dari Glacier. Menurut Gentar dan Sopan, senyum mereka terlihat penuh kasih sayang.
"Habis itu.... EH?! KENAPA KAMU MENANGIS?!" Seru SoRi heboh, hingga menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. Dia jadi agak panik dan buru-buru memberi tisu pada Glacier.
"En..g-gak ap...a." jawab Glacier di sela isaknya dan mencoba menghapus air matanya. SoRi tersenyum pahit, mencoba berpikir tindakan selanjutnya. Harusnya, dia tidak boleh gagal menghibur orang lain.
Seketika, SoRi teringat sesuatu yang penting. Dia pernah bertemu FrostFire dan Supra! Lucunya, mereka tak sengaja bertemu saat mampir main ke rumahnya. SoRi merekam momen itu karena merasa adegan itu menarik untuk ditonton berulang-ulang. "Glacier! Aku pernah merekam saudara-saudaramu! Ayo kita tonton bersama!"
"Bukankah ponselmu dicopet?" Tanya Glacier heran. SoRi terkekeh, berkata kalau dirinya masih punya kamera. Dan tanpa banyak bicara, dia langsung mengambil kameranya dari ransel bergambar duriannya. Dia langsung memutar video itu dan mengajak Glacier untuk menonton bersama.
"Satu, dua.... Action!" Terdengar suara SoRi dari video. Kamera diarahkan ke Supra yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya. Supra sedikit risih dengan sikapnya, tetapi SoRi berkata kalau dia tidak akan menyebar video-nya. Video ini hanya sebagai hiburannya di kala dirinya bosan.
Dilihatnya Supra yang sedang membaca buku, berteriak memanggil nama Sopan, "Sopan! Cepatlah, sebentar lagi waktu klub kita dimulai!"
Bukan Sopan yang menjawab, melainkan suara SoRi terdengar, "Adikku itu kalau siap-siap bakal lama banget! Keburu kebun durianku panen!" Perkataannya ditanggapi hembusan napas berat dari Supra.
Sepuluh menit berlalu, tak ada hal menarik yang terjadi. Alhasil terdengar lagi suara SoRi yang terdengar kecewa, "Supra nggak seru, cuma baca buku saja. Lebih baik aku matikan video—"
"Gentar! Kembalikan jaket buluku!" Kali ini mendadak terdengar suara FrostFire dari kejauhan. Suaranya bersumber dari luar rumah. Video pun tetap direkam. SoRi sudah terkekeh kecil mendengarnya. Pastilah adiknya satu itu membuat masalah dengan temannya.
Dan terjadilah adegan itu. Di depan pintu, FrostFire sudah berhasil merebut kembali jaket bulunya. Supra yang terkejut, bangun dari sofa dan tentunya berhenti membaca buku. FrostFire yang tak sengaja melihatnya, ikut ternganga kaget. Sedangkan Gentar sudah masuk ke rumahnya sendiri dengan bersiul-siul, "Hei Frosty, kamu harus main game baruku-"
"Kak Frosty?" Kata Supra dengan mimik wajah yang masih kaget. "Kamu sungguh Kakak sulungku yang bodoh?"
Mendengar perkataan adiknya, FrostFire melangkah mendekatinya dan menepuk keras pundaknya. Supra sudah merintih sakit karenanya. "Wah, kukira hanya khayalanku, tapi kalau dari cara bicaranya, sudah jelas Supra, adik bungsuku yang menyebalkan!"
Gentar menoleh ke arah mereka, terlihat tidak menyangka ada reuni persaudaraan di rumahnya sendiri. Dunia begitu sempit sekali. Dan begitu saja, setelahnya FrostFire menjelaskan bahwa dia dan Gentar adalah teman baik. Supra mengangguk paham dan ikut menjelaskan bahwa dia adalah teman klub-nya Sopan, adik dari Gentar.
"Ah, sayang sekali aku cuma bertemu dengan seorang Kak Frosty. Lebih bagus kalau Kak Glacy saja!" Ucap Supra dengan nada mencemooh, yang langsung ditanggapi tepukan keras dari kakaknya lagi. Serta dibalas oleh FrostFire bahwa dia juga lebih memilih melihat sosok Glacier yang lebih berperasaan.
Tak terima ditepuk keras berkali-kali, Supra sudah memiting kakak sulungnya. Alhasil FrostFire menjerit mengeluhkan adiknya yang semakin kuat, sementara Gentar dan SoRi kompak menertawakan mereka.
Video selesai dengan durasi dua puluh menit itu. Glacier sudah tertawa-tawa lepas menyaksikan pertengkaran kedua saudaranya. Ternyata, pemandangan ribut itu bisa terlihat lucu di matanya. Padahal dulu dia selalu mengomel dan menyuruh mereka berbaikan saja.
Padahal.... FrostFire mati dengan posisi berusaha melindungi adiknya dari benturan keras. Serta Supra yang sempat menulis pesan chat yang tak sempat terkirim kepadanya yang bertulis, 'Tolong, Kak Frosty hampir mati. Selamatkan dia.'. Padahal.... Keduanya saling peduli terhadap nyawa satu sama lain di akhir hidup mereka.
"Glacier... Tolong jangan menangis lagi..." SoRi menatapnya cemas, sekali lagi menyodorkan tisu. Glacier tersenyum pahit sembari tetap menangis. Setidaknya, kini dia menangis bahagia, lega melihat kedua adiknya tampak baik selama mereka tidak berjumpa. Sebab sesungguhnya kabar dari media sosial mereka tak terlalu membantu meredakan kecemasannya.
Ketika suatu saat Glacier bisa bertemu dengan mereka lagi, hal pertama yang akan dilakukannya ialah menyentil kening mereka, setelah itu memeluk kedua saudaranya erat-erat.
-0o0-
Ctak!
"Kamu marah? Maafkan aku." Kata FrostFire dengan nada cemas. Supra membisu, mengusap keningnya yang disentil oleh Glacier. Mereka yang baru saja reuni dengan saudara tersayang, langsung dihadiahi sentilan. Otomatis, FrostFire dan Supra langsung merenungi kesalahan mereka sebelumnya semasa hidup.
Glacier tersenyum tipis dan berkata, "Mana mungkin aku marah pada saudara sendiri? Aku sayang kalian, biarpun kalian meninggalkanku setelah bertahun-tahun nggak mau bertemu denganku."
"Ma....maaf. Aku sadar bahwa sikapku salah." sahut Supra lirih. FrostFire mengangguk mengiyakan perkataan Supra. Glacier terdiam dalam beberapa menit. Kemudian, dia sudah memeluk keduanya erat-erat. Membalas bahwa dia sudah memaafkan sikap saudaranya.
Dengan perasaan berseri, Glacier bercerita bahwa dia hidup panjang sampai usia 60 tahun. Berkat bantuan uang tabungan FrostFire, dia dapat pengobatan lebih baik. Dan berkat catatan Supra, dia selalu menjaga kesehatannya. "Aku hidup dengan sangat baik. Tentu saja aku sudah memaafkan kalian berdua."
"Berarti Kak Glacy berhasil sembuh?!" Seru Supra cepat, mendahului FrostFire yang juga tak kalah bersemangat mendengar kabarnya. Glacier tersenyum bahagia dan mengangguk. Menambahkan cerita bahwa dia juga telah rutin berolahraga sambil mengingat kedua saudaranya. Tak hanya itu, dia juga tidak mau mengecewakan orang tua mereka yang telah berusaha keras demi dirinya.
Kebahagiaan si anak kedua pun menular kepada saudara-saudaranya. Senyum mereka ikut merekah dan berebut memeluk Glacier, sampai saling bertubrukan. Ketiganya tertawa kecil atas kekonyolan mereka.
"Bukankah aku sudah pernah bilang? Biarpun kita terpisah oleh apapun itu, kalian tetap selalu ada di hatiku."
-0o0-
(End)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Omake:
Hari ini adalah hari dimana Glacier dapat bertemu saudara-saudaranya di usianya yang ke 8 tahun. Tentu dia harus cek ke dokter dahulu, baru bisa bertemu mereka. Pada akhirnya, dia sendiri juga sepakat dengan orang tuanya agar merahasiakan sakitnya dari saudara-saudaranya.
"Mama dan Ayah tenang saja!" Ucap Glacier saat orang tuanya menanyakan keadaannya di telepon. Pasalnya, dia sedang pergi sendirian ke rumah sakit sebab Tok Aba baru saja jatuh keseleo, tak mampu menemaninya. Lagipula Glacier memang baik-baik saja. Perasaannya selalu membaik setiap dia hendak bertemu kedua kembarannya.
Tersisa dua jam lagi. Sembari menunggu antrian di rumah sakit yang sedang padat, Glacier berjalan-jalan sejenak. Tiba-tiba dia menyaksikan pasien korban yang mengalami kecelakaan. Sesaat, ia mematung syok melihat korban yang buru-buru dibawa ke UGD, sementara pihak keluarga menangis.
"Bagaimana kalau Kak Ryo nggak selamat?! Aku takut!" Teriak anak laki-laki yang diduganya adik dari korban pada seorang pemuda lain di sisinya. Glacier berdiri dari jarak aman, menguping percakapan mereka.
"Kakak juga nggak tahu. Kita cuma bisa berdoa yang terbaik untuk saudara kita..." Balas si pemuda, yang rupanya kakak dari pihak korban. Dari percakapannya, Glacier menduga kalau korban adalah anak kedua. Mungkin mereka adalah kakak dan adik sang korban. Dia tercenung diam. Si korban mirip dengannya, sesama anak tengah.
Walau kalimat selanjutnya dari si kakak sulung yang mengejutkan Glacier. "Kalau Ryo sungguh-sungguh mati, hidup kakak mungkin akan hancur. Entah bagaimana melanjutkan hidup baik tanpanya. Kami ini kembar yang nggak terpisahkan..."
Seketika Glacier teringat kedua saudara kembarnya sendiri. Dengan tangan gemetar, dia mengetikkan pesan pada orang tuanya. Membuat sebuah keputusan bulat setelah mendengar percakapan itu. 'Bolehkah kalau aku cerita soal penyakitku ke Kak Frost dan Supra dalam waktu dekat?'
Pesannya langsung dibalas cepat oleh Mama. 'Boleh, Nak. Mama mendukung apapun keputusanmu. Maukah Mama bantu bicarakan ke mereka?'
'Enggak perlu, Ma. Aku bisa sendiri.' balas Glacier. Dan tak butuh lama, nomor antriannya sudah dipanggil. Prosesnya berjalan lancar, tetapi Glacier malah ketiduran saat dia hendak memesan grab online. Untungnya, satpam membangunkannya pada 2 jam kemudian.
Gara-gara dia ketiduran berjam-jam, orang tuanya panik sekali mengirimkan pesan. Bahkan tak hanya mereka, saudara-saudaranya pun meneleponnya.
'Glacy, aku dan Supra sudah sampai rumah, tapi kamu main ke mana?? Ini jam sembilan malam! Kau baik-baik saja?!' Kata FrostFire lewat pesan chat, serta puluhan pesan panggilan namanya. Supra tidak mengatakan kalimat apapun, tetapi ada banyak sekali missed call darinya. Dengan cepat, Glacier lekas pulang ke rumah.
Syukurlah dia segera pulang, sebab begitu tiba di rumah, dilihatnya Amato hendak melapor ke polisi. Lantas, dia juga dimarahi Mamanya akibat ketidurannya itu. Glacier meringis minta maaf dan izin ingin langsung bertemu kedua saudara kembarnya. "Mereka ada di ruang tamu. Sejak tadi mereka sangat mencemaskanmu, Glacy."
Didapatinya FrostFire dan Supra yang tidur di sofa. Glacier tertegun saat melihat mata mereka yang sembab, seperti habis menangis. Apakah mereka menangis frustrasi mencemaskannya? Bayangan orang-orang di rumah sakit sebelumnya berkelebat di ingatannya.
"Kak FrostFire... Supra..." Bisik Glacier lirih, ikut duduk di sofa tengah-tengah antara mereka. "Sebenarnya aku.... Aku sakit kanker. Detailnya tanyakan pada Mama dan Ayah... Lalu.... Mungkin aku akan mati mendahului kalian..."
Dalam hati, dia gugup setengah mati. Jantungnya berdegup kencang. Apakah FrostFire dan Supra mendengar ucapannya? Atau mereka masih tidur nyenyak? Glacier tidak mau berpikir berat-berat. Rasa kantuk kembali menyerangnya. Ia menguap gaya bebas.
Baiklah, ini sudah cukup. Jika suaranya tak terdengar, biar dia minta tolong orang tuanya untuk menjelaskan. Ketika Glacier sudah nyaris masuk ke alam mimpi, dia dapat merasakan FrostFire di sisi kanannya yang memeluk kepalanya. Serta Supra di sisi kirinya yang memeluk tubuhnya. Hangat. Kehangatan saudara yang membuatnya nyaman. Perlahan-lahan, Glacier terlelap.
"Tolong tetaplah hidup untuk kami, Kak Glacy..."
-0o0-
