Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-09-01
Words:
1,128
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Hits:
82

Badai Telah Berlalu

Summary:

Setengah abad yang muram itu kini berangsur cerah. Byakuya kini menemukan kembali mentarinya dalam diri Satō Koyuki. Perlahan ia membiarkan dirinya menerima hangatnya kasih sang mentari dalam hatinya.

Song fiction made of Badai Telah Berlalu by Bunga Citra Lestari feat. Diskoria.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Pagi yang damai di kompleks kediaman Keluarga Kuchiki. Setiap pagi, ada sebuah kebiasaan kecil yang dilakukan Kuchiki Byakuya sebelum menjalani hari-harinya. Biasanya, sebelum ia pergi bekerja, ia selalu menatap foto mendiang istrinya, Kuchiki Hisana. Ia menatapnya lama dalam diam, seolah ia sedang berpamitan pada istrinya layaknya suami yang hendak pergi bekerja.

Seperti hari ini. Namun, berbeda dari biasanya, raut wajah Byakuya yang biasanya sendu ketika berhadapan dengan potret mendiang istrinya, kini tersenyum tipis dengan tatapan lembut.

“Sudah lima puluh tahun lebih, Hisana” Buka Byakuya. Berbicara seolah potret kecil di hadapannya itu benar-benar Hisana yang masih hidup. Kali ini, kedua matanya menatap foto Hisana dengan lekat.

Raut wajah Byakuya berganti. Kini ia menatap foto mendiang istrinya dengan datar. Bukan seperti Byakuya yang biasanya. Entah hal apa yang hendak disampaikannya Byakuya pagi ini dalam monolognya dengan potret sang mendiang istri.

“Hisana, aku tak tahu apakah kau akan bahagia mendengar ini” Byakuya mulai bermonolog lagi di hadapan potret mendiang istrinya. Sepasang manik abu-abunya kembali menatap lama foto Hisana di hadapannya yang tersimpan dalam sebuah lemari.

“Sepertinya, aku kembali menemukan matahariku dalam diri wanita lain. Bolehkah aku menggapainya?” Tanya Byakuya, masih dalam sebuah monolog.

Lagi, suasana dalam ruangan itu hening. Byakuya kembali menatap lekat potret mendiang istrinya. Hatinya kini bimbang. Di satu sisi, ia sudah mengikhlaskan kepergian Hisana. Namun, di sisi lain, ia mulai ragu. Apakah ketika ia mulai memberikan hatinya pada perempuan lain, ia akan menyakiti Hisana di sana?

Jika pun Byakuya hendak menikah lagi, tak akan ada yang menentangnya. Pun norma sosial yang berlaku. Sebab Byakuya dan Hisana dipisahkan oleh kematian. Alasan paling sahih dari berakhirnya suatu hubungan pernikahan.

Namun, ketika Byakuya yakin cintanya sudah habis untuk Hisana dan ia mati-matian menjaga rasa cintanya hanya untuk mendiang istrinya, semesta seolah mempermainkan takdirnya dan membawanya bertemu dengan Satō Koyuki, salah satu teman karib Rukia.

Koyuki mulai masuk ke dalam hidupnya.Tak seperti namanya yang berarti salju, Koyuki perlahan memancarkan kehangatan dalam hati Byakuya laksana mentari menghangatkan bumi. Membuat Byakuya seolah menemukan matahari baru dalam hidupnya yang sempat dingin dan gelap.

Bukan kali pertama Byakuya merasakan jatuh cinta. Byakuya selalu berhati-hati dalam menyimpulkan perasaannya pada Koyuki  sebagai rasa cinta cinta. Namun, apakah ia mampu membohongi dirinya sendiri ketika hatinya mulai menunjukkan tanda klasik seseorang yang sedang jatuh cinta?

Saat jantungnya merasakan debaran yang tak biasa kapanpun ia berhadapan dengan Koyuki. Saat ia merasa ingin lebih lama bersama dengan Koyuki. Saat otaknya memikirkan Koyuki tanpa dikehendaki. Saat ia khawatir terjadi sesuatu yang buruk atau ada yang menyakiti Koyuki. Dan rasa itu kini semakin menguat setiap harinya.

Salahkah Byakuya, jika ia kini semakin mantap mencintai Koyuki saat ini dan hendak segera mengikatnya dalam sebuah hubungan romansa yang manis?

***

Di sisi lain, Koyuki sedang menyesap teh hijaunya di salah satu sudut Barak Divisi 13. Menatap ke arah langit biru dan merasakan sinar matahari siang yang tak menyengat. Awan kumulus putih di langit siang itu membuatnya teringat pada Byakuya. Bagaimana pria itu memperlakukannya dengan kesan dingin dan tegas, namun tetap baik. Bagaimana pria itu selalu berbicara dengan tetap sopan. Dan banyak hal lain yang mengingatkan Koyuki pada Byakuya.

Namun, ia sadar. Hati Byakuya hanya untuk mendiang istrinya. Ia tak pantas dibandingkan dengan Hisana yang mampu membuat Byakuya tak ingin melirik wanita lain selama lima dasawarsa lebih. Ia merasa kecil jika dibandingkan dengan Hisana yang mampu membuat Byakuya mendobrak semua aturan keluarganya demi dirinya. Karena itu, ia tak ingin berharap Byakuya membalas mencintainya.

Hingga sebuah suara menyadarkan Koyuki dari alam pikirnya.

“Koyuki, ayo pergi”

Panjang umur. Yang dipikirkan Koyuki kini berdiri  tak jauh darinya. Suara rendah Byakuya dengan intonasi yang terdengar datar itu mengejutkannya sekaligus membuatnya bingung. Sejak kapan Byakuya ada di sana?

“Byakuya—Maaf, maksudku Kuchiki-taichou, Anda hendak membawaku ke mana?” Koyuki bingung. Namun, secara refleks, tubuhnya menurut dan kini ia mulai berjalan tepat di belakang Byakuya. Byakuya, tanpa banyak bicara, langsung menarik tangan Koyuki dan membawanya pergi entah ke mana.

Sepanjang jalan, Byakuya terus berjalan sembari menggenggam tangan Koyuki. Kepala Keluarga Kuchiki itu sudah tak peduli dengan harga dirinya dan banyak shinigami yang menggunjing keduanya diam-diam di belakang hanya karena ia berjalan bersama seorang wanita sambil terus menggenggam erat tangannya. Koyuki, yang kini berjalan di sisi kirinya, masih menerka.

 

***

Langkah keduanya terhenti di sebuah hutan dengan banyak pohon sakura di sana. Helaian kelopak bunga sakura yang beterbangan ditiup angin membuat pemandangannya bukan hanya terasa cantik, namun juga romantis. Anak rambut dwiwarna Koyuki yang monokromatis itu seolah ikut melayang dengan cantik kala angin bertiup.

Kelopak bunga sakura dan Koyuki. Bukankah keduanya adalah sebuah kombinasi yang sempurna di mata Byakuya?

“Cantiknya” Tak sadar, Koyuki memuji indahnya pemandangan kelopak sakura yang berjatuhan. Tanpa Koyuki sadar juga, Byakuya terus tersenyum lembut sembari terus menatap Koyuki yang mengagumi pemandangan di tempat mereka berada. Byakuya bersyukur Koyuki menikmatinya.

“Kau menyukainya?”

“Tentu! Ah, Maafkan kelancanganku, Kuchiki-taichou” Koyuki langsung merawat panggilannya.

“Bisakah kau tidak memanggilku seperti biasanya?” Masih dengan nada yang datar dan terkesan tegas.

“Maaf, aku hanya tak ingin dianggap tak menghormati Anda. Bagaimanapun, Anda—”

“Dan berhenti berbicara formal padaku, seolah kita ini hanya bawahan dan atasan biasa!” Tegas Byakuya lagi.

Koyuki bingung. Lalu, ia harus apa sekarang? Diam, mengamati kelopak bunga sakura yang berjatuhan ditiup angin, lalu menunggu Byakuya mengajaknya bicara? Kalau begitu, ia menyesal mengikuti Byakuya.

Byakuya tersenyum tipis. Sekilas, manik abu-abunya melirik Koyuki yang kini tak tahu harus berbuat apa. Sekilas, Byakuya tak tega melihat Koyuki yang kini salah tingkah di hadapannya.

“Mendekatlah, Koyuki” Pinta Byakuya alih-alih memberi perintah.

Debaran di jantung Byakuya semakin bergemuruh kala Koyuki melangkah pelan mendekatinya. Koyuki pun sama. Rona merah tipis menghiasi wajahnya. Jantungnya pun semakin cepat ketika ia berada tepat di depan Byakuya.

“Jadilah matahari dalam hidupku selamanya, Koyuki” Tegas Byakuya.

Koyuki tahu dirinya dan Byakuya memang semakin dekat sejak perang berakhir. Koyuki paham maksud kalimat Byakuya barusan, namun tak ingin terlalu percaya diri. Terakhir yang ia tahu, Kapten Divisi 6 itu masih meratapi kepergian mendiang istrinya. Ia pun sepertinya tak keberatan menduda seumur hidup.

Segala keraguan Koyuki kembali menyeruak dan memenuhi hatinya. Mungkinkah ia butuh seorang wanita yang hanya sekedar jadi pendamping, tanpa perlu dicintai? Tak mungkin ia menyimpan rasa pada Koyuki.

“Tatap mataku, Koyuki! Aku tahu kau masih meragukan hatiku” Tegas Byakuya, sembari mengangkat lembut dagu Koyuki agar wanita itu menatap langsung matanya.

Koyuki mau tak mau menatap mata Byakuya. Rupanya Byakuya bersungguh-sungguh dengan lisannya. Tak ada kebimbangan di hatinya. Seolah matanya berkata ia ingin Koyuki jadi miliknya mulai hari itu.

“Tapi aku ini salju. Bukan matahari. Kalau kau mau, aku bisa menjadi salju lembut yang menghangatkan hatimu” Balas Koyuki lembut.

Bak gayung bersambut, dua insan yang saling meragukan perasaannya terhadap satu sama lain itu mengikat hati dan secara tersirat berjanji untuk terus bersama.

Ya, badai telah berlalu bagi keduanya. Byakuya kini bebas mencintai Koyuki tanpa dibayangi masa lalunya. Koyuki juga tak lagi harus menutup-nutupi rasa cintanya pada Byakuya.

Notes:

OMG sorry banget gua postnya kelebihan wordsnya :((( semoga ini bisa jadi kado yumeversary terbaik ya~

ByakuYuki? JAYA! JAYA! JAYA!