Actions

Work Header

Domestik

Summary:

Hidup sebagai mahasiswa berat lebih-lebih saat jatuh sakit di perantauan. Untungnya, Osamu (sudah) punya pacar.

Notes:

Haikyuu belongs to Haruichi Furudate. This fiction is a part of Gamon Universe on Twitter/X (what if universe). Osayama domestic boyfriends for a better mental health.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Hidup sebagai seorang mahasiswa itu berat. Osamu akan setuju dengan setiap konten video yang menyatakan betapa kehidupan kuliah meningkatkan keinginan untuk mati muda. Kalau bukan karena bunda, Osamu yakin dia sudah memesan tali tambang secara online menggunakan akun kembarannya Atsumu. Ngomong-ngomong perihal kuliah, Osamu nggak ada niatan untuk bangun dari kasur tingkatnya meski alarm dari ponselnya sudah menjerit-jerit sejak pagi. Teriakkan Atsumu bahkan nggak mampu membuatnya tergugah untuk keluar dari gelungan selimut yang nyaman.

“Sam, bangun jir. Kamu ada kelas pagi, bareng sini,” kata kembarannya. Terburu-buru memakai kaus kaki karena kebetulan, dia juga nyaris terlambat. Osamu nggak memberi jawaban apapun selain gumaman gamang, kalau bisa, dia akan mendengkur keras-keras untuk mendeklarasikan gerakan mogok kuliahnya pagi ini.

“UKT masih bunda yang bayarin gausah belagak anak punk gitu, anying!” Atsumu mengumpat sembari membuka pintu kost, suara klakson dari mobil Sakusa membuatnya nggak punya pilihan lain selain bergegas pergi dengan erangan frustrasi lainnya. “Halah, moh!”

Lalu, kamar kost-kostan itu kembali hening. Suara alarm nggak menginterupsi lagi sebab Osamu mematikan semua pengaturan yang ada. Matanya yang terasa berat itu terpaksa harus terbuka dengan riak emosi mendalam sewaktu sebuah panggilan suara masuk. Mau teriak anjing, tapi yang menghubungi adalah Yamaguchi, pacarnya. Dengan segala kerendahan hati (yang dia dapat dengan mengehela napas panjang-panjang), Osamu menyambut sapaan di seberang dengan suara serak dan kering kerontangnya, “halo, sayang?”

Yang ada di seberang mengernyitkan dahi. Suara Osamu berbeda dari pagi kemarin, dan kemarin, juga kemarinnya lagi. “Kak? Kakak sakit?” tanyanya dengan nada khawatir, nggak lupa diiringi suara tersandung dan pekikan kecil karena Yamaguchi memang anak yang ceroboh.

Yeah, flu. Aku nggak kuliah, ya, sayang. Lemes.” Suara Yamaguchi begitu lembut, seperti kabut, seperti selimut hangat yang memeluknya erat-erat, seperti bunda yang mengurusinya waktu sakit. “Kamu kelas?” tanyanya kemudian.

“Enggak, aku kosong hari ini. Kakak udah makan?” Seperti mustahil, Yamaguchi nggak berharap untuk Osamu menjawab dengan kata belum. Osamu dan makanan adalah sebuah kesatuan yang utuh, amat sangat nasionalis seperti negara kalau harus dianalogikan. Pokoknya Osamu cinta makanan, titik. “Kak, aku ke sana ya? Bentar, ya. Kakak mau makan bubur atau apa?”

Osamu mendadak bangun dari tidurnya hanya untuk kembali jatuh tertidur karena pandangannya mendadak gelap dan dunia rasanya jungkir balik seperti nilai mata kuliahnya semester kemarin. Sadar nggak kunjung memberi jawaban, dia berdeham. Bayangan mengenal hal-hal domestik seperti dimasakkan bubur keasinan atau dipeluk saat tidur meski rasanya gerah setengah mampus bolak-balik di benaknya yang sedikit mengawang. Mungkin Atsumu benar, jatuh cinta sungguhan bisa membuatnya jadi tolol.

“Kamu ke sini aja, aku dimasakin bubur instan juga nggak apa-apa, hahaha. Maaf ya, aku beneran ngerasa kayak mau mati, aku tutup, ya,” jawabnya setengah sadar. Dia bahkan nggak sempat mendengar jawaban pacarnya dan jatuh tertidur begitu saja. 

Ini pertama kalinya Osamu jatuh sakit yang sungguhan sakit sewaktu kuliah. Jauh dari bunda membuatnya was-was. Badannya sakit semua dan Atsumu meninggalkannya sendirian di kamar kost-kostan yang teraa sepi ini. Sialnya lagi, ada lima kotak risol mayo yang harus dia goreng dan packing untuk danusan fakultas sebelah yang sedang terseok-seok butuh suntikan dana. Pikirannya melanglang buana seperti tengah berselancar di dunia maya, lambat laun membuatnya jatuh tertidur sampai mendengkur. Meski lelap dalam buaian tidur brunch-nya, Osamu nggak benar-benar merasa aman. Dahinya mengernyit berkali-kali seolah tengah bermimpi buruk. Selimut ditarik tinggi-tinggi sampai kepalanya tenggelam karena dingin penyejuk ruangan menusuk sampai tulang. Begitu hangat menenangkan singgah di atas dahinya yang panas menyengat, badan Osamu yang gelisah lantas tenang, kepalanya menyusup pada telapak tangan kecil yang mengusap-usap dahinya.

“Kak, panas banget. Aku ada bawa bye bye fever, sebentar,” kata sebuah suara. Otaknya boleh terlelap tapi enggak dengan hatinya yang seperti hafal suara malaikat tadi di luar kepala. Osamu terbangun, matanya bersitatap dengan milik pacarnya yang terlihat khawatir. Nggak butuh waktu lama untuknya segera memeluk pinggang Yamaguchi yang duduk di sebelahnya sedari tadi. “Kamu wangi,” katanya dengan suara sengau. 

Yamaguchi meringis merasakan hawa panas yang dihantarkan badan Osamu padanya. Tangannya yang sedari tadi menyisir rambut Osamu kini berpindah, memijat dan mengelus seluruh badan pacarnya yang menjelma menjadi bayi besar. Kalau boleh jujur, mengurusi orang sakit adalah bukan keahliannya. Yamaguchi terbiasa menjadi anak yang diurusi keluarga dan teman-teman, pacarnya juga selalu memanjakannya. Tapi melihat tingkah menyedihkan Osamu yang seperti akan mati besok, dia telan mentah-mentah keinginannya untuk menyerah dan langsung menghubungi ambulans.

 

“Kak, aku pakai dapurnya, ya. Mau makan sup telur, nggak? Resepnya Tsukki enak, aku tadi telfon cara buatnya gimana,” Dia lalu bertanya sambil beranjak dari duduknya. Osamu tentu nggak membiarkan pacar kecilnya itu pergi begitu saja. Dengan seluruh tenaganya yang tersisa, dia memeluk erat-erat pinggang Yamaguchi sampai setengah bangun. Selama Atsumu dan mulut lemesnya itu nggak ada di sekitarnya, reputasi Osamu sebagai mahasiswa teknologi pangan penuh integritas akan terjaga.

“Kakak kalau nempel begini aku pulang, deh?” Sedikit ancaman ternyata ampuh untuk melepaskan lintah darat yang mencekalnya habis-habisan. “Udang oke? Atau kakak mau ayam aja?” tanyanya sekali lagi. Osamu bergumam udang dengan pelan sebelum kembali merebahkan diri di atas kasurnya karena nggak sanggup menopang badannya sendiri. Dari sini, dia bisa memperhatikan Yamaguchi yang sibuk memasak sambil melakukan video call dengan Tsukishima yang terdengar ogah-ogahan. Tangan kecil yang tadi menempelkan plaster penurun panas dan mengusap-usap badannya sibuk memotong bahan dan mengeluarkan jagung manis dari kalengnya, sesekali merengek karena kenyataan nggak sesuai harapan. Lalu, suara penuh emosi dari Tsukishima turut menghidupkan suasana yang tadinya sepi dan menyedihkan. Waktu sembuh nanti Osamu akan pastikan untuk menjegal Tsukishima di jalan karena sudah berani mengomeli Yamaguchinya yang sebenarnya nggak perlu belajar memasak itu, kan ada dia.

 

“Kaaaak?” panggil Yamaguchi setengah memekik. Mirip seorang istri di pagi hari—semoga Tuhan mendengar doa orang yang tengah sekarat. Osamu mau banget menikah dengan Yamaguchi Tadashi.

“Udah mateng, ya?” dia bertanya. Tahu-tahu sudah duduk tegak di meja dekat dapur. Kalau boleh jujur, Yamaguchi merasa Osamu mirip dengan target pasar video tiktok untuk dijadikan bahan bersyukur, kasihan sekali wajahnya.

“Harusnya enak sih, tapi kalau nggak enak biasanya karena sakit, jadi lidah mati rasa. Aku ada beliin parasetamol juga tadi, habis makan diminum ya. Kakak kok bisa sakit? Begadang buat pesenan danusan lagi? Atau tugas?” 

 

Ada semangkuk sup telur dengan jagung manis dan udang di atas meja, sebotol air mineral juga semangkuk kecil nasi panas lengkap dengan buah potong yang Yamaguchi beli di abang-abang depan kampus. Ini bukan apa yang seperti bundanya sediakan di rumah sewaktu dia terkena gejala tipes dulu, bukan apa yang tantenya akan belikan untuknya waktu demam tinggi. Hal sederhana yang tersaji di atas meja ini bukan apa-apa tapi mampu membuat panasnya turun dua derajat. Sumpah. Osamu bisa ikut ujian praktek sekarang juga. Mungkin Atsumu benar, jatuh cinta sungguhan membuatnya jadi makin tolol.

“Makasih, ya. Kamu capek? Kalau iya tidur aja sambil tunggu aku selesai makan,” katanya sebelum menyuap sesendok nasi yang mirip bubur karena disiram sup. Yamaguchi menggeleng sembari bangkit dari duduknya dan meninggalkan Osamu dengan banyak tanda tanya. Belum habis sarapan kesiangannya dia telan, Yamaguchi kembali duduk di sebelahnya dengan sebaskom air hangat dan satu handuk kecil berwarna biru muda.

“Kak, buka bajunya coba. Aku lap sedikit, ya. Kalau mandi takutnya sakit lagi. Jadi kubersihin aja sambil makan. Nanti kuambilin baju ganti, ganti di kamar mandi tapi, ya.”

“Ganti di depanmu nggak boleh?”

“Kugigit!” Osamu tertawa geli mendengar pekikan marah Yamaguchi yang wajahnya bersemu merah. Khawatir begitu, Yamaguchi masih sempat memasang wajah galak yang sama sekali nggak membuatnya takut. Dadanya menghangat tapi kali ini bukan karena dia sedang demam. Debaran jantung yang kencang cukup jadi bukti kalau Osamu sedang salah tingkah. Meski wajahnya masih bersemu merah, Yamaguchi dengan telaten menyeka keringat dan mengusap pelan badannya yang macam bara api itu. Kalau bunda bertanya kenapa Osamu mau menikahi Yamaguchi, dia akan dengan bangga mengatakan hal ini adalah salah satu alasannya. 

Pukul sebelas lewat lima belas, Osamu kembali terbaring di ranjang tingkatnya dengan tampilan lebih manusiawi. Perutnya kenyang dan pakaiannya berganti. Badannya nggak sakit lagi dan Yamaguchi ada di pelukannya sebagai guling tambahan. Kalau mati hari ini, Osamu yakin dia masuk surga.

“Kakak, tidur. Aku mau main sudoku sebentar ya, daily mission-ku belum aku selesaiin. Ranking-ku nanti turun aku stres berat,” kata Yamaguchi dengan semangat, badannya ikut menggeliat mencoba lepas dari dekapan seorang mahasiswa tertekan. Suaranya babkan sedikit tenggelam sebab Osamu mendekapnya erat-erat di dada.

“Mertahanin ranking sudoku kaya mertahanin kemerdekaan aja,” komentarnya datar. Dia membubuhkan kecupan ringan di wajah Yamaguchi yang tengah merenggut sebelum membantunya untuk berguling ke kanan—berganti posisi supaya agenda tidur Osamu nggak terganggu dan Yamaguchi tetap jadi juara bertahan sebagai atlet sudoku.

“Nggak boleh komentar. Kakak tidur ya, habis ini janji aku peluk. Aku mau tidur siang juga, ngantuk.” Sebagai jawaban, Osamu cuma berdeham dan membenamkan wajahnya pada tengkuk Yamaguchi yang terlihat serius. Pacarnya lama terdiam, kentara tengah memutar otak untuk memilih angka dengan hati-hati. Matanya diam-diam curi-curi pandang pada layar ponsel Yamaguchi, beberapa kotak masih kosong tapi perihal hatinya, rasanya penuh. Kalau Atsumu melihatnya tengah menempel seperti bayi koala pada pacarnya, sudah dipastikan reputasinya sebagai mahasiswa tanpa skandal akan tercoreng dan Osamu akan urungkan niat jadi seorang wisudawan.

Lama dalam posisinya yang nyaman, Osamu nggak sadar kalau napasnya makin teratur dan matanya terkatup perlahan-lahan. Kepalanya bersandar dengan nyaman dan tangannya memeluk Yamaguchi dengan erat tanpa beban. Osamu jatuh tertidur dan Yamaguchi berhasil mempertahankan posisinya sebagai juara bertahan sudoku dengan nol kesalahan. Hari senin nggak pernah terasa setenang ini dan jatuh sakit nggak pernah terasa semenyenangkan ini—

Harusnya begitu, sampai Atsumu pulang dari kampus dan memekik dengan heboh karena di matanya, kembarannya tengah berzina di siang hari dengan pacarnya yang gampang dimanipulasi. Bunda harus tahu kabar ini.



Notes:

Find me on X/Twitter @Ideationsm. Have a cigarette, X.