Work Text:
Hari ini adalah hari Sabtu pertama Taerae yang luang selama kelas dua belasnya, atau bahkan selama masa sekolah menengah atasnya. Dengan luang, ia betulan bermaksud tidak ada jadwal dan tidak akan ada alarm yang bunyi sebagai pengingat dari aktivitas hariannya.
Tidak ada lagi Taerae yang menjabat sebagai Wakil Ketua MPK (Majelis Perwakilan Kelas).
Tidak ada lagi Taerae yang menjabat sebagai Ketua Ekstrakurikuler Math Club – ia diperbolehkan menjadi ketua ekskul karena di MPK jabatannya hanya sebagai wakil ketua, lagipula tidak ada anggota lain yang ingin memimpin klub, hanya Taerae yang sukarela untuk mencalonkan diri dan berakhir dipilih.
Dan yang terakhir, tidak ada lagi Taerae yang menjadi vokalis dari ekstrakurikuler band; ekskul yang paling ia gemari karena di sana ia dapat mengembangkan bakatnya melalui berbagai penampilan, salah satunya ketika mengisi acara kelulusan kakak kelas.
Sebenarnya masih ada tiga ekstrakurikuler lagi yang pernah Taerae ikuti, yaitu taekwondo, nihongo gakuen, dan kerohanian. Namun ia dengan berat hati berhenti menjadi bagian dari tiga kegiatan tersebut karena waktunya hanya cukup untuk MPK, Math Club, dan Band.
Kembali lagi kepada hari Sabtu yang luang ini. Taerae membuka aplikasi Instagram dan berniat untuk menikmati paginya dengan berselancar di media sosial. Ia memulai dengan melihat story dari akun-akun yang ia follow, jika ia sudah bosan maka tujuannya akan berpindah untuk menonton video singkat.
Teman-teman seangkatan Taerae kebanyakan mengunggah foto yang menangkap kebersamaan mereka ketika berkumpul hingga malam hari, maklum besokannya hari Sabtu dan tidak ada jadwal pendalaman materi. Sementara itu, beberapa teman lainnya mengunggah ulang video singkat yang jenaka.
Lalu – oh, zhangbiao? Tumben sekali Kak Hao aktif di Instagram. Bukan bermaksud untuk menjadi si-paling-tahu tentang Kak Hao, tetapi memang rasanya jarang bagi Taerae untuk melihat akun itu muncul di halaman utamanya.
Ketika Taerae melihat postingannya, ternyata pagi hari ini Kak Hao sedang mendokumentasikan sekaligus mempromosikan untuk suatu acara; terlihat dari dekorasi di bagian depan gedung fakultasnya beserta caption yang mengajak.
Seperti ada pesan tersirat yang sampai kepada Taerae setelah ia melihat gambar dan teks dari postingan Kak Hao tersebut. Ia menekan lama pada story tersebut – agar tampilannya menetap pada halaman itu – dan mengambil waktu sejenak untuk berpikir. Selang beberapa detik kemudian, ia teringat bahwa beberapa hari yang lalu ia mengisi formulir pendaftaran untuk ikut Bedah Kampus Fakultas Teknik.
Pantas saja sesuatu terlintas di kepala Taerae, ternyata universitas yang ingin ia ikuti acaranya merupakan tempat di mana Hao lanjut bersekolah? Taerae benar-benar tidak tahu. Terlebih, Taerae juga tidak sadar bahwa hari ini merupakan tanggal kegiatannya.
Bentar, apakah artinya ada kesempatan bagi Taerae untuk bertemu Kak Hao melalui acara ini?
Seketika Taerae melupakan pola pikirnya beberapa menit lalu tentang menikmati-hari-luangnya. Melihat jam di mejanya yang sudah mendekati jam delapan, Taerae segera menuruni tangga ke ruang keluarga – kamarnya berada di lantai dua – meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk pergi (lebih tepatnya meminta tolong kepada mereka untuk mengantarnya), dan kembali menaiki tangga untuk mandi dan bersiap-siap.
Meskipun sedikit buru-buru dan tidak terjadwal dengan baik, Taerae berhasil sampai di kampus pukul 08.30 WIB. Acara masih akan dimulai setengah jam lagi sehingga Taerae memutari area sekitar fakultas, mengikuti ke mana dua kaki imutnya membawanya, untuk membunuh waktu.
Taerae akhirnya memberhentikan kakinya di depan stand merchandise, ia senang apabila ada barang yang bisa dibawa pulang sebagai kenangan setelah menghadiri suatu kegiatan. Maka dari itu, ia melihat-lihat dan menentukan kandidat barang yang akan ia beli.
Sangat mudah bagi Taerae untuk memulai obrolan dengan orang asing, jadilah ia berbincang kecil bersama sang penjaga stand-nya. Sejauh ini, ia sudah mengetahui nama, nomor telepon, alamat rumah – tentu saja yang barusan hanya bercanda, aslinya ia cukup mengetahui nama dan program studi serta tahun masuk si mahasiswa tersebut.
Percakapannya berputar di antara mereka hingga ada seseorang yang menginterupsi, “Taerae?”
Seharusnya Taerae tidak perlu terkejut mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah Zhang Hao, toh memang tadi pagi ia sudah melihat story instagram kakak kelasnya yang merupakan panitia, serta ia sudah membayangkan skenario pertemuan mereka. Hanya saja ia kaget bahwa akan dihadapkan dengan Kak Hao-nya secepat ini, bahkan sebelum acara dimulai.
“Kak Hao! Hai!” Taerae menyapa balik dengan antusias. Ia melihat Hao yang mendekat ke arahnya – dibaluti dengan kemeja biru dan dasi yang sedikit berantakan – sambil membawa kabel gulung di tangannya, sepertinya ia benar-benar sedang bertugas.
Merasa bisa bergabung ke dalam pembicaraannya, panitia yang bertugas menjaga stand itu berceletuk, “Lah, kenal lo, Hao?”
“Adek kelas gue nih. Harusnya gue yang nanya lo, kenal lo?” Hao membalas pertanyaannya dengan nada yang tengil, seolah-olah menekankan bahwa ia lah yang lebih dulu mengenal Taerae dibanding teman satu jurusannya itu.
“Kenal kok. Iya, kan?” tanyanya sambil menaikturunkan alisnya, ternyata teman kakak kelasnya itu tidak kalah tengil.
“Tukeran nama barusan.” Entah kenapa Taerae ingin meyakinkan Hao bahwa mereka memang baru berkenalan hari ini. Mereka baru mengetahui nama satu sama lain hari ini. Tidak seperti dirinya dan Hao yang sudah mengetahui eksistensi satu sama lain sejak SMA.
Hao merespons kalimat Taerae dengan anggukan dan senyuman; sebaliknya, ia memicingkan mata kepada pihak lain. “Kamu mau ikut bedah kampus hari ini, Rae?”
“Iya, aku pengen masuk teknik niatnya, jadi hari ini mau liat suasananya gimana dan mau denger sharing dari kakak-kakaknya juga.” Bagus sekali ya niatnya, Kim Taerae. Padahal jelas-jelas tadi pagi ia sempat melupakan acara bedah kampus hari ini, tetapi alasan yang ia sebutkan barusan sangat menggambarkan citra anak kelas dua belas yang siap menjadi calon mahasiswa.
“Ih keren deh udah tau tujuannya dari sekarang. Nanti kalo masih ada yang mau kamu tanyain setelah bedah kampus, boleh chat aku aja ya,” balas Hao sambil menepuk pundak Taerae pelan. Ini adalah kedua kalinya tangan Hao mendarat di tubuh Taerae – yang pertama adalah ketika foto bareng seusai graduation Hao.
Setelah itu Hao berbasa-basi, menanyakan bagaimana tadi Taerae datang ke kampus ini, menggunakan kendaraan apa, macet atau tidak. Mereka terlalu larut dalam obrolan mereka hingga sang penjaga stand merchandise memberi deheman kepada mereka. Taerae paham bahwa itu memiliki dua arti; bisa ngobrol di tempat lain aja gak? atau, beli gak lo?
Rasanya tidak enak apabila sudah terlalu lama berdiri di depan stand namun tidak membelinya, terlebih ia sudah sempat mengobrol dengan penjaganya, maka Taerae segera memilih merch dengan desain keren yang ditawarkan pada acara ini.
“Plis jangan palak gue untuk beli merch, gue udah jualin tiket event sampai lima,” gurau Hao.
Taerae langsung ikut bersuara, “Aku mau beli kok! Tapi tunggu ya masih bingung karena lucu-lucu...” Ia membantu meyakinkan sang panitia bahwa ia memang berniat melakukan transaksi.
“Aku beli yang ini deh.” Pilihan Taerae akhirnya jatuh kepada stiker kecil tiga ribuan, model dari stiker yang ia pilih cukup beragam, tetapi salah satunya bertuliskan, ‘teknik selalu di hati karena yang di hati ada di teknik.’
Taerae tertawa dalam hati dengan pilihannya, tetapi tidak apa-apa, kata-katanya betulan lucu dan ia ingin memiliki barang ini sebagai kenang-kenangan.
Hao yang melihat pilihan sticker Taerae iseng bertanya, “Kamu mau punya pacar anak teknik nanti?”
Sambil menyelesaikan pembayarannya, Taerae menjawab dengan asal, “Hm... Emang Kak Hao gak mau?”
“Maksudnya?” Ah, tidak seru. Padahal Taerae tau kalau Hao menaruh perasaan padanya, tetapi setiap kali berinteraksi pasti kakak kelasnya – atau mungkin calon kakak tingkatnya – suka pura-pura tidak paham.
Belum sempat Taerae bisa menjelaskan, sudah ada bunyi dari mikrofon yang menginformasikan bahwa registrasi peserta acara bedah kampus sudah bisa dilakukan. Pada waktu yang bersamaan, Hao juga dipanggil oleh temannya untuk segera memberi kabel gulung yang sejak tadi selalu berada di genggaman tangan kanannya itu.
Taerae dan Hao berakhir memberikan ucapan perpisahan yang singkat karena akan melangkah ke tempat yang berbeda. Taerae sudah bergerak lebih dulu dari tempat stand merchandise itu ketika ia belum merasakan adanya suara langkahan kaki dari Hao, sepertinya kakak kelasnya itu masih berdiri di tempat.
Sebut Taerae terlalu percaya diri atau apa, tetapi ia merasa ada kemungkinan Hao akan berjalan ke arahnya, maka ia sengaja memperlambat langkah kakinya agar mudah bagi Hao jika ingin menyusulnya. Dan benar saja, Hao mendatangi Taerae kembali, untuk ketiga kalinya tangan Hao menyentuh pundak Taerae.
Taerae bisa melihat Hao mengambil waktu sebentar untuk memberanikan diri sebelum mengeluarkan pertanyaan, “Taerae, nanti pulangnya mau bareng aku?”
Mulut Hao sudah hampir terbuka lagi, mungkin ingin menimpali kalimatnya sendiri, tetapi Taerae membungkamnya terlebih dahulu, “Boleh.”
Kedua bibir Hao langsung membentuk senyum; yang secara ajaibnya juga membuat Taerae ikut tersenyum. Kali keempat tangan Hao mendarat di pundak Taerae, namun kali ini ibu jarinya terangkat dan mengelus ringan sebagian pipi Taerae.
“Kalau gitu, have fun ya ikutin acara bedah kampusnya,” kata Hao final dengan dua kali tepukan pada pundak Taerae, lalu berlari menuju temannya yang tak berhenti menyorakkan namanya.
Sekarang kebalikannya, Hao yang berjalan dan Taerae yang masih mematung di tempat. Bagaimana tidak? Pipinya baru saja dielus oleh kakak kelas yang juga baru saja mengajaknya pulang bersama.
Apa Hao akhirnya mengambil hint dari kalimat asal bunyinya tadi ketika membeli sticker?
Taerae kembali merogoh saku celananya untuk melihat belanjaan lucunya tadi, dielusnya permukaan stiker yang berbahan kertas itu. Mungkin mulai hari ini stiker ini akan menjadi jimatnya agar keterima di fakultas ini, atau mungkin menjadi jimatnya agar bisa lebih dekat dengan Kak Hao-nya.
