Chapter Text
I
-
“Kalau lo bisa buat tuh bencong suka sama lo, kita akuin deh lo emang laki-laki sejati. Real Man.”
Gemini terdiam di kursinya sendiri, terpekur memikirkan perkataan “teman”-nya yang ada di meja yang sama. Namanya Ray, sang ketua dari geng yang tidak ingin disebut nama yang kini tengah menatap Gemini dengan pongahnya. Perkataan ini hadir di tengah obrolan kerena tadinya sama-sama saling melemparkan canda sampai percakapan soal adu paras dan memperolok teman satu sekolah mereka akhirnya muncul ke permukaan.
“Kok malah nyampe ke sana sih elah?” tanggapnya. Ia tidak tahu apakah orang-orang di sekelilingnya akan menangkap gelagat anehnya, tetapi yang ia tahu, ada sesuatu yang salah di dalam dirinya. Atau dirinya lah yang salah di sini?
“Lah, kan lo ngakunya tadi lakik banget? Paling ganteng juga. Siapa aja juga suka sama lo. Kenapa nggak lo coba sama Fourth? Kalau Fourth aja suka sama lo, ya berarti ucapan lo bener. Simple, ‘kan?”
Lalu salah satu kawannya yang lain menimpali, “Atau lo takut, ya? Takut mah bilang aja.”
“Iya kali ya, takut gede omong doang.”
“Atau takut ikut-ikutan jadi bencong kali ya?” adalah suara yang menutup sahut-sahutan mengejek dan merendahkan sebelum ledakan tawa mengakhiri rentetan kalimat itu.
“Siapa yang takut?!” pekik Gemini pula.
Ledak tawa itu terhenti seketika, setiap kepala yang berada di ruang tersebut kini berubah menjadi semangat mendengar penuturan itu. Seakan sesuatu yang menarik untuk disimak akan terjadi sebentar lagi. Semuanya tertawa lagi, menampilkan wajah yang sumringah, juga menggelakkan tawa sekeras-kerasnya.
“Kalau gitu kita perlu cepet-cepet dapet buktinya.”
“Tunggu dulu, nggak fair kalau cuma begini doang nggak sih? Gue nggak ada untung apa-apa?” tanya Gemini pula tidak terima. Wajahnya mencoba memelas walau dadanya sedang bergemuruh, rasanya ada sesuatu yang buruk sedang terjadi tetapi gengsinya yang sudah selangit tidak bisa ia hempaskan begitu saja hingga ke tanah.
“Taruhan,” ucap Ray, matanya menatap jauh ke belakang entah kepada siapa tanpa Gemini sadari. “Kalau lo bisa naklukin dia...,”
“…lima puluh ribu, buat lo bisa jadiin dia pacar. Seratus ribu, buat dia suka dan tergila-gila sama lo. Dua ratus ribu, kalau lo bisa ngewe sama dia.”
Ada hening yang cukup lama saat tawaran itu terdengar. Gemini mulai ragu di dalam pikirnya. Tangannya mengepal mendengar rentetan digit yang bisa dia terima sebagai imbalan dalam mengikuti permainan sekelompok laki-laki menjijikkan ini. Ia menunduk dalam mencoba untuk tidak terlihat begitu jelas menginginkan uang itu.
“Ragu lo?”
“Jangan-jangan lo bencong juga ya, kayak si Fourth itu?”
“Suka lo sama dia?”
“Kalau nggak bisa ya udah sih, nggak usah dipaksa. Berarti lo ngomong gede aja tadi.”
“Kita kayaknya salah sangka nggak sih masih nerima Gemini di geng ini?”
Gemini masih diam, tetapi kesabaran anak laki-laki itu akhirnya harus berakhir ketika sebuah tepukan di bahu ia terima lalu mendengar kalimat lain yang semakin menyakiti dirinya. “Uangnya bisa lo pake buat nyokap lo. Emang nggak malu lo liat nyokap lo jualan di pasar setiap hari?”
Giginya bergerit marah dan rahangnya mulai mengetat. Rasanya ia ingin sekali melayangkan kepalan tangan yang sudah ia kepal dengan kuat dari tadi.
“Setuju,” desis Gemini pelan sebelum akhirnya ia mendongak dan menatap satu-satu bola mata orang yang sedang mengelilinginya. “Gue buat tuh duit dua ratus ribu ilang dari lo semua.”
“Nah, gitu dong. Ini baru seru!”
“Tapi jangan sampe pas lo lepas dari si Fourth, lo malah gabung sama geng bencong-nya itu.”
Lalu tawa menguar ke sekeliling ruangan. Menyisakan Gemini yang terdiam hingga saat ia berada di jalan pulang. Menatap satu-satu lampu jalan yang berpijar memantulkan cahaya kuning ke aspal yang ia injaki. Tawa rendahnya keluar ketika ia menyadari kenyataan yang ia terima. Nyatanya, sekeras apa pun ia berusaha menjadi ‘anak-anak itu’ dia tidak akan pernah menjadi ‘anak-anak itu’. Mungkin keberuntungan itu telah berakhir untuknya ketika ayahnya memutuskan untuk meninggalkan Gemini beserta ibunya berdua saja sendirian di dunia ini. Dengan segala kesukaran dan duka yang meliputi tanpa ingin mengerti apakah Gemini sanggup menjalaninya.
Gemini membuka gerbang besi yang sudah berkarat hingga ketika ia mendorongnya suara derit nyaring bisa ia dengar dengan jelas. Rumah Gemini hanya sebuah rumah kecil di yang terdapat di dalam komplek kumuh padat penduduk dengan dua kamar berukuran kecil dan satu kamar mandi yang ia gunakan bersama dengan sang ibu. Mereka hanya memiliki satu buah tv analog sebagai pemecah sunyi, serta seisi rumah yang penuh dengan adonan kue milik ibunya.
“Eh, Gem? Udah pulang, Nak? Gimana tadi sekolahnya? Lancar? Kenapa pulangnya larut begini? Kamu nggak capek? Mami khawatir tau, Nak.”
Rentetan pertanyaan yang Gemini dapatkan membuat kepalanya serasa ingin pecah. Melihat keadaan rumahnya yang temaram, wajah ibunya yang lelah, dan baju sekolahnya yang lusuh bukanlah kondisi kehidupan yang ia inginkan. Ia masih ingin hidup dengan nyaman tanpa harus memikirkan besok bisa makan apa dan kapan kiranya utang-utang itu bisa berhenti mengikuti kehidupan mereka. Ia masih ingin kehidupan yang tenang dengan kawan yang berkerumun di sekelilingnya tanpa harus meminta dan memohon agar ia bisa masuk ke dalamnya. Ia masih ingin tidur nyenyak tanpa harus khawatir hujan deras di luar bisa membuat atap rumahnya meneteskan bulir-bulir air hujan hingga membuat seisi rumah basah.
Gemini sudah muak. Jadi respons tubuhnya yang tanpa ia perintahkan mengabaikan pertanyaan ibunya begitu saja. Wanita itu bahkan terdiam selama beberapa saat ketika mendengar debuman pintu yang datang dari arah kamar anak satu-satunya. Lalu begitu terus setiap harinya, hingga Gemini juga muak untuk mendengar ibunya menangis setiap malam.
-
Keesokan harinya, Gemini sudah berencana untuk membuat pergerakan dan memenuhi taruhan itu. Dia melangkahkan kaki ke dalam sekolah yang terasa megah untuknya kini. Padahal dulu ia selalu merengek untuk meminta kepada sang ayah agar ia bisa bersekolah di sekolah yang lebih mahal hanya karena sekolah ini memiliki model seragam yang tidak ia sukai. Kini, mempertahankan seragam yang dulu ia anggap jelek saja rasanya sulit.
Gemini kembali mengeratkan tas ranselnya, mencoba mendekati seseorang yang sudah menjadi targetnya sejak ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Target itu memiliki rambut yang lebat, legam dan berkilau terbang terbawa angin. Tasnya berwarna biru muda yang cerah, ada gantungan dengan gambar bintang merah jambu di salah satu resletingnya. Target itu tampaknya belum bisa menyadari kedatangannya karena masih sibuk bercengkrama dengan tiga orang lainnya, mungkin temannya, teman perempuannya.
“Fourth,” panggilnya ketika ia rasa jarak mereka berdua sudah cukup dekat untuknya memanggil target itu. Yang dipanggil Fourth itu akhirnya menoleh, bersamaan dengan ketiga temannya yang lain menatap Gemini dengan tatapan yang sama bingungnya. Fourth pula awalnya terlihat bingung, tetapi ketika ia bisa menangkap figur Gemini ada di hadapannya, Fourth sontak tersenyum lebar. Gemini bertanya-tanya, apa yang ada di dalam kepala laki-laki kecil itu. Matanya yang semula terlihat biasa saja seperti sebagaimana mata yang dimiliki oleh manusia pada umumnya, kini Gemini rasa seluruh bintang di langit jatuh ke dalam mata Fourth. Apa sebenarnya hanya dia yang salah melihat?
“Wuah, Gemini!” serunya antusias. Fourth melihatnya seakan Gemini adalah sosok yang langka, seakan Gemini adalah selebriti yang tidak akan bisa ia temui dengan mudah tanpa keberuntungan ada di pihaknya. Rasa antusias yang tidak bisa Gemini bayangkan sebelumnya karena reaksi Fourth yang terlalu berlebihan. Berbeda dari Fourth yang terlihat begitu bahagia melihat Gemini, ketiga teman Fourth lainnya tidak terlalu terlihat senang. Mereka seakan menatap Gemini dengan tatapan menghakimi dan siap menerkam Gemini kapan saja. “Tumben Gemini nyapa Fourth, ada apa? Gemini butuh sesuatu?” tanya Fourth kemudian.
“Gue … perlu ngomong.”
“Ngomong di sini aja,” potong salah satu kawan Fourth. Perempuan itu memiliki suara yang dalam dengan rambut lurus panjang sepunggung, tubuhnya pun cukup tinggi semampai, matanya juga terlihat tajam sehingga Gemini pun sedikit takut melihatnya.
“Apaan sih, View! Nggak apa-apa, Fourth udah lama nggak ngobrol sama Gemini. Ya, ‘kan?”
Gemini hanya mengangguk tanpa suara. Semakin mengundang tanya pada ketiganya, lagi. Gemini tidak bisa mengabaikan tatapan tajam itu, mempertanyakan kembali keputusannya untuk menyetujui taruhan yang ia terima. Terlebih ketika dua kawan Fourth lainnya tampak sangat tidak bersahabat kepadanya.
“Emang mau bicara soal apa sampai kita-kita nggak boleh denger?” tanya yang paling pendek di antara mereka. Suaranya juga tidak mengandung keramahan sedikit pun.
“Mau bicara di mana? Kita ikut pokoknya,” timpal yang satunya pula. Yang kali ini berbicara perempuan dengan rambut pendek sebahu dan poni yang terpotong rapi.
Tetapi mendengar ketiga temannya seakan berlebihan angkat bicara untuk dirinya sendiri malah membuat Fourth akhirnya jengah. Ia putar matanya malas sambil tertawa kecil. “Udah, ah. Prim, Pahn. Fourth masih di sekolah aja kok, nanti nyusul ke kelasnya, oke?”
Sejujurnya, Gemini tidak berani untuk berbicara setelah dipandangi begitu tajam oleh ketiganya. Tetapi tekadnya sudah kuat, rencananya harus berjalan lancar sebelum mereka lulus.
“Nggak apa-apa, gue kan temen Fourth juga. Ngobrol biasa aja kok.”
Mendengar kata ‘teman’ entah mengapa membuat Fourth merasa berdebar. Kata ‘teman’ yang keluar dari mulut Gemini bagaikan mimpi yang tidak berani ia bayangkan selama beberapa tahun terakhir. Rasa rindu serta bahagia sekaligus merongrong masuk ke dalam dirinya. Kenapa tiba-tiba ia merasa ingin cepat-cepat ketiga temannya pergi, ya? Sepertinya Fourth hanya ingin cepat-cepat berdua saja dengan Gemini.
“Teman? Yakin lo?” tanya View untuk terakhir kalinya.
“Udah, View. Fourth bakal baik-baik aja, kok!” seru Fourth menenangkan. Matanya masih berbinar senang.
“Janji, ya? Kita tunggu di kelas kalau gitu?”
“Iya! Janji!”
Setelah saling berpelukan yang Gemini rasa terlalu berlebihan, akhirnya mereka berempat bisa berpisah dengan tenang dan Fourth saat ini ganti menatapnya dengan mata yang berkilat semangat. “Ayo, Gemini! Gemini mau ngobrol di mana?”
“Di belakang sekolah aja,” ucap Gemini pelan.
Mereka lalu berjalan perlahan saling beriringan menuju halaman belakang sekolah. Sebenarnya selama mereka berjalan melalui koridor, ada banyak mata yang Fourth sadari dialamatkan untuk mereka. Terutama ketika ia mendapati sekelompok orang-orang yang ia tahu merupakan lingkar pertemanannya Gemini menatap mereka dengan sunggingan senyum puas, seakan mereka tengah melihat lelucon. Fourth merasa heran, tetapi ia tetap mengikuti Gemini hingga Gemini berhenti di halaman belakang sekolah yang ia maksud. Tempat yang sepi dan tidak ada orang satu pun selain beberapa pohon dengan dahan yang sedang melambai terbawa angin.
Gemini berdiri berhadapan dengannya, menatap matanya walau ragu, berada di dekatnya. Ini terasa bagaikan mimpi bagi Fourth yang sudah senang bukan kepalang. Terlebih ketika Gemini akhirnya membuka mulut dan mengatakan hal yang paling tidak pernah ia duga.
“F—Fourth, gue suka sama lo. Lo … mau nggak jadi pacar gue?”
Setelah pengakuan yang tiba-tiba itu, hanya ada angin yang melingkupi keduanya. Fourth masih terdiam, sementara Gemini sudah yakin taruhannya telah berakhir di sini dan dia sudah pasrah jika utang yang ia miliki semakin menumpuk karena kalah taruhan.
Tetapi nyatanya, ketakutannya hanya sebatas bayangannya saja. Karena beberapa saat setelahnya, Fourth tersenyum dengan lebar, memegangi kedua tangannya, lalu mengangguk penuh semangat.
“Mau! Fourth mau, Gemini!”
Apa mungkin semudah itu? Gemini bertanya-tanya dan terdiam. Gelagat Gemini yang itu membuat Fourth menatapnya bingung. Ia perlahan melepaskan genggaman tangannya pada Gemini lalu kembali memegangi tali ransel birunya sambil menggigit bibir, Fourth malu sekali rasanya.
Ada banyak yang dipikirkan Fourth setelah menerima ajakan pacaran itu. Apakah Gemini langsung berubah pikiran setelah ia mengatakan iya dengan lantang? Apakah dia harusnya tidak terlalu bersemangat menanggapi pengakuan itu? Apakah Fourth salah paham dengan situasi ini?
Sadar akan Fourth yang terdiam cukup lama membuat Gemini gelagapan sendiri, taruhan yang ia lakukan tidak boleh gagal hanya masalah sepele semacam ini. Jadi ia gelengkan kepala dengan cepat serta tangannya yang melambai heboh.
“Nggak, bu—bukan gitu, Fourth. Gu—Aku, cuman nggak nyangka. Hehe… I—Iya, nggak nyangka kamu terima.”
“Gitu, ya?” tanya Fourth kembali. Wajahnya kembali sumringah seperti sedia kala. Ia bahkan berbisik kepada dirinya sendiri yang bisa ditangkap oleh Gemini dari gerik mulutnya, “Pacaran sama Gemini berarti bareng Gemini terus, ya….”
Fourth terus tersenyum, bahkan ketika Gemini melambaikan tangannya di depan wajah Fourth.
“Fourth?”
“Eh, iya! Maaf ya, Fourth terlalu seneng karena bakal sama Gemini terus.”
“I—Iya…,” sahut Gemini ragu. Tetapi Fourth tetap tersenyum.
“Kalau gitu Fourth mau ke kelas dulu, ya? Terima kasih Gemini udah mau bicara lagi sama Fourth!”
Setelahnya Fourth malah tidak berani menatapnya, ia tidak berhenti tersenyum, tetapi seperti rasa gugupnya lebih mendominasi hingga membuat seluruh wajahnya merah. Setelah berpamitan, Fourth berlari menjauh dari halaman belakang dan meninggalkan Gemini yang terdiam di tempat.
Ketika punggung Fourth menghilang tertelan koridor yang panjang, beberapa orang dari geng Gemini menghampiri Gemini dan keluar dari persembunyian mereka. Mereka semua ada yang tertawa terbahak-bahak, ada pula yang hanya menahan senyum pongah.
“Nggak nyangka,” ucap Ray disahut dengan banyaknya tawa dan gelengan tidak percaya.
“Lima puluh ribunya bakal kita transfer malem ini, emang Gemini jagoan kita.”
Suara tawa mereka keras sekali, tetapi Gemini tidak tertawa.
-
Sepulang sekolah, Fourth pulang dengan senandung riang dan sial-siul gembira. Ketiga sahabatnya bahkan tidak mengerti mengapa Fourth begitu bahagia sejak laki-laki itu menjumpai Gemini, orang yang mereka rasa tidak akan pernah bersinggungan dengan Fourth.
Setahu mereka, Gemini sejak masih menginjak jenjang kelas sepuluh sudah terkenal pongah karena bergabung dengan sekelompok anak laki-laki kaya yang senang memamerkan harta kekayaan serta kekuasaan yang dimiliki oleh orang tua mereka. Sekolah mereka ini memang termasuk salah satu sekolah elit yang ada di negara itu, biayanya saja sudah selangit, untuk bisa mengenyam pendidikan di sana pun sulit. Tetapi memiliki sebuah geng yang mereka elu-elukan mempunyai level yang berbeda dari teman mereka yang lainnya, adalah hal yang berbeda.
“Kamu yakin nggak diapa-apain, Fourth?” tanya View yang tampak khawatir. Mendengar itu tentu Fourth merasa bingung. Memang apa yang bisa membuatnya terluka.
“Maksudnya gimana, View?” tanyanya pula.
“Tadi sama Gemini, kamu nggak diapa-apain, ‘kan? Maaf ya nanya mulu, tapi kita khawatir sama kamu.”
Fourth tersenyum lebar, kepalanya menggeleng pelan. Melihat bagaimana Fourth kini tidak seperti yang mereka bayangkan, ketiganya bisa bernapas sedikit lega.
“Nggak apa-apa kok, Gemini baik.”
Diam-diam pula ketiganya juga menelan ludah untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan sepatah kata apa pun yang mungkin dapat membuat Fourth kecewa karena menyanggah pendapatnya soal Gemini. Mereka yang kini tengah berjalan ke gerbang sekolah pun kini mencoba menggali informasi lebih banyak sebelum mereka berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
“Tapi tadi ngobrolin soal apa aja?” tanya Prim pula menimpali. Tetapi Fourth masih betah untuk hanya tersenyum dan tidak menjawab apa pun, membuat ketiganya frustasi karena bingung apa yang harus mereka lakukan kepada Fourth.
“Beneran nggak apa-apa?” tanya Pahn final.
“Iya… nggak apa-apa. Gemini cuma ngajak Fourth pacaran dan Fourth mau ngajak Gemini kencan besok.”
“HAH?!”
Suara serempak yang nyaring dari ketiganya sontak membuat Fourth terlonjak, dia pegang dadanya secara dramatis tetapi dia tidak berbohong jikalau teriakan itu sungguh membuatnya terkejut bukan main. Bertanya-tanya apakah ada yang salah dari ucapannya yang sudah jujur ia utarakan.
“Fourth, maksudnya apa? Kok tiba-tiba pacaran sama Gemini? Ini Gemini lho! THE Gemini yang songongnya bukan main itu, yang gabung sama geng jamet itu!” seru Prim geram.
“Namanya aja Gemini, kamu nggak ngerasain bad feelings sama orangnya gitu? Namanya Gemini, zodiaknya pasti gemini, problematik!” cecar Pahn pula.
“Tapi bukannya zodiaknya Pahn gemini juga?” tanya Fourth balik dengan polos. Ketiganya bahkan sudah tidak sanggup untuk berbicara.
Fourth seorang anak yang sangat lurus. Segala hal di dunia ia anggap warna-warni dan baik hati. Seseorang yang menurut ketiga sahabatnya tidak pernah berprasangka kepada siapa pun, bahkan kepada tokoh jahat di dalam film yang mereka tonton bersama. Mungkin ada alasan di baliknya, mungkin penjahatnya belum tobat aja, mungkin dia lagi bad mood. Ada banyak hal prasangka baik yang datang dari Fourth sehingga ketiganya merasa Fourth tidak bisa menjaga dirinya sendiri dari bahaya dan kerasnya dunia.
“Bukan itu aja, Fourth. Kamu nggak mikir apa, mungkin aja ada maksud tersembunyi dari apa yang dilakuin Gemini? Dia bisa aja jahatin kamu kayak mereka.”
Fourth menggeleng sambil mengulum senyum manis, bahkan ketiga sahabatnya tidak pernah melihat Fourth tersenyum semanis ini. Semanis hingga ia menggoyangkan kepala dan ranselnya yang lucu dengan bahagia. Pipinya terus saja memerah seakan tidak memedulikan peringatan demi peringatan yang ia dapatkan dari ketiga temannya.
“Kalau pun Gemini punya maksud sendiri … aku nggak apa-apa.”
“FOURTH???”
“Duh, kalian bisa berhenti teriak nggak sih? Telinga Fourth sakit dengernya!”
Ketika kaki mereka menapak di tapakan terakhir dan berhenti untuk menunggu mobil masing-masing, sebuah kalimat dari Fourth membuat ketiganya menyerah pada akhirnya.
“Nggak apa-apa Fourth dimanfaatin Gemini, karena Gemini berharga buat Fourth.”
-
Perjalanan pulang kini terasa menyenangkan untuk Fourth. Selama di jalan ia sudah bertukar pesan dengan Gemini, dan mereka sepakat akan kencan akhir pekan ini. Pesan itu membawa mekar bunga memenuhi dadanya. Rasanya menyenangkan, rasanya menenangkan. Bahkan ketika sopir pribadi dari Fourth bertanya apa yang terjadi padanya, Fourth bilang dia mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari emas-emas yang dibeli oleh ibunya. Sopir itu tertawa mendengar penuturan Fourth yang lugu itu.
Tetapi semua itu tidak berlangsung lama karena seketika ia memasuki rumahnya, segalanya terasa suram. Loncatan riang yang tadinya memenuhi hari-harinya berganti menjadi suasana tegang yang membuatnya takut setengah mati. Memang sejak kapan rumahnya kini ada manusianya. Ia menjadi kesal sendiri.
“Fourth.”
Langkahnya terhenti dan kini memegangi ponselnya dengan erat. Ia selalu mengingat-ingat bahwa Gemini selalu ada bersamanya, kini Gemini ada di dalam genggamannya, Gemini pasti tidak akan membiarkannya sendirian dan menderita. Karena dulu mereka sudah pernah berjanji.
“Papa pikir kamu sudah mengerti apa yang namanya tanggung jawab.”
Fourth menengok ke arah ayahnya berdiri, tepat di ruang tengah yang terasa luas dan dingin.
“Ada apa ya, Pa? Fourth baru pulang sekolah.”
“Papa tahu, nilai kamu hancur sekali semester lalu. Bagaimana bisa yang seperti itu akan menjadi seorang dokter!” Ayahnya menarik napas sekali lagi, mungkin ingin mengumpulkan kesabaran dan mencoba untuk mengelola emosinya. “Kamu ini sudah kelas dua belas, apa gunanya gambaran-gambaran gaun yang ada di kamarmu itu! Kamu laki-laki, Nattawat!”
“Iya, Pa… Fourth tahu.”
“Ingat itu di dalam kepalamu!”
Lalu debuman pintu menjadi salam terakhir dari pertemuan mereka. Fourth memejamkan matanya, berharap tidak ada lagi suara nyaring yang hinggap di pendengarannya. Karena sungguh, ia sangat membencinya. Fourth benci ada yang berteriak padanya, Fourth benci dengan pecahan kaca dan suara bising dari barang-barang yang dilempar penuh amarah, Fourth benci dengan pintu yang ditutup dengan paksa. Fourth benci dunia yang jahat.
Kenapa dunia tidak warna-warni seperti yang Fourth harapkan. Seperti halnya harapan yang ia miliki, Fourth selalu suka dengan pelangi. Sejak kecil, kakak-kakaknya selalu bercerita jika di ujung bumi ada sebuah muara pelangi yang memiliki sebongkah emas yang bersinar dengan terang. Pelangi juga selalu muncul sebagai penghibur karena Fourth tidak selalu suka dengan badai dan guntur dari hujan yang turun. Fourth selalu suka pelangi karena pelangi itu cantik. Fourth suka dengan sesuatu yang cantik.
Wajahnya lalu ia benamkan sepenuhnya ke bantal. Membayangkan ada pelangi yang muncul di hadapannya, menghibur hatinya seperti biasa. Tetapi kini bukan pelangi yang muncul di benaknya, tetapi wajah Gemini yang memintanya menjadi sepasang kekasih. Hatinya yang tadi suram karena ucapan sang ayah seketika berubah menjadi lebih cerah. Mungkin besok ia akan bercerita pada Gemini kalau Gemini kini menggeser kedudukan pelangi sebagai hal yang paling ia sukai di dunia ini.
“Gemini pasti udah maafin Fourth, ‘kan? Iya, ‘kan?” ucapnya berdialog pada diri sendiri.
Anak laki-laki yang wajahnya kini memerah berdiri dari tempat tidurnya, kakinya kini melangkah ke arah meja belajarnya yang penuh dengan gambar-gambar gaun yang tadinya ayahnya permasalahkan. Gambaran gaun-gaun itu begitu apik, ada yang terdesain elegan, ada yang digambar dengan nakal, beberapa juga ada yang terlihat manis, juga ada yang bergaya lucu. Ke semua gaun itu begitu indah di mata Fourth, kenapa dirinya tidak boleh membuat sesuatu yang indah hanya karena dirinya dilahirkan sebagai laki-laki?
Ia lalu merapikan kertas-kertas itu dan kini beralih pada laci besar yang ada di bawah kasurnya, ia meraba-raba laci itu untuk mendapati sebuah bando berpita dengan warna merah jambu dan aksen putih yang mengkilap. Bando yang indah hingga Fourth tidak tahan untuk menggunakannya di atas kepala dan melihat penampilan dirinya di depan cermin.
“Cantik,” pujinya pada diri sendiri. Senyum puas terpatri di wajahnya saat ia meraba-raba kepalanya.
-
Ketika akhir pekan yang ditunggu oleh Fourth akhirnya tiba, ia memutuskan untuk menghampiri tempat pertemuannya dengan Gemini tanpa bantuan orang lain. Walaupun tadinya ia sedikit tersesat, tetapi untung sekali ia berangkat tiga jam lebih awal. Ia sudah memperkirakan hal ini dan berhasil datang tepat waktu menghampiri Gemini yang sudah menungguinya dengan kaos hitam dengan aksen suatu tulisan yang ada di punggungnya. Fourth terdiam sebentar, ternyata Gemini tumbuh menjadi laki-laki yang tampan.
“Gemini!”
Saat panggilan itu ia serukan, Gemini menoleh padanya seakan memindai penampilan Fourth di hari kencan pertama mereka. Fourth saat itu datang dengan menggunakan sweater bulu merah muda dan celana jins biru terang, rambutnya disisir lurus ke bawah sehingga kepalanya terlihat lebih bulat. Tampilan Fourth sangat necis dan Gemini tiba-tiba meraasa ada yang salah dari dirinya. Hanya saja, dia tidak tahu apa itu.
“Gemini udah lama nunggu?”
“Lumayan,” ucap Gemini singkat.
“Jalan sekarang, yuk?”
Gemini hanya mengangguk menyanggupi. Sejujurnya, segala hal yang mereka lakukan kini hanya berakhir dengan canggung. Fourth sadar akan itu, tetapi ia sudah yakin bahwa hari ini dia hadir sebagai kekasih Gemini. Jadi, seharusnya dia berbahagia dan membuat Gemini bahagia pula, bukan?
“Gemini masih suka es krim cokelat? Gemini mau beli es krim cokelat itu nggak? Enak, lho.”
“Terserah,” sahut Gemini pelan. Setengah pasrah dengan situasi yang sedang terjadi.
Mereka kala itu akhirnya duduk di pelataran jalan yang menjajakan banyak jajanan, sementara Fourth yang berlari entah ke mana, Gemini hanya terdiam melihat mobil yang kini berlalu lalang. Untuk menghindari pikirannya yang kosong, beberapa mobil yang melintas ia teliti merek dan bentuknya. Ada beberapa yang murah, ada beberapa yang mahal. Ada beberapa yang cantik, dan ada beberapa pula yang sudah terlihat tua. Ia menghela napasnya kasar ketika mendapati ada beberapa mobil mewah yang dulunya sempat ia miliki sebelum disita hak kepemilikannya.
Lalu tepukan di bahu kirinya membuyarkan segalanya. Gemini menoleh ke samping dan mendapati Fourth dengan senyumnya yang menawan menawarkan satu kerucut es krim cokelat yang tampak menggoda. “Ini! Aku beli dari toko langgananku yang ada diiiiii sana!” seru Fourth.
Sejujurnya Gemini tidak bisa menemukan di mana kedai es krim itu berada, karena di dalam jangkauan pandangnya tidak ada satu pun toko yang menjual es krim serupa.
“Agak jauh sih, lewat gang itu tuh! Tapi nggak apa-apa, asal Gemini hari ini bisa makan es krim cokelat.”
Gemini menggeritkan giginya, ia tidak suka diperlakukan seperti ini. Ia tahu es krim ini begitu mahal hanya dengan porsi segenggam tangannya.
“Nggak ada yang minta lo—argh, kamu beliin juga,” cicitnya pelan.
“Nggak apa-apa, Fourth senang kalau Gemini senang.”
Semenjak berjumpa dan berinteraksi kembali dengan Fourth, Gemini merasa bahwa laki-laki itu banyak membuatnya terdiam dengan tutur katanya. Fourth kenapa mudah sekali mengacaukan hati dan pikirannya dalam sekejap. Ia yakin ia bukan gay, seperti yang diolok-oloki oleh teman-temannya. Jadi ia genggam es krim yang ada di tangannya dengan lebih erat.
Andai saja ia bisa mengabaikan bagaimana senyuman Fourth bisa membuat jantungnya berdebar, atau desir yang ada di dalam dirinya untuk ingin segera mengecup bibir merah merona itu karena Fourth menggunakan bibir itu dengan sangat baik untuk menyantap es krim vanilanya. Gemini tidak tahu kapan tiba-tiba dia merasa begini, seharusnya perasaan yang sekarang sedang menggerogotinya sudah usai sejak lama, bukannya malah kembali terbuai dan terjebak di dalam jebakannya sendiri. Gemini jadi berpikir banyak, bahkan untuk rona pipi merah Fourth yang ia yakini hanya berasal dari riasan yang lelaki itu kenakan. Ya, bencong seperti Fourth pasti berias, kata teman-temannya.
“Gemini? Kok diem aja? Es krimnya nggak enak?”
Bahkan ketika Fourth memekik panik es krim yang sedang dipegangnya meleleh hingga mengaliri tangannya, otaknya berhenti saat Fourth membantu semampunya untuk menjilati cairan es krim yang mulai berantakan.
“Eh, uh, duh! Gemini, jangan diem aja!”
Seruan dari Fourth bahkan tidak terdengar olehnya, kekacauan yang disebabkan oleh Gemini bahkan sudah usai karena Fourth sudah membereskan segalanya, tetapi kepalanya masih kacau, nyaris meledak jika ia tidak dapat menahan diri. Kapan kiranya terakhir kali ia memiliki hasrat untuk mencium bibir manusia lainnya. Gemini sempat memiliki beberapa kekasih, dan mereka semua perempuan yang jelita, tetapi ia tidak pernah berpikir untuk mencium mereka saat mereka hanya menyantap seporsi es krim yang tidak berdosa.
“Gem—“
Saat Fourth gagal menyebut namanya, Gemini mengusap bibir Fourth dengan ibu jarinya. “A—Ada bekas es krim.”
Alasan itu sama sekali tidak dapat membantunya karena ujung jarinya kini seakan terasa tersengat tegangan listrik. Bibir Fourth lembut, wajahnya yang terkejut ternyata lebih menggemaskan daripada yang ia pikirkan sebelumnya, dan pengalihan isu yang ia lakukan dengan cara mengusap bibir merah itu sama sekali tidak membantu karena dia masih dan semakin ingin menciumnya.
Tapi … dia tidak segila itu, kan?
“Maaf, sayang. Aku bengong, kamu cantik.”
Atau, ya. Dia gila.
“H—Hah, can … tik?”
“Iya, kamu nggak suka, ya?”
“Suka!” sahut Fourth cepat. Matanya berbinar, walau masih terlihat malu-malu, pipi merahnya masih membuat Gemini termenung sekali lagi. Memikirkan bagaimana bisa pipi itu bisa semerah tomat dan terlihat lembut seperti adonan kue yang sering dibuat oleh ibunya.
Gemini sadar, ada banyak pertanyaan dan kabar yang harus mereka kejar untuk bisa saling memahami kembali. Tetapi keduanya tampak lebih nyaman untuk berjalan saling bersisian saja sekarang. Lagi pula, Fourth memang kekasihnya. Ketika debaran yang ada di dadanya terasa lebih keras untuk mengetuk hatinya, Gemini akan mencoba mengetuk kepalanya lebih keras bahwa senyum yang kini ia sajikan untuk Fourth, tangan yang sedang ia genggam untuk Fourth, dan kata-kata sayang yang ia alamatkan untuk Fourth, hanya demi uang dua ratus ribu baht itu.
“Fourth pikir, Gemini nggak mau ngomong sama Fourth lagi,” ucap Fourth saat mereka berada di jalan pulang. Gemini memutuskan untuk berjalan ke arah halte sebelum mereka berpisah di sana dan Fourth akan pulang bersama supir pribadinya.
“Siapa yang bilang? Ini aku ngomong, ‘kan?”
“Iya…,” ucapnya lalu tersipu lagi. “Gemini nggak bakal marah lagi, kan?”
“Marah? Kenapa harus marah?”
Fourth mengangguk, seakan membenarkan pikirannya yang tidak ia suarakan sebelumnya. “Bener, buat apa Gemini marah. Hari ini Fourth pakai baju pink, dan Gemini nggak marah kayak dulu.”
Gemini terdiam walau setelahnya Fourth masih mengoceh bagaimana sulitnya menjalani kelas dua belas, atau bagaimana berisiknya ketiga sahabatnya yang selalu ingin tahu apa yang ia alami termasuk urusannya dengan Gemini pekan lalu. Tetapi yang ada di dalam kepala Gemini saat ini adalah kejadian lima tahun silam yang membuat keduanya kini menjadi asing walau dengan secara ajaib mereka kembali bersama.
“Kalau mami … sehat?”
“Hah?”
“Maminya Gemini … sehat, kah?”
Gemini tidak menyangka hal yang dibawa oleh Fourth kini malah ibunya. Hari ini terasa melelahkan karena ia harus dengan sekuat tenaga menyembunyikan banyak hal dari Fourth. Tetapi mendengar nama ibunya kini dibawa-bawa tak elak membuat fokusnya pecah.
“Mami sehat,” ucap Gemini singkat.
“Mami hebat banget, ya? Fourth kapan-kapan mau ketemu mami lagi, boleh nggak?”
Mata penuh harap itu lagi, serta pipi yang kali ini mungkin memerah karena sinar matahari. Gemini hanya bisa menahan napasnya sambil mengingat nominal uang yang ditawarkan oleh kawannya sebelum menjawab, “Boleh, kapan-kapan kita ketemu.”
Ada persekian detik saat keduanya masih sanggup untuk bertukar senyum sebelum Fourth membelalakkan matanya. Gemini awalnya tidak mengerti mengapa Fourth harus menampakkan raut seakan dunia akan runtuh dan berakhir, tetapi ketika Fourth hilang dari hadapannya, berlari dan menciptakan decit nyaring dari suara rem yang ditekan paksa secara tiba-tiba, Gemini pun juga dipaksa untuk mencerna kejadian apa yang baru saja terjadi. Rasanya seperti dadanya berhenti bernapas dan jantungnya berhenti untuk berdetak.
Gemini menoleh ke arah jalan, melihat ada kerumunan orang-orang yang mulai tercipta mengelilingi tempat kejadian. Fourth ada di sana, tengah terpejam erat sambil memeluk seekor kucing oranye yang mengeong ketakutan, lalu disertai teriakan pengendara yang hanya dibalas diam oleh Fourth.
Walau masih terbingung, Gemini berlari mendekat. Membantu Fourth berdiri karena orang di sekitar hanya ingin tau dan menatap keduanya tidak peduli.
“Heh, jalan tuh pake mata. Entar ketabrak gue juga yang salah!” pekik si pengendara mobil sedan yang wajahnya tampak garang dengan kumis yang tebal.
Awalnya Gemini ingin melawan, tetapi Fourth menarik lengannya kembali, tersenyum ramah seakan tidak terjadi apapun lalu menunduk sambil meminta maaf. Bahkan Fourth rela repot-repot menghampiri jendela pengendara itu untuk bisa meminta maaf dengan benar.
Ketika mereka akhirnya bisa menepi dan Fourth membiarkan kucing oranye itu lepas dari pelukannya, Gemini tampak marah padanya. Fourth tentu saja mengernyit bingung. Anak laki-laki itu berpikir sedang tidak melakukan apa yang dapat membuat Gemini murka, lantas untuk apa wajah itu ditujukan untuknya.
“Kenapa Gemini? Fourth ada salah, ya?”
“Maksud kamu lari ke tengah jalan itu apa?!” pekik Gemini.
“Tadi kucingnya hampir ketabrak, jadi Fourth mau nolongin.”
“Kalau malah kamu yang ketabrak gimana?!”
Fourth terdiam sebentar dan Gemini sadar ada raut yang berubah takut dari wajah Fourth yang tadinya merah kini berubah pucat pasi. Tangannya bahkan kini terlihat bergetar seakan realita baru saja menghantamnya. “Kucing tadi … kucing tadi punya anak, Fourth pernah lihat anak kucing tadi. Kasihan anaknya pasti nunggu di rumah.”
“Kamu gimana?! Emang kamu juga nggak ada yang nungguin, bisa nggak sih nggak—“
“Nggak ada, Gemini. Nggak ada yang nungguin Fourth di rumah.”
Wajah yang pucat itu, tangan yang bergetar itu, dan senyum paksa yang Fourth patri di wajahnya membuat Gemini semakin dilanda dilema. Tetapi alam bawah sadarnya kini lebih mendominasi dan Gemini memutuskan untuk menggenggam kedua tangan Fourth. Bahkan ketika ada air mata yang mengalir tanpa suara, Fourth tetap tersenyum walau tubuhnya bergetar. Gemini bertanya-tanya, darimana ketangguhan di dalam diri Fourth berasal. Bagaimana bisa dia mengikhlaskan kehidupannya yang ia anggap tidak ada harganya. Bagaimana manusia secantik itu, merasa tidak diinginkan bahkan untuk rumahnya sendiri.
Gemini memeluk Fourth. Tubuh Fourth masih bergetar walau suara anak laki-laki itu tidak terdengar terisak, Gemini hanya menepuk punggung itu terus dan terus, lagi dan lagi, hingga Fourth merasa ia diinginkan oleh Gemini. Walau Fourth mungkin tidak mengetahui ada embel-embel dua ratus ribu di ujungnya. Mungkin.
-
