Actions

Work Header

I choose you, time after time

Summary:

"Kamu enggak tahu aja gimana bersyukurnya aku ke moon priest buat ngabulin permintaanku jadi mate kamu."

"Walaupun aku alpha cewek?"

"Mau cewek, mau cowok, aku maunya kamu doang, Che."

Hari hari Che dan matenya, Shua dalam perjalanan Che to find and embrace her true color

Notes:

hii ini tulisan ABO pertama yang aku post, maaf buat kurang kurangnya 🙏 juga buat beberapa ketentuan ABO yang kupake di sini pasti ada beberapa yang beda sama universe ABO lain.

selamat menikmati shua omega 🙏

Work Text:

Baik Che ataupun Shua, dua duanya enggak menyangka kalau mereka adalah mate buat satu sama lain. Gender kedua Che itu Alpha, sedangkan Shua Omega. Dua duanya punya space yang agak lama buat menerima kenyataan dan hidup dengan status yang melekat seumur hidup mereka itu.

Tapi ya, kalau moon priest udah berkehendak, mau gimanapun dua duanya bakal tetap jadi mate buat satu sama lain. Dan di sinilah keduanya hari ini, di kamar tidur dan siap siap buat pergi ke salon rambut dan salon kuku sesuai jadwal yang mereka rencanain sambil makeout di kamar mandi.

"Kamu cocok banget pake midi dress kayak gitu, Che. Sering sering deh, aku suka liatnya."

"Oh ya?" Che muterin badan dia, "aku pakai dress kayak gini kehitung jari tau sejak tau second gender. Waktu prom party, mating ceremony kita sama hari ini."

Shua berusaha mahamin korelasi occasion yang disebutin sama situasinya. "Iya, dulu kamu seringnya jadi alpha mamba. Item lagi, item lagi bajunya. Tapi aku serius kok, kamu cantiknya nambah kalau pake dress. Lekuk tubuhnya kebentuk, auranya juga lebih keluar. Boleh minta cium enggak sih?"

Che ketawa, terus ciumin dahi omeganya, "udah puas? Seneng?"

Cowok rambut merah itu ngangguk, "pokoknya hari ini aku bakal bikin kamu mau cium cium seharian. Liat aja ya nanti." Dia meriksa jam di hapenya. "Oh iya, hari ini ke salon rambut kamu mau potong rambut atau ganti warna?" 

"Dua duanya. Bukannya aku udah bilang ya kemarin?" 

"Mana aku inget kalau kamu bilangnya sambil mainin tangan di dalem baju." Dia ngembusin napas, masih inget sesi kemarin, "mau ganti jadi warna apa rambutnya?" 

"Terserah kamu, nanti kamu yang bilang ke hairstylenya ya." 

Dikasih tanggung jawab sebesar itu, Shua buru buru duduk tegak, "betulan? Kamu percayain gaya rambut kamu ke aku sekarang?" 

Che naruh glitter di kelopak matanya, "Babe, enggak perlu sekaget itu kali. Kamu kan pernah jadi kerja stylist ya, aku inget." 

"Ya...kan sekarang udah resign." Dia duduk loyo lagi di atas kasur. Sabaar banget nungguin alphanya dandan, enggak kayak biasanya. 

Che ketawa ngekeh, "seleranya enggak ikutan resign juga kan?" 

Alpha itu enggak bohong waktu bilang dia nyerahin keputusan buat rambutnya ke Shua. Waktu mereka masuk ke salon, bisa mereka amati kalau pegawainya rata rata beta cewek. Beta-beta itu langsung liatin mereka dan menyambut dengan ramah. Nah giliran Che ditanya rambutnya mau digimanain, perempuan itu langsung natap Shua sambil bilang, "boleh tanya mate Saya ya, Saya serahin keputusannya ke dia. Ikutin aja maunya mate Saya gimana."  

Mate Saya banget enggak tuh.

Shua salting sih ada ya, cuman dia ngeluarin aura stylistnya yang semoga enggak ikut resign juga. Dengan percaya diri dan tatapan mata yang ngarah ke dia, omega itu jelasin preferensi yang dia punya buat rambut Che. 

Setelah ketemu nih maunya gimana, mereka sempet pisahan sebelum Che minta Shua buat nunggu di lounge yang emang disiapin buat jadi ruang tunggu. Shua agak clingy enggak mau ditinggal, tapi pikiran dia langsung kedistraksi waktu Che minta tolong cari refeeensi buat nail art mereka, apalagi habis itu puncak hidung dia dikecup. Lah, makin nurut aja dia. 

"Nanti aku minta tolong pegawai buat temenin kamu ngobrol, kalau kamu bosen." 

"Kalau enggak ada yang temenin, siap siap aja ya aku spam chat kamu." 

"Iya, iya. Silahkan." 

Beruntungnya Shua enggak sampai bosan dan spam chat Che, karena dia sibuk cari nail art yang cocok dan dia ditemenin dan diajak ngobrol sama pegawai beta. Waktu mereka harus kerjain sesuatu, Shua enggak nahan nahan dan langsung buka hapenya lagi buat cari refrensi sebanayak banyaknya, supaya nanti Che tinggal pilih mau yang mana. 

Iya, dia semangat banget sama agenda Che jadi cewek kue dan cewek alpha punyanya, tentu. 

"Serius banget liatin hapenya, aku mau dibiarin aja?" 

Enggak bohong kalau Shua langsung dongak atas dan biarin mulutnya terbuka, tercengang sama rambut baru Che yang lebih mebingkai wajah dan sesuai sama bentuk wajahnya, warna coklat terang dan beberapa helai highlight krem. "Kamu beda banget....tapi masih cantik." pujinya. 

Che salah tingkah, mau jalan mundur tapi kesandung kaki sendiri, tapi dengan spontannya bersikap cool, sehingga dia duduk di samping Shua dengan mulus. 

"Kamu sendirian dari tadi?" 

"Tadi ditemenin pegawai yang lagi nganggur, tapi sekarang lagi pada sibuk. Kenapa?" 

"Ada yang bikin kamu enggak nyaman waktu ditemenin mereka?" 

Shu geleng cepet, "enggak kok! Aku diajak ngobrol. Mereka banyak nanya, kepo sama mate kamu." 

Che naikin alisnya, "berarti kepo sama kamu dong? Kamu kan mate aku?" 

"Betul banget!" Riang banget nadanya Shua waktu jelasin topik yang dibicarain, "aku ditanya kita udah barengan berapa lama, udah mating ceremony atau belum, ditanya lagi siapa yang mendominasi di hubungan kita, terus mereka kayaknya takjub banget? waktu kamu bilang keputusan rambut kamu ada di tangan mate kamu, which is me!"

Che ikutan senyum terus pegang tangan matenya, "terus kamu jawabnya gimana?" 

Shua nyamain nada yang dia pake sewaktu ngaoabrol tadi, "oh kita udah barengan hampir 4 tahun, mating ceremony kita kebetulan tahun kemarin, enggak ada yang mendominasi di hubungan kita, alias equal. Kamu tau enggak Che?" 

"Kenapa?" 

"Aku bangga banget bisa bragging itu semua sebagai mate kamu." dia senyum, "terus juga aku seneng kamu percaya sama selera aku buat nentuin nasib rambut hitam panjang kamu yang udah bye bye itu." 

Che ketawa ngekeh, terus ngelus punggung tangan mereka pake ibu jarinya. "Seneng bisa bikin kamu bangga dan seneng. Udah siap buat ke salon kuku?" 

"Siap! Aku udah cari cari banyak referensi yang aku suka, kamu tinggal pilih nanti." 

"Okay, makasi banyak Shua." Che cium pipi matenya itu. "Berangkat sekarang?" 

Enggak banyak babibu, mereka sampai di salon kuku dalam 20 menit perjalanan pakai mobil. Masuk ke dalam ruangan masih gandengan tangan, dan pisah waktu ketemu sama nail artistnya. Artist di salon kuku ini kebanyakan alpha. Che udah tanya apa Shua mau tuker nail artist sama dia, karena kebetulan nail artistnya Che itu omega. 

"Aman kok, jangan khawatir." katanya Shua gitu. 

Tapi yang namanya hari sial enggak ada di kalender, alpha artist yang handle Shua ini kayaknya baru masuk fase rut. Feromonnya kuat dan nusuk banget di penciuman Shua. Yang lebih parahnya lagi, alpha artist ini berusaha buat scenting dia, which is sikap kurang ajarnya itu bikin Shua enggak nyaman. 

Dia berusaha buat misscall Che yang lagi beli minum di vending machine yang ada di luar, dan beruntungnya cewek itu dateng waktu Shua masih dikuasain sama akal sehatnya. 

"Babe kamu kenapa telf-eh?" 

Siapa yang enggak kaget kalau liat matenya, omeganya buang tatapan sambil tutup mata gemeteran. Buru buru Che tarik tangan Shua buat keluar ruangan dan panggil satpam. 

"Cerita sama aku, kenapa tadi kamu telfon?" 

Awalnya Shua mau bohong aja. Tapi kalau liat reaksinya yang masih tremor sampai sekarang, rasanya yang ada Che makin parah marahnya. 

"Alpha artist yang tadi, kayaknya rutnya baru mulai. Feromonnya kuat dan nusuk banget di hidung. Aku enggak nyaman," akunya. 

Che jujur udah kesel, tapi dia masih mau denger kelanjutan ceritanya, "oke. Ada lagi?" 

"Dia kayaknya berusaha buat scenting aku, Che." Shua pegang tangan Che erat banget, takutnya dia ninju alpha artist yang udah dibawa ke ruang isolasi itu. "Jangan lukain tangan sendiri," 

"Itu kurang aja banget, Shua. Kamu bisa bisa kecipratan bahayanya." 

"Tapi kan kamu dateng tepat waktu, Che. Aku enggak kenapa napa, cuman butuh udara segar aja. Sama tangan kamu buat dipegang." 

Mau marah juga keburu salting. Che berusaha buat ngatur napasnya supaya enggak lash out amarahnya ke Shua. "Maaf ya harusnya aku keukeuh minta tuker nail artistnya." 

"Jangan minta maaf! Bukan salah siapa siapa ini, kamu juga langsung dateng habis aku telfon, jadi enggak perlu minta maaf, Alpha." 

"Okay jadi kita stay dulu di sini ya?" 

Che raih tangan omeganya buat dia genggam. "Kita pertama kali ketemu dimana sih?" 

"Random banget pertanyaannya?" Shua terkekeh. "Di kopishop bukan sih? Waktu itu aku lagi sama temen temenku, kita sempet saling liat liatan. Udah deh." 

Che ngangguk, "habis itu aku sengajain dateng ke sana cuman buat ajak kamu kenalan. Aku titip bilang ke kasirnya kalau yang namanya Shua dateng lagi, tolong kasih dia dessert." 

"Oh iya? Sampai sesengaja itu? Tapi kan kita enggak pernah ketemu lagi di sana." 

"Iya. Habis itu aku tau kalau kamu banyak dideketin alpha lain. Courting present kamu tuh kalau ada ratenya ya, udah setara barang brand designer. Terus datanglah aku..." Che masih ketawa, "kasih kamu handmade courting present. Yang pertama tuh apa sih?"

"Beads bracelet. Kamu bikin sendiri itu. Yang kedua, mixtape yang isinya lagu lagu kesukaan aku, lagu yang kita dengerin waktu lagi bareng bareng." 

"Terus?" Che nanya lagi, seneng banget godain matenya. 

"Buket bunga. Kombinasi warna bunganya itu..." kuping dia merah banget, salting. "Katanya perwakilan dari warna pakaian yang cocok di aku. Gitu sih katanya." 

"Oh my, tuh kan. Courting present dari aku cuman seharga jajanan anak SMP. Kalah banget dari perhiasan barang brand designer." 

"Tapi aku lebih suka yang handmade." akunya. "Itu kamu bikin sendiri loh Che, pake tangan, tenaga dan waktu kamu. Bukan beli jadi. Ada usaha lebih di courting presents kamu tuh." 

Che nyengir. "Kamu masih inget enggak vow kita waktu mating ceremony?" 

"Tuhkan random lagi nanyanya." 

"Udah lupa ya?" 

"Enggak kok, masa lupa sih. Isi vow aku vow aku isinya confession sama fakta fakta aja sih. Kalau aku sayang kamu, mau hidup sama kamu buat waktu yang lama, mau jadi mate kamu. Terus aku bilang juga kalau kamu cantik, bukan cuman female alpha. Kamu punya keunikan sendiri as in individu. Coba kamu sendiri masih inget enggak isi vow kamu apa?" 

"Hm...pokoknya aku bilang kalau hari pas kita mating ceremony aku beli lotre. Kalau hari itu aku menang lotre, berarti aku punya 2 keberuntungan. Kalaupun enggak, artinya keberuntungan aku udah habis dipake jadi mate kamu. Geli juga sih kalau sekarang dipikirin, pantes aja kamu habisnya langsung ketawa. Padahal aku kira kamu bakalan nangis." 

Shua ketawa lagi, "sebetulnya aku terharu tau pas tau makna tersuratnya. Tapi ya gara gara perumpamaan kamu lotre banget aku enggak bisa nahan tawa." 

"Yaaaa, tapi turns out aku yang nangis ya? Habis kamu baca vow." 

"Aku juga nangis kok, waktu first look kamu pake wedding dress, sama waktu kamu jalan di altar. Terharu aja, kamu kok mau jadi mate aku?" 

"Habis baca vow kita tuker cincin, habis itu...." Che ngelirik Shua, "puncak acaranya ya?" 

"Huum, marking di leher." 

"Kamu inget enggak Babe, waktu mau marking itu kamu lepas setelan tux kamu itu kan?" 

Shua ngangguk, "iya, simbol penyerahan diri gitu dari omega ke alpha. Kenapa emangnya?"

"Aku masih suka kesel ya kalau keinget ini. Aku tau banget badan kamu bagus, well built gitu kan? Jadi pas aku mau marking leher kamu, tamu undangannya malah pada naikin kamera hape dan rekam badan kamu instead upacara matingnya? Kan aku kesel ya...kan dia mate aku.."

"Betulan? Aku enggak sadar tau Che. Atensi aku full di kamu banget. Soalnya kamu cantik banget pas mau marking. Jadinya aku enggak sadar." 

"Nah makanya itu aku gigit leher kamu passionately, kesel aku." Che ngomongnya menggebu gebu. 

Shua terkekeh. "Tapi aku ngerti sih, kenapa kamu kesel gitu Che. Aku sama sekali enggak masalah kamu gigitnya pake passion gitu." 

"Tapi sebelumnya aku deg degan banget." 

"Iya kah? Kamu keliatan pede banget kok di mata aku. Cantik, seksi lagi." 

"Kamu nih enggak mindful ya pas mating ceremony kita?" 

"Ya gimana dong, aku enggak tahan liat mateku cakep banget, Che. Tapi kok bisa kamu nervous gitu?" 

"Soalnya orang orang yang sayang sama kamu hadir semua di sana, terus aku ngerasanya jadi insecure, soalnya...aku alpha cewek." 

"Chee, enggak ada ya insecure insecure. Mau apapun gender atau second gender kamu, aku enggak peduli. Aku sayang kamu ya bukan karena second gender kamu. Kamu enggak tahu aja gimana bersyukurnya aku ke moon priest buat ngabulin permintaanku jadi mate kamu."

"Walaupun aku alpha cewek?"

"Mau cewek, mau cowok, aku maunya sama kamu doang, Che. Enggak ada yang lain, yang lain. Kamu cewek tuh enggak ngurangin kapabilitas atau kualitas kamu sebagai Alpha tau. Kamu tetep bisa lindungin aku, kasih apa yang aku butuhin, sayangin aku. Terus juga, aku enggak nilai kamu dari second gender ya, enggak peduli juga opini orang orang gimana tentang mate aku. Yang penting, aku sayang sama kamu dan mau hidup yang lama sama kamu, period." 

Che ketawa kecil, "iyaa, kemarin kan udah kita obrolin tentang ini." 

Kilas balik sedikit, habis makeout session mereka di bathroom, Che buka diskusi tentang kebingungan dia tentang dirinya sendiri mau gimana. Che enggak punya figur yang bisa bantu dirinya sebagai alpha female. Seluruh keluarganya yang jadi alpha pasti laki-laki, keluarga perempuannya beta dan omega. Jadinya, mau enggak mau Che terjebak di konstruk budaya sekitarnya dan bikin dia embrace male alpha traits dalam dirinya. Che merasa kalau dirinya enggak boleh embrace feminime side dia sebagai perempuan. 

Sedangkan Shua sebaliknya. Banyak banget figur male omega di sekitarnya sehingga dia enggak bingung kayak Che. Persamaaan yang mereka miliki, sama sama mau keluar dari konstruk tradisional yang masyarakat bentuk tentang Alpha Beta dan Omega. Dan mungkin itu juga hal yang bikin mereka sejalan dan mau pertahanin hubungan ini. 

Shua bantu Che buat ngerasa nyaman dan dia sendiri bilang kalau dia okay sama Che kalau mau embrace feminime side dia. Enggak perlu mode proteective atau providing selamanya, kalau Che maunya dimanja atau disayang sayang, dengan senang hati Shua biisa kasih semua itu. 

Habis itu, owner salon kuku minta maaf ke mereka dan kasih opsi kompensasi sebagai permintaan maaf.

"Che, ke tempat yang adem sejuk yuk." Ajak Shua waktu mereka udah masuk mobil. 

Che tentu ngeiyain, enggak sampai hati buat nolak. Awalnya dia kira, mereka mau ngadem kayak tadi sambil ngobrol. 

Taunya bukan. 

"Che kamu sadar enggak sih kamu sstunning bangett hari ini?" Shua lepasin seat belt dan duduk hadep samping. 

"Masa sih?" 

"Kamu enggak tau ya dari tadi aku nahan nahan buat enggak ciumin kamu. Apalagi pas nego tentang kompensasi, seksi banget." 

"Kamu nih enggak punya kosa kata lain buat muji aku ya selain cantik sama seksi?" 

"Jangan suka denial, Che. Itu fakta tau." 

Shua mulai deketin tubuh mereka dan nyium bibir Che. 

"Naik atas paha aku aja, biar lebih gampang ciumnya." Che nyesuain kursi duduknya dan nunggu sampai mate dia duduk di atas pangkuannya. 

"Cantik banget, Alpha." Laki laki rambut merah itu nyelipin anak rambuut Che ke belakang telinga dan nyium lagi bibir, ibu jarinya ngusap pipi Che lembut. 

Tangan Che enggak diem aja, melainkan masuk ke dalem kemeja dan main main di atas kulit, sementara yang satunya nahan pinggang Shua supaya tetep diem. 

Ada sampai 20 menit mereka pangku pangkuan sambil makeout, sebelum akhirnya berhenti dan pelukan. 

Che ketawa waktu lihat omeganya bangkit dsri pelukan buat liat mukanya. "Liatin apa sih, Shua?" 

"Sering sering makeup gini ya, Alpha." Pipi dan kupingnga masih merah, lovebites di dadanya masih keliatan jelas dan Shua dengan kesadaran penuh masih muji muji Che. "Sering sering pake dress juga, aku suka kok. Pake makeup sama dress bukan berarti kamu bukan bagian dari Alpha, bukan berarti kamu enggak bisa lindungin dan provide aku. Enggak ada hubungannya." 

Che manggut manggut sambil ngusap pinggang Shua. "Mau bantuin aku belanja dress? Kamu yang pilihin." 

"Mau mau mau. Aku tau dress apa aja yang cocok buat kamu, yang bikin kamu lebih cantik dan bikin kamu lebih seksi." Shua langsung lanjutin kalimatnya sebelum kena demo dari Che, "aku pilihin juga dress yang bakal bikin kamu lucu. Online shopping atau mau ke mall shoppingnya?" 

"Online shopping deh, pake aja rekeningku." 

"Okki, okki." Shua anggukin kepalanya kayak anak anjing yang baru aja diajak main, antusias. Dia kemudian fokus kancingin kemejanya, nutupin lovebites di sana. 

"Di kepalaku ini lucu banget tau Shu." 

"Kenapa?" 

Che ngeratin pelukannya di pinggang Shua. "Aku dressed and dolled up prettily like a barbie mangku kamu di atas midi dress, ngenakin kamu sampai mohon mohon. Apa aneh ya menurut kamu?" 

Shua ikutan ketawa, "enggak aneh kok. Aku enggak peduli orang orang mau bilang apa, tapi kataku itu unik, Che. Malahan aku suka sama keunikan itu," dia megang pipi Che. "Siapa yang nyangka wajah secantik ini bisa bikin aku enak kelojotan di pangkuan kamu, sampai minta minta dienakin lagi. Itu core dinamika hubungan kita tau." 

Perempuan rambut sebahu itu nyeringai, seneng karena dia enggak dicap freaky. "Kapan kapan gini lagi ya?" 

"Nanti, pas dress yang kamu checkout dateng." 

Series this work belongs to: