Actions

Work Header

Pagi Yang Indah

Summary:

Woonhak biasanya dibilang anaknya Taesan terus soalnya persis banget sama papanya tapi kalau udah mau dimanjain bagini, Taesan bilang Woonhak itu anaknya Jaehyun.

Work Text:

Hal pertama yang Taesan lakukan setelah bangun pagi adalah merentangkan lengan untuk memeluk tubuh Jaehyun yang memunggunginya. Ia hirup dalam-dalam aroma asin laut dan citrus dari tubuh omega-nya.

“Mmm…” Jaehyun bergumam dalam tidurnya. Meskipun aroma kayu mahoni yang menenangkan dari tubuh sang alpha mengusik tidurnya, matanya tetap terpejam.

Samar-samar matahari pagi menembus gorden, mengisi kamar itu dengan cahaya lembut. Taesan terus memeluk Jaehyun dan membenamkan wajah dalam leher sang suami hingga perlahan-lahan kelopak mata Jaehyun terbuka. Ia cium bekas luka penanda ikatan mating yang ia torehkan di tengkuk Jaehyun lima tahun yang lalu. Dilanjutkan dengan kecupan-kecupan kecil di sepanjang leher dan pundak yang berbalut kaus hitam.

“Pagi, sayang,” kata Taesan.

Jaehyun membalikkan tubuh ke arah Taesan. “Pagi, Taesan…”

Taesan sudah akan memberikan bibir ranum Jaehyun ciuman selamat pagi kalau saja pintu kamar mereka tidak menjeblak terbuka saat itu juga.

“Pagi Papa, Papi!”

“Pagi, Woonhak sayang.” Taesan langsung duduk tegak di kasur untuk menyapa anak berusia empat tahun itu. “Kok pagi banget bangunnya?”

Woonhak memanjat ke atas kasur dan menatap Taesan dengan matanya yang besar. “Kan Papa sama Papi yang bilang harus bangun pagi. Kok Papa sama Papi masih di kamar, sih?”

“Sabar, sayang. Papa sama Papi baru bangun, nih. Tuh lihat, papi kamu udah mau tidur lagi.”

Melihat Jaehyun yang matanya masih separuh lengket, Woonhak merangkak ke arah Jaehyun dan mengguncang lengan si Papi.

“Papi, bangun! Ayo, sarapan!” celoteh Woonhak. “Papi tuh, kalau Woonhak mau sekolah nggak dibolehin bangun siang, tapi Papi sendiri bangunnya siang!”

Anak itu memang ceriwis sekali dengan Papi dan Papanya, padahal pemalu kalau bertemu orang yang tidak dikenal.

Jaehyun menepuk-nepuk pipi Woonhak dengan sabar. “Kan ini Sabtu, sayang. Woonhak nggak sekolah, Papi sama Papa juga libur.”

“Tapi Woonhak mau sarapan.” Woonhak merengut dan membenamkan wajahnya di perut Jaehyun, seperti yang sering anak itu lakukan kalau sedang sedih atau ngambek. Seakan-akan dia tahu pernah menghabiskan waktu di sana, dilindungi kehangatan kasih kedua orang tuanya, sebelum harus lahir di dunia yang sering kali kejam ini.

Sementara Jaehyun terus mengelus-elus rambut halus Woonhak, Taesan kembali rebah di sisinya.

“Anak kamu udah kelaperan, tuh,” goda Taesan.

“Kalau gini aja kamu bilang anakku, Taesan” gerutu Jaehyun. “Biasanya anak kamu doang.”

Taesan terkekeh. “Abis dia persis sama aku, sih.”

“Kenapa, ya? Padahal kamu cuma bantu bikin. Aku yang bawa dia sembilan bulan, aku juga yang ngelahirin,” kata Jaehyun. “Rasanya kayak ngerjain tugas kuliah mahasiswamu, tahu, Mas. Tugasnya buat berdua, tapi kamu cuma nulis nama. Eh, malah kamu yang dapet A.”

Belum sempat Taesan membalas, anak yang seperti fotokopi dirinya itu tiba-tiba berseru, “Papa, Papi, ayo! Kapan kita sarapan?”

“Iya, sayang.” Taesan akhirnya bangkit dari kasur. “Yuk, kita turun, bikin sarapan.”

“Papa, mau gendong.” Woonhak merentangkan tangannya ke atas, seperti yang selalu ia lakukan jika meminta tumpangan dari Papa atau Papi. “Gendong, please.”

Sebetulnya, Woonhak sudah terlalu besar untuk digendong, tapi ayahnya tetap membuka kedua lengannya sebagai isyarat untuk anak itu berpegangan padanya. Taesan menahan napas sesaat saat Woonhak memanjat ke gendongannya karena ia tergolong bongsor untuk anak seusianya.

“Duh! Woonhak udah gede banget, ya! Sebentar lagi Woonhak lebih gede daripada Papa sama Papi, nih.”

“Woonhak kan rajin minum susu sama tidur siang.” Lengan mungil Woonhak memeluk leher Taesan. “Kata Papa harus gitu biar tinggi, nggak kayak Papi.”

Jaehyun melirik Taesan. “Kamu bilang apa ke Woonhak?”

“Ya kan emang bener” kata Taesan.

“Papaaa, ayo bangun!” kata Woonhak melihat Jaehyun—yang memang sulit bangun pagi—masih berusaha mengerjapkan mata.

Taesan mencium pipi gembil putranya. Ia menghirup campuran citrus dari Jaehyun dan kayu mahoni darinya sendiri. Ditambah sedikit jejak mint segar, kilasan aroma Woonhak sendiri di masa depan.

“Nggak pa-pa, biarin aja Papi istirahat dulu, ya?” ia membujuk Woonhak. “Papi tidur malem karena banyak kerjaan.”

“Papi kok kerja terus, sih!” cerocos Woonhak. “Kapan dong main sama Woonhak?”

Taesan tertawa. “Papa sama Papi juga pengennya main sama Woonhak aja. Tapi, kalau Papa sama Papi nggak kerja, nanti kita nggak punya uang, lho. Kalau nggak punya uang, kita nggak bisa makan. Woonhak nggak mau laper, kan?”

Mulut Woonhak membentuk huruf O, lalu merengut. “Nggak mau! Laper nggak enak! Tapi kalau nggak sarapan sekarang Woonhak laper, Papa!”

“Iya, Sayang. Yuk, kita gosok gigi terus sarapan.” Taesan menoleh ke arah Jaehyun. “Papi, Papa sama Woonhak bikin sarapan dulu, ya. Nanti Papi nyusul aja.”

Taesan melambai kepada Jaehyun. “Bye bye, Papi.”

Taesan pun beranjak dari ranjang menggendong Woonhak, meninggalkan Jaehyun untuk beristirahat sedikit lebih lama.

Setelah Jaehyun sudah benar-benar bangun, menggosok gigi, dan mencuci muka, ia turun ke dapur yang tersambung dengan ruang makan. Taesan sedang menggendong Woonhak dengan satu tangan dan membalik pancake dengan tangan satunya.

“Papa, Papi udah bangun!” seru Woonhak begitu melihat Jaehyun mendekat.

“Pagi, pangeran tidur,” goda Taesan sambil memindahkan pancake ke piring.

“Pagi, sayang-sayangnya Papi.” Jaehyun memeluk suaminya dari belakang dan mencium dahi Woonhak.

Dari jendela dapur tampak pekarangan belakang dan rumputnya yang menghijau, serta pohon tempat ayunan Woonhak bergantung.

Pagi yang indah.