Work Text:
“Sebentar lagi tabir neraka akan terkoyak dan terbuka lebar.”
Angin bulan November berembus kencang menyapu dedaunan di halaman, menimbulkan gemerisik yang sedikit menggelitik kuping. Kukut burung pungguk bersahutan dari jauh tempat. Angkasa malam ini kesepian; tidak ada bulan yang menggantung, tidak ada bintang yang berpijar. Hanya terhampar hitam luas dalam jangkauan penglihatan.
Kalimat tadi diutarakan dengan kalem; tenang—seperti air yang tak beriak di tengah telaga. Dalam bayang temaram lentera minyak, Satoru menyesap satu cangkir teh kamomil yang telah mendingin. Dia duduk tegak di atas bangku kayu berkaki tiga. Senyumnya terangkat tipis-tipis, tatapannya berantuk dengan binar hitam Suguru yang segelap jelaga.
Mulut Suguru mengeluarkan balasan. Wajahnya mendongak sedikit; kitab suci di hadapannya ditutup pelan. “Menurutmu begitu?”
“Hmm hm. Padahal aku cuma kepingin tidur pulas malam ini.”
Suguru mengalihkan pandang; berdecak dan memutar mata untuk menimpali agak jenaka, “Kamu punya ribuan hari normal yang sudah kamu lewati untuk bisa tidur—dan kamu malah pilih hari ini. Brilian, Satoru. Benar-benar brilian.”
Untuk beberapa saat, Satoru tertawa. Dia bangkit dari kursi; turut membawa serta cangkir setengah isi—membuang seluruh sisanya ke pot tanaman di sudut ruangan kemudian. Suara kucurannya tersiar sayup-sayup, aroma kamomil merebak. Likuid terang kecokelatan itu menggenang di permukaan tanahnya, menunggu waktu untuk terserap sampai habis tak lagi terlihat. Sebelah alis Suguru terangkat; dia bertutur bingung, “Kok, dibuang?”
Perlu beberapa waktu sebelum Satoru menjawabnya. Malahan dia beringsut dulu ke arah balkon, menggeser birai kayu jendela sampai menganga lebar, lalu menopang tangan menikmati panorama langit yang melompong gulita. Udara masuk melalui celah terbuka itu—sehingga Suguru turut dapat merasakan hilirannya; yang janggalnya terasa hangat dan agak pengap. Ke mana memang cuaca dingin musim gugur pergi? Suguru tak tahu—mungkin benar kata Satoru jika tabir neraka akan terbuka sebentar lagi.
“Sengaja. Aku mau minum bikinanmu saja, dipikir-pikir. Rasanya lebih enak.”
Suguru mengernyitkan hidung dengan sebal. Memilih untuk tidak mengindahkan Satoru lebih jauh lagi. Ruangan itu setelahnya sunyi. Keduanya kalut di dalam jagat pikiran mereka masing-masing. Kitab suci bersampul kulit hitam yang ditaruh di atas meja nanar memburam dalam pandangan Suguru. Barisan ayat yang telah dibacanya ratusan kali bergema; berdengung bertalu-talu tidak mau berhenti di dalam kepala. Yang Suguru lakukan hanyalah bergeming dan membiarkan sepasang pelupuknya terpejam; dalam hati meyakinkan diri jika itu semua bukanlah masalah besar—karena dia percaya benar bahwa imannya telah lama kebas rasa. Rosario yang terkalung di leher dilepasnya. Suguru menghitung satu-satu butirannya yang terbuat indah dari karang merah.
Di lain sisi, butuh beberapa saat bagi Satoru untuk mencermati semesta hampa yang terbentang di hadapannya, berubah perlahan waktu demi waktunya. Titik kecil cahaya satu-satu bermunculan, tetapi raut Satoru tidak sedikit pun menampakkan ekspresi yang berarti. Bibirnya terkatup memilih untuk bungkam.
Buku jari Suguru berderak dengan sengaja. Suhu di luar makin naik. Warna langit tidak lagi hitam kelam—melainkan beralih sedikit terang. Titik-titik kecil yang Satoru lihat dari jauh barusan, lamat-lamat makin menjelas. Mungkin dalam beberapa waktu yang akan datang nanti, Satoru dan Suguru akhirnya dapat mengenali dengan saksama, bahwa itu adalah berduyun orang membawa suluh api yang berkobar menyala-nyala.
Jam dinding berdetak, setiap detiknya terasa berjalan lambat. Sembari menunggu tibanya hari, Suguru memilin-milin merjan rosario. Teksturnya terasa licin dari telunjuk dan ibu jarinya. Dia mendongak, memperhatikan punggung Satoru yang tegap dan berbalut kasula hitam; menukas halus, “Menurutmu, dibakar hidup-hidup; dirajam batu; atau digantung terbalik di dalam lubang—cara mana yang lebih bagus untuk mati?”
Satoru membalikkan badan, menatap Suguru dengan muka merengut bingung. Bibirnya mengerucut sedikit bersungut-sungut, “Dan kamu pilih topik ini untuk dibicarakan sekarang—serius, Suguru?”
Bahu diangkat Suguru tak acuh; tanggapan asal dilayangkan, “Aku cuma tanya pendapatmu saja, padahal.”
Udara terus bertambah gerah. Dari arah jendela mulai terdengar bising-bising suara manusia melantun kidung agung berbahasa latin. Masing-masing dari mereka mengangkat obor—menciptakan ilusi langit yang turut berubah merah seperti petaka, juga sebagian menenteng panji-panji gerejawi. Neraka telah muncul di hadapan mereka; tetapi tak bakalan menggapai tempat ini sekarang—belum, setidaknya.
“Mau yang mana pun juga—sebenarnya aku tidak masalah.” Satoru alhasil menjawab. “Soalnya, sekarang aku hanya mau tidur.”
Kembali, keduanya sama-sama terjebak dalam diam. Hari ini terlalu banyak hal yang mereka pikirkan, sampai-sampai untuk bertukar konversasi saja rasanya sukar sekali.
“Di bawah sana—bakal disediakan teh kamomil tidak, ya?” Satoru bertanya tiba-tiba untuk memecah sunyi. Pada akhirnya jendela ditutup kembali—sedikit meredam keributan dari luar, lalu duduk tegak di bangku kaki tiga tempatnya semula.
“Neraka, maksudmu?” sahut Suguru santai.
“Iya.”
“Entah—belum pernah berkunjung. Tapi kalau ada sekalipun, tidak akan aku seduhkan. Buat sendiri sana.”
Gelak tawa Satoru masuk ke pendengaran Suguru satu kali lagi. Dalam genggaman Suguru masih teruntai kalung rosario, salibnya berayun seperti bandul ke kanan-kiri. Niat untuk merapal Salam Maria diurungkan. Dia pikir percuma—toh, berdoa sekarang tidak akan menghapus dosa-dosanya juga. Tidak ada tempat untuk dua orang fasik dan hipokrit di surga sana.
Satoru juga nampak berpikiran serupa; karena sesaat setelahnya dia memanggil namanya dalam gumam rendah. “Suguru,” katanya.
“Hm?”
“Mau coba pergi ke neraka bersama?”
Suguru mendongakkan kepala; sengaja mempertemukan pandang mereka selama sesaat—sebelum akhirnya mendengkus dan mengomentari dengan pedas, “Tadi katanya kamu mau tidur. Betul-betul orang yang tidak konsisten.”
Senyum Satoru terangkat. Sebelah tangannya mengusak rambut Suguru pelan-pelan. Jemarinya turun, kemudian menepuk pipi kirinya dengan ringan. Satoru mengajaknya, “Kalau begitu, ayo kita tidur. Tapi aku mau minum secangkir terakhir teh bikinanmu, boleh?”
Suguru menghela napas; telapak Satoru yang kapalan dia singkirkan. Namun tetap dia beranjak berdiri dari kursi, berjalan menuju lemari pantri dan mengambil satu set cangkir paling bagus milik mereka, menjerang air di dalam ketel, lalu menyiapkan toples kaca berisi bunga kamomil kering. Rosario masih dipegang kuat-kuat di kepalan tangan. “Ya sudah, apa boleh buat. Tapi ini betulan kali terakhir lho ya, Satoru?”
“Oke.”
Perlu waktu sedikit lebih lama dari biasa untuk Suguru merebus teh. Sambil menunggu air mendidih, Suguru iseng membolak-balik lembaran kitab suci—membaca isinya sekilas dengan benak mengangkasa. Satoru sudah tidak ada, kemungkinan besar pergi ke kamar buat menunggu di atas ranjang. Tidak sampai tiga menit penuh ketika ceret bersuit nyaring. Cepat-cepat dia mengurus teh permintaan Satoru. Halaman Kitab Kejadian[2] dibiarkan tergeletak terbuka di atas meja.
Suguru setelahnya membawa baki berisikan cangkir dengan uap yang masih mengepul. Sempat dia melirik ke jendela, menyaksikan merah berpadu hitam; menikmati sebentar lantunan yang dibarengi seruan penuh kemarahan dari massa yang makin mendekat. Dia menghampiri Satoru—benar saja sedang duduk bersandar di dipan kasur; senyumnya belum juga luntur.
“Ini tehnya,” Suguru menyodorkan. “Hati-hati, soalnya masih panas.”
Satoru menerima dengan riang. Dia mengisyaratkan supaya Suguru merebahkan diri di sampingnya. Suguru menurut. Dalam-dalam, Satoru mengirup aroma kamomil; menikmati setiap sesapannya dengan seluruh indera sampai cangkir itu bersisa setengah. Dia menawarkan, “Suguru, mau?”
Anggukan diberikan. Tangan Suguru cermat menyambut cangkir. Di sampingnya, Satoru sudah berbaring nyaman. Dia membuat tanda salib lalu mengucap tuturan lembut, “Terima kasih, Suguru. Tehnya seperti biasa enak.”
“Hm.”
“Selamat tidur, sampai ketemu nanti lagi. Aku selamanya cinta kamu.”
Dan Satoru pergi terlelap.
Suara berisik dari luar terdengar semakin jelas; suhu terasa semakin gerah. Terakhir Suguru melihat jam dinding tadi, waktu masih menunjukkan pukul satu—tetapi langit telah berubah terang. Tirai menuju neraka akhirnya berada tepat di depan mereka. Suguru menenggak sisa teh sampai habis. Rosario yang digenggamnya kuat-kuat putus; manik merjannya terburai ke seluruh permukaan tempat tidur. Dia tidak ambil pusing—malah-malah Suguru memilih untuk mengusap pelipis Satoru. Kepalanya tertunduk sesaat, bibirnya mengecup milik Satoru penuh kasih.
Suguru turut membuat tanda salib. Dia memeluk tubuh Satoru, kemudian memejamkan mata dan pergi tidur. Gedoran kencang di pintu luar tidak diindahkannya.
Selamat tidur juga, Sayang. Mimpi indah selamanya.
.
Bisik-bisik disampaikan dari mulut ke mulut siang harinya. Hampir semua menunjukkan reaksi yang serupa. Beberapa malahan disertai cacian kasar penuh rasa jijik dan tidak percaya. Angin bertiup dingin, lebih dingin dari bulan-bulan sebelumnya. Meskipun begitu, sayup-sayup dapat terdengar mazmur pujian dari tiap kapel dan gereja yang berada di kota. Masa Adven sebentar lagi datang—semua orang bersuka cita menyambut kelahiran Sang Mesias.
“Eh—sudah dengar belum? Ingat dua frater muda yang kabur dari seminari tahun lalu? Mereka ditemukan keracunan—bunuh diri sambil berpelukan di rumah kayu di pinggiran …. Suamiku kemarin ikut untuk membantu menyucikan dua orang bejat itu—tapi lihat apa yang dia temukan. Menjijikan sekali.”
“Aish … benar-benar keterlaluan …. Sepertinya akhir zaman betulan akan datang sebentar lagi. Ayo cepat kita ke gereja. Harus banyak berdoa biar bisa masuk surga!”
.
“Satoru.”
Bongkah batang kayu di perapian meretih dilalap api; lidahnya yang menyala terang mengayun sedikit—mengakibatkan bayang mereka turut bergoyang di permukaan dinding yang dingin dan kasar. Di atas bangku kayu kaki tiga favorit Satoru—Suguru dengan tenang duduk memangku Alkitab yang lebar terbuka di atas pangkuan. Sedikit pun dia tidak memalingkan wajah; sepasang matanya yang bundar seperti kumbang hitam fokus menelaah bacaan ayat baris demi barisnya.
Dari bangku yang satunya dengan sabar Satoru menanggapi Suguru. “Ya?” katanya.
“Menurut kamu, apa aku ini salah—kalau kadang-kadang aku berharap kiamat bakalan segera datang, membinasakan dunia sampai lenyap setelahnya? Seperti sekarang ini, misalnya.”
Usai mendengar kalimat Suguru, Satoru sekadar melempar tawa. Lepas setelahnya dia bertanya, “Kenapa begitu?”
“Entah,” Suguru menjawab acuh tak acuh. Kepalanya masih setengah tertunduk; telunjuk itu masih menyusuri larik-larik suci dari kitab bersampul kulit hitam yang telah lunyai. Sempat Suguru membalik halaman sebelum dia lanjut bertutur kemudian. Ucapnya, “Aku cuma berpikir, sepertinya akan lebih baik kalau dunia ini berakhir sekarang. Jadi kita tidak perlu repot-repot lagi memikirkan masalah apa yang datang kelak; atau pintu neraka mana yang bakal terbuka di tempat ini.
“Pemikiran akan tidak adanya hari esok, terdengar sangat bagus bukan?”
Tawa Satoru kali ini makin nyaring. Mungkin bisa saja gaungnya terdengar sampai ke kapel—membangunkan biarawan-biarawan suci yang terlelap, lalu mengutuk nama mereka berdua di tengah kantuk yang mendera.
“Dan kalau sampai itu betulan terjadi—bukankah itu berarti Hari Penghakiman akan tiba juga?” Satoru enteng menanggapi. “Bukankah itu berarti kita akan segera mendapatkan siksa kita di bawah sana?”
Decak Suguru lolos. Ditutupnya kitab suci menggunakan sebelah tangan, dan akhirnya didongakkannya kepala untuk menatap Satoru tepat di mata. Dia berujar, “Memang sejak kapan kamu peduli tentang siksa kubur dan penghakiman, huh? Lagipula setiap hari kita sudah tinggal di neraka. Melihatnya sekali lagi, apa bedanya?”
Kayu terakhir di perapian sebentar lagi habis terbakar beriringan dengan suhu ruangan yang makin menurun. Namun dengan sengaja, Satoru tidak menambah bongkahannya lagi. Dia menyesap secangkir pekat teh kamomil dengan senyum dikulum. “Dua,” ralatnya. “Besok kita bakal menyaksikan tabir neraka terbentang lebar di depan mata.
“Jadi persiapkan dirimu, Suguru. Mungkin saja, akhir dunia datang lebih cepat dari dugaan kita.”
Suguru berdecak untuk kali kedua. []
