Work Text:
"Caelus, bagi hotspot dong~"
Siang ini jaringan WiFi pada apartemen tempat keduanya menempuh kehidupan baru mati total. Tampaknya hal itu berkaitan dengan pohon beringin tua yang subuh tadi tumbang di sekitar tempat tinggal Dan Heng dan suami kaya-nya yang letaknya tak jauh dari kompleks apartemen.
March menggerutu kesal. Telapak kakinya berayun-ayun gabut. Niatnya untuk menelusuri linimasa media sosial kotak putih estetik terpaksa ia tunda.
"Caelus~"
Caelus sedang baring-baring santai di sofa empuk mereka. Pandangannya begitu terfokus pada layar ponsel pintar yang tengah menampilkan video gim bertema pertarungan antara... dua tong sampah kekar dan berotot? Sumpah March tidak mengerti dengan obsesi pacarnya itu terhadap tong sampah. Jari-jari Caelus menekan layar sentuh dengan lihai. Kepalanya ia baringkan di pangkuan March yang tengah bersandar sembari menekan-nekan layar ponselnya secara acak, sementara menyibukkan diri menunggu WiFi apartemen kembali menyala.
"Nggak mau!! Palingan kau cuma mau ngabisin kuotaku. Ngaku nggak, March?”
Bibir March mengerucut sebal. Ia menggembungkan pipinya dan mengedipkan matanya. Ekspresinya sengaja ia imut-imutkan.
(Bagaimanapun juga, pria normal akan selalu takluk pada seorang gadis manis, bukan?)
"Kamu jahat! Aku nggak bakal buka Instablam kok! Janji, janji!"
Caelus menghela napas pasrah. Kalau gadisnya itu sudah merajuk, ia kalah telak. Tak jarang ekspresi memelas March membuat imannya goyah. Wanita itu selalu menggemaskan, membuat Caelus ingin segera meminangnya dan membahagiakannya seumur hidupnya dengan sumpah berupa nyawanya—cukup, terlalu banyak informasi!
"Oke, oke! Jangan pasang ekspresi seperti itu dong!"
"Siap, perintis hatiku yang tampan, baik hati, dan gagah berani~"
Caelus menghentikan kegiatan bermain video gimnya sejenak. Ditatapnya March dengan penuh afeksi sembari tersenyum jahil.
"Sudah. Tapi tebak sendiri kata sandinya. Gampang kok~"
"Oke!!"
Sambil tersenyum sumringah, March mengetikkan sebaris kata yang baru saja terpikirkan olehnya. Awalnya ia hanya ingin mengerjai Caelus, namun tidak seperti yang ia duga—
"EHHHHH!? BENEREN INI KATA SANDINYA!?"
—namanya benar-benar merupakan kata sandi hotspot WiFi Caelus.
Hal sesederhana nan manis itu membuat wajah dan hati March menghangat. Jantungnya berdebar-debar menyenangkan. Keseimbangan tubuhnya penuh dengan ekstasi. Rasanya ia seperti melambung tinggi di angkasa. March benar-benar dicintai dengan tulus hati.
Melihat Caelus hanya menyengir sok keren, March mencubit gemas pipi teman hidupnya itu hingga sedikit membengkak. Pria itu mengaduh kesakitan—dan samar-samar tersirat kebahagiaan dari sorot mata sepasang kekasih yang tengah dimabuk asmara itu.
"Aw—stop!! Bahkan tenagamu itu lebih kuat daripada gorila—OW—"
"Bucin tolol!!"
