Actions

Work Header

But Once You Leave I Stay

Summary:

Jiwoong adalah cinta pertama Seobin, begitupun dengan Jiwoong. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini Seobin merasa hanya dirinya sendiri yang mencintai.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Seobin menghiraukan kelopak bunga pertamanya ketika Jiwoong pergi, setelah pertengkaran mereka untuk kesekian kalinya selama 3 bulan terakhir. Tentu ia merasa aneh, jelas dia tidak memiliki satu tumbuhan pun di apartemennya karena tidak memungkinkan untuk mereka tumbuh di lingkungan kering ini, terlebih lagi sebuah bunga, Lilac .

Mungkin itu hanya kesalahan. Seobin berpikir bahwa dirinya terlalu lelah menunggu kepulangan Jiwoong dua hari ini. Yang dibutuhkan hanyalah istirahat. Kepalanya terus berdengung dan rasa tak nyaman di dadanya tidak membantu sama sekali.

Dalam tidurnya pun dia masih mengerang sakit. Dia memikirkan kejadian beberapa saat yang lalu. Seobin tidak tau dari mana mereka mulai merasa asing seperti ini.

Seobin dan Jiwoong sudah bersama hampir 10 tahun, kurang dari 3 bulan mereka akan merayakan hari jadi mereka yang kesepuluh. Selama ini keduanya adalah pasangan harmonis dan serasi, keduanya terus melimpahkan cinta mereka hampir satu dekade ini. Bahkan ketika kedua orang tua mereka menentang cinta mereka, itu malah makin menguatkan cinta keduanya. Keduanya bahkan rela di depak dari rumah, membawa beberapa baju dan sisa tabungan mahasiswa semester akhir milik Jiwoong, beralasan bahwa ini kali pertamanya mereka merasakan perasaan menggebu pada manusia lainnya dan perasaan itu melambung tinggi untuk dilepaskan begitu saja.

Keduanya rela untuk berbagi segalanya, meluapkan semua perasaan yang keduanya tidak sangka ada kepada satu sama lain, saling memberi bahu, entah itu untuk rasa lelah, air mata, keinginan untuk bersembunyi dari cacian maki orang disekitarnya, merais kehangatan kecil di tengah dinginnya dunia memandang mereka saat itu, semua itu karena keduanya saling mencintai. Dan roda berputar.

Jiwoong yang sudah diterima di sebuah perusahaan lokal dan Seobin yang dibantu sang kakak sepupunya, Wooseok, satu-satunya anggota keluarga yang masih menganggapnya keluarga, untuk membuka cafe kecil. Dan itu seolah menjadi awal bagaimana kehidupan harmonis yang selama ini Seobin impikan, keduanya tidak lagi mengeluhkan dinginnya malam, dan tidak lagi merasa dunia ini begitu kejam. Ketika malam keduanya bisa lagi bergelung dengan selimutnya, merasakan kehangatan yang sesungguhnya dari sesuatu yang bisa dipanggil rumah.

Ketika Seobin yang dulunya begitu disayangi oleh keluarganya dan berubah begitu saja, Jiwoong ada untuk memberi bahunya, siap untuk mendengarkan segala keluh kesahnya, siap untuk menjadi tameng terdepannya. Ia pikir dia tidak akan punya siapapun ketika orang tuanya memandang dengan tatapan mencemooh, tapi ia selalu bersyukur ia menemukan Jiwoong di kehidupan ini. Dia yang menggantikan seluruh kasih sayang orang tuanya. Membuat Seobin menjadikan Jiwoong sebagai alasannya bertahan hidup.

Begitupun dengan Jiwoong, jika dia memiliki sesuatu untuk ditukar dengan lengkungan kecil di garis bibir Seobin, ia dengan rela hati menukar itu semua. Itu yang dikatakan Jiwoong terakhir kali.

Jadi Seobin akhir-akhir ini merasa heran. Ia berfikir keduanya masih menjadi belahan hati satu sama lain, namun bagaimana dirinya yang dulu menghabiskan waktu dengan kekasihnya itu dengan bahagia sekarang di tiap detiknya dia mulai merasa tenggelam dalam jurang tak berujung yang muncul secara tiba-tiba.

Seolah dirinya sendiri yang mencintai. 

Ada sebuah ide yang terlintas di kepalanya, tapi dia tidak ingin memikirkan itu. Dia tidak mau untuk mengakui itu.

...

Seobin terbangun dengan dentum menyakitkan di dadanya, ia menoleh mencari air putih yang biasa tersedia di meja nakas. Melihatnya kosong, Seobin terbangun dari tempat tidurnya.

Matanya yang kabur mulai fokus menatap punggung lebar yang tidak asing. Suasana canggung tercipta ketika Jiwoong berbalik, atmosfer berat karena perdebatan mereka kemarin masih terasa.

"Aku beli makanan, ayo sarapan," Suara berat Jiwoong memecah keheningan yang tercipta, dengan sigap dia menata makanan yang Seobin yakin di beli dari resto dibawah.

"Kamu tidak berniat untuk duduk?"

Lagi suara Jiwoong terdengar berat, dia mengkode lewat matanya untuk duduk di kursi lain di meja makan mereka. Seobin dalam diam menarik kursinya, memakan makanannya dalam kondisi yang sama.

"Harusnya aku tidak ikut marah kemarin," Suara Jiwoong menginterupsi kegiatan makan mereka.

Seobin hanya berdiam, melanjutkan makannya yang berhenti di udara. Jiwoong yang melihat itu terlihat mengerutkan alisnya, tidak puas dengan tanggapan Seobin yang terkesan acuh.

"Seobin, jangan kekanakan, katakan sesuatu,"

Seobin menghentikan makannya, dia menatap balik Jiwoong.

"Yang aku ingin tidak banyak, hyung. Cukup beritahu jika ingin pergi kemana, atau mungkin dengan siapa, akhir-akhir ini bahkan aku tidak melihatmu pulang,"

"Itu karena aku sibuk, kamu tau kan aku sedang mengejar promosi bulan depan,"

"Tapi apakah sulit memberitahuku? Butuh beberapa detik untuk mengirimiku pesan, hyung,"

Jiwoong menghela nafas. Jelas tidak suka disalahkan dengan urusan yang menurutnya sepele.

"Hanya sekali,"

"Sekali? Hyung kamu tidak pulang dua hari kemarin, sebulan lalu kamu bahkan tidak pulang seminggu, tiga bulan yang lalu kamu bahkan tidak memberitahuku soal dinas luar kotamu dan pergi selama dua minggu, semuanya dan tanpa ada kabar,"

Seobin menghela nafas, dadanya kembali terasa sakit. Ia kembali teringat laundry mereka beberapa hari yang lalu. Aroma parfum manis itu sudah pasti bukan milik kekasihnya maupun dirinya.

"Hyung, jujur padaku, apa kamu bosan denganku?" Seobin menggigit bibirnya menunggu reaksi Jiwoong

Jiwoong merengut.

"Aku hanya tidak menghubungimu, dan kamu menuduhku sembarangan?" Ucapan Jiwoong ketus membuatnya cukup lega, dia percaya bahwa Jiwoong tidak berbohong, namun entah mengapa dadanya masih terasa sakit.

"Aku tidak menuduhmu, hyung . Tapi aku takut, aku khawatir, apalagi ketika aku tidak bisa mendengar kabar dari hyung , aku hanya bisa berdiam diri disini menunggumu pulang, tanpa tau bagaimana kabar hyung , sedang berada dimana, atau dengan siapa, seolah aku bukan bagian dari kehidupanmu lagi,"

"Dan itu menakutkan,"

Raut Jiwoong melunak mendengar Seobin, ia meraih tangan yang lebih muda, mengusapnya pelan sebelum mencium kecil punggung tangan itu. Dia tidak melepaskan pandangan dari Seobin yang tengah menahan air matanya.

"Hei, jangan menangis, hyung minta maaf," Ucapan itu malah membuat Seobin menangis, membuat Jiwoong sedikit panik. Segera dia berjongkok di depannya tanpa melepas tangan Seobin dia genggamannya.

"Kenapa menangis, hm?"

"Aku tidak ingin menjadi pacar yang posesif dan kekanak-kanakan, tapi aku takut hyung, aku takut," Ucap Seobin disela tangisnya, dia berusaha menghentikan tangisnya, namun terasa sulit. Mungkin ini karena rasa lelahnya yang begadang menunggu kepulangan kekasihnya, mungkin karena prasangka terburuknya karena banyaknya perselingkuhan di luar sana, atau mungkin karena ketika tangan besar kekasihnya yang menggenggam erat tangannya rasa sakit didadanya tidak berhenti berdenyut. Tiap helaan nafasnya hanya membuatnya semakin merasa sakit.

"Hyung, aku minta maaf jika aku memang kekanakan, tapi itu karena aku sayang dengan Jiwoong hyung, aku akan berusaha untuk tidak kekanak-kanakan lagi, tapi janji jangan pernah berteriak padaku seperti kemarin," Jiwoong hanya mengangguk, sesekali menyeka air mata dipipi Seobin. Membawa yang lebih muda kepelukannya setelah dirasa tangisnya tidak begitu keras lagi. Menepuknya pelan berusaha menenangkan Seobin.

"Hyung," Panggil Seobin ketika tangisnya sudah mereda.

"Hm,"

"Aku mencintaimu,"

Jiwoong mengacak rambut Seobin, membuat Seobin semakin memeluknya erat. Detak jantungnya terlalu kuat hanya dengan perlakuan kecil kekasihnya.

"Berarti kita sudah baikan?" Pertanyaan Seobin terdengar polos, membuat Jiwoong tertawa kecil. Hanya mengangguk.

"Hm, tentu saja, kamu ingin bertengkar lagi," Seobin menggeleng ribut.

"Bagus, aku juga tidak ingin meninggalkanmu dengan marah lagi," Seobin cemberut, melirik jam dinding terlihat sudah jam kantor.

"Apa harus sekarang? Kita baru saja berbaikan, apa tidak bisa ditunda dulu berangkat kerjanya?" Jiwoong kembali terkekeh, menggeleng. Dia berbalik menuju dapur meninggalkan Seobin yang mulai meraba dadanya. Menekan sambil berkata mengerut bingung.

Jiwoong kembali ke meja dapur mereka setelah mengambil jaketnya, buru-buru Seobin meletakkan tangannya.

"Hyung akan mandi dulu, dan ini tadi ada yang jual waktu aku kembali ke apartemen, anggap ini sebagai permintaan maaf," Jiwoong meletakkan bungkus plastik di depan Seobin sambil berlalu.

Seobin sendiri terlihat berbinar menatap bingkisan itu, berfikir apa yang Jiwoong belikan untuknya. Sayang senyumnya tertahan ketika memakan makanan berbentuk ikan itu, dia tau umumnya isian bungeoppang adalah kacang merah, tapi mengingat ini untuknya Seobin kira Jiwoong akan membeli isian lain , dia yakin hal itu dan memakan jajanan itu tanpa ragu, ketika lidahnya merasakan rasa manis kacang, membuat Seobin menahan kunyahnya.

Seobin mengira dia pasti sedang mudah tersinggung, matanya entah mengapa terasa panas lagi. Melanjutkan kunyahannya, dengan paksa dia menelan makanan di mulutnya. Seobin berusaha menunduk, menggenggam erat tangannya hingga memerah.

Suara orang berlari yang tergesa-gesa menghentikan Seobin yang akan mengambil kunyahan keduanya.

"YOON SEOBIN, APA KAMU BODOH?" Bungeoppang di tangannya diambil paksa.

Jiwoong menangkup wajah Seobin, meminta sang empu untuk membuka mulut, terus bertanya apakah dia menelan makanan yang ia belikan. Perlahan Seobin mengangguk pelan, membuat Jiwoong mengerang frustasi.

"Mengapa kamu menelan makanan yang jelas kamu alergi? Kau berniat bunuh diri?" Jiwoong berdecak sebelum pergi ke lemari di ruang tamu, menggeledah laci-laci, mencari kotak p3k.

Seobin mencoba menahan air matanya, menarik nafas panjang sebelum membuka suara.

"Tapi, hyung membelikan ini untukku,"

Dibalik lemari tembus pandang, gerakan Jiwoong berhenti. Seobin sendiri sibuk untuk menepuk kulitnya yang mulai terasa panas dan gatal.

"Hyung, apakah sudah ketemu?" Suara Seobin memanggil Jiwoong yang masih tidak bersuara.

Tersentak dari lamunannya, Jiwoong berlari keluar, dan membawa segelas air kepada Seobin. Menyuruh yang lebih muda untuk segera meminum obat alerginya.

Setelah dirasa gatal Seobin mereda, Jiwoong berdiri dari tempatnya, namun lebih dulu ditahan oleh Seobin. Jiwoong mengangkat alisnya heran.

"Hyung, kamu tidak ingin menemaniku?" Seobin menggigit pipinya dalam, merasa aneh untuk meminta hal yang terdengar sangat manja itu.

"Apa kamu masih sakit?"

Pertanyaan Jiwoong seperti air dingin yang menyiram Seobin. Ah, benar juga. Dia mungkin masih merasakan panas di kulitnya, tapi rasa gatalnya sudah mereda dan dia akan baik-baik saja dalam beberapa menit. Dia tidak perlu ditemani. Dia tidak perlu ditemani.

Tapi, apa salah meminta kekasihnya untuk sedikit lebih perhatian padanya?

Seobin ingat ketika dulu ia pernah salah memakan panekuk yang dipesankan Jiwoong di kencan pertama mereka, Jiwoong belum tau alergi kacang Seobin. Dan Seobin berhenti di suapan pertamanya, mengatakan bahwa dia alergi pada Jiwoong setelah dia memaksanya untuk memakan panekuk itu. Reaksi Jiwoong tentu terlihat panik, mungkin lebih panik dibanding sekarang, dia meminta maaf berulang kali pada Seobin karena keteledoran dan ketidakpeduliannya. Memaksanya ke rumah sakit terdekat, dan berlari mengitari sudut gang tempat keduanya berkencan untuk mencari obat alergi. Padahal Seobin sudah membawa obatnya sendiri, tapi Jiwoong masih tidak tenang. Dia tetap meminta Seobin untuk pulang ke rumah, memintanya istirahat, dan memanjakannya seharian.

"Kamu sudah dewasa, seharusnya bisa menjaga dirimu sendiri, jadi berhenti melakukan hal gila," Ucapan Jiwoong membuat Seobin menatap nanar kepergian kekasihnya. 

Kulitnya sudah mulai membaik, tapi dadanya terasa sesak terbakar tanpa sebab, membuatnya terbatuk. Awalnya batuk kecil tapi setelahnya Seobin merasakan ada sesuatu yang keluar bersamaan dengan batuknya.

Kelopak lilac itu lagi, kali ini Seobin melihat darah yang menodai ujung kelopaknya.

....

Suasana restoran itu terlihat semakin hidup walau itu sudah melewati tengah malam. Sorakan dan tawa terdengar hingga keluar. Disana Jiwoong terlihat tertawa bersama mendengar lelucon aneh rekan kerjanya.

"Ah, aku tidak ingin pulang, siapa yang setuju ronde selanjutnya?" Ujar seorang lelaki separuh baya, dia bertanya pada anak buahnya. Sebagian mengeluhkan untuk pulang, sebagiannya masih tertarik untuk sesi karaoke bersama.

"Jiwoong-ssi, kau tertarik bergabung?" Seorang perempuan berambut panjang mendekatkan dirinya di tengah keributan bos yang membujuk karyawan yang ingin pulang.

"Apa yang kamu tanyakan pada dia, Sumin-a? Jiwoong pasti lebih memilih untuk pulang," Hongjoong yang mendengar percakapan mereka menyahut. Dia lebih mengenal Jiwoong dari Sekolah Menengah Atas, dan tau bahwa temannya ini lebih memilih untuk menghabiskan waktunya bersama kekasihnya dibandingkan bersosialisasi dengan rekan kerjanya ini.

"Kata siapa?"

Hongjoong menaikkan alisnya bingung.

"Malam masih panjang, mengapa harus pulang cepat?" Hongjoong menatap Jiwoong heran dan hanya menggelengkan kepalanya. Jelas bingung tapi dia tidak mencoba berfikir panjang. Walau begitu dia semakin heran dengan sikap temannya itu yang bahkan tidak memegang ponselnya selama sesi karaoke, padahal dia jelas melihat beberapa kali pesan masuk dari Seobin. Tapi seolah tidak ada, Jiwoong mengabaikan itu.

Hongjoong melirik ke arah Jiwoong yang menyusulnya keluar, menadahkan tangan meminta pemantik. Belum sempat Jiwoong mengambil pemantik yang disodorkan Hongjoong lebih dulu menarik pemantiknya. Mendapatkan kerutan dahi dari Jiwoong.

"Kau tidak berniat pulang?"

Jiwoong menghela nafas, berdecak sebelum mengambil paksa pemantik dari tangan Hongjoong.

"Tidakkah kamu perlu berkaca? Seonghwa bahkan menelponku untuk menanyakan keadaanmu,"

Hongjoong terkekeh, menyesap asap nikotin dalam.

"Aku tidak bisa mengelak soal itu," Jiwoong memutar matanya malas.

"Lagipula kita sedang menabung untuk pernikahan kita, jadi aku juga harus bekerja lebih keras," Ucapan Hongjoong membuat Jiwoong terbatuk, diikuti tawa Hongjoong yang mengeras di lorong gelap tempat karaoke mereka.

"Kamu menabung? Untuk menikah? Dengan Seonghwa?"

"Memang dengan siapa lagi? Menurut perhitunganku akhir tahun depan kita bisa berangkat  ke Jerman," Jiwoong hanya menggelengkan kepalanya, tidak menyangka temannya yang bisa dibilang dulunya liar itu berniat memutuskan komitmen hubungannya ke jenjang yang lebih serius, bahkan dengan seorang lelaki.

Menikah dengan seorang lelaki adalah sebuah angan-angan yang jika itu dirinya di sepuluh tahun lalu akan terasa mustahil. Namun seiring berjalannya waktu dunia sudah mulai berubah, walau negaranya masih belum melegalkan pernikahan sesama jenis, setidaknya orang-orang tidak sekuno dulu. Mendengar Hongjoong, bahkan ketika keduanya kembali ke Korea dengan status suami-suami tidak akan ada yang menggunjing, dan Jiwoong sangat yakin bahwa orang tua mereka juga sudah merestui. Bukan seperti dirinya, bahkan satu dekade terlewat tapi sekedar sapaan tidak pernah terungkap dari ayah kekasihnya ketika dia berkunjung..

Kadang Jiwoong bertanya sebenarnya hubungannya dengan Seobin apa masih bisa dipertahankan tanpa restu dari orang yang sangat disayangi kekasihnya itu? Selama ini dia mulai muak ketika Seobin masih berusaha meluluhkan hati orang tuanya itu tanpa balasan apapun. Dia merasa lelah terus mengejar persetujuan yang tidak pernah terucap.

"Selamat,"

Setelah anggukan, keheningan malam menyelimuti mereka. Hongjoong beberapa kali menoleh ke arah Jiwoong, sebelum kembali menyesap nikotinnya dalam.

"Aku tidak tahu permasalahanmu dengan Seobin, tapi melarikan diri bukan jawabannya, Kim Jiwoong," Hongjoong menoleh ke arah Jiwoong mengharapkan reaksi, tapi yang diajak bicara masih terdiam tidak menjawab. Hongjoong mematikan rokoknya sebelum menepuk bahu temannya itu.

"Jangan bertindak bodoh, Seobin sedang menunggumu di rumah,"

Hongjoong berlalu, meninggalkan Jiwoong yang masih berdiam diri di lorong gelap itu. Dengan hembusan kecil Jiwoong mengeluarkan asap nikotin itu ke udara bebas dan melihat dengan kasat mata bagaimana asap itu menyatu dengan udara disekitarnya.

...

"Hyung," Seobin merengek, matanya sembab akibat dari tangisannya yang tidak kuat menerima rangsangan berlebihan itu. Ia sudah mengalami ejakulasi dua kali malam ini, dan Jiwoong berniat membuatnya datang untuk ketiga kalinya.

Seobin membenamkan wajahnya dalam ketika merasakan kepala penis Jiwoong kembali masuk ke lubang analnya. Desahan Seobin dan juga geraman tertahan Jiwoong memenuhi kamar tidur mereka. Tak butuh waktu lama untuk Jiwoong bergerak, selain karena licinnya pelumas, Jiwoong ingin lebih cepat mencapai orgasmenya. Dia juga tau bahwa Seobin juga sudah mencapai batasnya ketika merasa dinding-dinding itu memijatnya, seolah menolak membiarkannya pergi.

Hentakan Jiwoong memelan ketika kaki Seobin bergetar di tengah ejakulasinya, tak lama Jiwoong ikut menumpahkan cairannya di dalam kondom yang dia pakai. Dia menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Seobin yang sudah terlelap, terlalu lelah dengan sesi panas keduanya. Jiwoong tersenyum dan mencium pundak Seobin, sebelum perlahan mencabut miliknya, dihadiahi lenguhan panjang Seobin.

"Shh, kembalilah tidur," Jiwoong mengelus kepala Seobin sebelum beranjak untuk membersihkan dirinya. Tak lama Jiwoong keluar hanya untuk melihat Seobin yang masih tergeletak tanpa merubah posisinya, sepertinya kekasihnya itu memang sangat kelelahan.

Jiwoong tidak butuh banyak tenaga untuk merapikan posisi tidur Seobin, dengan telaten dia juga membersihkan tubuh Seobin dengan air hangat dan memakaikan piyamanya. Setelah dirasa cukup Jiwoong ikut menidurkan tubuhnya di sebelah Seobin, sebelum notifikasi pesan masuk ke dalam ponselnya. Dengan enggan Jiwoong meraih ponselnya, dan mendapati rekan kerjanya yang bertanya file untuk rapat besok ada dimana.

Sontak Jiwoong terbangun dari tidurnya. File tersebut adalah hasil kerja kerasnya selama tiga bulan belakangan ini, dan jika hilang ia tidak tau bagaimana karirnya berlanjut. Dengan buru-buru dia meraih jaketnya, meninggalkan Seobin yang masih terlelap.

...

Jarum jam menunjukkan pukul 3 malam, dan Seobin terbangun karena rasa haus. Dia menoleh mendapati sisi kasurnya terlihat kosong, ia tidak berpikir banyak soal absennya Jiwoong di tempat tidur mereka dan berusaha meminum air putih di nakas mereka.

Gerakan Seobin terhenti di udara, dadanya kembali terasa sesak. Lagi Seobin merasakan tenggorokannya yang terasa gatal dan panas, dadanya sesak seolah siap meledakkan sesuatu. Akhir-akhir ini Seobin makin sering merasakan rasa sakit ini, bahkan kelopak lilac yang keluar terlihat semakin memerah tiap kali sakitnya kambuh.

Seobin berusaha menahan batuknya, setidaknya dia harus ke toilet untuk menghilangkan kelopak sialan itu. Namun, belum sempat berdiri, Seobin lebih dulu terbatuk, bau anyir darah dan aroma bunga tipis memasuki indra penciuman Seobin. Tangannya bergetar ketika melihat kali ini kelopak bunga itu sepenuhnya tertutupi darah.

Menahan tangisnya, Seobin berlari ke toilet. Memuntahkan darah dan juga kelopak bunga yang sialnya membuat Seobin mual. Cukup lama Seobin berdiam diri mengeluar sesuatu yang terasa memenuhi dadanya itu, tapi tidak kunjung berhenti. Seobin mulai kehabisan tenaga karena rasa sakit yang menyerang dadanya ditambah tangisannya yang semakin membuatnya lemah.

Seobin menepuk dadanya marah, mengumpati rasa sakit yang menggerogotinya dari dalam dan tidak mau berhenti bahkan ketika yang keluar dari mulut Seobin hanya air liur muntahan. Dia memaksakan jemarinya berusaha mengambil kelopak bunga dan darah yang terus-menerus keluar.

Hampir dua jam Seobin berdiam diri di toilet, dia keluar dengan wajah pucat dan kacau. Matanya mencari ponsel yang ada dikamarnya, dengan gemetar dia mencoba menghubungi Jiwoong. Ia perlu memastikan sesuatu. Ia berharap panggilannya terjawab oleh yang lebih tua.

Sayang beribu panggilan tidak kunjung terjawab. Seobin hanya bisa menggigit bibirnya kuat ketika merasa bunga lain mulai tumbuh di dadanya, mengambil rongga lain di hatinya. Isakannya tidak bisa dia tahan. Dia terpuruk memikirkan hal terburuk yang sedang kekasihnya lakukan sekarang.

Dia berfikir semuanya berjalan dengan baik, walau gejala sakitnya tidak mereda, tidak sekalipun keduanya kembali bertengkar. Jadi mengapa malam ini dia merasa begitu sakit?

Sinar matahari mulai terlihat, gelapnya malam perlahan menghilang. Namun, Seobin bertahan dengan mata sembabnya. Darah yang mulai mengering di sudut bibirnya, dan tangannya yang masih memegang kelopak lilac yang sudah bersimbah darah.

Silaunya cahaya matahari tidak membuatnya beranjak dari tempat duduknya di lantai. Terlalu lemah bahkan untuk membuka suara, bahkan bau anyir darah dan bunga disekujur tubuhnya tidak mengganggunya. Dia terdiam, dalam hati dia ingin bertemu dengan kekasihnya, berteriak menanyakan sebenarnya apa yang salah dengannya. Kesadarannya mengingat bagaimana wajah panik Wooseok yang berlari ke arahnya.

Di sisi lain lelaki itu mengusak rambutnya kesal, dia menghirup nikotin di tangannya lebih dalam sembari menatap ponsel yang dia dibiarkan sedari tadi. Dia merasa bingung dan bersalah, tapi apa boleh buat kejadian beberapa jam yang lalu bukan salahnya. Dia juga seorang pria muda. Setelah dirasa tidak ada panggilan lain, Jiwoong berdiri merapikan pakaiannya dan meninggalkan rekan kerjanya di kasur hotel yang keduanya pilih kemarin malam.

...

Yang tidak pernah Jiwoong sangka setelah pesan singkat dari Wooseok yang mengatakan bahwa Seobin dirawat di rumah sakit adalah sebuah tamparan nyaring sebagai sambutannya. Alis Jiwoong mengerut tak suka.

"Dasar brengsek," Adalah sambutan lain dari lelaki yang memiliki wajah yang mirip dengan adiknya itu.

"Masih punya muka kamu setelah hilang dua minggu?"

Jelas Wooseok marah. Masih teringat jelas penampakan adiknya yang terlihat menyedihkan. Dan itu semua karena lelaki dihadapannya, lelaki yang masih adiknya sebut kekasih, bahkan ketika dokter dengan jelas menjelaskan penyakitnya.

Hanahaki disease adalah penyakit yang selama ini Seobin derita. Penjelasan dokter yang mengatakan bahwa ini adalah penyakit pernafasan yang selama ini menyerang paru-paru Seobin, bunga lilac itu tumbuh dengan subur karena cinta sang adik tak terbalaskan. Wooseok melemah ketika mendengar itu, dia tau perjuangan sang adik untuk bisa sampai di detik ini bersama kekasihnya tapi apa ini? Ia meminta penjelasan bahwa semua yang dikatakan oleh dokter adalah kesalahan namun air matanya tidak lagi bisa terbendung ketika Seobin menunduk dalam.

Rasa sakitnya tidak sebanding dengan fakta bahwa selama ini Seobin sudah mengetahui ini. Tentang penyakitnya. Tentang perasaan Jiwoong padanya yang sudah sirna.

Penjelasan lain dari sang dokter membuat Wooseok sebagai satu-satunya keluarga Seobin mengambil opsi operasi. Mereka masih ada harapan, dan Wooseok tau lebih dari apapun jika keputusannya tepat ketika Jiwoong tidak juga muncul setelah dia beri kabar pertama kali.

Peduli setan, Wooseok hanya ingin Seobin tetap hidup dibanding hidup mempertahankan cinta yang telah pudar, baginya cinta yang diperjuangkan adiknya sudah tidak ada lagi di dunia. Selama ini dia mendukung adiknya karena dia percaya dengan perasaan keduanya, tapi jika perasaan tidak lagi berbalas dan hanya menumbuhkan benalu yang merugikan adiknya, jangan salahkan Wooseok untuk ikut bersikap egois. Yang ia tidak mengerti adiknya masih saja menolak untuk menyerah pada cinta yang jelas tidak ada.

Tidak cukup penolakan dari Seobin. Adiknya bahkan memohon padanya bahwa setidaknya biarkan dia bertemu dengan Jiwoong sebelum menyetujui operasi itu. Dia masih memiliki waktu katanya, dia masih mengharapkan setitik cinta yang mungkin masih tersisa katanya, dia masih menganggap bahwa kelopak bunga itu tidak membuatnya hampir mati ditiap nafasnya.

Seobin masih berharap. Pada harapan yang ia pikir masih ada.

Ketika detik demi detik dan hari berganti, binar mata adiknya perlahan mulai sirna. Berganti kilauan air mata yang masih mencoba meyakinkan Wooseok bahwa Jiwoong pasti datang. Dia pasti datang untuknya. Bahkan genggaman Seobin tidak sekuat kemarin, tapi kegigihan mempertahankan apa yang sudah terlepas melebihi batas logika Wooseok.

...

Dari tempatnya berdiri Jiwoong bisa melihat Wooseok yang mengusak pipi Seobin dengan penuh kasih. Berbeda jauh dari orang yang memukulnya di pintu masuk rumah sakit.

Gumaman berdengung terdengar, membuat Jiwoong menegakkan tubuhnya. Dirinya memasang raut datar ketika Wooseok menatapnya tajam. Tanpa sadar memar di sudut bibirnya terasa berdenyut sakit.

"Masuk, dan bujuk Seobin untuk melakukan operasi itu," kata-kata itu terdengar datar dan menuntut untuk dibilang sebuah permintaan tolong. 

“Buat Seobin merelakan kamu, buat bunga yang kamu biarkan tumbuh itu mati, setelah ini jangan pernah muncul lagi di hadapan Seobin,” perkataan itu terdengar seperti ancaman, walau begitu Jiwoong mengangguk, kepalanya terasa berkecamuk semenjak pesan terakhir yang dia terima, ia mengira bahwa itu hanya mimpi siang bolong yang dunia coba projekan padanya.  

Ketika dia masuk, dia bisa mencium aroma kuat dari obat-obatan dan sedikit aroma bunga lilac, terasa segar jika saja dia tidak mencium bau amis di udara. Seobin berbaring lemah, terlihat lebih kurus dibanding dua minggu yang lalu, dimana mereka bertemu terakhir kalinya. Malam yang sama dia meninggalkan Seobin di apartemen mereka sendirian.\

"Hyung," Suara Seobin terdengar serak. Tiap gerakannya suara batuk tidak luput mengikuti, membuat siapapun yang melihat Seobin sekarang pasti akan bersimpati padanya, namun senyum Seobin masih secerah mentari di luar sana. Menatapnya dengan mata berbinar, gerakan tangannya meraih tangannya yang berdiam di samping tubuh, membawa ke pelukannya yang lemah.

"Aku merindukanmu, hyung,"

Mengungkap beribu kalimat rindu seolah keduanya adalah pasangan kekasih yang harmonis, dan dirinya seperti pasangan kebanyakan yang sedang mengunjungi kekasihnya yang sedang dirawat. Seolah dirinya disini untuk menemani kekasihnya melewati masa-masa kesehatan yang buruk. Seolah keduanya adalah pasangan yang masih saling mencintai. Seolah bukan dirinya yang membuat kekasihnya terbaring lemah dengan penyakit sialan itu.

Selama dua minggu ini dia mencoba melarikan diri dari kenyataan ini, fakta bahwa Seobin mengetahui perasaannya yang sudah menghilang membuatnya linglung. Dia pikir dia sudah pandai menyembunyikan hal itu. Ia selalu merasa sesak menghabiskan waktu tiap akhir minggu di apartemen sempit mereka, sehingga lembur di kantor menjadi salah satu cara dia melepaskan diri rasa bosan itu. Dinas ke luar kota selama beberapa minggu untuk mencoba menikmati hari-harinya sendiri. Bergabung dengan karyawan di kantor dengan alasan untuk menambah relasi agar itu menjadi alasannya ketika ada panggilan menuntut dari Seobin. Awalnya dia hanya ingin sendirian tanpa harus diganggu Seobin, kekasihnya yang lebih muda itu memanglah tipe yang menuntut untuk terus lengket padanya, itulah awal mula pertengkaran mereka.

Dulu memang Jiwoong tidak keberatan, bahkan bisa dikatakan menyukai sikap Seobin yang terus menempel padanya. Hanya saja tidak pernah terlintas di kepala Jiwoong sekalipun bahwa perasaan lelah dan sesak itu adalah karena rasa cintanya sudah luntur. Dia tidak pernah berfikir hingga kesana, dia mungkin bosan, tapi dia yakin bahwa dia masih memiliki rasa suka yang cukup untuk diberikan pada kekasihnya. Bahkan ketika dia telah menghabiskan malam panas dengan wanita lain malam itu, dia merasa dia masih memiliki cinta yang cukup, rasa yang cukup agar Seobin tidak mengalami rasa sakit karenanya. 

Yang Jiwoong tidak tau adalah sikapnya yang mulai mengabaikan Seobin dan menjauhkan diri, bahkan perasaan bosan itu muncul. Sejak itulah dia mulai menanamkan tunas dihati Seobin.

Jadi ketika suara batuk dan bau anyir itu menusuk hidungnya seolah dirinya dibangunkan dari sebuah mimpi panjang, Jiwoong merasa jantungnya berdetak sedetik lebih cepat. Kepalanya mulai menyadari bahwa dirinya mungkin saja sudah melupakan cinta itu.

Seobin menutup mulutnya dengan lembaran tisu, memuntahkan kembali kelopak lilac dengan lendir darah. Sudut matanya sudah siap menumpahkan air matanya karena rasa sakit yang tiba-tiba menyerangnya, beberapa kali dia meminta maaf pada Jiwoong karena batuknya yang tidak berhenti, mengungkap bahwa itu memalukan ketika Jiwoong harus melihatnya dengan kondisi yang menyedihkan seperti ini, tanpa tau perubahan raut wajah Jiwoong.

“Seobin,”

Seobin menoleh, menahan rasa gatal di tenggorokan ketika dirinya dipanggil oleh Jiwoong. Walau begitu dari tempat Jiwoong berdiri, mata Seobin yang berkaca-kaca membuatnya sakit. Baiklah jika memang dia sudah tidak mencintai Seobin lagi, setidaknya dirinya bukan orang yang egois.

"Lakukan operasi itu," Suara Jiwoong terdengar ringan, namun mampu memenuhi ruangan yang terasa kosong itu. Bahkan ketika Seobin mencoba tuli, suara Jiwoong masih teringat di kepalanya. Membuat denyutan di dadanya semakin terasa menyakitkan. Seobin menggeleng ketika bahkan rasa sakitnya membuatnya susah bicara, rasanya pasokan udaranya menipis dan sesuatu tumbuh bersama dengan Jiwoong yang menjauh dari jangkauannya.

Tangan Seobin masih mencoba meraih Jiwoong, ia mencoba menahan Jiwoong. Mengatakan bahwa dirinya tidak akan melakukan operasi itu. Sejak pertama kali dia mengetahui soal penyakitnya, dia memang merasa bahwa itu adalah sebuah ketidakmungkinan, dia ingin percaya bahwa itu adalah sebuah kebohongan. Bahkan ketika dia merasa setiap nafasnya terenggut di detik-detik kebersamaannya dengan Jiwoong. Seobin ingin mempercayai bahwa semua ini hanyalah bunga mimpi semata.

Hyung,” Seobin memanggil Jiwoong disela batuknya, mencoba menahan pergelangan tangannya. Menariknya agar tidak jauh dari jangkauannya.

“Aku tidak akan melakukan operasi itu, tidak hyung, bahkan jika hyung memintaku,” ucapan Seobin seolah lelucon di telinga Jiwoong. Dia menyentak tangan yang digenggam Seobin membuatnya mengaduh sakit. Entah mengapa rasa amarah muncul di kepalanya, dia menarik bahu Seobin membuatnya menatap dirinya.

Jiwoong mengerang frustasi. Cengkramannya pada bahu Seobin mengerat, seiring dengan rasa amarah yang entah ditujukan pada siapa. Ingin rasanya dia marah pada Seobin atas tingkah bodohnya, dia sudah tidak mencintainya lagi jadi terdengar aneh ketika Seobin tidak mau melakukan operasi itu, bahkan memintanya datang untuk membujuknya. Untuk apa Seobin mempertahankan perasaan itu?

Tapi apa pantas dia marah pada Seobin? Ketika bunga yang tumbuh bersemi di hati Seobin adalah perbuatannya, karena dirinya yang sudah tidak mencintai kekasihnya lagi? Atau pada orang tua Seobin yang membuat hatinya goyah di tiap detik kebersamaan dunia? Dan haruskan dia marah terhadap dunia yang membuatnya bertemu Seobin, membuatnya mencintai Seobin dan perlahan kehilangan perasaan itu?

Tangisan yang silih berganti dengan suara batuk itu membuat siapapun merasa sakit. Bahkan saat pintaan tolong Seobin teredam dalam pelukan Jiwoong, rasa sakit itu ada.

“Hyung, tolong jangan biarkan aku melakukan operasi itu,”

 

“Aku tidak apa-apa, aku akan bertahan,”

 

“Tolong jangan memintaku untuk melakukan operasi ini, itu hanya membuatku lebih sakit,”

 

Hyung… tolong…”

 

“Aku tidak ingin melupakanmu,”

 

“Cintai aku lagi, hyung,”

….

Situasi apartemen yang telah ditinggal beberapa minggu itu terlihat gelap dan pengap. Walau begitu Jiwoong tidak berniat untuk membuka gorden yang tertutup rapat, antara terlalu malas atau dia lebih menyukai suasana apartemennya yang gelap. Persis seperti hatinya sekarang.

Helaan nafas keluar dari mulutnya, rasa pusing yang menyerang menyadarkannya bahwa dia belum tidur selama dua hari ini. Pekerjaanya membuatnya terus terjaga, atau mungkin karena keributan beberapa hari ini yang tidak membiarkan pikirannya tenang satu detikpun. Ringisan mengganti pening di kepalanya, ia juga mengingat tonjokan yang diberikan Hongjoong mendengar kabar Seobin. Mengucap bahwa wajar saja keduanya terlihat berbeda, terlebih Jiwoong yang mulai menghabiskan banyak waktu sendiri diluar, dibandingkan dulu di awal pertemanan keduanya dimana keduanya layaknya ada sebuah lem super kuat yang menempel di antara mereka.

Gelapnya ruangan tidak bisa menutupi rasa lelah Jiwoong, beribu kali dia memikirkan ini semuanya, hanya ada rasa mengganjal yang tidak bisa dijelaskan. Pertanyaan yang terus menghantuinya, sejak kapan dia mulai tidak mencintai Seobin? Apa ketika dia pertama kali merasakan kebosanan itu? Lalu jika iya, bagaimana mungkin di tiap kali waktu yang ia habiskan bersama Seobin Jiwoong masih merasakan gelitik geli walau sudah tidak sespektakuler dulu. Bahkan di malam yang menhantarkan Seobin kritis saja, ada rasa rindu tidak terucap yang dalam hati terdalam Jiwoong rasakan, atau semua itu hanyalah ilusi semata? Dirinya tidak mau disalahkan dalam urusan ini. 

Lagipula ucapan ayah dari Seobin kembali menyadarkan Jiwoong, mungkin kebenarannya adalah cinta keduanya bukan sesuatu yang nyata. Alam semesta lah yang menciptakan lelaki dan perempuan, dan sudah takdirnya bahwa cinta diantara sesama lelaki maupun perempuan layaknya ilusi semata, kesenangan yang bertahan semestara. Dengan keduanya yang mencoba melawan takdir itu hanya akan membawa malapetaka bagi dirinya ataupun Seobin. Lihatlah sekarang, seolah karma yang nyata, cintanya menghilang dengan Seobin yang kesakitan.

Akhir yang tidak dia bayangkan terjadi. Diakhir cerita terburuk yang pernah ia bayangkan adalah kehilangan Seobin sebelum dia sempat membuatnya menjadi manusia paling bahagia, bukannya sekarang. Takdir yang rumit.

Apa yang salah dengan mencintai seorang lelaki? 

Jiwoong menatap nanar pada kelopak lilac kering dengan bercak darah di sekitar kamar tidur. Menertawakan pemikiran konyol yang terlintas di kepalanya, bahkan jika dia mencintai Seobin sebagai perempuanpun, dia tidak yakin dia mampu untuk membahagiakannya. 

Dia adalah seorang pecundang.

Kelopak lilac yang baru tumbuh pun tak mampu membuatnya untuk lebih berani mengatakan segalanya pada Seobin. Jiwoong tau itu pertanda bahwa Seobin sudah memutuskan untuk memulai kehidupan barunya tanpa dirinya. Dan untuk menebus rasa bersalahnya dia akan hidup dalam kehidupan lama tanpa Seobin.



Notes:

endingnya bukan dipaksain, tapi emg aku aja kali yang kurang bisa nyampein alurnya...

Series this work belongs to: