Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandoms:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2024-09-17
Words:
1,069
Chapters:
1/1
Kudos:
29
Bookmarks:
1
Hits:
178

Cursed

Summary:

Nirei Akihiko, Vampir yang sudah berumur 921 tahun, sedang mencari seseorang yang dapat membunuhnya.

Day 3 of #SuoNireiWeek2024 - Vampires

Notes:

Day 3 of #SuoNireiWeek2024 - Vampires

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:


Nirei Akihiko, Vampire yang sudah berumur 921 tahun, sedang mencari seseorang yang dapat membunuhnya.

Ia sudah lelah hidup dalam keabadian.

Tapi tidak semudah itu.

Karena ia adalah Ancient Vampire, tidak banyak yang dapat membuatnya mati. Berjemur di bawah terik matahari, mengonsumsi bawang putih, bahkan puasa minum darah manusia selama 300 tahun pun hanya membuatnya sedikit melemah.

Setidaknya ia melemah, tinggal cari Vampire Hunter yang dapat membunuhnya.

Vampire Hunter pun hanya sedikit yang benar-benar dapat melukainya.

“Apa tidak ada orang yang lebih kuat apa? Atau aku mainnya kurang jauh?” Nirei menghela napas.

Ia mengutuk debuff charm yang ia miliki. Karena efek charm ini, kebanyakan orang akan merasa luluh dan iba kepadanya.

Ia bahkan bukan Ancient Vampire yang memiliki kekuatan hebat layaknya dewa, ia hanya ‘dikutuk’ tidak bisa dibunuh.

Maaf, aku tidak sanggup melukaimu

Aku tidak tega melihatmu terluka

Cari Hunter lain saja

Ahh, kasian sekali, aku bahkan tidak mampu menghunuskan senjataku padamu 

“ADA NGGA SIH YANG IMMUNE DENGAN CHARM TERKUTUK INI AAAAHHH!”

Nirei semakin frustasi. Lalu, ia memutuskan untuk tidur selama 25 tahun.



Nirei serentak terbangun dari tidur ‘sebentar’nya itu. Ia mencium baru darah. Aromanya sangat ia kenal.

Saat ia membuka peti matinya, ia mendapati dirinya berhadapan dengan sesosok pria — bersurai merah seperti wine, memakai eyepatch, dan senyum kecil terpatri di wajahnya.

“SUO HAYATO?!” mata Nirei membulat sempurna.

Wajah itu, aroma darah itu, dan senyuman itu — ia sangat mengenalinya.

Biang kerok dari keabadian dirinya. Vampire yang menggigitnya. Vampire Origin yang memberinya kutukan charm itu.

Suo Hayato.

Harusnya dia sudah mati. Mengapa ada disini? Apa ia sedang bermimpi?

“Permisih,” pria itu mengetuk kembali peti matinya, “aku dengar ada Vampire yang mencari Hunter yang memiliki kekuatan immune terhadap charm. Ancient Vampire, namanya Nirei Akihiko , benar?”

Nirei tertegun. Hunter? Hah? Yang benar saja, orang itu lahir kembali dan sekarang menjadi seorang Hunter?

“Haha… ini sama sekali tidak lucu… hahahaha! Benar-benar, kau Suo Hayato!”

“Hmm? Kau tau namaku?”

“Bahkan nama kalian sama.”

Suo tersenyum bingung, “Maaf, aku tidak tau siapa yang kau bicarakan.”

Nirei menutup matanya. “Curiga dari awal dia sudah merencanakan semuanya…” gumamnya.



Dan di sinilah Nirei, di rumah tempat ia tertidur, menyuguhkan teh untuk orang bernama Suo Hayato itu.

“Masih suka teh juga, pula.”

“Maaf, tapi aku tidak suka dibanding-bandingkan.”

“… kau, tadi sengaja meneteskan darah?” ia alihkan pembicaraan.

“Iya, kata penjaga rumah ini, langsung bangunkan saja dengan setetes darah.”

“Anzai-san…” lagi-lagi Nirei menghela napas panjang.

Anzai adalah Vampire yang baru berumur 100 tahun. Nirei mengenalnya dari awal Anzai menjadi Vampire hingga sekarang. Makanya Nirei memutuskan untuk terlelap di kediaman Anzai.

Nirei juga yang meminta Anzai untuk tetap mencarikan seseorang yang memiliki immune terhadap charm.

Ia tidak akan menyangka orang yang akan datang dengan imunitas itu adalah Suo Hayato sendiri.

Takdir macam apa ini?

Ah, bukan takdir, tapi memang orang itu suka iseng seperti ini kan? Sangat menyebalkan.

Nirei menatap lekat pria yang duduk di depannya itu.

Wajah yang sama, senyum yang sama… tidak pernah ia lupakan.

Cinta pertama dan terakhirnya.

Dan juga… orang yang paling ia benci.

Antara cinta dan benci itu sangatlah tipis perbedaannya.

“Ah, sial…” Nirei merintih.

“Aku bisa membantu untuk mengakhiri hidupmu. Tapi, aku butuh jantungmu.”

“Ah, tentu saja. Hunter butuh jantung Vampire untuk membuat senjata mereka.” Nirei mengangguk, kembali menatapnya.

“Aku tidak tau hubunganmu dengan ‘Suo Hayato’ itu seperti apa, dan sebenarnya aku tidak tertarik. Tapi, bisa hentikan pandangan itu? Sangat intens hingga aku merasa aku benar-benar orang ‘itu’.”

“Kau memang orang ‘itu’. Hanya saja ingatanmu di masa lalu telah hilang.”

“Hmm, kau rindu padanya?”

“NGGA!”

“Woah, santai.”

“Ehem, ma-maaf. Kalau soal orang itu, aku tidak bisa mengendalikan emosiku…”

“Jadi, gimana?”

“Bunuh aku sekarang. Lama-lama kepalaku pusing dengan keberadaan dirimu.”

Suo terdiam sejenak. Ah, rasanya aneh mendengar suara itu dengan nada yang penuh kebencian (dan keputusasaan?) itu.

“Padahal dulu suara itu begitu lembut memanggil namaku…” gumamnya, tanpa sadar.

Mendengar itu, Nirei tersentak, “Tolong jangan bilang tiba-tiba ingatanmu kembali?”

Suo menggelengkan kepala.

“Kalau begitu cepat lakukan.”

“Ah,” Suo baru teringat, “Aku tidak memiliki senjata Grade S yang bisa membunuh Ancient Vampire seperti dirimu.”

“Ck, ya sudah, aku kasih kamu ini,” Nirei mengeluarkan sebuah tombak perak indah dari telapak tangannya, “Grade SSS, senjata Hunter yang pernah menusuk Vampire Origin — ah, pada akhirnya senjata itu kembali padamu. Hahaha!”

“Punya orang ‘itu’?” Suo mengambil tombaknya.

Nirei mengangguk, “Dia bikin untuk kematiannya.”

“Kenapa bisa ada di dirimu sekarang?”

Pusing, Nirei mengurut dahinya, “Dia yang suruh aku untuk menancapkan tombak itu pada jantungnya.”



Kala itu, Vampire baru saja terlahir di dunia — mereka disebut Vampire Origin. Hanya ada beberapa Vampire Origin yang berhasil bertahan hidup.

Nirei merupakan bocah biasa yang mudah percaya pada siapapun — termasuk Suo Hayato itu.

Ia percaya padanya. Jatuh cinta, lalu ia dijadikan Vampire olehnya.

Katanya mereka akan hidup abadi berdampingan. Melintasi waktu, berkelana ke seluruh penjuru dunia.

Tapi nyatanya apa? Vampire Origin ternyata tidak memiliki usia yang panjang. Tidak seperti dirinya, Vampire generasi kedua (yang sekarang menjadi Ancient Vampire).

Nirei tidak tau itu. Ia tidak tau apa-apa. Kekasihnya itu tidak pernah memberinya jawaban.

Ketika ditanya mengapa menempa senjata itu, ia tidak menjawab.

Mengapa ia memberi berkah (KUTUKAN) charm kepada dirinya, ia mengalihkan pembicaraan.

Mengapa menyuruhnya menancapkan tombak itu ke jantungnya, ia tetap tak menjawab.

“… sebenarnya Hayato-san mencintaiku apa tidak?”

“Aku sangat mencintaimu, Aki. Maka dari itu, hiduplah lebih lama dariku.”

“Dan kau tega meninggalkanku dalam keabadian?”

“…”

Lagi-lagi Suo Hayato tidak menjawabnya.

Karena ia telah menanamkan tombak itu di jantungnya.



Nirei terkekeh mengingat hari itu.

‘Kalau cinta mah, harusnya kita mati bersama.’

Melihat Ancient Vampire itu kacau-balau, lagi-lagi hati Suo terasa aneh.

“Kalau… kalau aku bisa mengingat masa lalu itu, kau bisa mencaci maki orang ‘itu’ sepuasmu.”

“Heh, lebih baik kau tetap lupa,” Nirei tersenyum miris, “Tombaknya, cepat tancapkan kesini.” lanjutnya seraya menepuk-nepuk dada sebelah kiri — tempat jantungnya berada.

Suo terpaku, kepalanya tiba-tiba kosong.

“Cepat, lalu kau bisa ambil jantung ini.” Nirei menuntun ujung tombak itu, membawanya ke titik jantungnya. “Jangan bilang kamu terkena charm-ku?”

Mendengar itu, Suo kembali waras. Lalu, ia mengangguk…

Suo menekan tombak itu hingga menembuh tubuh Nirei.

“AH… akhirnya… aku bebas…?

… Hayato-san.”

Sedetik setelah Suo berhasil menusuk jantung itu, deretan memori masuk ke otaknya.

“A… Aki…?”

Namun Aki telah menjadi debu dan hanya menyisakan jantung yang tertancap pada tombak.



Suo Hayato mati, lalu hidup kembali. Terlahir sebagai manusia biasa.

Di akhir hayatnya ia baru teringat ia harus mencari kekasih yang ia tinggalkan bertahun-tahun, berabad-abad lalu.

Dan itu terulang berkali-kali; ia mati lalu hidup.

Sampai ia menemukan kekasihnya yang sudah menjadi abu.

Ia pun teringat.

Ia pun berteriak.

-end-

Notes:

Disclaimer Windbreaker milik Nii Satoru
Warning: major character death, un-beta-ed