Actions

Work Header

Redemption Arc

Summary:

Rezim kekuasaan Voldemort telah berakhir. Semua Pelahap Maut dan antek-antek Voldemort telah ditangkap. Golden Trio sebagai pejuang perang sangat dipuji oleh semua orang dan Kementerian Sihir langsung mau merekrut mereka untuk bekerja. Harry Potter dan Ron Weasley tidak kembali ke Hogwarts dan memilih mengikuti pelatihan untuk mengejar impian mereka menjadi Auror. Sementara itu, Hermione Granger memilih untuk kembali dan menyelesaikan pendidikannya. Minerva McGonagall, kepala sekolah Hogwarts yang baru memilih Hermione Granger menjadi Ketua Murid perempuan sedangkan untuk Ketua Murid laki-laki, dipilih langsung oleh kementerian dan yang dipilih adalah Draco Malfoy. Hal itu dilakukan untuk membantu keluarga Malfoy mendapatkan apa yang pantas mereka dapatkan karena keluarga Malfoy memang sedikit besar berjasa dalam perang walau mereka adalah Pelahap Maut. Kementerian menilai hal itu adalah hal yang sangat baik dari keluarga Malfoy dan mereka menginginkan orang-orang mengetahui jika keluarga itu masih memiliki kebaikan. Karenanya, mereka berpikir jika memilih Draco Malfoy sebagai Ketua Murid laki-laki bisa diharapkan menjadi awal yang baik bagi semua orang.

Chapter 1: BACK

Chapter Text

July

Keadaan Hogwarts sudah jauh lebih baik dari yang terakhir Hermione Granger ingat. Dua bulan lalu, Hogwarts masih dipenuhi reruntuhan dan kerusakan yang parah namun saat ini, keadaan Hogwarts sudah kembali lagi seperti tahun-tahun sebelumnya. Megah dan luar biasa. Ciri khas Hogwarts sekali.

Dengan langkah riang, gadis Gryffindor itu berjalan seorang diri untuk masuk ke halaman Hogwarts sambil melihat ke pemandangan sekolahnya di kanan dan kirinya. Ah, rasanya sudah sangat lama sekali ia tidak melihat pemandangan sekolahnya seindah ini. Perang dan pencarian Horcrux yang berlangsung hampir setahun membuatnya melewatkan banyak hal di Hogwarts. Untung saja saat ini ia bisa kembali dan bisa menuntaskan sekolahnya.

Beberapa anak menyapa Hermione ramah dan ia merasa sangat senang bisa mendengar sapaan teman-temannya. Menjadi pejuang perang dan teman Harry Potter membuatnya dikenal luas oleh masyarakat Dunia Sihir sejak waktu yang lama. Apalagi setelah perang dua bulan lalu, nama mereka bertiga semakin terkenal dimana-mana. Saat ini, hampir semua orang di Dunia Sihir mengenal namanya.

Memasuki kastil, Hermione langsung berbelok menuju ruangan kepala sekolah—McGonagall karena dari surat yang ia terima kemarin, McGonagall memintanya untuk menuju ke ruangannya sebelum ia berjalan ke Aula Besar. Namun saat masuk, betapa terkejutnya gadis itu saat melihat pemuda berambut pirang platina sudah terlebih dahulu hadir sambil terus menundukkan kepalanya. Tidak menyadari jika pintu ruangan terbuka dan menampilkan Hermione Granger di sana.

“Oh, Miss Granger akhirnya kau datang juga.”

Baru kali itulah kepala Draco terangkat dan matanya langsung menatap mata Hermione namun hermione abaikan tatapan itu dan langsung berjalan ke sampingnya. “Ada apa, Profesor?”

“Kau tahu, sebentar lagi upacara penerimaan anak kelas pertama akan dimulai setengah jam lagi. Ada banyak yang harus aku sampaikan pada mereka dan salah satu hal yang harus aku sampaikan pada mereka adalah tentang Ketua Murid.”

Mata Hermione langsung dibuat membulat dan dalam batinnya, ia sudah menebak tujuan McGonagall memanggilnya ke ruangannya. “Mungkinkah saya – ”

“Benar sekali Miss Granger. Kau akan ditunjuk sebagai Ketua Murid perempuan, sedangkan Mister Malfoy akan ditunjuk sebagai Ketua Murid laki-laki.”

Jelas Hermione tidak bisa menerima begitu saja apa yang dikatakan oleh McGonagall barusan. “Tapi maafkan saya, Profesor. Orang di sebelah saya ini adalah – ”

Dulunya . Dulunya ya namun sekarang tidak lagi.” McGonagall berdeham sebentar. “Mister Malfoy memang awalnya adalah seorang Pelahap Maut, sama seperti keluarganya. Namun pada dasarnya, ia hanyalah anak muda yang masih labil dan kementerian telah memberikan dispensasi bagi keluarga mereka atas beberapa hal baik yang mereka lakukan selama perang berlangsung. Kau mungkin tidak mengetahuinya Miss Granger, tapi Mister Malfoy dan keluarganya sudah terhitung tiga kali menyelamatkan nyawa Mister Potter.”

“Tiga kali? Bukankah hanya sekali ketika saya dan Harry ada manornya itu?”

“Tidak. Itu yang pertama. Yang kedua, kau pasti ingat bukan tentang kejadian Mister Potter yang menyerahkan namanya pada kau-tahu—Voldemort. Saat itu Mister Potter sempat benar-benar meninggal sebelum ia bisa kembali lagi. Saat itu, ibu Mister Malfoy—Misses Malfoy disuruh oleh Voldemort untuk mengecek apakah Mister Potter masih hidup atau tidak. Misses Malfoy pun mengatakan jika Mister Malfoy telah meninggal walau ia sangat tahu jika Mister Potter masih hidup.”

Mulut Hermione terbuka terlihat tidak percaya saat mendengar ucapan McGonagall. Ternyata seperti itulah kejadian yang sebenarnya. Sampai saat ini, Hermione belum meminta Harry bercerita soal detail-detail kejadian saat perang karena Harry adalah anak yang sibuk dengan banyaknya wawancara oleh banyak orang. Hermione mungkin baru benar-benar bisa menanyai Harry ketika nanti mereka berada di ruang rekreasi Gryffindor.

“Lalu yang ketiga?”

“Saat Mister Potter membuktikan di depan semua orang jika ia masih hidup. Kau pasti bisa melihatnya sendiri karena kau juga ada di sana Miss Granger.”

“Dia – ”

“Benar sekali. Mister Malfoy melemparkan tongkatnya ke arah Mister Potter sehingga Mister Potter bisa memiliki senjata untuk melawan Voldemort. Tiga alasan itu bukankah cukup vital bukan dalam cerita perang dua bulan yang lalu?”

“Tentu saja Profesor tapi – ”

“Cukup, Miss Granger. Aku tidak ingin kau mendebatku lagi. Lagipula, ini adalah perintah kementerian. Jika kau menolak hal ini, kementerianlah yang menjadi urusanmu. Kau tentu tidak mau bukan berurusan dengan kementerian sehingga menyebabkan tugas-tugasmu terbengkalai?”

Ancaman itu sangat klasik bagi Hermione. Entah sudah berapa kali ia mendengar ancaman itu dari banyak profesornya di Hogwarts namun tetap saja, setiap kali mendengarnya, Hermione tetap merasa takut. Dan karena ia lebih mementingkan urusan sekolahnya, ia pun akhirnya mengangguk setuju dengan apa yang McGonagall katakan.

“Baiklah, Profesor.”

“Terima kasih atas perhatianmu Miss Granger, aku sangat menghargainya. Ah juga, aku tidak memintamu untuk langsung akur dan berbaikan dengan Mister Malfoy mengingat semua hal yang telah terjadi diantara kalian sejak tahun pertama. Pasti akan sulit bagimu untuk bisa langsung menerima Mister Malfoy begitu saja namun aku hanya ingin kau bisa bersikap profesional dengan mengesampingkan semua perasaan pribadi yang kau miliki dan bisa mengatur Hogwarts sebagaimana semestinya.”

Meskipun enggan, Hermione tetap mengangguk. “Baiklah, Profesor.”

“Mister Malfoy? Kenapa kau hanya diam saja sejak tadi?”

“Bukan apa-apa.”

“Kau tadi mendengar perkataanku?”

“Iya, Profesor.”

“Bersikap baik-lah pada rekan Ketua Murid-mu dan tunjukkan jika baik kau dan keluargamu layak akan penebusan itu.”

“Baiklah, Profesor.”

“Baguslah jika begitu. Kalian berdua bisa kembali ke Aula Besar untuk upacara penerimaan.”

Hermione dan Draco mengangguk lalu keduanya segera meninggalkan ruangan McGonagall untuk menuju ke Aula Besar. Melirik Draco sekilas, Hermione langsung mendengus malas dan meninggalkan Draco begitu saja saat Draco mulai sedikit mengangkat kepalanya. Tidak menyadari jika mulai saat itu, kehidupan keduanya akan sangat berubah.