Actions

Work Header

This is What Falling In Love Feels Like

Summary:

Nggak ada satu pun lagu Taylor Swift yang bilang kalau jatuh cinta rasasanya seperti mau presentasi. (Sumpah, Osamu menjalani hari-harinya dengan baik sampai dia bertemu dengan Yamaguchi).

Notes:

Haikyuu belongs to Haruichi Furudate. This work is a part of What If Universe from Gamon Universe on Twitter/X. Yes, Osamu. Falling in love feels like going on a presentation, sometimes. Good luck.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Osamu Miya, 19 tahun, mahasiswa Teknologi Pangan, pendengar nomor satu Taylor Swift sampai-sampai teman kembarannya, Terushima Yuuji muak padanya (dan amat sangat bangga dengan pencapaiannya yang itu), sejarah mengatakan nggak pernah terlibat kisah cinta dengan siapa pun kini tengah sibuk menatap cermin selama kurang lebih setengah jam—nggak melakukan apapun, cuma berdiri di sana dan berganti pose hadap kanan kiri setiap lima menit sekali. Dan, bukan cuma Atsumu Miya yang bosan memperhatikannya sedari tadi, Osamu sendiri pun muak tapi perasaan kurang yang terus menjegal otaknya serasa membunuhnya.

 

Atsumu melempar salah satu boneka plushie-nya. “Sam, udahan, please. Mukamu mau diapain juga segitu-gitu aja, tanya bunda,” katanya setengah jengkel. Hari ini semua kelas dibatalkan dan Osamu ikut-ikutan libur setelah pergi ke kampus selama tiga jam. Panas terik begini dan kembarannya memilih untuk menyemprot parfum yang wanginya memusingkan.

“Kenapa bunda?”

“Kan bunda yang buat, Sam.” Jawaban Atsumu telak mendapatkan lemparan balik darinya. Plushie yang malang cuma duduk seharian di atas ranjang sampai dilempar dan mencetak home run di siang yang terik karena pemuda kembar di kamar ini tengah bersitegang.

 

Osamu nggak memberikan tanggapan apapun. Ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas meja nakas dia ambil, dia pandangi dengan lamat-lamat seolah ada pesan keramat yang ditampilkan di layarnya. Lalu dia menatap Atsumu dengan serius. “Gue ganteng, kan?” tanyanya dengan air muka tegang. Atsumu tunjukkan wajah mual yang dibuat-buat sebagai jawaban instan. Ada yang salah dengan kembarannya hari ini dan Atsumu yakin ini ada kaitannya dengan adik tingkat dari DKV yang punya hobi jajan danusan kampus.

 

“Kalau aku gak bilang ganteng, mukamu mirip aku banget, Sam. Emang mau kemana, sih? Ngedate? Sama siapa jir lo kan jomblo dari lahir.” Atsumu bangun dari duduknya, berdiri tegak didorong oleh rasa penasaran yang kuat. Mendengar pertanyaan Atsumu, Osamu menggaruk-garuk pipinya yang nggak gatal sama sekali. Pandangan matanya kemana-mana seolah tertangkap basah sedang mencuri (padahal yang tengah dicuri adalah hatinya dan nggak ada hilal akan dikembalikan.)

“Sum, gue punya pacar,” katanya. Nada suaranya diperhalus sedemikian mungkin seolah takut tetangga kost akan mendengarnya. “Udah seminggu, ini mau ngedate.” Dia melanjutkan lagi. Atsumu menganga nggak percaya. Dari sekian hal mengejutkan yang terjadi di hidupnya, Osamu memiliki seorang pacar adalah yang paling dia nggak percaya. Kembarannya itu cuma tahu cara mencari uang dan menghabiskan waktunya di lab. Urusan percintaan itu nggak penting.

“Sama siapa anjir, Sam? Yang anak teknik itu? Shirabu? Apa yang rajin beli danusan? Gue yakin sih, yang Itu kan? Si anak ayam temennya Hinata.” Nggak pakai jeda, Atsumu mencecarnya dengan banyak pertanyaan. Tapi yang dirundung dengan tanda tanya nggak mau repot-repot menjawab. Dia mengedikkan bahu sambil beranjak menuju rak lemari di ujung. “Mana helm lo? Keseringan dijemput pakai lexus jadi debuan, anjing.”

 

Yang dimaksud Osamu adalah helm kecil berwarna krem yang sudah jarang Atsumu kenakan karena lebih sering keluar dijemput mobil oleh pacarnya yang super protektif dan banyak mau itu. Osamu pernah bersumpah akan menendang bokongnya kalau ketahuan menuntut Atsumu melakukan sesuatu yang dia nggak suka. Setelah puas mengata-ngatai Sakusa di dalam hatinya, Osamu membersihkan hellm Atsumu sebelum beranjak pergi sambil berseru helm-nya gue pinjem!

 

Kalau dipikir-pikir, wajar Atsumu penasaran (atau sebenarnya kasihan). Osamu nggak terlalu mengurusi percintaan. Tujuannya kemari adalah untuk belajar dan pulang dengan gelar, bekerja di perusahaan besar atau BPOM dan membanggakan bunda meski dalam prosesnya dia mau mati berkali-kali, dan punya banyak uang. Cinta nggak ada dalam kamusnya. Jatuh cinta nggak pernah terpintas dalam benaknya. Osamu menjalani hari-harinya dengan baik-baik saja sampai dia bertemu dengan Yamaguchi Tadashi. Osamu hidup dengan baik sampai Yamaguchi datang ke kehidupannya. Anak itu cenderung pemalu, banyak makan, dan ceroboh. Disandingkan dengan Osamu yang perfectionist dan peka dengan sekitarnya, kombo ini tentu tampak di luar nalar.

 

Tapi, mendapatkan Yamaguchi juga nggak mudah. Osamu harus kesampingkan semua ego dan keinginannya untuk mengambil alih semua hal karena sama sepertinya, Yamaguchi menjalani hari-harinya dengan baik sebelum dia bertemu dengannya. Yamaguchi cuma anak DKV yang sering menangisi nirmana dan hobi memborong danusan kakak tingkatnya sampai akhirnya Osamu masuk ke kehidupannya. Belum lagi dengan teman-temannya yang waspada dengan titel kakak tingkat yang dia sandang di dada kanannya. Rasanya Osamu tengah diospek oleh komdis cuma perkara mengajak Yamaguchi berpacaran. Mungkin berkencan memang begini adanya, penuh resiko dan kehati-hatian. Sumpah, rasanya Osamu seperti mau presentasi. Grogi.

 

“Hai. Lama, nggak, nunggunya?” Demi Tuhan, jantungnya nggak pernah berdetak sekencang ini bahkan waktu dia akan presentasi di depan dosen yang terkenal pelit nilai. Rasa-rasanya, jantungnya mau lompat ke teras rumah Yamaguchi sekarang juga. Yang ditanya tersenyum kikuk. Air mukanya terlihat khawatir bahkan mau menangis. Bibirnya digigit dengan spontan dan membuat Osamu turun dan motornya dengan khawatir. “Kenapa? Kok murung? Aku kelamaan, ya?” tanyanya dengan was-was. Reputasinya sebagai pendengar lagu Lover nomor satu sekampus bisa ambruk kalau gagal pada kencan pertama mereka setelah resmi sebagai sepasang kekasih. Yang ditanya sibuk memainkan jemarinya dengan gelisah sebelum benar-benar menunjuk pintu rumahnya.

 

“Kakak maaf ... aku nggak dibolehin main keluar sama ayah. Ayah bilang suruh pacarnya main di rumah aja ... maaf ya kak, aku takut ayah nyuruh kita putus soalnya aku nggak nurut???” Mampus. Diospek Tsukishima, Tobio, dan Kunimi bukan apa-apa dibanding yang ini. Bisa-bisanya Osamu lupa kalau Yamaguchi adalah anak kesayangan ayah ibu di rumah. Jelas saja nggak akan diberi izin untuk pergi keluar dengan pacar yang eksistensinya masih dipertanyakan itu. Seenggaknya, Osamu nggak terlalu dibenci Tuhan sebab dia sudah menyiapkan sekotak risol mayo yang dia buat sendiri sebagai buah tangan. Yang jadi masalah adalah, mau melakukan apa mereka adi rumah Yamaguchi?

“Sayang, udah makan?” tanyanya dengan spontan. Kalau Osamu nggak percaya diri dengan restu dan penilaian yang akan diberikan Ayah Yamaguchi padanya, seenggaknya dia percaya dengan skill memasak yang dia punya. Kalau nggak bisa wujudkan kalimat dari mata turun ke hati, maka Osamu akan usahakan dari lidah turun ke hati itu.

“Belum. Maunya kan makan sama kakak di luar.” Jawaban Yamaguchi memberi angin segar bagi Osamu yang sungguhan mau tenggelam di kolam ikan koi fakultas teknik. Lama dia berpikir, Osamu putuskan untuk membeli bahan makanan di luar sebelum kembali ke rumah Yamaguchi. Takut dijudge ayah Yamaguchi, ceunah.

 

Ayah Yamaguchi bukannya nggak ramah. Osamu bisa rasakan rasa hangat yang cuma setitik itu waktu Osamu masuk ke rumah mereka dengan tentengan bahan makanan. Dia menyapa sopan dan menunduk  seperti tengah mengheningkan cipta, kalau bisa dia akan menyentuh lantai dengan dahinya sekarang juga.

“Pacarnya Tadashi, ya?” tanya Si Ayah. Melipat tangan di dada sambil tersenyum kalem. Osamu teersenyum kaku, diingat-ingatnya lagi ilmu nggak tahu malu yang Atsumu ajarkan padanya. Pokoknya harus tersenyum ramah dan pasrah. Urusan diusir atau nggak itu belakangan. Osamu masih sangat amat naksir dengan kesayangan Yamaguchi satu ini.

“Siang, Om. Maaf saya ganggu siang-siang. Saya Osamu pacarnya Tadashi, dari kampus yang sama. Tadi maunya ajak Tadashi keluar tapi karena panas, saya ajak makan di rumah aja. Boleh saya pinjem dapurnya, Om?” Dengan seluruh keberanian untuk maju presentasi yang dia punya, Osamu menjawab pertanyaan Si Ayah dengan satu tarikan napas. Yamaguchi yang dimaksud cuma bisa memainkan ujung bajunya dengan grogi. Kenapa rasanya seperti mau izin menikah saja, sih?

Si Ayah mengangguk dengan santai. “Gapapa pake aja. Baik-baik di rumah, ya. Saya mau kerja dulu. Tadashi, jangan lupa buatin minum pacarnya.”

 

Seperti beban berat diangkat dari punggungnya, Osamu menghela napas berat saat Ayah Yamaguchi melenggang pergi dari kediamannya. Yang tersisa cuma Osamu, dua kantung bahan makanan, dan Yamaguchi yang langsung melompat ke dalam pelukannya. “Kaaaaaaaak! Aku minta maaf banget. Padahal kakak udah siap-siap, aku juga tinggal berangkat doang tadi,” rengeknya sembari menikmati elusan lembut di kepalanya. “Kakak mau masak apa?”

“Pasta, suka? Makan di rumah juga nggak apa-apa kan, rapi begini? See how I cook? Very demure and mindful,” jawab Osamu setengah bercanda. Apron di gantungan pintu dia pakai dengan cepat. Rasa gugupnya hilang bersamaan dengan kuman-kuman yang dicuci bersih dengan air mengalir. Yang ada di kepala Osamu cuma memasak pasta lezat sebagai makan siang untuk mereka berdua yang habis tertangkap basah akan berkencan.

“Aku bisa bantu apa?” tanya Yamaguchi, menyembul dari sebelah kirinya. Semudah itu membuat mahasiswa Teknologi Pangan jatuh cinta.

“Kamu bisa bantu siapin film aja, nggak? Mau makan sambil nonton? Kita bisa ngobrol juga.” Yamaguchi nggak butuh waktu lama untuk pergi ke ruang tengah dan menyiapkan semua yang Osamu minta. Ada sahutan kecil-kecil di antara mereka yang terpisah tembok kecil. Osamu harus bertanya apa Yamaguchi mau roti sebagai pendamping pastanya dan genre film apa yang Osamu suka. Hal-hal kecil tadi mengingatkan Osamu bahwa keduanya belum mengenal satu sama lain sejauh itu. Osamu harus belajar mengenai kebiasaan makan Yamaguchi dan pacarnya harus mencari tahu lebih jauh mengenai kesukaannya (selain Yamaguchi Tadashi yang kecil itu). Mungkin Atsumu benar, dia nggak dirancang untuk peka dengan perasaan sentimental bernama cinta tapi Osamu senang bisa jatuh cinta. Osamu seenggaknya bersyukur kalau dia bisa lakukan hal yang dia ahli di kencan pertama mereka dibanding mengajak Yamaguchi panas-panasan di bawah teriknya langit Jakarta. Terima kasih, Ayah Yamaguchi.

 

So? What are we going to watch?” Osamu letakkan dua piring pasta marinara dan beberapa potong roti panggang kering yang Yamaguchi sukai di atas meja kayu kecil di depan sofa. Judul film bertajuk romansa komedi terpampang jelas di layar telivisi dan Osamu nggak akan pernah bisa menolak senyum polos itu. “Clueless? Oke deh, kamu memang si paling cinta Cher.” Dia berkomentar, tangan besarnya mengambil dua lemar tisu basah di atas meja dan digunakan untuk menyeka kuman serta kotoran di tangan pacarnya yang sibuk cemberut.

As if!”

“Ya Tuhan ... kok lucu banget, sih? Aku grogi dikit maaf, ya.” Atsumu sudah pasti akan menertawakannya sampai mampus kalau dia melihat betapa cupunya Osamu saat ini. Wangi parfumnya bercampur dengan wangi pasta dan udang, rambutnya sedikit berantakan tapi di mata Yamaguchi, Osamu tetap kakak kelas yang paling ganteng. Makin ganteng karena bisa masak pasta enak.

Di antara keduanya cuma terdengar denting alat makan, suara film yang saling bersahutan juga kicau burung di luar sana. Rasa-rasanya, perasaan grogi dan tegang yang Osamu bawa dari rumah lenyap melihat Yamaguchi yang makan dengan lahap, badannya sesekali bergoyang ke kanan dan ke kiri seolah ingin menjelaskan rasa pasta Osamu yang nggak ngotak enaknya itu. Dan, lagi-lagi Osamu dibuat mengerti kalau menjalin hubungan nggak serumit apa yang dia pelajari sedari kecil dan ayah dan bundanya. Jatuh cinta bisa sesederhana memasak makan siang untuk pacarnya dan makan berdua sembari menonton Clueless di jam dua siang. Dan, ternyata, Yamaguchi mampu berikan efek sebesar ini untuk Osamu yang hidupnya lurus-lurus saja. Saking lurusnya, orang-orang pikir Osamu itu nggak punya ketertarikan seksual pada siapapun.

 

“Kak, aku seneng banget jadi pacar kakak. Beneran. Makasih, ya.”

 

Baru juga bersyukur dan merasa lega, Osamu sudah dibuat mau jungkir balik dan sujud di bawah kaki bundanya karena sudah melahirkannya ke dunia. Jatuh cinta memang luar biasa. Kalau sedang presentasi, nilainya A.

Notes:

Find me on Twitter/X @Ideationsm. Have a cigarette, X.